Sebuah Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 January 2016

Gelap. Sangat gelap. Yang ku lihat hanya kegelapan. Ini di mana? Mengapa aku bisa berada di sini?
“Aulyn!” ku dengar ada yang memanggil namaku. Siapa itu?
“Aulyn!” suara yang memanggilku semakin dekat.

Ku lihat ada seberkas cahaya yang memancar dari ujung ruangan ini. Tapi aku tidak yakin ini sebuah ruangan. Lalu, ku dengar suara langkah kaki kian mendekat. Makin dekat… dan aku bisa mendengar napas seseorang. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena sangat gelap. Tapi aku bisa melihat matanya. Mata yang selalu ku rindukan. Mata kakakku… Tiba-tiba ada sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, samar-samar ku dengar suara.. kucing?

Ternyata itu cuma mimpi. Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentang kakakku, entah apa artinya. Dan kucing ini selalu membangunkanku sesaat sebelum aku melihat wajah kakakku. Mungkin aku terlalu merindukan kakakku sampai terbawa ke dalam mimpi? Ya mungkin.. dan hari ini tepat 2 tahun saat kakak meninggalkanku pergi untuk menjadi pasukan perang. Aku masih ingat kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku.

“Jadilah gadis yang kuat! Dan tunggu aku kembali..” Saat itu aku menangis karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku hidup tanpa kakakku, aku tidak mempunyai siapa-siapa selain dia. Dan kata-kata itu yang menguatkanku hidup tanpanya selama 6 tahun ini. Hatiku merasa dia tidak akan kembali tapi aku percaya dia akan kembali.

Aku bangun dari tempat tidur dengan malas. Entah apa yang akan ku lakukan hari ini. Kehidupanku setiap hari sama saja, tidak ada yang istimewa. Saat aku akan membuat sarapan terdengar suara ketukan pintu. Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu? Mengganggu saja, pikirku. Akhirnya dengan terpaksa aku menyeret kakiku untuk membukakan pintu. “Ya?” di balik pintu itu ternyata kakek Bertand yang setiap tahun selalu membagikan kertas berisi siapa saja yang akan berangkat ke pusat untuk menjadi pasukan perang dan siapa saja yang akan kembali setelah menjalankan tugas dari negara ini.

“Aku ingin memberikan kertas ini.” kakek Bertand memberikan selembar kertas lalu langsung pergi. Ya, dia memang selalu begitu.

Setelah menutup pintu dan membuat sarapan, ku baca kertas yang tadi diberikan kakek Bertand dan berharap di daftar nama Pasukan Yang Kembali tertulis nama kakakku. Mataku langsung menuju ke huruf R. Aku mulai membaca nama yang berhuruf depan R. Raphael.. Raymond.. Richard.. Royer. Tidak ada nama Roland. Aku sudah menyangka dia tidak akan kembali tahun ini. Ku lempar kertas itu ke tempat sampah dan mulai memakan sarapanku.

Setelah selesai sarapan, aku memberikan semangkuk susu untuk kucing itu dan langsung pergi ke luar. Aku pergi ke tempat aku biasa bekerja sebagai penjaga toko roti. Saat aku sampai aku melihat papan bertuliskan TUTUP. Hari ini libur? Aku tidak diberi tahu kalau hari ini libur. Aku masuk lewat pintu belakang dan mencari Richard si pemilik toko roti. Aku menemukan Richard sedang sibuk membuat roti.

“Richard?” aku memanggilnya.
“Oh tunggu sebentar, aku sedang sibuk. Amat sangat sibuk.” dia menjawab tanpa menoleh.
Aku duduk dan menunggu dia sampai selesai memberikan krim di atas sebuah roti yang baru matang. Richard menoleh dan menghampiriku.
“Kau mau membantuku?” ucap Richard.
“Oh tidak. Aku bingung, kenapa toko ini tutup sedangkan kau tetap membuat roti?”
“Kau belum mendengar beritanya? Anakku pulang nanti malam dan aku ingin membuat kejutan padanya!” ucap Richard dengan senang.
“Anakmu? Rose?” tanyaku bingung.
“Bukan Nak. Rose sedang menyiapkan makan siang. Lagi pula anak perempuan tidak boleh ikut pasukan perang. Anak laki-lakiku! Vincent!”

“Aku tidak tahu kau punya anak laki-laki..”
“Ya sudahlah. Kalau kau tidak mau membantuku sebaiknya kau pulang, aku sangat sibuk sekarang.”
Aku meninggalkan toko Richard dan mulai berjalan menuju pasar. Ketika akan berbelok ke sebuah gang aku mendengar ada yang memanggilku. Aku menengok ke belakang dan mendapati Marie -temanku, sedang berlari ke arahku.
“Aulyn!” ucap Marie sambil terengah-engah.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku memanggilmu dari tadi. Aku ingin memberitahukan informasi yang sangat penting.” kata Marie.

“Apa? Jangan buat aku penasaran.” kataku tidak sabar.
“Pertama, aku ingin bertanya. Apakah Kakakmu kembali nanti malam?” tanya Marie padaku.
“Tidak.” jawabku singkat.
“Jadi, aku dengar dari orang-orang kalau ada anggota keluarga kita yang ikut perang tapi tidak kembali selama bertahun-tahun, itu berarti dia sudah mati.” kata Marie sambil berbisik.
Aku terkejut. Jadi kakakku sudah meninggal? Aku tidak percaya itu, itu pasti hanya kabar angin. Belum pasti kebenarannya. Tetapi hatiku terasa janggal, sepertinya hatiku mempercayai ucapan Marie.

“Jadi.. Kakakku sudah mati?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“Tidak. Belum tentu, Aulyn.” kata Marie sambil merangkulku.
“Ya, aku akan mencari tahu kebenarannya.” kataku sambil pergi meninggalkan Marie.
Aku berjalan terus menuju rumah kakek Bertand, menerobos orang-orang yang berlalu-lalang. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kakakku. Aku harus menanyakan kebenaran ini.

“Kakek Bertand!” ucapku sambil mengetuk pintunya.
“Ada apa?” kata kakek Bertand di depan pintu.
“Umm.. Apakah benar kalau orang yang dikirim ke pasukan perang tidak kembali selama beberapa tahun, itu artinya dia sudah.. mati?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya kakek Bertand.
“Aku khawatir pada Kakakku.”
“Kalau begitu masuklah, biar ku jelaskan di dalam.”

Kakek Bertand menjelaskan semua yang dia ketahui padaku. Kata kakek itu semua benar, tapi belum tentu kakakku sudah mati. Tidak ada yang tahu nasib orang yang menjadi pasukan perang, karena itulah kalau anggota keluarga mereka bisa pulang dengan selamat maka akan ada perayaan besar-besaran.
“Apa saja syarat agar bisa menjadi pasukan perang?” tanyaku pada kakek Bertand.
Kakek Bertand terlihat terkejut dengan pertanyaanku lalu dia pergi ke dalam dan kembali sambil membawa sebuah buku. “Ini syaratnya: Anak laki-laki, mahir menggunakan pedang dan harus mempunyai 1 benda atau makhluk ajaib..”

“Makhluk ajaib? Memangnya yang seperti itu nyata?”
“Bisa saja. Apakah kau benar-benar ingin menjadi pasukan perang?” tanya kakek Bertand padaku.
“Uh.. Kau sudah tahu. Ya, aku ingin pergi dan menemui Kakakku.” jawabku dengan tegas.
“Sudah ku duga, tapi itu sangat beresiko dan berbahaya. Aku akan membantumu tetapi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan aku tidak bertanggung jawab.”

Setelah menjelaskan semuanya, kakek bilang akan mengajariku menggunakan pedang. Aku tidak tahu ternyata kakek Bertand mantan pasukan perang. Aku langsung pulang dan mempersiapkan diri untuk besok karena seleksi untuk pasukan perang akan diadakan 2 minggu lagi, waktuku sangat sedikit. Keesokan harinya aku pergi ke rumah kakek Bertand. Aku dilatih seharian penuh sampai tanganku banyak luka dan membiru. Tapi tidak apa-apa, ini semua demi bertemu kakak.

Dua minggu kemudian, tiba saatnya seleksi dan aku sudah sangat siap. Aku memotong rambutku agar terlihat seperti laki-laki dan berpakaian seperti laki-laki. Hanya 1 yang aku tidak punya, yaitu makhluk ajaib. Aku tidak punya benda atau makhluk yang seperti itu. Bagaimana ini? Aku harus menemukan makhluk ajaib dalam waktu 1 jam, bagaimana bisa menemukannya dalam waktu secepat itu?! Saat aku sedang frustasi begini, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan sangat keras sampai-sampai aku takut itu pintu akan lepas dari engselnya. “Tunggu!” teriakku sambil berjalan menuju pintu.

“Kakek Bertand? Ada apa?” dan itu ternyata kakek Bertand, wajahnya terlihat tidak sabaran.
“Kau sudah menemukan makhluk ajaib?”
“Belum.” jawabku.
“Kucingmu itu adalah makhluk ajaibnya.” ucap kakek Bertand.
“Kakek bercanda? Mana mungkin! Kalau kucing itu ajaib seharusnya aku sudah tahu dari dulu.”
“Kucing itu bisa bicara, coba saja ajak dia berbicara.”

Aku mengambil kucing itu dan menggendongnya. “Kau bisa bicara?” tanyaku pada kucing itu. Tapi dijawab oleh meow-an seekor kucing biasa.
“Kau bohong.” tuduhku pada kakek Bertand.
“Buat dia kesal.” ucap kakek Bertand.
“Hey! Ayo bicara atau aku tidak akan memberimu makan! Aku kan membuangmu ke tempat seekor anjing yang kelaparan!” ucapku lalu melempar kucing itu. Terdengar bunyi gedebug keras lalu suara makian. “Jangan kasar padaku! Kucing juga punya perasaan!” maki kucing itu padaku.
“Maaf. Dan aku harus segera berangkat ke seleksi pasukan perang. Terima kasih Kakek Bertand!” ucapku lalu membawa kucing itu dan berlari meninggalkan kakek Bertand.

Saat aku sampai di alun-alun kota, tempat seleksi pasukan perang akan berlangsung sudah banyak orang-orang yang datang. Mereka terlihat sangat kuat dan berani. Aku jadi merasa takut ditambah mereka membawa benda dan makhluk yang aneh sedangkan aku hanya membawa seekor kucing yang sedang terlelap di pangkuanku. Apa istimewanya selain kucing ini bisa berbicara? Apakah kucing ini bisa membantuku nanti? Semoga saja bisa, aku menjawab pertanyaanku sendiri.

Satu persatu orang-orang yang ada di alun-alun berkurang, ada yang lolos dan ada yang tidak. Aku jadi takut. Saat nomorku dipanggil, aku segera menuju ke dalam ruangan di pinggir alun-alun. Di sana, ada 3 orang yang aku simpulkan sebagai juri. Mereka melihatku agak lama dan menyuruhku mengambil sebuah pedang yang tersedia. “Pakai pedang itu untuk melawanku.” ucap seorang dari 3 juri itu.

Pertandingan dengan juri itu berlangsung lama dan alot, sampai akhirnya juri itu berhasil menawan leherku. Ku lihat wajah kedua juri lainnya sangat tidak bersahabat. Lalu juri yang tadi melawanku bertanya, aku membawa benda ajaib apa. Aku menunjukkan kucing itu dan ekspresi mereka makin berkerut seperti kakek Bertand. Saat ku buat kucing itu berbicara, ekspresi mereka tetap tidak berubah dan aku diberi sebuah kertas kecil berwarna merah. Perasaanku tidak enak saat melihat ekspresi mereka. Aku kembali ke alun-alun dan dengan perlahan ku buka kertas itu, ku baca tulisan yang ada di kertas itu “LOLOS.” Yeahhh!! berhasil! Senang sekali rasanya, aku melompat-lompat sejenak dan mengambil amplop untuk para peserta yang lolos.

Setelah itu aku kembali ke rumah dan segera memberitahukan hasilnya pada kakek Bertand. Ku beritahukan apa saja yang terjadi tadi, kakek Bertand hanya mengangguk-angguk saja lalu dia menyuruhku untuk mempersiapkan keperluan untuk besok karena besok aku akan berangkat ke pusat. Akhirnya aku pulang, mempersiapkan keperluan dan langsung tidur. Pagi-pagi sekali aku bangun dan berpamitan pada kakek Bertand.

Aku menaiki kapal untuk menuju ke pusat. Waktu luang di kapal aku pakai untu menghafal mantra sihir yang tadi pagi diberikan oleh kakek Bertand. Kakek bilang kalau pasukan perang akan menghadapi makhluk-makhluk aneh dan berbagai macam penyihir yang selalu mengincar negara kita. Aku baru tahu kalau yang menyerang itu penyihir, pantas saja setiap tahun selalu dibutuhkan pasukan perang.

Malam harinya kami baru sampai pusat dan langsung diberikan pelatihan fisik sampai tengah malam dan baru kami dibolehkan untuk tidur dan beristirahat. Badanku sakit semua karena aku tidak terbiasa dengan ini, sebelum tidur aku memikirkan kakak. Saat pelatihan tadi, aku tidak melihat kakak. Apakah kakak sudah berubah atau dia sedang berada di tempat lain? Pikiranku terus melayang sampai aku terlelap. Aku dibangunkan oleh suara lonceng yang sangat kencang sekali. Semua orang langsung cepat-cepat berganti pakaian dan menuju ruang makan. Kami semua makan dengan terburu-buru dan langsung menuju tempat pelatihan tadi malam.

Sekarang kami akan diberikan pelatihan sihir, satu persatu harus menyebutkan mantra sihir yang diketahui. Jika tidak tahu satu pun mantra sihir maka mereka harus lari mengelilingi tempat ini sampai 10 kali. Ternyata banyak yang tidak tahu, untung saja kakek Bertand memberikan mantra-mantra sihir, jadi mudah saja bagiku untuk menjawabnya. Seharian itu terus berlanjut latihan-latihan lainnya seperti bagaimana cara menggunakan senjata, menggunakan benda sihir, dan lain-lain.

Selesainya latihan hari ini juga tengah malam. Malam ini aku tidak memikirkan apa pun, aku lupa tentang kakak dan semuanya karena terlalu lelah. Lonceng berdentang lima kali, sudah waktunya bagi kami untuk bangun. Rasanya badanku ingin remuk dengan semua latihan ini. Bagaimana kakak bisa tahan menjalaninya? Oh iya! Aku belum bertemu kakak hingga sekarang.

“Keadaan darurat! Pasukan perang kurang, kita butuh pasukan tambahan SEGERA!” tiba-tiba terdengar pengumuman keadaan darurat dan alarm berbunyi. Aku segera menuju lapangan untuk berbaris. Kami semua dikirim untuk menjadi pasukan perang darurat. Aku naik ke helikopter yang tersedia bersama yang lainnya. Aku membawa sebuah pedang, kucingku, dan pistol ajaib. Ketika aku sampai di medan perang, ku lihat banyak yang terluka. Aku jadi takut, bisakah aku melawan makhluk-makhluk penyihir itu?

“Semua berbaris! Ikuti aba-abaku dan kalian akan maju!” teriak seorang pemimpin yang aku tak tahu namanya -bahkan wajahnya saja tertutup topinya. Setengah dari kami sudah membantu pasukan inti. Aku bisa melihat semua makhluk dan penyihir dengan mudahnya menghancurkan pasukan yang baru datang. Aku berada di paling depan barisan, dari samping aku bisa melihat dengan jelas wajah pemimpin itu. Sepertinya aku kenal, tapi siapa ya? “Semuanya maju! Serang!” teriak sang pemimpin. Aku terlonjak dari lamunanku dan langsung berlari mengikuti yang lain.

Aku banyak terluka, aku tidak tahu apakah aku masih mampu atau tidak. Tapi yang jelas aku harus menemukan kakak sekarang sebelum aku mati. Di mana kakak? Yang aku lihat hanya ceceran darah dan mayat manusia. Di mana kakak? “Ayo bangun!” teriak seseorang di belakangku. Aku menoleh dan melihat si pemimpin menatapku. Aku balik menatapi dia, menatap wajahnya yang berlumuran darah. Tapi aku masih bisa mengenalinya dan matanya… Mata yang sama persis dengan kakak. “Kak Roland?” gumamku.

Tapi kakak sudah pergi meninggalkanku dan mulai melawan musuh tanpa gentar. Ternyata kakakku selama ini adalah seorang pemimpin. Aku bangga menjadi adiknya. Aku pun mulai berlari menyusul dia, tapi tidak jauh dari tempatku ada seekor harimau yang besar sedang menuju ke arah kakak. Aku harus mendahului harimau itu. Aku harus menyelamatkan kakak. “Kakak!” teriakku. Tapi kakak tidak menoleh, kakak tetapi sibuk melawan musuhnya.

Tanpa pikir panjang aku langsung menyerang harimau itu. Harimau itu tertusuk pedangku. Tapi lukanya hanya kecil. Harimau itu mengamuk dan menerjang ke arahku. Aku acungkan pedangku, ternyata pedangku patah. Aku menatap harimau itu dengan ngeri. Bagaimana aku bisa mengalahkannya? Tidak ada waktu untuk berpikir, yang terpenting aku harus lari. Aku berusaha bangkit tetapi harimau itu menahanku dengan kedua kakinya. Kakinya yang lain maju ke arahku dan mencakarku. Satu cakaran. Dua. Tiga. Empat. Satu lagi cakaran mengenai mukaku dan yang lainnya di bagian dadaku.

“Arghh!!” aku meraba bagian dadaku. Darah. Kini aku penuh darah.
Ku coba untuk mendorong harimau itu tapi aku tidak kuat. Harimau itu terlalu besar. Aku akan mati. Mati sebelum berbicara dengan kakak. Pengorbananku akan sia-sia. Tanpa berpikir panjang aku berteriak, “Roland! Roland Wiseman! Aku adikmu!” Aku tidak bisa melihat reaksi kakak. Bahkan untuk menoleh pun aku tak sanggup. Terpikir olehku, kenapa harimau ini tidak langsung memangsaku saja?

“Aulyn? Apakah itu kau?” kata-kata itu yang membangunkan kesadaranku.
Roland berlari ke arahku. Sebelum dia sempat menebas hewan yang di depanku, leherku sudah dicabik olehnya. Aku sungguh tidak sanggup lagi.
“Aulyn! Bertahanlah! Bagaimana kau bisa berada di sini?”
“A-akhir-nya aku bisa bertemu denganmu. Aku merindukanmu..” Kataku dengan terbata-bata. Aku bisa melihat dia mulai menangis. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku dengan mata yang sangat indah. Mata yang sangat aku sukai.

Aku menarik napas untuk yang terakhir kali, mengumpulkan tenaga untuk berbicara sekali lagi.
“Aku mencintaimu–” lalu aku menutup mata.
Aku bisa mendengar isakan tangis kakak dan sebuah bisikan. Bisikan kata-kata yang membuat aku bisa mati dengan tenang.

Cerpen Karangan: Masrikah
Facebook: https://www.facebook.com/rika.k.wardhani

Cerpen Sebuah Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Balon Hitam Menghilang

Oleh:
Sabtu pagi, aku terbangun dengan riangnya. Aku sadar bahwa ini adalah kamar istimewaku. Aromanya menenangkan khas jeruk nipis pewangi ruangan kamarku. Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar

Vampir Virtual

Oleh:
“Ayo! Ayo! Kalahkan mereka vampirku!”, kata Ran dari kamarnya. Ini sudah lebih dari jam 12 malam, jam tidur untuk anak sepertinya seharusnya sudah lewat dari tadi. Tapi anak yang

DOT (Part 2)

Oleh:
Sesampainya di sana, ku lihat Young Jae duduk memainkan ponselnya dan kemudian melihat ke arahku. “Bagaimana? Apa masih sakit?” tanyaku sambil menatapnya. “Kau pucat?” tanyanya sambil menatap wajahku. “Aku

Sendiri Itu Sepi

Oleh:
Namaku Tiara. Biasanya aku selalu bersama temanku. Tapi aku membuat satu kesalahan yang tak bisa dimaafkan mereka. Mutia, musuhku, membuatku merobek data untuk acara Pensi sampai benar-benar tinggal serpihan.

Disleksia

Oleh:
Kosakata baru dalam hidupku yang sekarang sudah berumur lima belas tahun. “Woy!” Teriak seseorang di belakangku Benar dugaanku. Orang itu lagi. “Hey!” Balasku sekenanya. “Dasar penyakitan!” Tambahku. Sontak raut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *