Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 February 2018

Aku membuka mata dengan perlahan-lahan tapi entah mengapa berat sekali rasanya membuka mata ini. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur di ranjang ini tapi yang kuyakini adalah aku pasti sudah lama menempati ranjang ini. Saat aku melihat sekeliling ternyata ada banyak sekali orang yang mengerubungiku dan seketika itu pula ingatanku melayang pada kejadian yang membuatku terbaring di tempat tidur ini.

“kamu yang melakukan semuanya ini? Kamu telah menghancurkan hidup dan karirku. Kamu puas mengobrak-abrikan semua pekerjaanku ini? kamu iri padaku?” bentak Trisela kepadaku.
“aku tak mengerti apa yang kau ucapkan, sahabat. Aku tidak mengetahui apa-apa tentang makalah ini. Aku hanya menjaganya saja. Sungguh.” ucapku dengan nada ketakutan yang kentara sekali.
“alah udah jangan belaga bego! Kamu gak suka kan aku sukses makanya kamu mengotori makalahku ini dengan menginjaknya. Ngaku deh!” bentakan Trisela yang terkahir itu membuat para penghuni kantin sekolah melihat ke arah sumber suara. Dan seketika itu juga kita menjadi tontonan gratis bagi para penghuni kantin.
“bener sel aku tidak melakukan semuanya itu menyentuh makalahnya pun aku tidak berani apalagi mengotorinya dengan cara menginjak makalah tersebut. Sungguh kamu harus percaya kata-kataku.”

Belum selesai penjelasanku, Trisela sudah bergegas meninggalkan kantin ia melangkah dengan kesal menuju kelasnya. Memang aku dan dia berbeda kelas tetapi kami bersahabat dari awal kita memasuki sekolah ini sampai saat sekarang kita menduduki bangku kelas 3.

Aku membuka makalah tersebut, aku berpikir sejenak lalu bergegas menuju kelasku untuk mengetik ulang isi makalah ini. Kebetulan sekali aku membawa laptop saat ini sehingga aku bisa menyalin ulang, mengeprintnya lalu memberikannya pada Trisela sebelum bel pulang berbunyi. Aku menyalinnya dengan kecepatan penuh dan aku pun izin pada jam istirahat kedua untuk memprint semuanya ke warnet dekat sekolah. ‘Hanya tinggal menyerahkan ini kepada Trisela lalu kita dapat berbaikan’ pikirku.

Bel pulang berbunyi, aku segera menuju kelas Trisela dengan setengah berlari. Ternyata saat dia melihatku berlari ke arahnya, dia juga malah berlari keluar berusaha menghindar dariku.
“Trisela tunggu” teriakku. Bukannya berhenti ia malah mempercepat langkahnya. Aku pun semakin berlari kencang mengikutinya.
“sel tolong dengerin dulu penjelasan aku, plis!” ia pun malah semakin cepat berlari menuju gerbang sekolah. Aku pun mengejarnya dengan sekuat tenaga tapi ternyata gerakannya lebih cepat dari gerakanku. Dan akhirnya ia berlari ke arah jalan besar. Aku pun mengikuti gerak-geriknya. Tapi disaat aku hampir meraih bahunya, rasa pusing pun menyerang kepalaku dengan hebat. Sekelilingku terasa berputar. Dan bahu yang barusan saja ingin kusentuh sudah menghilang seketika dan digantikan dengan gelap yang mencekam. Dalam hati aku berseru ‘mungkin ini akhir kehidupanku’

Kamar Rumah Sakit
Setelah aku tersadar dari ingatan selintasku itu, aku pun dengan cepat memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan langsung menemui Trisela. Tapi saat aku berusaha bangkit dari tempat tidur, ternyata kulihat banyak sekali alat yang terpasang dalam tubuhku membuat gerak-gerikku sedikit tersendat. Aku sudah berancang-ancang untuk melepaskan semua alat ini tapi sepasang tangan malah mencekal keinginanku.

“apa yang kamu lakukan grisela? Kamu baru saja sadar dari koma tolong jangan banyak bergerak dulu”
Kuperjelas penglihatanku ke wajah yang memegang erat tangku tersebut. Ternyata sepasang tangan itu milik pacarku sendiri. Fredinant Sevani. Ah aku sangat merindukan dirinya. Ingin sekali memeluk dirinya dengan erat. Tapi seketika itu juga kuurungkan niatku tersebut karena teringat dengan tujuan awalku untuk berbaikan dengan Trisela.

“aku mau bertemu dengan Trisela, aku ingin minta maaf sama dia. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku gak mau kehilangan sahabat terbaikku dinant” ucapku halus
“tapi kamu baru aja sembuh, masa udah mau pergi-pergi keluar nanti aja ya setelah keadaanmu pulih seratus persen baru aku bawa kamu ke dia. Oke?”
“gak mau dinant, aku maunya sekarang ketemu sama dia sebelum semuanya terlambat dan aku menyesal nantinya.” Ucapku dengan nada meminta. Dinant hanya diam seribu bahasa seperti sedang berpikir keras untuk menutupi sesuatu.

“tapi kan kondisi kamu belum pulih benar nanti aja ya setelah kamu siap baru aku kasih tau kamu apa yang terjadi.” Kata dinant halus sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
“GAK MAU! Aku mau sekarang! Kamu gak ngerti apa-apa dinant.” Aku bentak dia supaya ia mau meluluskan permintaanku itu. Tapi ia malah balik membentaku
“JANGAN HARAP KAMU BISA BERTEMU DENGAN DIA! KARENA DIA…” bentakkan itu mengagetkanku. Tak pernah ia berteriak kepadaku seperti itu. Tapi yang menjadi pertanyaanku adalah mengapa ia tak menyelesaikan kata-katanya tadi.

Langsung saja aku sembur dia dengan berbondong-bondong pertanyaan. “kenapa aku gaboleh berharap ketemu sama dia? Kenapa? Jawab dinant!”
“karena dia… ah sudahlah jangan kamu pikirin dulu masalah ini. Pokoknya kamu harus sembuh dulu baru aku akan kasih tau kamu apa yang terjadi selama kamu koma 3 bulan.”
“bisa sekarang aja tidak dinant, aku gak mau nunggu. aku ingin tau sekarang aku ingin tau kenyataan yang ada. tolong dinant kasih tau aku sekarang! jangan buat aku merasa bersalah terus ke trisela. tolong dinant aku mohon sama kamu.” Pintaku dengan tersedu-sedu menahan tangisan yang memburu menghambur ke pipiku.

“oke aku akan kasih tau kamu, tapi kamu janji ya kamu gak boleh mikirin hal ini kamu harus terima kenyataan yang ada. kamu juga jangan sedih setelah mendengar cerita ini. Janji ya sama aku?”
“iya aku janji”

“kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai di sini? Kamu pingsan saat sedang mengejar Trisela. Saat kejadian, aku sebenernya ada di belakang kamu. Menangkap tubuh kamu yang hampir saja jatuh ke tanah. Aku berteriak meminta tolong pada orang-orang yang sedang lewat saat itu dan ternyata teriakanku itu didengar oleh Trisela dan ia segera menoleh ke belakang dan melihat kamu pingsan dalam rengkuhan tanganku. Ia yang tadinya tidak peduli padamu seketika berlari ke arahku untuk memeluk kamu gris. Sebenernya dari awal ia sudah tau penyakit kamu, hanya saja dia enggak percaya karena kondisi kamu yang terlampau sehat. Tapi saat dia melihat kamu pingsan ia langsung percaya dan memeluk kamu erat”

“Dia menangis sejadinya dan dia juga gak berhenti nangis sampai kamu masuk ruangan ini. Dia merasa bersalah sama kamu karena sudah nuduh kamu yang enggak-enggak apalagi setelah dia tau kalau benda yang kamu pegang saat kamu pingsan itu adalah kopian karya tulis dia yang kamu ketik ulang demi dia. Dia terus menangis setiap melihat kondisi kamu yang semakin parah. Sampai suatu saat dokter memberitahukan cara kamu dapat diselamatkan yaitu dengan adanya pendonor jantung. Mendengar itu Trisela langsung mengajukan diri menjadi pendonor. Ia menjalani serangkaian tes untuk itu.”
“Aku sudah memberitahu dia untuk tidak melakukan itu tapi ia tetap berkeras dengan keinginannya. Sampai akhirnya hasil tes itu keluar dan ternyata ia dapat mendonorkan jantungnya untuk kamu.”

Tak terasa air mata ku terurai di pipiku. Sesak terasa dalam jantungku. Bukan. Jantung Trisela. Aku ingin sekali menangis dan berteriak karena keadaan ini tapi aku sudah janji sama dinant kalau aku tidak boleh menangis. Tapi aku tak kuasa menahan ini semua, aku pun menangis sejadiku aku tak peduli janjiku. Dinant mengeluarkan secarik kertas dari balik jaketnya
“ini untukmu. Dia memberikannya sebelum dia dipanggil ke surga.” Aku buka surat itu lalu aku baca dalam hati. Isinya adalah

‘Grisela, maaf aku sudah membuat kamu terbaring di rumah sakit selama 1 bulan. Aku gakuat melihat kamu menderita di ruangan ICU itu. Kamu masuk ruangan itu pun karena aku. Dan aku gak bisa terima kenyataan itu. Jangan marah sama aku ya karena aku udah ngasihin jantungku untukmu. Maaf ya kalau kamu sadar nanti aku sudah tidak ada sebagai sahabat kamu. Maaf aku belum bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu. Tapi aku minta kamu jaga jantung aku baik-baik ya selama aku gaada. Aku tunggu kamu di surga ya gris. Aku selalu sayang kamu’

Setelah satu minggu berlalu, aku pun sudah bisa beraktivitas. Aku sudah boleh jalan-jalan keluar rumah dan tempat yang pertama kali aku singgahi adalah makam Trisela. Aku menabur bunga pada makamnya membasuhnya dengan air dan aku pun memandangi nisannya.

‘sahabat, mungkin kamu takan pernah lagi menemaniku dikala aku susah dan senang. Mungkin kamu juga takan pernah lagi aku lihat di dunia ini. Tapi yang harus kamu tau adalah kamu akan selalu ada dalam hatiku. Dan kamu selalu jadi sahabat aku yang paling aku sayangi. TRISELA AMANDA.’

Cerpen Karangan: Tiur
Facebook: bertha tiur melinda silalahi

Cerpen Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Aku (Rangga), Rio dan Randi adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana kita pasti bareng. Kita kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit kami pun sama. Akan tetapi

Kisah 2 Sahabat

Oleh:
Dikisahkan ada 2 orang sahabat nama mereka tono dan tony, pada suatu hari tono ingin mengajak tony ke ke bulan katanya tono ingin seperti Apollo maka kedua sahabat itu

Pelangi

Oleh:
“Yah, karena kejadian itu, aku hilang ingatan dan hanya mengingat Anggia, Mama dan Papa.” Aku bisa melihat jelas jika di jaketnya terukir nama ‘Aldebaran’ yang indah dengan benang. Satu

Butuh Kepastian (Part 2)

Oleh:
Pagi buta aku berangkat dengan papa, sengaja berangkat pagi agar tidak terkena macet. Selama di mobil aku berulang membuka Foto-fotoku dengan Desya. “Sya, hari ini aku pasti bakal ketemu

Friendship Never Dies

Oleh:
Hai aku Magdalena. Aku senang sekali bisa bersahabat dengan Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, dan Agnesia. Mereka sangat baik padaku. Aku bersahabat dengan mereka sejak kelas 1 SD. Saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *