Sahabatku, Selamat Jalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Inilah kisahku, perjalanan hidupku. Bersama sahabat yang selalu aku sayangi, dan dia sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Kami bersahabat dari kecil. Keluargaku telah kenal baik dengan keluarganya. Dulu, kami sering bermain di sungai bersama-sama. Tidak hanya bermain ke sungai, kami juga sering belajar bersama-sama. Begitu banyak cerita yang kami muliakan dalam realita kehidupan kami berdua, banyak hal yang ku ketahui tentangnya. Namun, kini dia telah tiada. Aku tidak menyangka sebelumnya, Dini yang periang, cerdas, dan ramah telah mendapat cobaan yang luar biasa.

Kini, dia pergi meninggalkanku akibat kanker otak yang dialaminya. Kejadian itu terjadi 3 tahun yang lalu, dan kini dia pergi untuk selamanya. 3 tahun aku lalui hari-hariku tanpa dirinya. Aku hanya bisa berharap semoga Yang Maha Kuasa menerima Dini di sisi-Nya, dan mengampuni segala dosa-dosa Dini selama dia hidup di dunia. Begitu banyak pengalaman berkesan yang ku alami dengannya. Beberapa di antaranya adalah ketika Dini memotivasi diriku untuk bangkit dari setiap kegagalanku. Saat itu, aku gagal mengikuti Olimpiade Siswa Nasional Biologi.

Ceritanya, siang itu aku menangis di depannya. “Sulha, mengapa kamu menangis seperti ini? Apa yang baru saja kamu alami? Ceritakan padaku.” Ucap Dini memintaku untuk menceritakan masalahku padanya. Lalu, aku menjawab, “Dini, apakah aku ini anak yang bodoh? Apakah aku ini orang yang tidak pantas sukses? Aku malu Din, aku putus asa. Tadi, di papan pengumuman aku tidak lolos seleksi OSN Biologi. Ya Tuhan, aku sedih Din.”
“Sulha, kamu tidak boleh berkata seperti ini, kamu jangan putus asa. Tuhan punya rencana terindah, yakinlah. Ayo bangkit sahabatku, jika kamu menyerah berarti kamu menginginkan dirimu kalah. Jangan menangis lagi,”

Dini menyemangatiku sambil tersenyum. Aku pun mengangguk, serta menghapus air mataku. Kini keyakinanku tumbuh kembali. Di saat semua orang meninggalkanku, waktu itu hanya Dini yang bisa menyemangatiku. Hal lain yang sangat mengesankan bagiku, adalah saat dia menyelamatkanku pada waktu kami bermain di sungai. Hari itu, ketika Sang Fajar mulai menyinari bumi yang sejahtera ini dengan sinarnya yang mengandung vitamin D. Dini menghampiriku dan mengajakku bermain di sungai. Namun ketika itu aku masih tidur. Sesampainya Dini di rumahku, dia meminta izin pada ibuku untuk masuk ke kamarku dan membangunkan aku.

“Sulha, bangun. Ini sudah pagi, pasti habis salat shubuh tadi tidur lagi ya. Bangun Sulha, ayo kita main ke sungai seperti biasanya!” Aku terkejut dan terbangun melihat Dini berada di dekatku. “Aduh Din, maaf aku ngantuk sekali tadi, makanya aku tidur lagi. Ada apa? Mau main ke sungai lagi?” tanyaku padanya. Dini mengangguk. Aku langsung berdiri menuju kamar mandi dan mencuci muka ku. Aku tidak mandi pada waktu itu, karena biasanya aku mandi setelah kami bermain di sungai.

Setelah itu, aku menuju kamar lagi. “Dini, aku izin Ibuku dulu ya,” ucapku padanya.
Dini pun menjawab, “Sulha, jangan lupa membawa pancingan seperti aku ya. Agenda kita hari ini Fishing loh. Hehehe,”
“Siap laksanakan komandan! Hehehe,”

Jam menunjukkan pukul 05.30. Pagi itu, kami berangkat ke sungai bersama-sama. Menaiki sepeda onthel yang terlihat butut, jelek, dan berkarat. Di perjalanan, kami bertemu dengan seorang pengemis tua. Waktu itu, aku lupa tidak membawa uang untuk memberi pengemis itu. Namun, aku ingat bahwa kami membawa roti buatan ibu. Aku beri saja roti buatan ibu kepada pengemis itu. Sedangkan Dini memberinya uang. Ya, maklum saja Dini memang anak yang memiliki keadaan berada, dan dia sangat dermawan. Akan tetapi, dia tidak pernah sombong kepada siapa pun, hatinya baik sekali. Aku dan Dini telah berjanji tetap akan bersahabat sampai kami mati.

Tak terasa, setelah menempuh perjalanan jauh kami telah sampai tujuan dengan selamat. “Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga Din. Udara pagi ini terasa segar sekali,” Dini tidak menjawab apa-apa, dia hanya menatapku dengan wajah tersenyum. Saat itu, kami memarkirkan sepeda kami di bawah pohon pisang di pinggir sungai. Kami segera turun ke sungai untuk berenang dan memancing. Tak lupa juga, kami memasangkan umpan dulu di setiap pancingan milik sendiri-sendiri. Hmm.. Kali ini benar-benar menyenangkan. Kami bahagia sekali. Tiba-tiba, “Horeee aku dapat ikan mas besar sekali Din. Hore, hore, hore!” Aku benar-benar bahagia.

“Waah! Hebat kamu Sulha. Kamu bisa dapat ikan mas sebesar itu. Aku juga mau dong. Lihat nih, pasti hasil tangkapanku lebih besar dari yang kamu punya,” Kata Dini sambil menjulurkan lidahnya. “Hahahaha. Mau bertaruh denganku ya? Buktikan saja Din!” jawabku. Tak lama kemudian, umpan milik Benny pun dimakan. Dan…
“Yeeee.. Horeee.. Aku dapat Ndes! Tapi, yaaaahhh.. Cuma dapat ikan gabus deh. Mana ukurannya cuma segini lagi,” Ucap Dini sambil mengerutkan keningnya.
“Hahaha. Aku menang Din. Aku menang, ikanku lebih besar daripada punyamu,”
“Hehehe.. iya deh, aku ngaku kalah bos!”

Saking asyiknya bermain, aku lupa kalau aku masih memakai sandal. Biasanya aku tidak memakai sandal jika berada di pinggiran sungai. Kalau sandal tidak dilepas, terkadang batu di sekitar sungai itu lumayan lebar dan licin. Makanya kami selalu melepas sandal kalau bermain di sungai itu.
Tiba-tiba aku tergelincir dan terjatuh. Aku pun berteriak, “Tolong Dini, tolong aku!”
“Sulha, Sulha, Sulha! Tenang, aku pasti menolong kamu,”

Dini menjatuhkan badannya ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Aku kurang hati-hati dalam berbuat. Aku berusaha melawan arus sungai pada saat Dini masih berada jauh dariku. Untungnya, Dini waktu itu berhasil menyelamatkanku. Atas kejadian itu akhirnya, Dini mengajakku pulang. Di tengah jalan, aku menggigil kedinginan. Setibanya di rumah, Dini menceritakan semua kejadian itu kepada ibuku. Ibuku hanya menasihatiku dan memintaku jangan mengulangi lagi. “Sulha, ibu kan sudah bilang kalau main itu hati-hati. Jangan ceroboh!”

Mendengar itu, Dini merasa bersalah. Dia meminta maaf ibuku dan kepadaku. Aku dan ibu sudah ku maafkan. Akhirnya, kami sempat berbincang-bincang lagi. Semenjak kejadian itu, Dini jarang ke rumahku. Dia berkata bahwa dia sibuk dan belum punya waktu luang. Maklum, Dini juga seorang siswa sekolah sama sepertiku. Hari-hari terus ku lalui tanpa Dini, sampai 7 bulan telah berlalu. Tidak ada tersiar kabar untukku dari Dini. Perasaanku sangat tidak enak, ibuku juga bertanya-tanya mengapa Dini jarang ke rumahku. Ibuku pun menyuruhku ke rumah Dini untuk mencari kabar dan sekalian bersilaturrahmi. Aku mengiyakan perkataan ibu. Dan hari itu, aku izin kepada ibu untuk bergegas menuju ke rumah Dini. Setibanya di sana…

Ting, tong! Ting, tong! Ting, tong. Aku membunyikan bel rumah Dini. Tidak lama kemudian seorang wanita cantik, yaitu ibunya Dini membukakan pintu untukku.
“Maaf, mau cari siapa ya Nak?” tanya wanita itu kepadaku.
“Saya mau mencari Dini, Bu. Apakah Dini ada di rumah?”

Wanita itu langsung membisu dan tertunduk. Air matanya berlinang, beliau memintaku untuk masuk ke dalam rumah dulu, dan beliau akan memanggilkan ayahnya Dini. Jantungku berdebar-debar. Perasaan mencekam ada dalam lubuk hatiku. Keringat bercucuran di dahiku. Aku takut bagaimana jika ayahnya Dini memarahiku. Aku melihat seseorang ke luar dari pintu belakang rumah. Seorang laki-laki berbadan tegap, lemah lembut, dan berwibawa. Beliau adalah Om Yadi, ayahnya Dini. Anehnya, dia berjalan lesu dan seperti membawa sebuah amplop di tangannya.

“Ya Allah, Nak Sulha? Ke mana saja? Om kangen banget. Kok lama tidak bermain ke rumah Dini?”
“Maaf Om, saya terlalu sibuk dengan sekolah. Saya banyak mengikuti ekstrakurikuler dan saya juga ada pelajaran tambahan di sekolah, makanya saya jarang punya waktu luang untuk bermain ke sini. Oh iya, rumah kok sepi Om? Dini ke mana?”

Begitu aku bertanya tentang Dini, Om Yadi langsung berkaca-kaca dan terdiam. Om Yadi menceritakan semua kejadian kepadaku, bahwa Dini menderita kanker otak stadium 3. Aku tidak menyangka mengapa ini semua bisa terjadi. Aku lesu, lemas, seolah aku kehilangan semua yang ada dalam hidupku. Aku benar-benar merasa bersalah. Tapi, kenapa sebelumnya Dini tidak bercerita kepadaku tentang penyakitnya. Kenapa dia menahannya sendiri untuk menceritakan masalah seperti ini. Ya Tuhan, terimalah Benny di sisi-Mu. Berilah dia tempat terbaik bersama orang-orang yang saleh. “Tapi, Benny menitipkan ini buat kamu, Nak. Maafin Om, Om gak bisa ke rumah kamu karena Om juga ada kesibukan di kantor,” Kata Om Yadi dengan nada lembut. Sepucuk surat dari Dini. Benar-benar menyentuh batin.

“Untuk, sahabatku, Sulha. Assalamualaikum. Salam sejahtera, Sulha. Apa kabarmu? Ini adalah surat yang ku tulis untukmu. Aku ingin menceritakan semua padamu. Sudah lama kita tidak bermain di sungai seperti dulu lagi. Aku rindu sekali padamu Sulha. Aku rindu dengan masakan Ibumu juga, aku rindu dengan semuanya. Jujur saja, aku tidak bisa mengabari dan bercerita kepadamu tentang penyakitku. Aku takut kamu khawatir padaku dan tidak konsentrasi dengan segala urusanmu. Aku tidak ingin itu terjadi, Sulha. Ceritanya, aku menderita kanker otak. Kini, hidupku cukup sampai di sini. Tuhan menginginkan aku untuk berada di sisi-Nya. Pesan dariku, aku mohon kepadamu, tolong jadilah orang yang baik, bisa menepati janji, setia kawan.”

“Jangan nakal, jangan menyusahkan orang lain. Dan jangan sekali-kali memandang remeh orang lain. Ingatlah Sulha sayang, kita adalah makhluk sosial, kita saling membutuhkan. Kita harus memiliki banyak teman di dunia ini. Kamu ingat kan bahwa kita sudah bersahabat dari keci? Maka dari itu, turutilah permintaan sahabatmu ini. Sahabatku Sulha, aku akan mengingat setiap peristiwa yang kita alami. Aku berdoa semoga Tuhan tetap menjaga persahabatan kita. Maafkan aku Sulha, bahwa sebelumnya aku tidak mengabarimu. Satu hal lagi, belajar yang rajin ya. Gapailah cita-citamu, jangan dengarkan cemoohan orang lain. Bahagiakan kedua orangtuamu, berteman baiklah dengan teman-temanmu. Sekali lagi, maafkan aku Sulha. Selamat tinggal, aku menantimu di surga. Good Bye, my friend. I always support you, I always miss you. Dari Dini, sahabatmu.”

Air mataku tak dapat tertahan lagi. Kini Dini, sahabatku tercinta benar-benar pergi. Aku tertunduk sedih, dan menangis. Terngiang di pikiranku tentang kami berdua. Ya Tuhan, mengapa Kau ambil Dini dariku? Semoga dia bahagia di sisi-Mu, Ya Tuhan. Aku pulang dengan keadaan lesu. Aku menceritakan ini kepada ibuku. Ibuku kaget dan menangis, turut berduka cita. Keesokan hari, keluarganya Dini, aku dan keluargaku berziarah ke makamnya Dini.

“Selamat tinggal sahabatku, selamat jalan. Aku berjanji akan selalu mendoakanmu, mengikuti semua nasihat darimu. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik untukku. Persahabatan kita tidak akan terpisahkan oleh apa pun, Dini.”

Cerpen Karangan: Anila Imroatul M S
Facebook: Anila Imroatul Marifah Sulha
Nama Anila Imroatul M S. Kelas XI IPA 3. Asal Sekolah SMA NEGERI 1 KARANGAN. Hobi Membaca, basket, menyanyi.

Cerpen Sahabatku, Selamat Jalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kupu Kupu Taman

Oleh:
Feby duduk melamun di bangku taman, dia memandang kupu-kupu taman yang terbang tinggi, kadang kala kupu-kupu itu hinggap di atas bunga yang bermekaran. Suara teguran seseorang mengagetkan Feby. “Feby,

Ku Pilih Sahabat di Banding Dia

Oleh:
Pagi yang cerah menyapa. Burung yang indah kian bersiul, layaknya sedang membisikkan suatu kiasan kata. Geby, seorang gadis penghuni kota ‘Bandung’ terbangun karena sang mentari begitu menyorotnya. “Huaah… Ngantuk

Happy Birthday Nadia

Oleh:
KRINGGGG!!! Bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku, Fika, dan Ghani berjalan beriringan menuju kantin. “Eh, temen-temen, besok ultahnya Nadia kan?” Ucap Ghani mengawali pembicaraan. Aku dan Fika pun baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *