Selamat Tinggal Vonny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

Hi! Namaku Karin. Lebih tepatnya Titania Katarina Ananda. aku anak tunggal. Dan aku mempunyai sahabat. Ia bernama Vonny. Dan lebih tepatnya Vonny Aprilia Bianca. Kami bersekolah di SD Pelita Harapan. Dan kami kelas 6.

Keesokan harinya, aku bangun dan melakukan kewajiban umat muslim. Setelah itu, aku segera mandi dan berdandan. Usai berdandan, aku bergegas turun untuk sarapan. aku makan dengan terburu buru.

“Nak, kalau makan pelan pelan ya” kata bunda
“Gak sempet bun! udah jam 7 nih!” jawabku.
Bunda hanya geleng geleng melihat anak semata wayangnya. Dan aku segera pamit pada ayah dan bunda.

Di perjalanan, aku menggoes sepedaku dengan kencang sekali. 3 menit aku sampai ke sekolah.
“Untung nggak telat!” gumamku.
“Hi Karin!” sapa Vonny.
“Hi juga Von!” jawabku.
“Tumben Rin! Loe telat. Biasanya gwe yang telat!” ledek Vonny.
“Emang kenapa? Nggak boleh?” jawabku sambil pura pura ngambek.
“Jangan ngambek dong Karin! I minta maaf!” kata Vonny.
“Hahaha..” tawaku pun meledak.
“Rin, malu tu dilihatin semua!” bisik Vonny.
Aku pun tersenyum malu. Lalu kami pun masuk kelas.

Entah mengapa waktu pulang, aku merasa lemas dan mataku berkunang kunang.
“Rin! Kamu kenapa?” tanya Vonny cemas.
“Gak papa kok Von!” jawabku dengan suara lirih.
“Beneran nih Rin?” tanyanya mencoba meyakinkan.
“I..iya gak papa kok Von..” kata kataku terputus dan tiba tiba semua gelap.

Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit.
“Bun..” lirihku.
“I..iya nak. Bunda di sini.” jawab bunda.
“Bun, sebenernya Karin sakit apa sih?” tanyaku.
“Nak, kamu yang sabar ya, kamu terkena leukimia dan udah stadium 2” kata bunda sambil menangis.
“Ap..apa bun?” kataku.

Sudah Berbulan bulan aku dirawat di rumah sakit. Tetapi, kondisiku semakin hari semakin lemah. Dan pada akhirnya, aku memasuki stadium 4. Suatu hari, Vonny menjengukku yang terakhir kalinya, aku dan Vonny berbincang bincang banyak sekali. Tetapi, setelah Vonny pulang, tiba tiba aku terasa sesak dan menutup mata selamanya.

“Dok. dokter” panggil bunda.
Dokter pun segera datang dan memeriksa aku.
“Bu, maaf anak anda tidak tertolong dan kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan ini ada surat dari nak Karin untuk Vonny” kata dokter sambil menyerahkan surat.
Keesokan harinya, aku dimakamkan di TPU.

Di kelas, tiba tiba pak kepsek datang.
“Anak anak harap tenang ada berita!” kata pak kepsek.
Seketika ruangan senyap.
“Inalilahi telah berpulang nya teman kita, Titania Katarina Ananda ke pangkuan yang maha kuasa kemarin, pukul 7 malam” kata pak kepsek.
“Apa pak? Ini gak mungkin kan pak?” pekik Vonny sambil menangis.
“Ini beneran Vonny. Dan ada satu surat untuk Vonny dari Karin dan saya akan membacakannya: Hi Vonny, mungkin ketika kau membaca surat ini, aku telah tiada. Maafkan aku juga karena tidak memberitahumu tentang penyakitku. Sebenernya aku punya penyakit leukimia. Dan malam itulah kita terakhir kali bertemu. Vonny, terimakasih telah mengisi lembaran hidupku, mewarnai hariku, mungkin ku TAKKAN BISA MEMENUHI JANJIKU UNTUK SELALU DI SAMPINGMU, TETAPI, aku AKAN SELALU ADA DI HATIMU. Dan kini, aku telah tenang. Kumohon jangan menangis ya, pasti ada pengganti diriku.
Salam Karin” kata pak kepsek.
Semua menangis mengingat kebaikan Karin. Dan ada yang mengatakan
“Love you Karin.” Bisik Vonny.

Cerpen Karangan: Zahra Rizqy Charissa H
Blog / Facebook: ZahraCharissa
Nama: Zahra Rizqy Charissa H
Kelas: 5
Sekolah: SD Negeri 1 jebugan.
(Mohon maaf kalau cerpennya jelek. Dan ada kesamaan nama dalam tokoh)

Cerpen Selamat Tinggal Vonny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Gunung Beruang

Oleh:
Nama gue Betty, gue lahir di London. Orangtua gue bercerai, akhirnya gue tinggal bersama nyokap gue. Semenjak mereka (ayah dan ibu) bercerai, gue sama nyokap pindah ke Canada. Di

Jalan Terbaik

Oleh:
Pagi ini tak seperti biasanya, terlihat di salah satu kompleks perumahan yang biasanya sepi, khusus pagi ini sangat ramai sekali orang di luar rumah. Oh… ternyata mereka sedang menyambut

Tetesan Air Mata Terakhir

Oleh:
Ani adalah anak bungsu. Setiap hari Ani menjalani hidupnya dengan penuh kecerian, tapi sekarang pupus sudah dengan harapan lebih tak ada artinya. Ani hanya mendapatkan kesedihan yang sangat mendalam.

Titip Rindu Buat Ayah

Oleh:
Menjadi siswa kelas X semester 2 di SMA Negeri 2 Ngawi tidaklah mudah, apalagi menjelang UAS seperti ini. Pikiran dan tenaga seakan terkuras habis hanya untuk berkutat dengan tugas,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *