Selamat Tinggal Rara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 February 2013

Rara, itu lah namaku. Nama yang merupakan pemberian terakhir dari ibuku. Ya aku adalah seorang anak yang sudah tak lagi memiliki sosok seorang ibu, ibuku meninggal dunia setelah beberapa saat melahirkanku ke dunia ini.

Hari ini tanggal 2 juli, yang merupakan hari ulang tahunku yang ke 12 tahun tetapi apalah arti sebuah umur tanpa kehadiran sosok wanita yang telah melahirkan kita kedunia ini. Menurut ayahku, ibu adalah seorang wanita yang memiliki hati yang terbuat dari cahaya, tatapan nya sungguh mempesona, senyumannya begitu manis dan wajahnya yang tertutup kerudung sungguh anggun mempesona. Tetapi tiap kali aku mengingat kata-kata tersebut air mataku langsung membasahi pipiku. Aku masih ingin merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ku rasakan sebelumnya.

Hari ini teman-temanku memberiku kejutan, aku sangat senang sekali, tak terasa aku begitu cepat melupakan kesedihanku.

Tetapi ditengah acara ulang tahunku itu, kepalaku mendadak sakit sekali dan dari hidungku mengeluarkan darah, walaupun begitu aku anggap itu bukan suatu masalah, aku tak ingin membuat teman-temanku serta ayahku menjadi khawatir kepadaku dan aku tak mau mengecewakan mereka.

Hari-haripun kulalui seperti biasa. Tetapi kini aku merasa aku sangat aneh, kepalaku benar-benar sakit dan tiap kali aku merasakannya aku langsung tak sadarkan diri. Waktu itu sedang dilaksanakan lomba pidato bahasa inggris, aku pun ditunjuk untuk mengikutinya. Tetapi ketika aku sedang berpidato, tiba-tiba aku jatuh pingsan, degan sigapnya guru-guruku yang berada disekitar panggung pun segera membawaku ke rumah sakit.

Setelah beberapa saat dirawat dirumah sakit, akupun segera tersadar dan kulihat disampingku hanya ada guruku. Lalu aku segera bertanya kepada guruku itu ”bu, mengapa aku bisa berada di rumah sakit ini ?” tanyaku sambil berusaha duduk. Tetapi bu Gitta hanya tersenyum dan berkata ”sayang, tadi kamu pingsan waktu sedang berpidato disekolah, jadi ibu membawamu kesini”. jawab bu Gitta yang merupakan guru bahasa inggrisku disekolah.

Sejak saat itu aku merasa diriku ini benar-benar tak berdaya dan kini aku tak dapat bermain seperti teman-temanku yang lainnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memperiksakan diriku ke dokter, dengan ditemani sahabatku.

Setibanya di ruang dokter, dokter pun segera bertanya kepadaku ”kenapa dik, orang tua kamu dimana, kok hanya ditemani sama temanmu ?” tanya dokter itu yang kemudian langsung mengajakku ke ruang periksanya. Aku pun hanya tersenyum dan menjawab ”saya adalah anak yatim piatu dok, jadi saya hanya di temani oleh sahabat saya dok”. Jawabku sambil berbohong.

Setelah dokter memeriksa diriku, ia lalu berbicara kepadaku dan menyuruh sahabatku untuk keluar sebentar. Aku yang binggung pun langsung mendapat jawaban dari dokter yang berkata ”kamu sering merasa pusing dan sering mimisan ya dik ?”

”ia dok, tiap kali aku merasakan hal tersebut aku langsung tak sadarkan diri, memangnya aku sakit apa dok ?” jawabku dengan penasaran. ”kamu mengidap leo kimia stadium 3, dan itu sangat berbahaya sekali” jawab dokter kepadaku sambil menenangkan diriku yang langsung meneteskan air mata.

Setibanya diluar sahabatku Luna, langsung bertanya kepadaku ”gimana hasilnya, kamu sakit apa ? mengapa kamu menangis?” tanya Luna kepadaku. Aku langsung bercerita kepada Luna ”kata dokter, aku mengidap penyakit leo kimia yang sudah stadium 3, berarti umurku sudah tak lama lagi, tetapi Luna, aku mohon tolong jangan bilang ke ayahku dan yang lainnya ya, cukup hanya kamu yang mengetahuinya, aku percaya kepada kamu Luna sahabatku.

Kini, pandangan mataku sudah mulai terganggu, rambut ku yang dulunya tebal kini tinggal kenangan, wajahku yang pucat pasi berusaha ku samarkan dari pandangan ayahku yang mulai curiga denganku. Tetapi aku benar-benar tak mau kalau ayahku mengetahui aku sedang berusaha melawan penyakit yang terus menerus menggerogoti tubuhku ini. Aku ingin menjadi seorang wanita yang dapat kuat menjalani cobaan yang sangat berat ini. Aku ingin membahagiakan ayahku dan aku tak ingin membuatnya khawatir kepadaku, itulah sebab aku tak mau berterus terang mengenai penyakit ku ini.

Tak terasa kini tubuhku semakin kurus, wajahku benar-benar pucat, dan kini aku sudah tak kuat lagi menjalani aktifitas-aktifitas ku yang biasa ku lakukan. Karena curiga dengan keadaanku yang sering dibawa ke UKS oleh teman-temanku, bu Gitta bertanya kepadaku ”Rara, kamu kenapa sayang, sudah lama ibu tak melihatmu mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah. Kenapa nak ? kamu sakit ?” tanya bu Gitta dengan penasaran.

”aku tidak sakit bu, hanya saja aku sedang malas mengikuti kegiatan seperti itu, aku sedang ingin mencari ketenangan bu, maafkan saya ya bu… ” jawabku kepada bu Gitta.

Aku akan selalu semangat menjalani hidup ini walaupun aku tahu umurku tak akan lama lagi, aku akan berterus terang kepada seluruh keluargaku tentang penyakit yang sedangku derita saat ini, walaupun ku tahu waktuku tak akan cukup untuk mengatakannya kepada mereka. tetapi aku masih belum siap untuk mengatakan kepada mereka karena aku benar-benar menyayangi mereka dan aku tak mau membuat mereka menjadi sedih karena terlalu mengkhawatirkan aku..

Andaikan mereka tahu sesungguhnya aku tak ingin mereka mencemaskan diriku dan aku akan selau tersenyum kepada mereka untuk menutupi penderitaan yang membuatku tersiksa. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. Apapun yang terjadi kepadaku aku akan berusaha tegar dalam melewatinya, demi ayahku tercinta. Sahabatku, Luna selalu memberikan semangat hidup kepadaku, karena ia yakin kalau aku pasti dapat melawan penyakit yang terus-menerus menggerogoti tubuhku ini.

Ingin rasanya aku memeluknya dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Tetapi kini, aku hanya terbaring di tempat tidur, aku sudah tak dapat menggerakkan anggota tubuhku lagi, rasanya bibir ini sudah tak dapat mengucapkan sebuah kata-kata lagi.

Kini, hidupku sudah bergantung pada alat-alat medis kedokteran, tanpa bantuan dari alat-alat tersebut, aku sungguh tak berdaya sedikitpun. TLuna, selalu berdoa disampingku, ia selalu berada disampingku, menurutku ia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, setidaknya sampai akhirnya aku menutup mata.

Itulah cerita tentang sahabat ku yang bernama Rara Nesya, sahabat ku yang telah dulu pergi meninggal kan aku 🙁 semoga kamu tenang disana sahabat ku Rara Nesya

Cerpen Karangan: Luna Arra Bella Yassmine
Facebook: Luna Arra Bella

-Nama ku Luna Arra Bella Yassmine
-sekarang aku duduk dikelas 1 SMA
-Aku lahir di Bandung
-Add Fb ku ya @Luna Arra Bella
-Kalian bisa panggil aku Luna/Bella
-Rara Nesya adalah sahabat kecil ku, dia meninggal kan dunia ini ketika ia duduk dikelas 2

Cerpen Selamat Tinggal Rara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Surat Selia

Oleh:
Hai, namaku Naifa Aqilah. Selia Zarine adalah sahabat karibku. Sejak kecil, kami sudah bersahabat. Belum lama ini, kami berdua bertengkar. Yaah, aku memeng sering memprotesnya, terkadang ia merasa kesal

Setitik Kenyataan Dalam Sebuah Mimpi

Oleh:
Ku jatuhkan tas besarku ke lantai. Ku rebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Punggung terasa pegal seperti habis membawa berkilo kilo batu. Sore ini aku benar-benar di gembleng dalam

Goresan Luka Malam

Oleh:
Hari menjelang sore dan mentari pun mulai meninggalkan duniaku, seperti hari-hari biasa aku kerjakan meskipun tidak berat dan susah, yaitu menyapu halaman dan rumah. Usai menyapu segala isi rumah,

Tetesan Air Mata Terakhir

Oleh:
Ani adalah anak bungsu. Setiap hari Ani menjalani hidupnya dengan penuh kecerian, tapi sekarang pupus sudah dengan harapan lebih tak ada artinya. Ani hanya mendapatkan kesedihan yang sangat mendalam.

Wanita Bertopi

Oleh:
Panasnya mentari tak menyurutkan niat wanita berbaju abu-abu itu. Aku selalu melihat ia berdiri di samping tiang lampu merah. Tepatnya di perempatan jalan yang ada di samping masjid besar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Selamat Tinggal Rara”

  1. naurah malika says:

    Sedih banget ya (**) ^_^

  2. silmi hanifah says:

    Aku ngerasain, jujur saja, ditinggal sahabat baik itu sangat sakit.ternyata ada yang lebih menuedihkan dari pada kisah persahabatanku.

  3. Portgas D Ace says:

    Ajarin aku nulis yang begitu, dong. Pleast ya, kak. (Catatan: nama cuman samaran. Komentator 100 persen wanita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *