Scorned Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa.

“Gadis yang berinisial ‘S-K’ ini berusia 16 tahun, ditemukan tewas tergeletak dengan tubuh terluka dan berdarah-darah di bawah gedung Shibuya Gakuen.” ujar Reporter di berita itu. “Sok tahu,” batinku. Itu terlalu melebih-lebihkan. Mereka tidak tahu kenyataannya.
“Polisi yang menyelidiki kematian gadis ini menduga bahwa kematiannya karena bunuh diri.”
“Kemungkinan alasan gadis tersebut bunuh diri adalah karena dia tidak terima karena nilai-nilainya selalu di bawah rata-rata.” lanjut Reporter itu. Aku melengos. Poin analisa mereka tidak tepat. Apa mereka pikir hanya itu?

Di depan tabel nilai sekarang ramai. Banyak murid-murid yang tentunya ingin mengetahui nilai mereka berkerumun di sana. Aku berjalan mendekat. Mereka yang melihatku pun seperti membuka jalan untukku.

“Nanami Yuka,” Aku melihat namaku berada di peringkat pertama.
“Murid baru sepertimu mampu mendobrak nilai, masa kami yang murid lama saja kalah,” cibir salah satu murid, Nagisa.
“Masih mending dirimu, sih, Nagisa. Daripada murid bodoh itu!” sahut yang lain. Keningku berkerut.
“Siapa yang kalian maksud?” tanyaku. Mereka malah memandangku dengan tatapan ‘loh, belum tahu?’.
“Itu, loh, Shiori Kana,” jawab Nagisa. Sedangkan Sayaka yang dekat dengan tabel nilai menunjuk ke urutan peringkat terakhir. Terlihat nama “Shiori Kana” di sana.
“Tuh, orangnya!” seru seseorang. Kami mengalihkan pandangan ke lorong. Tampak gadis berambut hitam-panjang berjalan ke arah kami. Dia sedikit menunduk. Jadi terkesan mirip Sadako.

“Hei, kau masih berani datang ke sekolah? Kehadiranmu menyebabkan polusi udara, tahu! Jangan sampai kami bernapas di udara yang sama denganmu!” seru Nagisa marah. Hei apa-apaan ini? “Kau menakutkan! Menyebalkan! Mati aja sana!” sahut yang lain. Kana tampak biasa-biasa saja. Dia hanya berbalik lalu menjauh pergi.
“Kenapa kalian mem-bully-nya?” tanyaku kesal.
“Dia pantas mendapatkannya, Nanami,” kata Nagisa.
“Untuk apa gadis seperti dia berada di sekolah ini?” lanjut Nagisa diikuti dengan koor “setuju!” yang lain. Aku mendengus sebal.
“Kalian jahat!” gumamku lalu pergi meninggalkan Nagisa dan lainnya yang mulai bergosip.

Hari-hari berlalu. Semenjak pengumuman nilai itu, tak jarang aku melihat Kana dibully secara terang-terangan di sekolah. Benar-benar sekolah yang buruk! Aku ingin menjadi teman untuk Kana. Tetapi jika aku menjadi teman Kana, secara tidak langsung aku akan ikut menjadi bully-an mereka. Aku tidak mau itu terjadi. Orang-orang yang sering membully Kana adalah sebuah geng yang diketuai Kishida Mimori. Dia adalah gadis yang sadis. Ingin selalu menang, adalah ambisinya. Hari ini aku melihat geng Mimori yang beranggotakan 10 gadis itu mengerumuni Kana di kantin. Aku mengamati mereka dari jauh. Ku lihat Mirai melempar kotak bekal milik Kana hingga isinya berceceran di lantai. Sedangkan Mimori malah mencengkeram kepala Kana.

“Kamu lebih pantas mati daripada terus berada di sini!” bentak Mimori.
“Apa kamu pikir, bakal ada orang yang senang sama kamu di dunia ini, hah!?” tanya Sae sinis.
“Semua benci kamu, soalnya!” Sahut Mirai diiringi tawa yang lain. Aku tahu banyak pasang mata melihat adegan ini. Tapi mereka bersikap biasa. Seakan mendukung perlakuan geng Mimori ini. Rie menarik rambut Kana dari belakang.
“Kau tahu? Semua menginginkanmu mati!” ujarnya. Setelah itu ia melepas tarikannya. Namun Mika malah menarik tangan Kana hingga Kana berdiri.
“Pergi sana!” seru Kazuki lalu mendorong Kana agar menjauh. Geng itu tertawa keras. Sementara murid lain yang melihat memilih tidak peduli.

Diam-diam aku mengambil bekalku lalu segera membuntuti Kana. Akhirnya aku menemukan Kana di atap sekolah sedang menangis sesenggukan. Aku berjalan mendekatinya. Menyadari ada orang lain, Kana menoleh ke belakang. Aku tersenyum. “Nanami?” Aku duduk di sebelah Kana yang masih terkejut melihat kehadiranku. Dia malah bergeser menjauh.

“A-Apa yang kau lakukan?” tanyanya. Ku sodorkan kotak bekalku padanya.
“Kau belum makan, kan? Makanya aku membawakan ini untukmu. Terimalah, Kana. Ku mohon,” ucapku. Kana terlihat ragu.
“Tidak ada racunnya, kan?” tanyanya polos. Aku tertawa.
“Tentu saja tidak!” Kana tersenyum dan menghapus air matanya, lalu menerima bekal yang ku bawa.

“Terima kasih,”
“Kenapa kamu baik sama aku?” tanyanya lagu. Wajah sayunya terlihat sedikit cerah.
“Aku ingin jadi temanmu,”
“Aku ingin menjadi temanmu,”
“Teman? apakah aku masih pantas memiliki teman?” ucap Kana lalu tertawa hambar. Aku merangkulnya.
“Jangan seperti itu, Kana. Aku benar-benar ingin menjadi temanmu.” ucapku. Tangis Kana meledak.
“Terima kasih, Nanami.” katanya sambil menangis. Sesaat setelah tangisnya mereda, kami berbagi cerita panjang lebar. Ada banyak hal yang tidak ku ketahui tentang kehidupan Kana.

Sejak saat itu aku dan Kana menjadi sahabat. Setiap dia ingin curhat, bahuku selalu ada untuknya. Walau ketika dia dibully aku tidak bisa membantunya, tapi Kana memaklumi itu. Namun aku selalu berusaha membantunya semampuku. Setidaknya, aku bisa membantu menaikkan nilai-nilainya. Hari ini aku dan Kana duduk berdampingan di atap sekolah. Dia memakan bekal yang ku bawa. Aku memandang sekolah dari atas.

“Kana, kenapa kamu membiarkan dirimu dibully setiap hari?” pertanyaan itu tiba-tiba terucap. Kana menghentikan aktivitas makannya lalu menatapku.
“Aku.. hanya tidak ingin kesepian.” katanya lalu menunduk. “Aku tidak sepertimu, Nanami. Ketika aku memasuki sekolah, aku berharap aku memiliki banyak teman. Ternyata dugaanku salah. Mereka bahkan tidak menyukai kehadiranku.” lanjutnya lalu tertawa hambar.

“Mereka mem-bully-ku, tapi aku menerimanya. Setidaknya agar mereka sadar bahwa aku ini ada. Terkadang beberapa dari mereka memang kelewatan.”
“Jangan khawatir, sekarang aku menemanimu.” kataku lalu mengelus punggungnya.
“Terkadang aku malah ingin bunuh diri,” ucap Kana.
“Jangan lakukan itu!” Kana hanya tersenyum pahit.

Setelah pembicaraan ini aku dan Kana lalu turun dari atap. Aku berbelok ke arah kantin sementara Kana berjalan menuju kelas. Ah iya, aku dan Kana itu sekelas. Aku kembali ke kelas. Aku mendapati Kana sudah duduk di bangkunya dan tersenyum padaku. Kemudian Mimori datang.
“Hei! Aku ingin berlatih tinju di sini! siapa yang akan menjadi lawanku?” teriaknya. Semuanya diam. Apa anak-anak di sini begitu takut dengan Mimori? pikirku.
“Tinju saja anak bodoh itu!” sahut seorang murid laki-laki sambil menunjuk Kana.
“Usul yang bagus!” ucap Mimori lalu mendekati Kana. Aku mulai khawatir. Mimori menyeringai. Kana memandang Mimori takut-takut. “Ku harap kau tidak melawanku, bodoh!” kata Mimori lalu melayangkan kepalan tangannya ke wajah Kana.

Bugh! Tinjunya jatuh pada pipi Kana. Seketika pipi pucat itu berubah kebiruan. Kana meringis kesakitan. Setelah itu Mimori mulai memukuli Kana dengan brutal. Meninjunya berkali-kali tanpa sempat mengelak.

“HENTIKAN!!” teriakku memecah suasana. Mataku berkilat marah. Mimori memandangku angkuh. Aku berjalan mendekatinya.
“Jangan menjadi pahlawan, deh!” ucapnya.
“Jangan ganggu Kana, pengecut!” bentakku sinis. Mimori pura-pura takut.
“Woww~ aku takut dengan Nanami. Hahaha.” katanya dengan nada mengejek. Dikepalkan tangannya lalu dilayangkan ke arahku. Aku menahannya. Ku cengkeram tangannya lau ku putar ke belakang punggungnya. Mimori menjerit.

Ku alihkan pandanganku ke tempat Kana. Gadis itu sudah berlari ke luar kelas. Aku menyusul Kana dan menghiraukan umpatan Mimori di belakang. Aku berlari-lari mencari Kana. Dia pasti di atap sekolah. Aku segera berlari menaiki tangga menuju ke atap. Sesampainya di atap, aku berdiri di sebelah tangki air. Napasku memburu. Ku lihat Kana berdiri di tepian atap. Aku ingin berteriak, namun napasku masih belum teratur. Anehnya, aku melihat Kana melepas sepatunya. Dia tidak menangis. Syukurlah, pikirku. Setelah ini mungkin dia akan curhat denganku. Aku tersenyum lega.

“Nah, aku akan melakukannya. Sekarang, tidak bisakah aku sedikit lebih dihargai?” tanyanya seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Maafkan aku, Nanami. Tapi ini semua sudah keterlaluan dan aku tidak bisa menahannya.”

Hei kenapa Kana minta maaf padaku? Ku lihat Kana merentangkan tangannya. Seolah ingin menjadi burung lalu menatap ragu ke bawah. Tunggu, apa yang akan dia lakukan? Aku tidak bodoh, aku tahu apa yang ingin Kana lakukan. Aku yang sedari tadi berposisi setengah berjongkok kemudian menegakkan posisiku. “Selamat tinggal..” gumam Kana. Kana lalu berdiri di pembatas atap. Aku ingin berlari, Ehh sesuatu menahanku. Aku melihat ke bawah. Rokku tersangkut! Ya Tuhan! Aku berusaha melepaskan besi yang menyangkut rokku sebelum Kana benar-benar melompat.

“Kana!!!” teriakku.
Terlambat. Kana sudah melompat dari atap. Terjun bebas begitu saja.
“Kana!!” teriakku. Rokku sudah terlepas dari besi sialan itu. Segera saja aku turun dari atap dan berlari menuju halaman sekolah. Di sana sudah ramai.

Aku masih melihat Berita di TV. Kali ini ada Mama dan Kakakku yang ikut melihat.
“Hiks!” Mama dan Kakak menangis mendengar penuturan reporter sok tahu itu.
“Korban itu orangnya baik hati. Aku sangat menyayangkan orang sepertinya harus mati dengan seperti itu..” ucap seseorang yang diwawancarai oleh reporter tadi. Aku mengamati gadis itu. Aku mengenalnya. Itu Mimori!

Mimori tampak menangis. Juga teman-temannya. Tentu saja tangisan palsu. Aku memandang layar TV dengan tatapan muak. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu. Ugh! Aku mulai frustasi dan merasa bersalah. Jika saja waktu itu rokku tidak tersangkut, aku dapat menahan Kana agar tidak melompat. Dan seharusnya aku lebih berani membela Kana saat dibully. Aku benar-benar merasa sangat bersalah.

Tamat

Cerpen Karangan: Firstya Reta
Facebook: Firstya Reta

Cerpen Scorned Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kei’s Novel (Part 1)

Oleh:
Kisah ini berawal ketika aku masih di kelas 3-A SMA Tokyo. Namaku Kei Hiroshi. Di kelas ini, aku dijuluki “Orang Aneh”. Memang kalau dilihat dari kegiatan sehari-hari, hanya menulis

Surat Lusuh Untuk Evelyn

Oleh:
Langit senja kian mengubah warnanya menjadi keemasan, diselingi oleh para rumput menari mengikuti arah angin. Beberapa hewan turut bergegas mengumpulkan makanan mereka ke dalam sangkar. Sedangkan aku, masih terdiam

Rheta is my BFF!

Oleh:
Hoamm…. “Aku Sholat Subuh Dulu ahh…” Kata Lydia sambil menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. setelah ber-wudhu Lydia pun sholat subuh berjamaah bersama keluarganya dengan imamnya Dad “Allahuakbar” Lydia

Jimmy Bersamaku

Oleh:
Tiga tahun aku sudah aku bersahabat dengan Jimmy Mahendra, kakak kelasku. Walau lebih tua dia dariku, aku tak biasa memanggilnya kak. Sulit kalau jadi anak yang ngehits di kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *