Selalu Diasingkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 June 2014

Bagai tangan yang tak bisa menggenggap lagi. Tingginya langit jauhnya bulan luasnya dunia, hanya akulah yang paling menderita saat ini. Entah mengapa ini belum kan berakhir. Mengapa tak ada yang ingin berteman denganku? Apa kesalahanku? Mungkin orangtuaku kurang kaya, atau bahkan aku tidak secantik mereka..

Sedih rasanya, ini sudah terjadi dari aku masih kecil, bahkan waktu itu aku belum masuk sekolah. Teman di dekat rumahku, mereka kalau bermain tidak pernah ingin melibatkan aku di dalamnya, selalu saja berpura-pura telah selesai bermain, katanya. Itu selalu terjadi padaku, dan apalah daya seorang anak berusia 4 tahun, yang ku lakukan hanya menangis tersedu-sedu di kamar. Aku masih sangat ingat mama yang bingung melihatku menangis itu dan bertanya, “kenapa nangis nak? Ada apa? siapa yang jahat padamu sayang?” aku hanya berkata seadanya saja “Mereka kalau main tidak pernah mau mengajak aku ikut dengan mereka, bahkan kemarin aku diusir karena kata mereka aku sangat mengganggu,” lantas mama ku pun ikut menangis dan memelukku waktu itu.

Setelah aku masuk TK pesantren di tempatku, aku sering lagi dikucilkan. Mereka menggangguku, mengejekku, bahkan menghinaku. Tapi tak sedikitpun aku cerita dengan orangtuaku kalau aku tidak ada teman disana, karena aku takut mereka akan sedih mendengar anak tunggalnya ini tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Tapi aku senang disana, karena masih ada umi dan abi yang sayang padaku, mereka sangat peduli bahkan umi akan marah kepada teman yang berani menggangguku.

Waktu terus saja berjalan. Aku sudah duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang pada waktu itu sekolahku masih dibilang ketinggalan. Yahh wajar sajalah, mungkin karena letak sekolahku di atas bukit dan dikelilingi oleh pohon dan sawah-sawah. Tapi aku merasa sangat bangga disana. Aku siswi berprestasi, walaupun tidak pernah juara kelas tapi aku selalu menjadi perwakilan sekolah di hampir setiap event. Di bidang biologi aku pernah menjuarai tingkat kota, aku sangat bahagia akan hal ini, wajarlah aku kan dari sekolah yang tidak unggul itu saja aku rasa aku sangat hebat. Dan prestasiku itu sangat didukung oleh teman-temanku bahkan guru dan kepala sekolah pun membanggakan diriku. Alhamdulillah keadaanku berubah drastis, aku mulai nyaman di tempat baruku ini. Sebenarnya aku lebih menyukai seni.

Ada lomba pramuka se-Kota. Tanpa pikir lagi, Kepala Sekolahku memasukkanku ke bidang pramuka. Katanya, disana nanti ada lomba drama dan aku ditunjuk sebagai pemeran utama dalam drama yang akan tim kami tampilkan kelak. Tak terlalu buruk kami mendapat juara 2. Kepala sekolahku sangat bangga, wajar saja itu pertama kalinya sekolah kami mengikuti kegiatan ini.

Aku ingat ketika Kepala Sekolahku menyebutku dengan sebutan “anak emas” sontak aku kaget, senang sekali rasanya ternyata masih banyak orang yang tidak risih ada di dekatku, bahkan menyayangiku seperti ini. Aku adalah anak yang beruntung saat ini karena aku merasa teman-temanku sangat iri terhadapku.

Tak cukup itu, aku lulus dengan nilai terbaik dari Sekolahku, “sangat-sangat membanggakan” kata guru ku. Karena selama ini belum ada yang lulus UN dengan nilai sebaik aku di sekolah ini. Sangat mudah bagiku memasuki sekolah mana yang akan ku masuki kelak. SMA yang paling favorit di kotaku lah yang akhirnya ku masuki.

Aku selalu menyamakan SMA ini dengan dimana aku berada di SMPku dulu, yang selalu di bilang “anak emas”. Aku merasa salah milih sekolah, ini bahkan tempatnya orang pintar bak genius, tempat orang kaya dan sok-ngeartis semua, ya ampuunnn…
Aku telah salah, aku yakin itu. Ternyata terjadi lagi, sebelumnya aku tahu ini akan terjadi lagi. Karena awalnya aku telah melihat situasi yang aku kurang nyaman, bahkan sekarang aku takut berbicara, aku takut beradaptasi. Akulah orang pasif itu.

Aku diremehkan lagi. Kali ini mungkin karena aku satu-satunya siswi yang berasal dari sekolah yang tidak se-level dengan mereka. “Tapi apa salah, toh sama-sama orangtua kita yang membiayai kita disini bukan?” itulah pertanyaan yang selalu ada di fikkiranku. Pernah sekali aku mengumumkan sesuatu di depan kelas, tetapi perkataanku tak seorang pun ada yang peduli. Huh.. aku lelah biarlah mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, aku juga tak peduli.
Sempat aku ikuti permainan (Geng) temanku yang sok manja yang berjumlah 6 orang ditambah aku. Tapi aku merasa sangat bodoh. Mengapa tidak, aku merasa aku hanyalah orang yang bisanya hanya disuruh-suruh saja, sepertinya mereka mengibaratkan aku seperti pembantu mereka. Itu berjalan selama 3 bulan saja.

Percuma aku berada di antara mereka, sedikit pun mereka menganggapku tak penting. Bodohnya aku kalau masih mau jadi umpan suruhan mereka. Di jejaring sosial mereka menjelek-jelekkan aku, sontak aku terkejut. Kurang apalagi aku pada mereka Tuhan? sebegitu jijiknya mereka mengenalku? Air mataku terjatuh teringat apa yang telah ku perbuat pada mereka selama ini. Aku rasa ini sangat sakit. “Air susu dibalas air tuba” mungkin itu pepatah yang sangat cocok untuk diriku. Segala upaya telah aku perbuat untuk aku bisa sama posisi berteman dengan mereka, untuk mereka bahagia kalau aku berada di antara mereka. Tapi tak pernah kebahagiaan yang kudapat dari mereka. Pernah aku membela diriku, tapi percuma kekuatanku tak ada apa-apanya dibandingkan mereka. satu berbanding lima aku dengan mereka.

Kenaikan kelas, aku masih sekelas dengan mereka. Tuhan.. aku takut melihat wajah-wajah mereka tapi aku tak bisa lari dari kenyataan. Aku mencoba jadi anak yang sangat pemberani. Tenyata berhasil jua. Ada seorang teman dari kelas lain yang ingin berteman denganku, langsung saja aku menyambutnya dengan senang hati. Sebut saja namanya Rere.

Aku dan Rere, walaupun kami beda kelas, kami sangat berteman akrab. Aku sering mengajaknya main ke rumahku, begitu juga Rere sering mengajakku ke istananya. Mamaku yang tau aku sudah mempunyai seorang sahabat sangat senang mendengar hal itu. Aku selalu menyiapkan makanan lezat setiap kali Rere main ke rumahku. Pernah waktu itu, Lampu kamarku sudah mati. Aku malu, Rere yang datang dari siang tak kunjung pulang, bukan maksud hati ingin mengusirnya, tapi aku hanya malu saja padanya. Waktu pun berjalan dan hari pun mulai gelap. Rere yang menyuruhku untuk menghidupkan lampu, tetapi aku hanya mengatakan “ya ampun aku lupa kalau lampu kamarku sudah mati”. Mama yang mendengar aku saat itu langsung saja memberiku uang lima puluh ribu untukku membeli lampu. Aku sangat haru, karena aku tahu itu adalah satu-satunya uang yang mama pegang, dan mama memberikan uang itu padaku hanya untuk aku agar aku tidak malu di hadapan temanku. Rere kembali mengusikku, katanya ia ingin ke kamar mandi. Ternyata lampu kamar mandi juga tidak bisa hidup, aku mulai khawatir Rere akan mengejekku karena lampu yang tak ada itu. Mama hanya bilang “Kalau mau buang air kecil sebaiknya di belakang saja ya Re, soalnya kamar mandinya sedang rusak”
Mengapa mama melakukan itu? hanya karena takut aku dipermalukan. Seharusnya mama tidak usah melakukan itu. Aku bisa saja mengusir Rere dari rumahku dan menyuruhnya pulang, dari pada aku melihat perasaan mama yang hancur seprti ini karena melihat anaknya yang tidak se-level dengan Rere yang anak orang kaya itu.

Sesuatu terjadi. Tiba-tiba saja Rere memfitnahku mengambil uang 100 ribu milik teman sekelasku. Aku sangat tidak percaya Rere mengatakan hal itu. Lantas semua teman di kelasku percaya cuma-cuma saja dengan yang dikatakan Rere. Aku berlari sambil menangis menuju kamar masndi, tak ada yang percaya padaku, guru, semuanya tak ada yang percaya kalau aku tidak mengambil uang temanku!

Kalau aku berjalan, semua temanku hanya melirik dang sepertinya mengumpat kejadian kemarin. Aku tidak perduli, aku bukan maling!!!

Hal yang aneh terjadi. Rere tiba-tiba menceritakan hal yang buruk kepada mantan teman-teman geng ku dulu. Sepertinya Rere cukup pintar menceritakn keburukanku depan mereka. Aku rasa mereka semua tambah jijik melihatku. Tapi tenang saja tak sedikitpun aku menyimpan dendam. Hidup ini hanya sementara, kalau aku pergunakan untuk membalas perbuatan mereka aku tidak ada bedanya dengan mereka. Toh aku jadi bukan anak yang baik. Itu terjadi hingga aku kelas 3 SMA, dan tak seorang pun ingin berteman denganku. Teringat akan hal dulu, begitu jahatnya Rere Tuhan? Tak henti-henti cobaan ini? Apa di dunia ini hanya aku yang selalu dikucilkan? aku sempat kuat, tapi aku juga manusia. Aku tak akan ceritakan ini pada mama. Aku takut mama akan sedih mendengar aku mengeluh karena dijauhkan teman-temanku.

Aku harus lebih cerdas. Seberapa aku dekat dengan orang, aku tidak akan percaya cuma-cuma padanya. Dialah yang paling mudah untuk menjatuhkan aku, karena itulah aku sadar kalau teman bisa menjadi musuh terbesar dimana pun kita berada.

Cerpen Karangan: Mukhira
Blog: mukhiramastie.blogspot.com
Mukhira Mastie Rahmipa

Cerpen Selalu Diasingkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Can I Singing Again?

Oleh:
Nina dan Ana, adalah sepasang sahabat sejati. Mereka tinggal di satu perumahan dan kompleks yang sama. Perumahan Anggrek di Kompleks D. Mereka juga mempunyai suara yang amat merdu. Kebetulan,

Burung Pipit yang Sombong

Oleh:
Di hutan ada seekor burung, Pipit namanya. Ia tinggal sendirian di rumah. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Pipit mempunyai sifat sombong. Ia tak pernah membantu orang lain, saat orang

Aksara Tak Bisu

Oleh:
Bukit itu terlalu sunyi untuk di katakan wajar. Setelah dipersilahkan masuk ke rumah orang tua itu, aku duduk pada kursi di ruang tamu. Ia meraih sebungkus tembakau kasar. Disodorkannya

Akhir Yang Manis?

Oleh:
“Aduuh, sakit!” Diandra menabrak sesuatu dengan keras hingga badannya limbung. Hap, ada yang menahan tubuhnya. Dengan perlahan Diandra menegakkan tubuhnya, membuka matanya, melihat sekeliling ternyata sudah banyak kepala-kepala yang

Aku Sudah Mati ?

Oleh:
Lia Widyawati Herlambang, begitulah nama panjang gadis berusia 18 tahun yang tengah berkuliah semester 2 ini. Ia mempunyai wajah cantik, berambut lurus sebahu dengan poni se-alis ala dora the

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selalu Diasingkan”

  1. robihat says:

    yaps 😀 like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *