Satu Di Antara Seribu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 August 2015

“Aku bernyanyi untuk sahabat. Aku berbagi untuk sahabat. Kita bisa, jika bersama.” Petikan lagu Untuk Sahabat dari Audy ini sering sekali ku dengar saat itu. Di mana kala saat-saat aku bermain kala masanya waktu itu mengerikan dan terasa menyiksa. Eh? mengerikan? bagaimana bisa? Sahabat adalah orang yang selalu ada untuk kita! kapanpun dan di manapun mereka akan ada untukmu. Tersenyum ataupun sedang menangis mereka akan selalu ada di sisimu. Namun itu semua tidak berlaku bagi diriku.

***

Bandung adalah tempat yang baru buatku saat itu. Aku tak mengenal siapapun di sini. Tiba–tiba hal yang membuatku kaget adalah kepindahan rumahku ke kota ini ternyata. Dimulai dari cuaca yang dingin, sekolah ke tempat baru, hingga semuanya baru sehingga aku membutuhkan proses adaptasi yang cukup memakan waktu lama. Masa–masa liburanku saat SD dipakai untuk memindahkan barang–barang ke kota kembang ini. Hingga pada akhirnya kota Tangerang hanyalah tempat kenanganku saja.

“Papa? kok barang–barang di rumah diangkut semua?” aku beserta teman–temanku yang melihat barang seisi rumah diangkut.
“Mau jalan–jalan” Ayahku berkata.
Aku hanya bisa melihat dan tidak berbuat apa–apa. Perjalanan ke Bandung menempuh waktu sekitar 3–4 jam. Akhirnya aku pun sampai. Masih sangat teringat rumahku masih setengah jadi pada saat itu.

“Ma? kok gak ada lantainya? temboknya masih item–item gini kenapa ma?” dengan terheran–heran ku sampaikan pada Ibuku.
“iya. Tapi lama–lama ntar jadi bagus kok.” dengan nada yang menyakinkan bicara padaku.
“ooh gitu. iya deh ma.” sahutku.

Hal yang ku ketahui saat itu, Bandung adalah kota wisata yang terkenal dengan kulinernya, hanya itu yang kutahu. Berjalan–jalan di sekitar komplek rumah, pulang menonton tv dan tidur seperti itulah liburanku saat pindah ke Bandung.

“dev! mau ke mana sekarang? pinjem sepeda yaa?” dengan nada polos ku sapa pada saudaraku.
“ya. pake aja za.” memperbolehkanku memainkan sepedanya.
Dan sesekali kami sering bermain untuk memutari komplek dengan sepeda.

Hingga akhirnya masa libur telah usai, aku pun mulai masuk ke sekolah baru. Saat itu aku berada di kelas 5 SD. Dari sinilah masa–masa suramku dimulai.

“Tuh si tompel, tuh orangnya anak baru” seseorang berkata.
“Hahahha tompel tompeel!” sontak yang lain pun mengikuti.
“Loh ada apa? seperti inikah sambutan hangat kalian?” dalam hatiku berkata. Memang proses belajar mengajar tetap berjalan namun aku merasa sangat tidak nyaman pada saat itu. Sampai orang yang berada di sebelah kursiku menghindar karena kekurangan yang kumiliki ini. Hari demi hari berjalan dan kulalui. Ketika keesokan harinya.

“Hiii, apa tuh? item ada bulunya!” kata teman di sebelahku.

Ia yang merasa takut itu pun berdiri dan menjauhiku. Pindah mencari tempat duduk yang lain. Lama kelamaan aku di sini seperti badut yang menjadi bahan candaan bagi orang lain. Ya setiap harinya saat aku masih kecil aku merasakan seperti itu. Aku berusaha dan mencoba terus untuk bersabar.

“Tuh lihat! Ada si tompel awas jangan deket–deket!” dengan nada yang keras pria itu bicara. Jelas aku mulai naik darah dan menjadi emosi. Aku dengan wajah emosi meludahi salah satu teman kelasku yang selalu menganggu serta mengejeku terus-menerus. Dia tidak terima dengan perlakuanku dan membalas dengan pukulan. Terjadilah perkelahian.

“Anj*ng dasar tompel!” temanku itu yang paling merasa benar sambil memukuliku, jawabku dengan meludahinya dan sambil berkata.
“Gobl*k lu b*bi”

Aku dengan terpaksa melakukan hal ini agar mereka semua jera termasuk dia dan apa yang yang terjadi selanjutnya? Ketika aku masuk ke gerbang sekolah.

“hoi za, tumben gak telat?” temanku bertubuh pendek berkata sambil memberikan tugas pr-nya untuk dikerjakan bersama–sama.
“Boleh–boleh” sahutku.
“ini tugas yang ini dan itu. Ada yang salah, ini juga..” salah satu temanku yang mengkoreksi jawabanku.
“Eh za, kemarin tes lisan UUD lu bagus! Keren gimana cara hafalinnya bisa sampai hafal banyak begitu?” temanku yang paling pintar sambil menunjukan bukunya padaku.
“Tunggu. Ada yang aneh, tak sepertinya semua teman–temanku seperti ini.” dalam hatiku berbisik.

Seketika pas semua siswa termasuk aku yang masuk kelas, bualan serta caci–makian itu datang kembali. Kejadian tadi hanyalah pura–pura dan akting semata. Karena tadi ada Ibuku yang mengantar dan menemaniku sejenak.

“Hahahha tompel! gosong tuh tompelnya.” Dari para murid serta caci-makian lainnya yang mereka khusukan buatku.
Aku hanya bisa berharap SD-ku cepat selesai meski hanya memakan waktu 2 tahun, namun SD-ku di sini terasa sangat lama. Setiap harinya seperti itu terus, aku yakin kalian semua bisa menebaknya.

“Ah, akhirnya selesai juga. Dapet ijazah yang ditunggu. phiw!” diriku berucap sambil bernapas lega.
“loh kok gitu za? aku malah pingin SD terus supaya bisa sama yang lain termasuk kamu” beberapa teman perempuan membalas. Aku hanya tersenyum saja kepada mereka. Ingin sekali rasanya pada saat itu aku berteriak TIDAAAAK.

Sering sekali aku bercerita pada Ibuku mengapa hidupku jauh berbeda dari orang lain, diolok–olok teman sampai dijauhi adalah hal yang biasa aku rasakan.
“Ma! kok Reza begini sih?” dengan nada sendu aku berkata.
“Ini variasi Reza, bagian dari kelebihan yang kamu miliki.” ibuku mengatakannya dengan nada lembut sambil mengusapkan kepalaku.
“ya..” nada yang pasrah ku lontarkan pada ibuku.

Sama seperti zaman SMP dan SMA-ku tidak terpaut jauh dari sana. Bisa dibilang 11-12. Tak terpaut jauh dari sana. Banyak sekali hal-hal yang kualami pada masa–masa itu. Bisa dibilang sahabatku hanyalah segelintir orang. Hanya beberapa orang yang mau menjadi temanku. Hingga sampai saat ini, aku lebih banyak untuk meluangkan waktuku untuk ibadah. Mensyukuri kekurangan sekaligus kelebihan yang telah Allah YME berikan padaku.

Cerpen Karangan: Mohamad Reza Permana
Blog: mohRezap.tumblr.com
PC & PSV gamer. let it flow for everythings. Keep enjoying your life
YOLO!

Cerpen Satu Di Antara Seribu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Tipis Dilla

Oleh:
Dia terdiam sembari menyandarkan kepalanya di bawah pohon yang terdapat di pojok panti asuhan kasih bunda. sementara langit di luar sana telah tebentang merah membelai langit memanjakan lemparan mata

Teman Lamaku Kembali Lagi

Oleh:
Gerimis pagi itu membuatku tak ingin beranjak dari tempat tidur. Apalagi rasa ngantuk yang tak ingin terkalahkan membuatku enggan untuk membuka mata terlebih lagi jika harus beranjak dari tempat

Pelangi di Hari Kelabu

Oleh:
Di sinilah hidup seorang gadis remaja yang cantik, di sebuah rumah sederhana yang awalnya merupakan tempat yang tidak layak untuk ditempati namun ia bisa menyulap tempat itu menjadi tempat

Aku Menyayangi Mu, Maafkan Aku

Oleh:
Hari yang cerah ini aku akan mulai tahun pertamaku sebagai murid sekolah menengah ke atas atau yang sering disebut SMA. Namun kali ini aku bukan ke sekolaah SMA umum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *