Selamat Jalan Piah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 February 2017

Hari ini tepat satu tahun setelah itu, aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Seorang teman yang baik, ceria, lucu, dan apa adanya. Ya. Dialah Alfiyah, sahabatku. Yang biasa kupanggil dengan sebutan Piah. Bagiku dia adalah sahabat terbaik. Yang selalu ada disaat aku susah dan senang. Sedih juga gembira.

Pertama kali kami berteman itu ketika kami masih kelas kelas 2 SMP. Tepatnya, ketika pembagian kelas untuk para siswa baru kelas 8, aku sekelas dengannya. Aku masih ingat bagaimana rupanya saat itu. Dengan potongan rambut pendek sebahu dan poninya yang rata, dan juga cara bicaranya yang ceplas-ceplos itu sungguh membuatku tidak bisa berhenti tersenyum bila mengingat saat-saat kami culun dulu. Karena aku pun juga tidak kalah berbeda dengannya saat itu. Sangat polos juga lugu. Dan tidak kusangka, dari situlah persahabatan kami terjalin, terjalin dengan begitu erat hingga detik ini.

“Her, kalo lu udah lulus nanti, lu mau kuliah dulu apa kerja dulu?” tanyanya ketika kami berada di teras 12 AP yang saat itu sedang bel istirahat.
“Pengennya sih, ya kuliah dulu lah,” jawabku seadanya.
Kulihat alis Piah mengernyit. “Emang lu punya duitnya, Her? Mending lu kerja dulu. Ngumpulin duit. Terus kalo duitnya udah kekumpul, lu pake duitnya buat daftar kuliah. Setengahnya lu bagi deh ke orangtua lu,” balasnya menjawab ketidaksetujuannya atas perkataanku barusan.
Aku terdiam beberapa saat. Perkataan Piah selalu saja membuat batinku berdetak.
“Iya juga sih, tapi mau kerja di mana? Lo kan tau, lulusan SMK kayak kita gini bisa kerja apa sih selain jadi pelayan resto, SPG (Sales Promotion Girl), sama kasir?” balasku lagi dengan sedikit kesal. Menentang semua perkataannya karena keraguan yang timbul dalam hatiku.
Tapi yang tidak kuduga, Piah tersenyum. Seolah telah mengetahui jawaban yang akan aku berikan padanya tadi.
“Rejeki itu kan nggak ada yang tau, Her. Kalaupun begitu, toh yang penting halal kan? Dan jangan lupa lebih enak tuh, duit dari hasil kerja kita sendiri. Puas.”
Lagi-lagi aku terdiam. Tergugu sampai-sampai aku sendiri pun bingung harus berkata apa. Perkataan Piah itu selalu saja banyak benarnya.

“Ya udah yuk, kita ke kantin. Beli baksonya Bu Suut. Kebetulan dari tadi pagi gue belum makan apa-apa. Lu mau gak? Gue yang bayarin dah,” katanya lagi mengalihkan pembicaraan sekaligus memecahkan keheningan yang terjadi di antara kami.
Aku masih saja terdiam. Melamun. Hatiku bergejolak. Lebih tepatnya menolak ajakan Piah tadi karena memang saat itu aku sedang tidak membawa uang dan juga tidak mau merepotkannya.
“Ayo ah! Kalo lo nolak, gue bakalan marah sama lo, Hernita!” ancamnya sambil menarik kuat tanganku.
Dan lagi, aku tidak punya kuasa untuk menolaknya. Akhirnya aku menerima ajakannya. Karena mumpung, aku pun juga sedang lapar saat itu. Piah memang yang terbaik!

Puncaknya adalah setahun setelah kelulusan. Saat itu ibuku sedang terbaring lemah di sofa tamu karena penyakit Hipertensi yang sudah lama diidapnya. Kebetulan Piah yang ketika itu sudah mendapat pekerjaan, mengirim pesan padaku melalui BBM. Dia mengatakan ingin menjenguk ibuku ke rumah dan sedang dalam perjalanan. Aku pikir, Piah hanya bercanda saja. Tetapi tidak kusangka, Piah benar-benar datang ke rumah.

Aku masih ingat badannya berisi sekali saat itu. Dengan memakai baju hitam berlengan panjang dan juga celana jins biru yang ia pakai, semakin menambah kesan gemuk pada dirinya. Pipinya pun juga tembam sekali ketika itu. Seraya memberikan beberapa buah Pir yang dia beli dari toko buah dekat rumahku, dia curhat padaku. Katanya ia senang sekali karena baru saja membeli 1 buah smartphone hasil dari keringatnya sendiri. Aku jadi ikut senang sekaligus iri padanya. Karena bisa bebas membeli apapun yang ia mau hasil dari kerja kerasnya sendiri. Sedangkan aku? Jangan ditanya lagi. Sama sekali belum bisa menghasilkan apa-apa. Kalah dengan dirinya. Tetapi, aku ingat perkataannya saat itu, “Rejeki itu nggak bakalan kemana kok, Her. Pasti ada aja jalannya. Yang penting sabar dan tawakal. Sama terus berusaha.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Selalu saja bisa membuat semangatku menjadi bangkit lagi. Dan ketika hari sudah mulai sore, dia berpamitan padaku dan juga ibuku karena pacarnya sudah datang menjemput. Tetapi sebelum itu, kami sempat berfoto dahulu untuk kenang-kenangan katanya. Dan dengan 5 kali jempretan, foto itu sudah jadi dan dia memamerkannya melalui smartphone yang ia beli itu kepadaku. Hasilnya sungguh manis sekali. Dia berjanji akan mengirimkan foto itu setelah ia sampai di rumah nanti.

Dan beberapa bulan setelah itu, tidak ada kabar apapun darinya. Terakhir sekitar bulan Juli lalu, dia mengabarkan melalui BBM kalau ia sedang sakit karena lambungnya dan juga penyakit paru-paru yang dideritanya. Ketika kutanya, “Pasti lu nggak makan sama kurang tidur ya?” dan ia membalas, “Iya, Her. Gue telat makan sama kurang tidur.” Aku sungguh terkejut sekali ketika itu. Ditambah lagi aku juga sama sekali tidak tau kalau ia sedang sakit. Aku ingin sekali menjenguk dirinya, tetapi karena kondisi keadaanku yang tidak memungkinkan, akhirnya aku hanya memberinya saran untuk jangan sampai telat makan lagi dan juga memakan buah Pisang obat dari sakit lambung. Info yang kudapat dari sebuah acara kesehatan di televisi. Kuharap info itu bermanfaat padanya.

Dan beberapa hari setelah itu, dia mengirim pesan lagi padaku, mengajakku untuk mencari kerja bersama dengan dirinya. Aku yang kebetulan sedang mencari kerja itu pun senang sekali dengan ajakannya. Karena ada teman yang bisa menemaniku bila sesi interview berlangsung (Sungguh terlalu memang aku ini hehe). Aku juga sempat bertanya padanya akan pekerjaannya, ia bilang sudah tidak kerja lagi di situ. Melalui pesan yang kukirimkan di BBM, aku bersemangat sekali curhat padanya mengenai semua penolakan dari perusahaan yang aku lamar itu. Tetapi selalu saja Piah memberi semangat padaku dengan berkata, “Sabar, Her. Mungkin belum rejeki. Nanti kita cari bareng-bareng ya kerjanya,” Tetapi setelah beberapa percapakapan berlangsung, akhirnya Piah tidak bisa menemaniku untuk mencari kerja bersama karena memang kondisi tubuhnya yang belum pulih sekaligus tidak dibolehkan juga oleh ibunya. Aku memaklumi keadaannya dan berharap semoga ia lekas sembuh dan bisa mencari kerja bareng denganku nanti.

Tetapi 2 bulan setelah itu, tepatnya 30 September 2016, Tuhan berkehendak lain. Aku mendapat kabar dari temanku yang mengatakan bahwa Piah meninggal dunia. Aku sempat tidak percaya akan berita itu. Bahkan ibuku pun juga. Tetapi dari foto yang dikirimkan oleh temanku saat itu, Piah sudah tertidur lelap dengan wajahnya yang kurus dan sangat pucat itu. Berbeda sekali dengan setahun yang lalu ketika ia menjenguk ibuku. Tubuhnya sudah tertutup dengan kain putih. Lemas badanku melihatnya. Air mataku tumpah tanpa bisa aku cegah. Aku jadi menyesal padanya karena tidak bisa datang menjenguknya ketika ia sakit. Dan ketika tahu rumahnya sudah pindah lagi, aku jadi semakin lemas karena aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. “Maafin gue ya pi, belum bisa jengukin lu ketika sakit.” Ucapku dalam hati.

Dan dari sini, aku panjatkan doaku. Untuk sahabat baikku. Yang kini telah tiada. Semoga amal ibadahmu di terima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan juga untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, ketegaran, juga kekuatan. Aku yakin Piah sudah tenang di sisi-Nya, dengan surga-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aku bersyukur telah memiliki seorang teman juga sahabat seperti dirimu. Dan terima kasih banyak atas semua jasamu kepadaku. Aku pasti akan mengingatnya selalu di dalam hatiku. Aku harap, kita dapat bertemu lagi nanti. Di kehidupan yang kekal abadi di sana, Amin Amin Amin Ya Robbal Alamin. Selamat jalan, Piah…

SELESAI

PS: Cerpen ini aku dedikasikan untuk sahabat baikku, Alfiyah. Semoga kau tenang di alam sana, Amin. Dan terima kasih untuk para admin yang telah memposting cerpenku ini. Semoga bermanfaat…

Cerpen Karangan: Hernita Sari Pratiwi
Facebook: www.facebook.com/hernitasarip

Cerpen Selamat Jalan Piah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesandiwaraan Semata

Oleh:
Malam itu, aku duduk termenung di sudut kamar. Pesan singkat dari Rossi sahabat Merry kekasihku, telah membuat ku termenung diam seribu bahasa. Tatapan mataku seakan tak kuat membendung air

Gara Gara Jatuh Cinta

Oleh:
Kring… Kring… Bel tanda masuk pun sudah berbunyi. Andre bergegas pergi menuju kelas dengan memakai baju yang rapi dan bersih. Hari ini adalah hari yang paling Andre sukai yaitu

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Jam berdetak cepat secepat detak jantung keyla. ia melangkah kesana-kemari layaknya setrika yang sedang menyetrika pakaian. ia tidak memikirkan apa-apa kecuali adiknya reyhan yang sedang operasi. keyla tidak bisa

Ketika Mimpi Bukan Sekedar Tidur

Oleh:
Saat aku berjalan-jalan dengan anak dan suamiku di sebuah taman aku melihat 3 orang wanita sedang mengais-ngais tong sampah yang ada di seberang jalan, ku perhatikan 3 wanita itu

The Dark Of My Life

Oleh:
Aku Mecha. Anak bungsu dari 4 bersaudara. Orangtuaku memiliki karir yang bagus. Papa seorang pengusaha. Pabriknya ada di mana-mana. Bahkan dia memiliki pabrik di luar negeri. Dan mama seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *