Senja Hari Ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2018

Pagi Itu, terlihat seorang gadis cantik berambut panjang sebahu tengah bersiap siap untuk berangkat sekolah. Dia adalah Alfi, pelajar kelas 2 SMA yang kini berusia 16 tahun. Dia adalah siswa yang rajin juga pintar sehingga tak heran jika jam menunjukan pukul 06.00 tetapi ia sudah siap untuk pergi ke sekolah. Karena semuanya sudah siap, ia pun memutuskan untuk berangkat dan berpamitan kepada kedua orangtuanya.

Alfi menjalani semua kegiatan di sekolah dengan lancar hingga jam pelajaran terakhir selesai. Saat pulang ia tak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke sebuah taman. Dia menikmati semilir angin di taman itu. Saat sedang menikmat semilir angin dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.

“Dorrr…” ucap Desy sembari menepuk pundak Alfi.
“Desy, apaan sih, ngagetin aja deh,” ucap Alfi.
“Cie kaget, lagian kamu sih ke sini gak ngajak ngajak aku,” ucap Desy.
“Aku ini lagi pengin sendiri, sekalian buat karya untuk mading,” jelas Alfi.
“Oh, gitu ya,” ucap Desy mengerti.

Desy adalah sahabat Alfi sedari SD. Jadi, tak heran jika mereka sangat dekat seperti saudara. Mereka berdua di taman itu hingga senja datang. Mereka sudah biasa menikmati senja berdua di taman itu. Saat mau pulang,
“Alfi, kamu kenapa?” Desy bertanya karena tiba tiba Alfi mau terjatuh.
“Aku gak apa apa kok, cuma kecapean aja deh,” Jawab Alfi.
“Kamu yakin?” tanya Desy tak percaya.
“Aku yakin kok,” jawab Alfi meyakinkan.
“Oke,” ucap Desy percaya.

Semenjak hari itu, Alfi jadi sering pingsan di sekolah. Karena khawatir, orangtua Alfi membawa Alfi ke rumah sakit.
“Dok, kenapa ya anak saya sering pingsan?” tanya mama Alfi ke dokter yang memeriksa Alfi.
“Begini bu, anak ibu terkena penyakit kanker otak stadium akhir. Mungkin dia sudah lama sering mengalami gejala gejala kanker otak, tetapi dia tidak mau berbicara kepada bapak juga ibu,” jawab dokter.
“Lalu gimana dok?” tanya papa Alfi.
“Kesempatan untuk sembuh memang kecil, tetapi kita tidak boleh putus semangat. Anak ibu harus tetap menjalani kemoterapi. Kita berdoa saja, semoga ada mukjizat sehingga anak ibu bisa sembuh,” ucap dokter.
“Baik dok,” ucap mama papa Alfi.

Alfi yang tadi pingsan, terbangun dan mendengar semua pembicaraan orangtuanya dengan dokter.
“Ma, pa, Alfi mau meninggal ya?” tanya Alfi.
“Gak sayang, kamu pasti sembuh. Kamu harus kemoterapi. Mama papa gak mau kamu ngomong gitu,” ucap mama Alfi.
“Alfi gak mau kemoterapi ma, biarin Alfi meninggal ma,” ucap Alfi sembari menangis.
“Gak sayang, mama sama papa gak mau kehilangan kamu. Kamu itu anak mama papa satu satunya,” ucap mama Alfi ikut menangis dan memeluk putri satu satunya itu.
“Ma, kalau mama sayang sama Alfi, turutin kata Alfi,” ucap Alfi.
Mama dan papa Alfi hanya mengangguk menuruti kemauan anaknya.

Setiap hari Alfi hanya bisa diam di rumah dengan buku bukunya. Dia hanya bisa menulis karangan karangan indah yang ia bisa. Semakin hari juga, kondisi Alfi semakin menurun sehingga tak memungkinkan lagi dia dirawat di rumah. Desy, sang sahabat yang merindukan sosok seorang Alfi. Tetapi jika ia menjenguk Alfi, dia tak kuasa melihat kondisi sahabatnya itu.

Hari ini keadaan Alfi sedikit membaik namun ia harus tetap di rumah sakit karena belum diizinkan pulang ke rumah. Alfi mempunyai satu permintaan hari ini, dia ingin menikmati senja bersama sahabatnya yaitu Desy. Desy pun menuruti kemauan Alfi. Desy membawa Alfi ke tempat dimana biasanya mereka menikmati senja. Karena masih lemas, Alfi harus menggunakan kursi roda saat ke taman.

“Desy, makasih ya udah mau jadi sahabatku,” ucap Alfi.
“Gak usah makasih kali, aku juga seneng kok jadi sahabat kamu,” ucap Desy.
Alfi hanya membalas kata Desy dengan senyuman.

“Desy, senja hari ini indah ya?” tanya Alfi.
“Iy Fi,” jawab Desy sembari tersenyum.
“Des, aku boleh peluk kamu gak?” tanya Alfi lagi.
“ya boleh dong,” jawab Desy.

Dalam pelukan Desy, Alfi berkata
“Makasih Desy, udah temenin aku menikmati senja hari ini. Aku gak bakal lupain kamu Des. Kamu sahabatku,” ucap Alfi.
“Iya Fi, aku seneng banget kok menemani kamu hari ini,” ucap Desy sembari menangis.
“Jangan nangis Des, aku gak mau kamu nangis karena aku,” ucap Alfi.
Desy tak membalas perkataan Alfi, dia masih menangis dalam pelukan sahabatnya itu.
“Desy, ini senja terindah dan juga senja terakhirku. Makasih dan selamat tinggal sahabatku,” ucap Alfi sebelum tubuhnya melemas dan akhirnya meninggal.
“Alfi, tolong jangan tinggalin aku. Alfi bangun. Aku gak mau jalani hari tanpa kamu Fi. Alfi bangun,” ucap Desy menangis sejadi jadinya sembari memeluk erat tubuh dingin sahabatnya itu.

“Alfi, aku bangga punya sahabat kaya kamu. Aku beruntung diberi sahabat seperti kamu. Aku juga bahagia bisa bersahabat sama kamu Fi. Alfi, aku janji akan terus ingat kamu. Aku juga gak akan pernah lupain senja hari ini, dimana senja hari ini adalah senja juga hari terakhir aku bersamamu. Kamu sahabat terbaikku Alfi,” ucap Desy di pelukan Alfi yang sudah tak bernyawa lagi.

Cerpen Karangan: Selda Arifani
Facebook: Selda Arifani
Hai Readers….
Aku lahir di Purbalingga (Jawa Tengah), 30 Maret 2003.
ig: @selda_arifani30
Fb: Selda Arifani & Selda Ran
Maaf Ya, Kalau Cerpennya Jelek. Masih Penulis Baru Soalnya.

Cerpen Senja Hari Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Demi Persahabatan Kita

Oleh:
Aku Sherly dan sahabatku Dilla sudah bersahabat cukup lama, dari mulai SD hingga sekarang dan kami baru menginjak bangku SMA. Pada waktu hari pertama sekolah secara tidak sengaja Dilla

Teman Baru

Oleh:
“siapa dia?” “apakah dia keturunan iblis” “apakah dia murid baru di sini” “mungkin saja”. “katanya dia anak seorang bankir” “masa sih seorang bankir punya anak yang seperti dia” “positif

Semasa Kecil Kelam

Oleh:
Semasa kecil yang telah lama mereka tinggalkan. Semasa kecil adalah masa-masa indah yang tidak akan terlupakan, semasa dimana mereka bagaikan malaikat kecil yang belum ternoda, semasa dimana mereka merasakan

Kutunggu Abu Abu

Oleh:
Aku masih berada dalam buaian mimpi indahku, saat tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku. Membuatku seketika melonjak mendapati Anya sudah ada di kamarku. Menggoyang-goyangkan tubuhku, memaksaku untuk bangun. Aku hanya menggeliat,

Teman Baru

Oleh:
Tahun ajaran baru dimulai dan aku mendapati namaku terletak di kelas XI ipa 2. Ada 36 murid di dalamnya dan tak satupun dari mereka yang benar benar kukenal. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *