Selamat Tinggal Sahabat Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 September 2016

Namaku Fadillah Fitra Fauzan, aku biasa dipanggil fadil, padil atau difal. aku anak yang mungkin dalam proses remaja ke dewasa ya sekitar 22 tahun, aku terlahir di perkampungan pelosok daerah parung panjang, yah itu adalah kampung dimana embah saya tinggal pada saat itu. terlahirku saja sudah sederhana hanya dibantu seorang dukun beranak.

Tahun demi tahun tumbuhlah aku menjadi kanak-kanak yang sudah mengenal sosial dimana aku mengenal mereka, yah sahabatku saat ini, mereka sangat baik layaknya saudara dari sejak kecil kami sudah saling kenal begitu banyak cerita kami, bahkan terkadang kami berselisih pendapat atau terkadang kita bisa marah hanya karena masalah sepele. Itulah pertamanan dimana mengajarkan tentang kehidupan berteman. Lalu tumbuhlah kami menjadi seorang remaja di lingkungan yang sama, begitu banyak kegiatan sosial seperti organisasi di lingkungan tempat kami. kami sangat dekat, dekat sekali berbagi kesedihan dan kebahagian entah tentang keluarga cinta bahkan masalah yang mungkin tidak ada hubungannya dengan kami. kami besar bersama jalan-jalan bareng susah bareng sampai kami tahu kekurangan kami satu sama lain, dimana kekurangan itu kami simpan sebagai tanda persahabatan kami.

Jujur aku bahagia mengenal mereka, aku beruntung sekali memiliki mereka, mereka begitu peduli satu sama lain. Suatu hari di pertengahan bulan februari 2016 kami jalan-jalan ke air terjun di daerah sentul bogor, dan kami begitu senang kesana meskipun perjalanan menuju sana begitu jauh dengan mengendarai sepeda motor, tapi sesampainya disana kami sangat bahagia dengan suasan alam yang begitu asri dan sejuk dengan air sungai yang dingin berbagai cara kami buat untuk menjadi senang karena pada saat itu libur terakhir kuliah semester ganjil. Lalu kami terjun dari ketinggian dan dengan berulang-ulang kami terus melakukannya. Tibalah sore hari pukul 15.20 WIB kemudian kami bersiap untuk pulang ke Jakarta. Sampailah kami dari sana, dengan rasa puas akan perjalanan yang begitu jauh dan terasa lelah.

Hari demi hari berganti, dapatlah kami kabar kalau salah satu sahabat kami ternyata sakit. Yah. dialah Enjang Qhonita Sari, sahabat perempuanku yang sangat baik dan peduli akan orang-orang sekitarnya. Kami sedih mendengar dia sakit typus/tipes. Sekitar dua hari dari dia masuk Rumah Sakit akhirnya Kami menjenguk dia di RS swasta di tangerang, disana pun kami menghiburnya dengan lelucon yang biasanya kami lakukan, dengan keadaan dia yang semakin hari semakin membaik alhamdulillah. kami senang mendengarnya.

Keesokan harinya disiang hari dia akhirnya pulang ke rumahnya dan kami lebih senang mendengarnya. Akhirnya dia sembuh dan sehat. Tapi sayang tidak sampai 24 Jam di rumahnya dia akhirnya dibawa ke RS lain dengan penyakit yang lain. penyakit yang mungkin tidak kami pernah bayangkan, entahlah. kami pun kaget dan sedih mendengarnya sangat sedih. Seminggu kami kontek melalui bbm dengan keadaan dia yang membaik (kata enjang) akhirnya kami usulkan untuk menjenguknya dengan permintaan dia yang berkata “kangen” sama kami sahabatnya, yah. dia kangen karena sudah seminggu lebih tidak bertemu.

Akhirnya kami datang dengan mengendarai mobil karena RS yang tempat dia dirawat cukup jauh di daerah jakarta timur. Ketika kami sampai disana dengan percakapan kami dan lagi-lagi dengan lelucon kami, kami kaget dengan apa yang dokter diagnosakan terhadap sabahat kami enjang. Yah. dia akan dioperasi dengan penyakitnya yang katanya teradapat gumpalan di perutnya serta cairan di paru-paru yang tak kunjung hilang entahlah itu apa dan kami sangat menyesal mendengarnya. Menit demi menit berlalu dan kami hanya boleh menjenguk satu jam dan kami tidak ada waktu untuk berbincang panjang, datanglah penjaga RS untuk memberitahu kalau jam besuk sudah habis akhirnya kami bergegas pulang dan dia menginginan untuk meminta menemaninya dikala dia dioperasi hari selasa depan.

Sayangnya kami sibuk pada hari kerja tersebut ada yang kuliah dan kerja dan kami sangat menyesal tidak mengabulkan permintaannya, sebelum dia dioperasi dia sempat mengirim obrolan di grup bbm dengan perkataan minta maaf kepada kami dan kami membalas dengan mendoakan dan meminta maaf kepadanya karena tidak bisa menemaninya dikala dia dioperasi.

Sekitar 4 hari tidak ada kabar langsung darinya serta bbmnya tidak aktif akhirnya kami berfikir untuk menghubungi adiknya ipah dan pian. Alhamdulillah kami mendengar kabar yang bahagia dimana adiknya berkata kalau kakaknya (enjang) sudah membaik dan bisa mengobrol seperti sediakala, meskipun kami tidak bisa mengobrol secara langsung tapi kami cukup senang dengan kabar baik ini. Akhirnya kami usulkan untuk menjenguknya hari sabtu pagi tanggal dua bulan april 2016 tanpa memberitahukan pihak enjang dan keluarganya. Tibalah malam sabtu dan kami membicarakan mengenai keadaanya, tapi sayang ketika hari sabtu pagi kami diberitahukan bahwa salah satu sahabat kami membatalkan rencana untuk menjenguknya karena kesibukan kerjanya dan kami menyesal akan kabar tersebut. Akhirnya kami usulkan kembali untuk menjenguknya keesokan harinya yaitu hari minggu tanggal tiga bulan april 2016.

Bertemulah malam dimana saat itu adalah malam minggu dan kami sibuk dengan urusan kami sendiri-sendiri sesampainya malam pukul sepuluh kami bertemu dan sepakat untuk menjenguknya esok hari dan kami pulang agar tidak kesiangan.
Detik demi detik, menit demi menit waktu berlalu “tak. tek. tak. tek. tak. tek” bunyi jarum jam yang terus berputar. Sampailah akhirnya jam dua malam hari minggu, saya sendiri (fadillah ff) tertidur lelap dengan mimpi yang sudah lupa.

Bunyilah suara ketukan pintu kamarku
“Tok. tok. tok, dil dil dil bangun dil” suara yang aku kenal dengan nada lemas yaitu suara sahabat ku vijay namanya.
“akhhh. apaan sih jay” jawab ku dengan suara kesal karena telah menganggu tidur ku. “dil bangun dil” jawab lagi vijay. sambil bangun dengan mata yang sepet karena ngantuk, saya membukaan kunci pintu kamar saya sambil berkata “apaan sih jay ganggu aja dah orang tidur” ucapku. “dil enjang meninggal dil” jawabnya.
“apaan sih jay. nggak lucu becanda lu” ucapku sambil merem.
“demi allah dil, enjang meninggal” jawabnya.
Akhirnya dengan mata ngantuk aku bangun dan kemudian melihat handphone yang berbunyi. ketika aku membuka handphone terdapat percakapan di grup bbm yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan vijay sahabatku. Akhirnya mataku segar dan hatiku berdenyut kencang “dag. dig. dug. dag. dig. dug” seakan seperti mimpi buruk ditengah malam, tanpa berkata apapun langsung aku bergegas ke bawah dan lagi-lagi mendengar perkataan dari ibuku “enjang meninggal dil, tadi diumumin di masjid” ucap ibuku. kemudian aku merespon percakapan di grup dan benar semua sahabatku sudah bangun dan sangat terkejut akan berita tersebut. akhirnya tanpa disadari air mataku jatuh berkali-kali dengan tangan bergetar dan denyut jantungku yang semakin kencang.
“oh Tuhan. ada apa ini? apa yang terjadi? kenapa seperti ini? apakah ini mimpi? aku berharap ini hanya mimpi buruk ya Allah” ucapku dalam hati.
Tetapi mimpi buruk itu tidak berlalu dan benar ini tidak mimpi ini nyata, ketika aku mendengar suara keras dari masjid komplek dimana aku tinggal “innalillahi wainnalillahi rojiun..” sambil mengucapkan nama sahabatku enjang Qhonita Sari begitu terdengarnya.

Semua sahabatku aku hubungi lewat obrolan bbm dan aku bergegas untuk menjeput sahabatku Novita Sari atau dipanggil Sarah. Dengan tanpa rasa takut aku berjalan ditengah malam sendiri, digelap dan dinginnya malam untuk ke rumah sari disertai oleh air mata yang berjatuhan dan hati yang sangat terpukul sedih. aku terus berduka aku terus menangis sepanjang malam bersama sabahatku yang lain. Tuhan.. mengapa kau mengambil sahabat kami? mengapa kau sejahat ini kepada keluarganya? enjang masih muda tuhan. banyak yang kami bisa lakukan bersama-sama dimasa depan. “ada apa ini ya Allah? kenapa engkau setega ini. bahkan lami belum sempat bertemu dan meminta maaf secara langsung. bahkan kami sudah merencanakan untuk membesuknya hari ini (minggu). kenapa ya Allah?” tanyaku terus dalam hati dengan rasa kecewa atas apa yang telah terjadi.

Kemudian kami ke rumah duka sambil melihat Orang-orang memasang tenda di depan rumahnya. Air mata kami terus berjatuhan tanpa ragu membasahi pipi dan tangan ini untuk membasuhnya. Jam demi jam berlalu kami sambil duduk menunggu kepulangan Jenazah ke rumahnya. Sambil kita mengobrol dan saling mengasihi agar tidak terus menangis.

Tibalah sekitar pukul lima pagi, kemudian datanglah jenazah teman kami dengan dibawa mobil RS, lalu kami berdiri dan menghampirinya sambil menangis lebih kejer, apalagi sahabat kami novita sari (sari) dia hampir tidak berdaya dan lemas dan kami mulai membantunya agar menguatkan sahabat kami itu, kemudian aku dan sahabatku yang lain menghampiri untuk melihat wajah terakhir kalinya sahabat kami lalu kami lebih menangis lagi untuk kesekian kalinya. Sahabat kami yang lain pun ikut untuk membacakan ayat kursi untuk jenazah, tapi aku pun tidak berdaya untuk menahan air mata ini, begitu sakit yang aku dan sahabat lain rasakan seperti tidak percaya akan apa yang telah terjadi saat itu.

Berulang-ulang kami melihat Jenazah dan ingin menyentuh dan meminta maaf untuk terakhir kalinya tapi kami tidak bisa untuk menyentuhnya karena kami tahu bahwa keluarganya lebih berduka dan selalu di samping jenazah. Maka kami tidak ingin untuk mengagngu keluarga disebelahnya, keluarganya begitu terpukul akan kejadian itu. Bagaimana tidak enjang sahabat kami masih muda umurnya masih 21 tahun tapi Allah sudah memanggilnya untuk kembali ke sisi Allah, orang-orang datang untuk melihat jenazah dan menguatkan keluarga agar tidak terus menangis dan berduka. Apalah mereka hanya bisa berucap “sabar” tapi keluarga dan sahabat sangat benar-benar terpukul apalagi aku sangat terpukul bagaimana tidak, karena pada hari kematian enjang kami sudah berniat untuk menjenguknya kerumah sakit, tapi malah beliau lah yang datang dan pulang kerumah dengan keadaan yang tidak kami inginkan. Jam demi jam waktu berputar tibalah pukul sembilan pagi dan jenzah sudah siap untuk disholatkan dan dikuburkan, bahkan pada saat disholatkan aku terus menjatuhkan air mata untuk memohon kepada Allah agar memaafkan semua kesalahan dan dosa sahabat tersayang kami.
“Ya Allah. Ampunilah sahabat kami maafkanlah dia, jauhkanlah dia dari siksa kubur dan api neraka, bahagiakanlah dia disisimu ya Allah.” Ucapku dalam hati sambil menyolatkan jenazah.

Kemudian kami menghantar jenazah ke pemakaman terakhir untuk dikuburkan, lagi-lagi keluarga dan sahabat menangis melihat jenazah dimasukan kedalam lubang kubur karena saat itulah terakhir kali karena kami tidak akan bisa melihat dan menyentuh wajah almarhumah lagi. Akhirnya selesailah kami menguburkan almarhumah dan kami pelayat bergegas untuk kembali pulang tapi kami tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, kami berkumpul di rumah adinda untuk menenangkan hati dan saling bertukar pertanyaan akan hal yang telah terjadi, bagaimana tidak sehari sebelum kematiannya kami diberi kabar bahwasannya almarhumah telah sehat dan sudah mau makan banyak. Tapi apalah daya, ternyata Allah punya rencana lain. Kami sungguh menyesal dengan yang telah terjadi, pantas saja dia sangat semangat saat berlibur ke puncak bogor dan ke air terjun sampai dia memaksa aku untuk ikut padahal waktu ke puncak aku lelah karena habis olahraga sore di senayan dengan almarhumah dan sahabat lain, tapi almarhumah begitu semangat hingga menghampiriku ke kamar sedangkan aku berpura-pura tidur saat itu tapi karena dia memaksa maka kubukakan pintu kamarku lalu dia memaksaku untuk ikut kepuncak saat itu.

Rasanya sedih sekali kehilangan sosok sahabat kecil sampai saat ini masih setia bersama. Hari demi hari ku kirimkan doa untuk almarhumah agar beliau selalu tenang di sisi Allah. Hari demi hari tanpa almarhumah sangat terasa berbeda, bagaimana tidak hampir setiap hari kami bercanda di taman sampai berbagai curhatan apalagi ia paling sering cerita tentang kisah cintanya kepada sosok lelaki yang mungkin tidak pantas untuk diperjuangkan hingga terkadang aku merasa bosan mendengarnya karena selalu cerita hal yang sama.

Setiap kegiatan organisasi almarhumah selalu mengingatkanku akan sosok sahabat yang bawel dan selalu mengatur-ngatur para anggota organisasi tapi hal itu dilakukan karena memang itu untuk kebaikan para adik-adik yang lain tanpa rasa lelah dan tanpa balas kasih. terimaksih sahabat terbaikku.
Aku benar-benar sangat merasa sedih tidak bisa melihat engkau di sisi kami lagi dan tumbuh menjadi seorang dewasa bahkan menjadi orangtua kelak nanti, perhatikan kami terus ya sahabat dan jangan lupakan kami begitupun kami tidak akan pernah sampai akhir hidup ini.

Dan satu hal yang aku tahu bahwasannya setiap yang bernyawa di dunia yang sementara ini pasti akan mati dan kembali ke sisi Allah SWT. Selamat tinggal sahabat kecil, aku berserta sahabat selalu berdoa untuk kita untuk bisa bertemu dan bersahabat lagi di dunia yang selanjutnya yaitu di surganya Allah SWT. Aamiin Aamiin Ya Robbal a’lamin

Cerpen Karangan: Fadillah Fitra Fauzan
Facebook: fadillah fitra fauzan
Nama Fadillah Fitra Fauzan, lahit di parung panjang, tangerang. Umur 22 tahun pendidikan (sedang dalam proses) S1 di sekolah tinggi ilmu ekonomi swasta dijakarta barat..

Cerpen Selamat Tinggal Sahabat Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanted: A Boy Friend

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku

Aku Hanya Ingin

Oleh:
Tawa mereka masih juga terdengar di telingaku, aku tau semuanya telah berbeda. Kumohon sobat!!! Lihatlah aku, lihatlah keberadaanku. Tapi entah mengapa satu kali pun kalian tak melihat keberadaanku, tak

Harapan

Oleh:
Sari masih berurusan dengan kado yang akan dia berikan pada Aldi walaupun langit yang kelam menandakan bahwa waktu sudah sangat larut. Besok paginya, Sari pergi ke kelas 3 B

Kenapa Kau Pergi Ayu?

Oleh:
Tersenyum hanya hal yang bisa aku rasakan dengan waktu sangat singkat.. Menangis, adalah hal yang sangat sering aku rasakan, hampir setiap hari aku menangis, duduk di pojok kamar, merenung,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *