Salju Di Hari Valentine

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 October 2016

Yokohama, 14 Februari 2010
Aizawa Hanami, duduk termenung di atas kursi meja belajarnya, sambil menatap luar jendela yang sedang turun salju. Suasana yang dingin dan senyap, menekan hati dan pikirannya. Sesekali ia harus menundukan kepala, merasakan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Sambil menggenggam erat liontin kristal segi enam yang digenggamnya..

2 februari 2007
Jam masih menunjukan pukul 06.30. Tapi Hanami sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Hanami adalah siswi kelas 2 sma yang tinggal bersama kakaknya, Ruki. Mereka hanya hidup berdua setelah ditinggalkan orangtuanya.
Saat keluar dari kamar, sarapan telah berjejer rapi di atas meja makan.

“sarapan dulu, Hanami?” sapa Ruki dengan lembut
“tapi.. aku sudah telat kak” jawab Hanami dengan perasaan tidak enak
“ya sudah. Hati-hati di jalan.” ucap Ruki memberikan senyum manisnya, membuat Hanami merasa lega
“baiklah, aku sayang kakak” jawab Hanami dan pergi dengan gembira
“kakak juga..” jawab Ruki pelan

Saat pulang ke rumah, Hanami memasang wajah kusut karena tidak bisa mengerjakan ulangan matematika yang membuatnya pusing setengah mati saat di sekolah. Ia terus memikirkan berapa nilai yang akan muncul nantinya. Tapi tiba-tiba Ruki datang dan memeluk Hanami dengan girang dan membuat Hanami heran
“ada apa kak?” tanya Hanami dengan nada rendah dan penuh tanda tanya
“kau ganti baju, dan kita pergi sekarang.” ucap Ruki dengan girang
Seharian penuh mereka menghabiskan waktu bersama di luar. Ternyata Ruki mendapat gaji lebih, jadi dia ingin mengajak Hanami pergi jalan-jalan. Hanami tidak membeli banyak barang, karena ia terus memikirkan nilai matematika yang akan keluar.

Di sebuah toko, terdapat satu benda yang menarik perhatian Ruki. Sebuah liontin kristal segi enam berwarna biru muda. Ruki membelikannya untuk Hanami dan memakaikannya di leher Hanami.
“kakak?” tanya Hanami yang terus memandang wajah Ruki
“iya”
“apa kakak tidak merasa heran?”
“memangnya kenapa?”
“mmm.. banyak yang bilang, kalau kita tidak mirip. Aku juga berpikir begitu” ucap Hanami dan membuat Ruki terdiam sejenak
“mungkin, kakak mirip dengan ayah. Dan kau, mirip dengan ibu” jawabnya dengan sedikit berat
“oh.. terima kasih atas kalungnya.” jawab Hanami dengan lega.
Akhirnya Ruki bisa memberi satu jawaban.

10 Februari 2007
Rei, teman Ruki mengunjungungi rumah Ruki. Dia adalah pemuda yang baik sama seperti Ruki, ada Hanami yang sedang meminta izin pada Ruki untuk pergi ke luar bersama Ayaka. Ruki mengijinkannya dan Hanami pergi dengan gembira.
Di tengah perjalanannya, Hanami lupa membawa dompetnya, hingga ia harus balik lagi ke rumahnya.

Saat Hanami baru saja sampai di dalam rumah, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Ruki dan Rei bahwa Hanami bukan adik kandung Ruki. Keluarga Aizawa sengaja merawat Hanami karena perasaan bersalah atas kematian orangtua Hanami yang disebabkan keluarga Aizawa. Tapi karena Hanami pula, Ruki ditinggalkan oleh orangtuanya.
Perasaan Hanami menjadi campur aduk antara marah, kasihan, benci dan sedih. Hanami bermaksud untuk pergi, tapi ia tidak sengaja menjatuhkan pot bunga dan mengejutkan Ruki. Hanami segera berlari ke luar, tapi Ruki menyusulnya. Hanami jago dalam berlari sehingga tidak mudah untuk menghentikannya. Tapi akhirnya Ruki bisa meraih tangan Hanami.
“hei..”
“apa lagi?” bentak Hanami dengan keras “kenapa kakak tidak jujur” melepas kalungnya dan memberikannya pada Ruki “terima kasih, sudah mau menjadi keluargaku, dan merawatku” ucap Hanami dengan pelan dan pergi meninggalkan Ruki.

Hanami berjalan pelan di pinggiran jalan, pikirannya seolah kosong. Saat hendak melintas, Hanami tidak menyadari kalau dirinya dalam bahaya. Sebuah mobil sedan melaju kencang di samping kirinya. Menyadari hal yang tidak baik, Ruki langsung menghampiri Hanami dan menarik tangan Hanami ke belakang. Belum sempat melarikan diri, sedan itu menabrak Ruki dan menyeretnya beberapa meter.
Hanami terdiam sejenak karena tubuhnya terasa sakit, sampai akhirnya ia menyadari apa yang terjadi dan mendapati Ruki yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.

14 Februari 2007
Sorot cahaya lampu seolah masuk ke dalam pikirannya. Perlahan Ruki membuka matanya, dan sesekali menutupnya lagi. Hanami sedang tertidur di samping Ruki. Perlahan tangannya mulai membelai rambut Hanami dan tak sengaja membangunkannya.
“kakak..” sapa Hanami dengan penu kekhawatiran “maafkan aku kak” ucapnya lagi sambil menundukan kepala
Ruki hanya tersenyum lembut “kakak tidak pernah marah padamu.”
Hanami memeluk Ruki “aku minta maaf kak,” ucapnya lagi. Tak lama kemudian salju turun
“tanggal berapa sekarang?” tanya Ruki menatap luar jendela
“14.. Februari..” keduanya menatap luar jendela
“hari valentine, sakju turun dihari kasih sayang. Hanami, siapa orang yang paling kau sayangi?”
“kenapa kakak selalu bertanya begitu, jawabanku tidak akan berubah. Kakak orang yang paling aku sayangi. Selamanya..” Hanami berjalan mendekati jendela. Ia sangat suka dengan salju. Tapi, sedetik kemudian, keadaan berubah, monitor di samping Ruki menunjukan garis lurus. Perasaannya yang senang, berubah drastis menjadi kepedihan.
“kak.. kak Ruki..!”

14 Februari 2010
Setelah salju berhenti turun, Hanami beranjak dari tempat duduknya, mengambil jaket lalu pergi ke pemakaman.
Ruki Aizawa, nama yang terpahat di batu nisan yang ada di depannya membuat Hanami meneteskan airmatanya. Ia meletakkan setangkai mawar putih di atas makam Ruki yang diselimuti salju.
“selamat hari valentine kak. Orang yang paling aku sayangi adalah kau, tidak akan ada orang yang bisa menggantikanmu. Apa kau tau kak, hidup sendirian itu sangat sulit. Tapi terima kasih atas semuanya, Ruki-chan”

Tamat

Cerpen Karangan: E. Harisman
Facebook: ecep si cikal

Cerpen Salju Di Hari Valentine merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Di Udara

Oleh:
Namaku Mentari. Aku sangat suka menulis. Aku selalu menulis catatan harianku di kertas cantik dan mengikatkannya ke sebuah balon. Balon itu akan aku terbangkan ke udara hingga ia tinggi

Sepatu Balet Valerina

Oleh:
“Lalalalala…Lalalala..” Senandung Valerina sambil mendengarkan kotak musik miliknya. “Syalala…Syalala..” mulut kecilnya bersenandung menirukan suara asli dari kotak musiknya. Tiba-tiba terlintas ide di benak Valerina. Ya! Sepatu balet. Dia mengambilnya

Beginikah Keluarga?

Oleh:
Sulit untuk dipahami, bagaimana aku bisa menerima semua ini, bagaimana bisa aku harus memilih. Aku benar-benar gerah dengan semua ini, aku tidak tau harus mengungkapkan kata-kata apa. Kenapa? kenapa

Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Aluna Sagita Gutawa

Oleh:
Namaku sagita gutawa. sudah 3 tahun aku bersahabat dengan luna, afgan, dan aril. kami bersahabat sejak kami duduk di bangku SMA. sampai akhirnya kami berpisah, karena jalan hidup yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *