Senja Menghilang Bersama Perginya Senjaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 November 2015

Aku masih berdiri di sini, di pantai ini memandang gulungan ombak biru berpadu dengan indahnya merah senja. Perlahan otakku memutar memoriku di sini, di pantai ini. Air mataku mulai ke luar dari pelupuk mataku, mengalir lembut di pipiku. Aku memengang ujung jilbabku kuat, mengingat semua kenanganku bersama gadis manis itu, Senja. Aku mengenalnya 6 tahun lalu, di hari pertamaku SMP, dan hari pertamaku memiliki seorang teman di kota yang baru ku pijak ini.

Aku datang agak sedikit terlambat pagi itu, karena cuaca pun mendung, dan sedikit rintik rintik turun membasahi bumi. Aku melangkah lambat di koridor sekolah, semua murid sudah memasuki kelas, aku berhenti di kelas VII–A. Ku langkahkan kakiku memasuki kelas, tak ada guru atau Kakak kelas, hanya murid-murid baru sepertiku, yang pasti di antara mereka tak ada yang ku kenali. Aku memlih diam di pintu, tak ada yang mempedulikanku, kecuali gadis manis itu, ia tersenyum.
“hey, sini duduk di sampingku,” ucapnya ramah.

Dan sekali lagi ia tersenyum manis, ia gadis berhijab yang manis. Aku mendekatinya menerima ajakannya, ia orang pertama yang mengajakku berbicara di kelas ini walau aku sudah berdiri beberapa menit di pintu. Aku duduk di sebelahnya, tak bersuara.
“kenalin, aku Senja Maudina,” ucap Senja sambil mengulurkan tanganya.
Aku menyambutnya, “Niyala Sari,” ucapku singkat.

Sejak hari itu aku dan dia semakin dekat, Senja gadis yang baik ramah, ceria, dan tegar. Aku mengaguminya dari dia aku belajar banyak, seorang gadis yang saleha yang selalu mengajak dan mengingatkanku salat, sampai akhirnya aku memutuskan berhijab saat masuk SMA sampai saat ini. Ia yang memberitahuku bahwa berhijab itu wajib bagi wanita-wanita muslim. Senja, gadis yang mengubahku jadi lebih baik.

Aku masih ingat saat pertama kali Senja ku lihat menangis di depanku saat aku kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Senja menangis karena tak mampu melindungiku, hari itu ku lihat sisi lemahnya, hari itu ku lihat mata lembutnya meneteskan air mata, dan hari itu aku tahu kalau dia sangat menyayangiku sebagai sahabatnya. Aku terharu tak menyangka senja akan sesedih itu, aku yang kecelakaan saja tak menangis karena ini, karena aku belajar darinya. Belajar dari tegarnya Senja, belajar dari sepahit apapun hidup kamu harus tetap kuat. Tapi aku melihat guruku, seseorang yang mengajarkanku ketegaran itu, kini menangis di hadapanku membuat ketegaranku lenyap di depannya.

Senja, gadis manis itu kenapa harus pergi meninggalkanku secepat ini, sahabat terindahku. Pantai ini menjadi saksi indahnya persahabatan kami, setiap senja aku dan dia selalu ke sini, berdiri di tempatku saat ini berdiri, dan dia tepat di sampingku. Aku mengingat semua kenangan bersamanya, sekarang aku tak bisa lagi berdiri di sini dengan dia. Senjaku telah pergi seminggu lalu, ia tak mungkin kembali, Allah mengambilnya secepat ini karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Aku baru tahu penyakitnya 3 bulan lalu, seminggu setelah kami melaksanakan ujian nasional. Kesehatan Senja langsung menurun, ia sering mimisan saat kami jalan jalan bersama. Aku berpikir mungkin dia kelelahan karena harus mengikuti banyak program-program beberapa minggu sebelum ujian. Aku sama sekali tak menyangka Senja terserang kanker otak stadium lanjut dan hidupnya tak lama lagi. Saat aku mendengar penuturan Bunda Senja, rasanya dunia ini berputar kepalaku sakit dan semua gelap.

Senja, aku sahabat yang bodoh, yang tak tahu penyakit yang diderita sahabatnya selama 6 tahun. Senja, aku minta maaf, maaf kalau aku tak peduli padamu, maaf kalau aku tak curiga saat melihatmu sering mimisan, maaf saat aku tak pernah ingin tahu keadaanmu, yang ternyata sangat menyakitkan. Senja, aku memang sahabat yang bodoh, aku memang tak pantas jadi sahabat gadis sebaik dirimu. Senja, aku minta maaf.

Aku masih ingat hari terakhir Senja, saat itu aku dan Senja pergi ke pantai tempat kami biasa. Pantai ini emang tak jauh dari daerah perumahan tempat tinggal kami, tepat di belakang perumahan ini. Aku mendorong kursi rodanya perlahan, burung burung yang ingin pulang ke sangkarnya menemani kami. Ketegaranku pun kembali lenyap, air mataku menetes, menatap Senja yang semakin kurus dan wajah manisnya kini pucat. Kami berhenti di tempat biasa kami memandang senja, aku berdiri di belakang Senja, mengenggam erat kursi rodanya, mencoba menutupi tangisku.

“Niya, kalau hari ini hari terakhirku melihat senja, aku ingin melihatmu tersenyum di bawah indahnya sinar senja ini,” Ucapan Senja membuatku semakin lemah, air mataku mengalir semakin deras, aku berdiri dan membungkukkan badanku agar dapat tepat menatap matanya. Aku ingin mencari kebohongan dan ketidakseriusan di balik perkataannya, walau aku tahu Senja tak pernah berbohong padaku. Aku menatap matanya semakin dalam, membuat air mataku semakin deras menetes.
“gak usah nangis, aku baik-baik aja,” ucap Senja sambil menghapus air mata di pipiku.
Aku langsung memeluknya erat, tak ingin kehilangan sahabat terbaikku ini. Aku memeluk tubuh kurusnya kuat, air mataku mengalir membasahi jilbab putihnya.

“Senja, kamu pasti sembuh, pasti,” ucapku mencoba meyakinkan dia dan diriku sendiri. Ia menggeleng, dan melepaskan pelukanku.
“Niya, berdiri di situ ya, aku mau lihat kamu senyum di bawah sinar mentari senja untuk yang terakhir kalinya,” ucapnya menyuruhku.
Aku menggeleng kuat, enggan beranjak dari tempatku.
“ayolah, sekali aja,”

Melihat wajah lembutnya, aku luluh, tak tega menolaknya lagi. Aku melangkah dengan berat ke bibir pantai, dan berdiri menghadap Senja yang tersenyum melihatku. Aku belum tersenyum, tapi Senja kembali memaksa dan akhirnya aku tersenyum dengan ikhlas demi Senjaku, sahabatku. Aku kembali ke hadapannya air mata di wajahku masih menetes perlahan.
“makasih yah, ayo pulang. Bentar lagi maghrib, aku mau salat,” ucap Senja lagi.

Kami tiba di rumah saat azan berkumandang, aku membantu senja mengambil wudu dan membaringkannya di tempat tidur untuk salat. Aku salat di sampingnya, sebelum salat aku memandang wajah sahabatku, Senja.
“Niya, kalau aku mati, kamu janji ya, gak bakal lupa sama aku, gak bakal lupa sama semua kenangan kita, gak lupa sama persahabatan kita dan jangan lupa sama Allah, salatnya jangan telat-telat lagi,” Ucap Senja setelah aku selesai salat.
“iya, aku gak bakal lupa semua kenangan kita, dan gak bakal lupa sama semua nasihat kamu,” ucapku memegang erat tangannya.
“Niya, aku cape aku mau tidur dulu yah,” ucap Senja lemah, dan matanya mulai menutup.

Aku masih merasakan denyut nadinya, dia belum pergi, aku memutuskan pergi mengambil makanan ke dapur. Aku meninggalkan Senja bersama Bundanya di kamar, tapi beberapa menit kemudian aku mendengar jeritan dari kamar senja. Aku berdiri di pintu kamar menatap Senja yang terbaring kaku, dalam pelukan Bundanya. Air mataku menetes, memeluk Senja yang sudah pergi dan berbisik di telinganya, “aku janji, aku gak akan lupa,”

Hari itu aku harus merelakan sahabat terindahku pergi untuk selamanya, sahabat terbaikku.
“ayo kita pulang, bentar lagi maghrib,”
Aku berbalik menatap orang yang berucap, aku sempat mengira Senja, tapi orang itu Bundaku.
“Iya bun, bentar lagi,”
“nanti jam 8, kita mau berangkat, cepat ya sayang,”
Aku mengangguk.

Aku menatap senja yang sebentar lagi menghilang, menghirup napas dalam dan ku hembuskan perlahan.
“Senja menghilang bersama perginya Senjaku,”
Ini hari terakhirku melihat senja di tempat ini, aku akan pulang ke kota asalku. Selamat tinggal, Senja.

Cerpen Karangan: Nurlenni

Cerpen Senja Menghilang Bersama Perginya Senjaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lensa Ungu

Oleh:
Ku lihat dirinya yang berdiri di ujung lapang basket sana, dia yang memakai baju putih biru berkerudung paris. Kusapa namanya “Desi, Desi” ya itulah namanya. Dia menoleh pandangannya kepadaku,

Jomblo Bukan Kutukan

Oleh:
Cinta itu seperti perang, mudah dimulai namun sukar diakhiri. Begitulah kata pepatah yang pernah kubaca pada sebuah novel. Bagiku, pepatah tersebut memang benar adanya. Karena aku adalah seorang cewek

Path Friendship Story

Oleh:
Apapun sosial Media yang kamu sukai, jadikan dia dunia keduamu yang bikin hidupmu lebih seru dan tapi jangan menuntunmu dalam hal yang negatif ya guys!! Namanya Arka. Cowok populer

27 Menit yang Menyedihkan

Oleh:
“Aku pulang..” Kataku sembari membuka pintu dan melempar tas ke sofa ruang tamu. Lagi-lagi tak ada orang di rumah. Aku segera melepas sepatu dan berjalan ke kamar. Merebahkan diri

Nyanyian Jalanan Kota

Oleh:
Bising suara tak jua berhenti menemani hari kelamku. Aku seakan membisu dalam keramaian kota tersebut. 500 rupiah, 1000 rupiah.. ah, aku tidak bisa mengharap banyak hanya dengan memelas dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *