Senyuman Seorang Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 June 2013

Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari.

Letak sekolahku tidak terlalu jauh dengan rumahku, hanya saja gedung yang menjulang tinggi membuat rumahku tak terlihat. Hidupku berbeda dengan teman-teman sekolahku lainya. Mereka bisa saja mendapatkan apa yang mereka inginkan, tas bagus, sepatu baru, seragam bersih. Sedangkan aku, beralaskan sepatu buntut yang dibelikan ayahku waktu aku masih kelas 1 SMP dan untungnya sampai sekarang masih muat aku pakai walaupun kusam dan bolong. Seragamku pun lusuh karena ibuku tak punya strika. Tapi itu semua tak pernah menyurutkan semangatku manggapai ilmu, walau hanya berbekal beasiswa. Sekarang aku sudah duduk di bangku 3 SMA.

Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku tukang cuci baju. Aku tidak memiliki banyak teman di sekolah karena mereka akan berfikir 2 kali untuk bergaul dengan orang sepertiku. Tetapi aku mempunyai seorang sahabat yang tak pernah malu dengan keadaanku.
“Yuki” Panggil mia, ya namaku Yuki Pertiwi dan itu sahabatku Mia susanti. Sejak dari SMP dia yang selalu ada buat aku, walau mia terlahir dari keluarga kaya tetapi dia tak malu berteman denganku. Prestasi yang kumiliki membuatku terkenal di mata guru-guru, tetapi tidak di mata temanku, mereka menganggapku rendah.
“hay, mia” sapaku pada mia, dia menungguku di gerbang setiap pagi, gadis berkaca mata ini sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu, badannya langsing. Dia juga pintar di kelas.
“lama ah kamu” ucapnya dengan senyuman, dia menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Inilah yang terjadi setiap kali aku berjalan dengan mia, siswa-siswa lainya pada ngeliatin. mereka melihat si cantik dan si kusam jalan bareng.
“kalau beteman liat-liat dong, anak kampungan kayak gini… iihh gak level” kata Lena yang berdiri di depan kelas. Lena ini adalah perempuan Ular bagiku, dia tak bosan-bosanya membuat ulah denganku, memang sih dia anak orang kaya, tapi gayanya selangit. Padahal kalau dibandingin sama Mia, dia kalah jauh, cantikan juga mia, kalau masalah kaya. Bisa di bilang Mia anak dari keluarga paling kaya di sekolah ini.
“mendingan lihat tu dirimu, ini sekolah bukan acara arisan ibu-ibu, menor banget tau.. iihh gak level” balas Mia, aku hanya tersenyum “Ayo yuki masuk”. “minggir” ucapnya pada Lena, Lena mulai memeganggi wajahnya, memastikan kalau yang diucapkan mia gak benar. Tapi ya emang benar. Dimanapun ada aku pasti ada Mia, walau terkadang takut kalau Mia ikutan tak punya teman gara-gara dekat sama aku. Tapi mia tak merasa takut dengan semua itu, dia berfikir anak-anak disini yang diandalkan uang, mereka mau berteman dengan orang yang punya uang, jadi intinya di sekolahan ini Money is Everything.

Bel pulang berbunyi, semua siswapun berseru, inilah yang mereka tunggu-tunggu.
“Yuki, aku ke rumah kamu ya?” ucap mia
“ngapain? Nanti kamu dimarahin lo” ucapku, Orang tua Mia memang sedikit tak menyukaiku, jadi setiap Mia ingin ke rumahku dia terkadang berbohong kepada orang tuanya.
“enggak kok, ya ya ya”
“tersereah deh” diapun melonjak kegirangan, entah apa yang dia suka dari rumahku, padahalkan rumahku kumuh, bau, kotor. Tidak kayak rumahnya yang kayak istana.

Setelah berjalan limabelas menit akhirnya sampai di rumahku, seperti biasa Mia langsung duduk di bawah pohon depan rumahku, mungkin itu yang dia suka, pohon yang berdiri rindang dengan daun yang berbentuk i love u.
“mau minun?” tanyaku. Mia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya, dia membuat sesuatu di pohon tersebut.
“ini minumnya, maaf Cuma air putih” ucapku memberikan segelas air putih.
“gak apa-apa kok” dia tersenyum dan langsung meneguk segelas air putih itu.
“kamu ngapain?” tanyaku
“gak ada” katanya, lalu memberikan gelas yang tadinya penuh sekarang kosong, diapun kembali mengukir sesuatu di pohon, akupun melihatnya. Dia mencoba menggambar sesuatu.
“kamu mau gambar apa sih?” tanyaku penasaran
“liat aja kalau udah jadi” ucapnya, dia masih kosentrasi dengan gambarannya.

Setengah jam berlalu, akhirnya mia menyelesaikan gambarannya.
“wow” seruku, setelah melihat gambaran mia.
“bagus kan?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia menggambar sosok 2 gadis yang bergandengan tangan dengan menggunakan seragam sekolah. Disana mia juga mengukir nama kita berdua. Aku mengambil pisau kecil yang di pengang mia.
“mau ngapain?” tanyanya. Aku kemudian mengukir sebuah tulisan di bawah gambar mia
“SAHABAT SELAMANYA” ucap mia, membaca ukiran yang aku tulis, dia tersenyum dan memelukku. Akupun tersenyum. Ku pandang langit biru, Tuhan masih menyayangiku, engkau memberikan sahabat terbaik untuku.

Hari menjelang sore, supir pribadi mia’pun tiba. Tidak, aku salah. Ternyata yang datang adalah ibu Mia.
“sore tante” sapaku pada ibu mia, aku berniat menyalaminya, tapi dia menghiraukan uluran tanganku.
“mama” ucap Mia, dia merasa tak enak hati dengan sikap mamanya.
“sore” jawabnya ketus. “ayo pulang, kenapa sih kamu ke tempat kayak gini”
“iya iya” jawab Mia sebal
“semenjak kamu temenan sama anak kumuh ini, kamu suka mbangkang mama” akupun hanya terdiam mendengar ucapan mama Mia.
“apaan sih ma, udah pulang yuk” ajaknya. “maaf ya Yuki, aku pulang dulu” ucapnya padaku, sambil tersenyum, akupun membalas senyumannya.

Mobil mewah Mia pun menghilang, aku masih duduk di bawah pohon. Entah mengapa aku mulai menyukai tempat ini, kupandangi gambaran Mia, hari mulai Larut. Aku masih duduk di bawah pohon menantikan ayah dan ibuku pulang. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, akupun beranjak dari bawah pohon itu dan berlari menuju rumah, aku berhenti sejenak dan memalingakan wajahku menatap gambaran Mia. Hujan bertambah deras, akupun berlari masuk rumah. Jam 10.05 malam, ayah dan ibuku belum pulang. Pikiranku kacau, tak biasanya selarut ini mereka belum pulang.
Akupun tertidur di kursi ruang tamu, malam ini dingin sekali.
“ayah… ibu…” aku terus memanggil nama mereka
“ayah… ibu…” sebuah tangan menepuk bahuku, perlahan ku buka mataku.
“budhe, kok disini” tanyaku pada budheku yang tinggal jauh dari keluargaku, mengapa dia ada disini. Ternyata aku ketiduran sampai pagi. Budhe masih tak menjawab pertanyaanku. Akupun melihat sekeliling, seingatku aku tertidur di ruang tamu, kenapa sekarang aku dikamarku.
“yuki…” suara budhe terdengar menyedihkan. Ku dengar suara banyak orang di luar, suara orang menangis. Akupun beranjak dari ranjangku, aku berjalan keluar. Ku tatap budheku, wajahnya pucat seperti habis menangis, ku baka pintu kamarku. DEG… jantungku berdegup kencang, tubuhku lemas. Seperti dunia ini hancur. Ku lihat sepasang jazad tertidur dengan lelap.
“ayah… ibu…!” akupun berteriak setelah melihat jazad kedua orang tuaku. Orang-orang disitupun mencoba menguatkanku. Akupun menangis.
“ayah… ibu… kenapa kalian ninggalin aku” ucapku di depan jazad mereka. “ajak aku ayah, ibu” pikiranku kacau.
“yuki” panggil seseorang, ya Mia, dia datang kerumahku. Dia juga kaget melihat semua itu. Dia memelukku, akupun menangis dalam pelukannya.
“ayah… ibu…” aku masih memanggil mereka. Kenapa tuhan lakukan ini semua padaku. Mia melepaskan pelukannya.
“yuki, yang sabar ya” ucapnya. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kupukul-pukul dadaku, karena aku mulai sesak dengan semua ini. Mia menahan tanganku. Dia menangis. Tuhan… teriakku dalam hati.

Sebulan setelah kepergian Orang tuaku, aku mulai tak semangat menhadapi hari-hariku. Yang kulakukan hanya duduk terdiam di bawah pohon. Ku lihat gambaran Mia mulai rusak. Tangan yang bergandengan menjadi hilang. Entah tandanya apa. Wajah kami yang dulu terlihat bahagia, sekarang pudar.
Aku sudah tak sanggup dengan ini semua.
“yuki” panggil mia, dia hari datang ke rumahku. Karena mama’nya mia yang tak suka denganku, Mia mulai tak diizinkan untuk kerumahku.
Aku masih terdiam. “yuki” panggilnya lagi. “yuki” dia mendekatiku, aku masih tak bergerak dari posisiku. Dia memelukku. Aku menangis.
“Mia, kenapa hidupku kayak gini, tuhan tak adil padaku?” tanyaku pada mia
“yuki, kamu gak boleh ngomong kayak gitu” ucapnya
“tapi emang kenyataanya kan?” akupun terisak
“ki, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, semua telah tertulis, hidup mati kita tuhan telah mengaturnya, kebahgiaan, kesedihan. Semua telah dalam rencana tuhan. Tanpa adanya kesedihan kita tak akan tau rasanya kebahagiaan. kita terlahir di dunia ini tanpa apa-apa dan kita akan kembali pada-Nya lagi” jelas Mia. Aku terdiam, memang apa yang mia bilang.
“ki, tak ada yang salah dengan rencana tuhan” mia tersenyum, aku menatap senyuman itu. Ah senyuman seorang sahabat yang akan selalu terkenang.
“Terimakasih Mia” ucapku. Mia mengangguk.

“Mia!” teriakku. Melihat mia tertabrak mobil. Tuhan, rencana apalagi yang engkau tuliskan. Ambulanpun membawa Mia ke rumah sakit. Mia masih sadar, sayup-sayup berusaha membuka matanya, tetapi dia harus mendapatkan pertolongan cepat. Pihak rumah sakit menghubungi keluarga mia. Tetapi Mia masih sempat memberikan senyuman untukku. Oh akankan aku kehilangan senyuman itu. Tidak! ini tak boleh terjadi.
Dokter menjelaskan kondisi Mia kepada orang tuanya, aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
“maaf pak, Mia harus segera mendapatkan donor Jantung secepatnya, Jantungnya rusak karena kecelakaan tadi, dan mungkin hanya dapat bertahan beberapa jam lagi” papa mama Mia menangis.

Apa yang harus aku lakukan, kutatap wajah mia yang terbaring. Mama dan papa Mia masuk ke dalam, entah aku merasa bersalah pada mereka. Aku hendak keluar meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba Mama mia memelukku. Akupun membalas pelukanya. Kemudian aku keluar dari ruangan Mia. Ku lihat wajah mia dari jendela. Aku tersenyum. “Aku bahagia mengenalmu Mia” ucapku.
Saat itu aku bertemu dengan Dokter yang merawat Mia. “Dok, tolong lakukan operasi secepatnya buat Mia” ucapku
“tapi, kita belum dapat pendonornya dik” ucapnya
“ada Dok” akupun meninggalkan tempat itu
Aku berlari keluar rumah sakit. Lari dan Lari. Ini pilihanku, aku berhenti di pinggir jalan. Ku lihat Mobil melaju dengan cepat, ini pilihanku. Aku berlari dan berhenti. Ku tutup mataku. Suara klakson mobil tak kuhiraukan. “Terimaksih Mia” kata terakhirku. Tubuhkupun terhempas tertabrak mobil. Ayah… Ibu… Jemput aku. Aku takut tersesat.

Sellesaii (Ganbatte!!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari
Facebook: Anitrie Ganbatte Pholephel

Cerpen Senyuman Seorang Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Senja

Oleh:
“Sahabat akan selalu memberikan yang terbaik tapi kadang keegoisan menutupi kebaikan yang diberikan sahabat pada kita jadi apapun yang terjadi jangan sampai hanya karena egomu saja kamu kehilangan sahabatmu”

Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Melebur Dengan Tanah Merah

Oleh:
Ibu, yang seharusnya jadi tauladan bagi anak-anaknya yang seharusnya mengajarkan rasa ikhlas. Tetapi malah menampilkan sifat yang membuat aku bingung. Aku tahu mungkin Ibu kecewa terhadap Ayah. Sedangkan Ayah,

Kenapa Semua Berubah

Oleh:
Pada hari itu aku masih berumur 15 tahun, aku pada saat itu masih kelas 2 sma pada saat itu aku masih culun dan lugu, teman ku sejati ku aldo

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *