Selalu Ada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 September 2013

Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap di meja dekat kanvas dimana ia beraksi melampiaskan imajinasinya melalui cat air.
Sebenarnya… aku iri, sangat iri. Kenapa? Karena ia selalu dipuji-puji oleh semua orang. gurunya, orang tuanya, teman-teman, dan… semua yang melihat lukisannya. Dia adalah salah satu murid berprestasi di sekolah. Yang tak pernah bergeser dari kedudukannya sebagai juara umum kesatu se-sekolahan. Tapi.. biarlah, dia itu kan sahabatku.

Sayangnya… dia sudah meninggal karena kanker otak yang menimpa dirinya. seluruh lukisannya hanya menyisakan kenangan terdalam. kenangan terakhirnya adalah sebuah lukisan yang aku pandangi saat ini. Dia memberikannya padaku saat aku melihatnya sedang melukis sambil menangis dan wajahnya pucat di ruang kesenian sekolah. Gambar lukisan itu adalah dua orang anak sedang bermain di atas perahu di danau. Dan itu adalah aku dan Aurel.

Terakhir kali, hubungan persahabatanku dan aurel hancur. Hanya karena dia merusak teddy bearku saat menginap. Dan sekarang.. aku sadar, boneka itu tidak bisa menghiburku tapi Aurel bisa menghiburku. dan aku melihatnya sedang ada di ruang kesenian dan menangis, wajahnya pun pucat. Aku diam-diam mengintipnya. Dan akhirnya.. ketahuan.

Hari itu… hujan turun amat deras. Disertai petir yang menggelegar. langit bergemuruh Seperti persahabatan kami yang sekarang.
“Maudy… jangan terus bersembunyi” ucap Aurel lirih dan masih terfokus pada pekerjaannya.
“Bagaimana dia bisa tahu?” Batinku.
Aku pun masuk ke ruangan itu dan berdiri kurang lebih dua meter di belakang Aurel.
“Ada apa?” Tanyaku ketus. Ya karena kita masih marahan.
“Lebih dekat..” Seru Aurel lembut.
Dan aku pun melangkah dan berhenti tepat di belakang gadis berwajah sembab itu.
“Sekarang, apa?” Tanyaku seraya memandang langit-langit ruangan.
“Ma.. Ma.. Maudy.. A.. Aku.. Ta.. Ta.. Takut.. Kalau.. Ki.. Kita..” Ucap Aurel terbata-bata dan kembali menangis. Aku pun diam-diam meneteskan air mata. Tapi buru-buru aku mengelapnya.
“Kalau kita..” Kata-kata itu terucap lagi dari mulut mungilnya.
Aku terus melawan air mataku yang keluar ini. Tetapi, tanganku yang terkena air mata malah menambah basah wajahku. Akhirnya aku membiarkannya mengalir.. Dan terus mengalir.
“Akan… berpisah” Lanjutnya. Aku berlari memeluk Aurel dari belakang. Aku marah dia berbicara seperti itu.
“Tidak Aurel, TIDAK!” Bantahku disela-slea tangisanku.
“Jika aku sudah pergi.. tolong jangan menangis karena aku selalu ada di sampingmu, di hatimu. Dan pandangilah lukisan ini terus” Ucap Aurel seraya memberikanku lukisan dua orang perempuan yang tengah bermain di atas perahu di danau dengan ekspresi yang bertolak belakang padaku dan Aurel saat ini.
“Maafkan aku Aurel”
“Aku juga minta maaf… Maudy”

Keesokan harinya..
“hoaaaamm” Aku terbangun dari tidurku jam delapan pagi. lalu mandi dan sarapan sendirian karena ayah dan ibu tidak ada di rumah. aku juga sempat bertanya-tanya. Firasatku pula menunjukan ada yang aneh pada Aurel.
Suara pintu tampak terbuka. Terlihatlah ayah dan ibu dengan perasaan sedih. Mereka memakai baju hitam. Dengan kaget aku menghampiri mereka.
“Aurel… MENINGGAL karena kanker otaknya kambuh!” Ucap ayah yang membuatku tercengang.
Aku pun berlari melalui ayah dan ibu. air mata mulai membasahi pipiku. Setelah sampai di pemakaman, Aku menangis memegang nisan Aurel.
“Aku tahu kamu menyuruhku untuk tidak menangis. Tapi.. aku TIDAK BISA!” Seruku di sela-sela tangisanku.

Kembali ke posisiku sekarang..
“Lukisan ini punya arti besar dalam hidupku. Tapi Aurel. kamulah yang lebih berarti” Aku menangis.
“Perasaan takutku kembali! Kamu menangis!” Seru seseorang.
“Aurel?” Tanyaku kaget.
“Maudy?” Aurel tertawa.
“Aku tidak akan hilang Maudy, Ada di hatimu!” Kata Aurel.
Hari itu aku merasa seperti mimpi. jika itu memang mimpi… Terimakasih tuhan karena sudah menyadarkanku bahwa sahabat itu bukan sekedar bisa kulihat kehadirannya. Tapi juga bisa kurasakan dia selalu ada di hatiku dan di sampingku. Tolong kirimkan salamku pada Aurel Ya Tuhan.

Cerpen Karangan: Umi Fauziah M
Facebook: Umi Fauziah

Tanggal lahir: 5 Desember 2001
Tempat tinggal : Cimahi, Bandung, Jawa Barat
Facebook : Umi Fauziah
Twitter : @umifauziah7

Cerpen Selalu Ada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meaning Love

Oleh:
Jatuh Cinta itu Indah.. Tapi harus siap juga mengalami PATAH HATI.. Cinta itu mempunyai berbagai Rasa.. Asam, Pahit, Manis.. Cinta itu tidak datang dari mulut, tapi dari Hati.. Cinta

Kehendak Tuhan

Oleh:
Saya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak sempurna dan penuh dengan kekurangan. April Tanggal 17 itu tanggal ulang tahunku, aku tak suka jika ulang tahun ku ini dirayakan atau

Kisah Si Ahmad

Oleh:
Di suatu pedesaan ada seorang anak sebut saja sih akhmad, sehari-harinya dia membantu bapaknya ke sawah. Akhmad masih berumur 17 tahun, tiap hari dia mengabiskan waktunya hanya di sawah

Magical of Miror

Oleh:
Gaun hitam menyelimuti seluruh tubuhku. Hari ini adalah hari pemakaman kakekku. Kemarin kakekku baru saja meninggal. Tepat dihari ulang tahunku yang kesepuluh. Di dunia ini hanya kakek yang kumiliki.

Surau Yang Diwariskan

Oleh:
Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *