Sahabatku Arsa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 September 2015

Di taman, ku berlari kesana-kemari dengan bebasnya, sambil menikmati indahnya senyuman mentari, hijaunya taman, ditemani warna-warni permainan di sana. Aku tak sendiri. Aku bermain bersama Arsa, sahabatku. Begitulah, gadis berambut cokelat yang suka memakai terusan kuning cerah bergambar emot cium yang lucu. Saat itu umurku 4 tahun. Arsa pun juga. Kami kenal sejak aku dan keluargaku pindah ke Bandung. Ah, ku rasa itu tak penting. Sudah beberapa tahun yang lalu itu.

Entahlah, tanpa sadar, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun juga ikut berganti. Aku sudah sekolah. Cepat sekali, kini umurku sudah 15 tahun. Tapi kini, aku tak bertemu Arsa lagi. Kemana dia? kemana Arsa pergi? Aku rindu kamu, Arsa!

Well, saat umurku 10 tahun, Arsa pergi bersama keluarganya, entah ke mana. Dia hanya meninggalkanku sepucuk surat. Ampolpnya berwarana kuning cerah bergambar emot cium. Sama dengan terusan yang ia pakai saat bermain di taman dulu. Dulu sekali. Sewaktu ia berpamitan kepadaku jika akan pergi, Arsa berpesan kepadaku agar membuka surat itu saat umurku genap 20 tahun nanti. Ku simpan surat itu di dalam figura yang berisi fotoku bersama Arsa.

Lima tahun berlalu. Tepat sekali, tanggal 9 juli. Hari ini aku genap berumur 20 tahun. Ku rayakan ulang tahunku bersama rekan-rekan kerjaku di sebuh resto seafood ternama. Wuhuy, jam 8 malam, aku sudah selesai makan. Aku pun berbaring di kasur pinkku. Oh iya, ku teringat surat Arsa. Ku buka amplop kuning itu dan isinya..

“Dear Zarra,
Hai, Ra! Selamat ulang tahun yang ke-20 yaa. Tak terasa, sudah 10 tahun kita tak bertemu. Aku kangen kamu, Ra. Eh, besok kita ketemuan di taman masa kecil kita yah. Akan ku beri tahu sesuatu, oke oke??
ARSA”
Ku tutup surat itu yang telah basah karena air mataku. Aku sedih. Aku terharu. Aku senang. Ah, entah apa namanya. Perasaanku campur aduk seperti gado-gado.

Esoknya, ku datangi taman masa kecilku. Wow, tak ku sangka, Arsa cantik sekali. Cantik, cantik, cantik, cantik sekali. Dia memakai gaun ungu yang bertabur manik-manik warna-warni yang membuatnya lebih anggun. Ditambah lagi dengan pita kupu-kupu menempel di rambut cokelatnya. Arsa hanya berkata kepadaku.

“Ra, aku sayang banget sama kamu. Aku mau kamu tahu, kalau aku sedang menderita kanker darah stadium terakhir. Umurku tak panjang lagi. Oh iya, besok aku mau pergi lagi. Ku mohon, kamu datang lagi ke taman ini, tepat di kursi ini.”
Aku diam membisu. Tak ada sepatah kata pun ke luar dari bibirku. Hanya air mata yang membasahi rerumputan di taman. Arsa pergi begitu saja.

Oke oke, paginya, ku datangi kursi di taman itu lagi. Kenapa tak ada seorang pun di sini? Hanya ada petugas taman yang sedang menyirami pohon-pohon rindang di situ. Tunggu dulu, ada ada sepucuk surat terbungkus amplop kuning tergeletak di kursi. Yes, itu pasti dari Arsa. Ku buka dan isinya..

“Dear Zarra,
Hai, Ra! Kini aku sudah pergi. Pergi dengan tenang dan gembira. Aku sayang kamu, Ra. Aku harap kamu juga sayang aku. Terima kasih kamu sudah mau datang ke taman ini. Mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Di taman yang jauh lebih indah dari taman masa kecil kita. Kita akan bermain lagi di sana. Makasih udah bikin hari-hariku tak sia-sia.
ARSA”

Seketika itu air mataku deras mengalir. Arsa sudah pergi. Aku sendiri. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berdoa dan berkata.
“Selamat jalan Arsa, sampai ketemu lagi. Aku sayang kamu, Arsa..”

Cerpen Karangan: Nur Anisah Putri S
Facebook: Anisa Septiana

Cerpen Sahabatku Arsa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lentera

Oleh:
Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang

Demi Ibu

Oleh:
Hari libur yang cerah ini kuhabiskan untuk membantu Ibu di Restoran miliknya, Seasons Food. Restoran ini di beri nama seperti itu, karena di sini selalu mempunyai tema musim, seperti

Lossing You

Oleh:
“Baiklah, jika tidak ada sanggahan maupun pendapat maka rapat kali ini saya tutup dengan bacaan hamdallah”, “Alhamdulillah”. Akhirnya rapat terakhirku bersama kalian semua, membahas tentang pelantikan pengurus OSIS periode

Kisah Kawan Sekitarku

Oleh:
Seperti hari-hari biasa, akulah yang hanya bisa melihatnya. Dimana pun mereka berada, diriku akan selalu terbawa oleh pikiran untuk memberi sebuah pengawasan. Pagi yang diisi oleh kicauan burung gereja,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *