Selamat Jalan, Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Mentari begitu kuat memancarkan sinarnya. Dan aku begitu semangat melewati hari ini meski jadwal pelajarannya tak ku suka. Biologi, mata pelajaran yang tak ku suka dengan alasan guruku sangat tidak mengenakkan hati. Teman-temanku mengatakan bahwa beliau adalah monsternya para monster. Jam menunjukkan pukul 09.30 saatnya dimulai pelajaran Biologi yang membahas mengenai tumbuhan dikotil dan monokotil. Kelas seketika sepi dengan kedatangan guru Biologi kami. Entah hujan, angin ataupun petir mana yang tiba-tiba membuat monsternya para monster itu mengajak belajar di taman sekolah. Aku dan teman-teman terheran-heran. Dan aku tak menyangka jika beliau membawa kabar yang sangat menyedihkan, terutama untukku.

Ya, beliau mengabarkan bahwa anak dari salah satu guru Ekonomi di sekolahku meninggal. Lebih spesifiknya lagi, sahabatku yang terakhir ku lihat tiga hari lalu dengan sejuta keanehan dan membuatku amat jengkel. Tiga hari yang lalu, aku melihat dia bersama adiknya ikut arak-arakan khataman, desaku menyebutnya. Tak seperti biasanya, ia memasang wajah lesu, cemberut, dan ekspresi lain yang tak nyaman dipandang. Saat berpapasan denganku, tak ada senyuman apalagi sapaan. Aku mengira dia bukanlah sahabatku yang biasanya bersamaku. Dia adalah orang lain yang menyerupai wajahnya.

“Saya, hanya memberi tugas untuk hari ini, karena saya akan pergi ta’ziah. Anak ketiga Pak Ripto, guru Ekonomi di sini meninggal dunia tadi pagi karena kecelakaan lalu lintas.” Tiba-tiba semua pasang mata menatapku yang seakan seperti tersambar petir. Tak ada sepatah kata yang menyenangkan ke luar dari mulut anak-anak kelas XI IPA 4 meskipun terbebas dari monsternya para monster itu.

“Fety! Rizky kapten futsal itu kan?” Salah seorang temanku mulai memecahkan keheningan di taman saat diberitakan Rizky meninggal. Aku hanya diam dan tak percaya. Tubuhku lemas seketika. Aku tak percaya begitu juga teman-temanku yang mengenalnya. Tak sepatah kata pun kalimat perpisahan antara aku dan Rizky, sahabatku. Dan tak ada tanda-tanda dia akan pergi selamanya. Siapa yang tak sedih kehilangan dia? Seseorang yang humoris, pintar, yang memiliki hobi futsal. Rizky adalah kapten futsal di sekolahnya dan di desanya. Keluarganya terkenal orang berilmu dan saudaranya memiliki hobi sepak bola semua.

“Kelinci! Salam lama tak guyon!!” begitu sapaan yang tiap pagi ia lontarkan saat aku sampai sekolah lebih siang darinya. Ia anak yang rajin berangkat pagi ke sekolah dan ia anak terpandai di kelasnya saat SD. Tiap pulang sekolah ia selalu mengajakku bermain sepak bola meskipun aku cewek. Dan aku pun sangat enjoy bermain bersamanya.

Sore itu, 22 Januari 2013 adalah hari terakhir aku melihatnya dengan baju terakhirnya, kain kafan. Dan kendaraan terakhirnya mobil beroda manusia, yakni keranda. Hanya doa yang bisa ku ucap, semoga dia tenang di alam barunya. Air mata pun tak bisa ku bendung, isak tangis mengiringi jenazahnya ke pemakaman. Tak hanya aku yang terpukul tapi semua orang yang datang dan alam pun ikut berduka. Suasana sore itu sangat mendung. Saat selesai pemakaman, hujan deras turun membasahi gundukan tanah merah itu.
Selamat jalan sahabatku, sampai bertemu nanti di Surga-Nya yang kekal. Semoga persahabatan kita berlanjut di surga yang abadi.

Cerpen Karangan: Ety Wahyuningsih
Facebook: Ety Wahyuningsih

Cerpen Selamat Jalan, Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalanku Hingga Kau Pergi

Oleh:
Namaku biasanya dipanggil dengan sebutan Mala. Aku adalah anak kelas 3 SMA N 8 palembang pada tahun 2005. Anaknya minder karna bentuk tubuhku yang tidak ideal, humoris, care sama

Hadir Mu, Sang Penolong (Part 2)

Oleh:
MASIH KALIAN BERDUA Setelah menjadikan Rita sebagai kekasihnya malam itu, lantas tak membuat Randy memberikan perlakuan yang berbeda dari sebelumnya. Mereka memang sudah mesra sejak awal. Ditambah selain mereka,

Sahabat Atau Lebih

Oleh:
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” kata-kata itu masih terdengar jelas di telingaku dan terus berputar-putar di kepalaku dan seakan akan mengganggu sistem kerja otakku, atau mungkin aku yang bersikap

Hari Sahabat

Oleh:
Namaku Nisa Mariam Desvita. Aku sering disapa Maria. Usiaku menginjak 11 tahun. Hari ini, hari pertamaku bersekolah di the school girls. Kata Mom, di sana banyak anak yang baik

Bukit Angin

Oleh:
Bukit mungil itu berdiri di pinggir Desa Sunyi. Di punggungnya ilalang tumbuh dengan subur. Pohon besar yang tumbuh di sana tak sampai 20 batang. Belasan pohon jambu mente tersebar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *