Sepucuk Surat Putih

Judul Cerpen Sepucuk Surat Putih
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

“Angga bangun!”
Suara malaikat duniaku telah berbicara dan aku segera membuka mata yang berat ini. Kubuka jendela sambil menyapa dunia. Udara dingin menusuk kulit. Dingin ya sangat dingin kota yang dijuluki dengan kota apel, Batu. Ya, itulah tempat aku berlibur sekarang.
Kota Batu, menjadi tempat favoritku jika liburan. Sebenarnya aku berasal dari kota tak jahu beda dengan Kota Batu, dingin dan segar, yang dijuluki kota hujan. Ya Kota Bogor.
Sementara kulupakan Bogor, sekarang kuingin menikmati liburan di Kota Batu. Karena sekarang liburan panjang, yaitu tiga minggu, aku bisa menikmati liburan tanpa memikirkan tugas dan ulangan. Aku berlibur di rumahku yang berada di Kota Batu, yang berada di atas gunung. Jadi, udaranya dingin sekali.

Kubuka pintu kamarku…
“Apa sih Ma, masih pagi juga, apalagi ini kan hari Minggu.”
“Sudahlah dek, ayo mandi! Gak mau keluar rumah. Di luar bagus lo.”
Tanpa pikir panjang aku berlari ke teras rumah. Benar saja apa yang dikatakan mama. Pemandangan yang luas sekali, Kota Batu terlihat jelas. Akan tetapi…
“Brzzz…”
Dingin, dingin sekali. Udaranya dingin sekali.

Sambil memeluk tubuhku sendiri, kumelihat alam sekitar. Setelah pandanganku menyapu ke segala penjuru, tatapan mataku tertuju pada seorang anak berbaju biru yang berdiri di bawah pohon kelapa di ujung jalan. Perlahan aku mendekatinya.

“Hai!” sapaku.
“Hai juga!” dia menjawab dengan senyuman.
Belum ada percakapan di antara kami. Sama seperti aku dia melihat pemandangan kota Batu dari atas.
“Hai, kenalkan aku Angga, kamu?” tanyaku mencoba membuka percakapan.
“Namaku Raka. Kamu orang baru ya? Kok enggak pernah kelihatan?”
Itulah saat pertemuan pertama kami, di bawah pohon kelapa.
“Iya, aku orang baru di sini,” jawabku.
“Rumah kamu di mana?” tanyanya lebih lanjut.
“Itu di belakang kita,” aku menunjuk ke arah rumah.
Percakapan kami dilanjutkan dengan canda tawa yang seru. Meski baru bertemu Raka sangat mudah berbaur dengan orang.
Pertama kali kulihat Raka adalah anak yang baik, dengan wajah yang tampan, dan rambut yang berdiri, tinggi badannya kira-kira 145 cm.

Seru berbincang-bincang bersama Raka, tak sadar pagi yang dingin tadi sedikit demi sedikit hilang, sang surya telah menampakkan wajahnya. Lalu kubilang ke Raka aku akan pulang dulu. Untung tadi aku sudah tanya alamat rumahnya. Ternyata rumahnya tak jauh dari rumahku, mungkin beda dua blok saja.

Mandi dan sarapaan aku lakukan dengan cepat. Karena masih pagi kusempatkan untuk bersepeda menggelilingi perumahan, sekaligus ingin ke rumah Raka. Meski baru bertemu rasanya Raka itu anak yang menyenangkan. Kukayuh sepadaku dengan cepat dan sampailah di rumah Raka. Rumah sederhana dengan cat warna oranye. Kuberanikan hati untuk mencoba masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu rumahnya.
“Assamualaikum.”
Setelah salamku yang pertama tak ada jawaban kemudian aku mengucap salam sekali lagi.
“Assamualaikum.”
Salam ke dua pun juga tanpa jawaban, hanya suara angin yang terdegar. Aku berpikir mungkin memang sedang tidak ada orang di rumah. Kemudian aku membalikkan badan meninggalkan rumah. Akan tetapi, selang beberapa langkah, terdengar suara pintu terbuka. Ketika aku menoleh keluarlah sesosok ibu, yang mungkin aku yakini itu adalah ibunya Raka.
“Iya nak, cari siapa?” tanya beliau.
“Anu Bu, ini benar alamat rumah Raka?”
“Iya, benar.”
“Apakah Raka ada?”
“Eh, Raka… itu ke… rumah neneknya,” jawab ibu Raka seperti bingung dan terbata-bata, “Adik ini siapa ya? Kok saya belum pernah melihat sebelumnya?”
“Saya teman baru Raka, saya baru liburan di sini, Bu. Kalau Raka memang tidak di rumah saya permisi dulu. Saya minta tolong disampaikan saja salam saya untuk Raka. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah itu aku langsung meninggalkan rumah Raka dan pulang ke rumah. Aku hanya menghabiskan waktu di rumah seharian ini. Di rumah aku hanya bisa main game dan melihat alam sekitar yang dapat aku lihat melalui jendela di kamarku. Ternyata tak sadar waktu berjalan dengan cepat dan sore pun tiba.

Karena merasa bosan, aku pun keluar dan ingin melihat di halaman rumah. Kumelihat sekitar dan kuberjalan mendekati pohon tempatku dan Raka bertemu untuk pertama kalinya. Ketika aku hampir mendekati pohon tersebut, aku seperti melihat Raka. Aku mendekat dan memastikan apakah benar itu adalah Raka, dan ternyata benar.
Sebenarnya aku heran kenapa ada Raka di sini, sementara tadi pagi ibunya mengatakan bahwa Raka berada di rumah neneknya. Namun keherananku kutepis sendiri dengan pemikiran rumah nenek Raka dekat di sekitar sini saja. Lalu tanpa membicarakan apa yang terjadi tadi kami tersenyum dan berbicara sambil melihat matahari yang akan terbenam ke sisi bukit. Cahaya yang indah sekali, langit berubah dari oranye menjadi agak merah.

“Raka kamu tiap pagi dan sore selalu di sini?”
“Hahaha, iya seperti agenda wajibku, soalnya di sini aku bisa melepaskan semua bebanku.”
“Hm begitu ya. Benar katamu, di sini tenang rasanya,” kataku, “Memangnya kamu punya masalah apa? Sepertinya bebanmu berat sekali,” lanjutku.
“Eh anu e… tidak kok bukan. Eh, Angga bolehkah aku bertanya sesuatu?” jawaban Raka membingungkanku, dia sedikit gugup dan langsung mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaannya.
“Iya?”
“Apa yang kamu lakukan jika kamu mengetahui temanmu akan pergi jauh dan sangat lama, mungkin kamu tidak akan bertemu lagi dengannya?”
“Kenapa kamu tanya seperti itu? Memangnya siapa yang akan pergi? Akan pergi ke mana?” pertanyaanku meluncur begitu saja karena penasaran.
“Bukan siapa-siapa, jawab saja pertanyaanku.”
“Hm… mungkin aku akan membuat kenangan manis dan tak terlupakan bersamanya sebelum dia pergi, aku akan membuatnya bahagia. Dengan begitu tidak akan ada kesedihan yang terlalu mendalam saat perpisahan,” jelasku, “Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?” lanjutku.
Raka hanya menjawabnya dengan senyuman dan mengelengkan kepalanya.

Hari telah gelap.
Karena aku merasa ada yang aneh aku pun teringat dengan pertemuanku dengan ibunya. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Raka.
“Raka, tadi aku ke rumahmu, kamu tadi ke rumah nenekmu?”
“Eh enggak, tadi aku di rumah satu hari ini.”
“Benarkah? Tapi tadi kata mamamu kamu ke rumah nenekmu?” tanyaku dengan heran.
“Oh mamaku bilang begitu ya. Em… Ah sudahlah jangan dibahas. Angga besok ayo kita pergi jalan-jalan, keliling Kota Batu. Bagaimana menurutmu?”
“Wah menyenangkan sekali itu. Oke! Pagi ya, kujemput kamu,” jawabku antusias.

Malam ini sepeti malam yang panjang. Di kamar, aku duduk di dekat jendela kamar hanya melamun dan melamun memikirkan rencana besok pagi yang akan aku lalui dengan Raka. Besok aku akan melihat Kota Batu bersama teman baruku. Ya teman baru. Mungkin dia adalah temanku yang pertama di Kota Batu ini.
Kulihat langit penuh dengan ratusan bintang yang bertaburan. Aku tersenyum membayangkan besok pagi, besok pagi yang penuh dengan keceriaan, ceria dan kebahagian, bahagia sekali.
Namun tiba-tiba di sudut hatiku masih bingung dengan pertemuanku dengan Raka tadi sore, tapi ah sudahlah. Kuhentikan lamunanku dan segara kuberbaring di tempat tidurku. Kupejamkan mataku dan seketika dunia menjadi gelap.

“Kukuruyukk…”
Selamat pagi dunia. Kubuka mata dan segera bangun dari tempat tidurku. Kubergegas dan langsung lari ke kamar mandi. Mandi kali ini aku lakukan dengan sangat cepat, hampir tak ada 5 menit. Setelah mandi langsung ganti dan langsung kuberlari mengambil sepeda merahku.
“Angga enggak makan dulu?” tanya mama sambil berteriak ketika melihat aku terburu-buru.
“Nanti aja ma. Keburu udah janjian nih,” jawabku sambil keluar rumah.
Kukayuh sepedaku dengan cepat dan lebih cepat. Akhirnya sampailah juga aku di rumah sahabat baruku, Raka.
“Rakaaa…” aku memanggilnya keras.
Tak butuh waktu lama Raka sudah siap dengan sepeda yang sama mereknya denganku tetapi sepedanya berwarna biru agak tua.
“Ayo berangkat!” ajakku semangat.
“Ke mana nih?”
“Terserah kamu aja, kan kamu yang tahu Kota Batu.”

Kami pun langsung mengayuh sepeda menuju jalan raya. Aku mengikuti sepeda Raka, dan sampailah kami di suatu taman yang ada dermulennya, dermulen itu dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan bianglala.
“Batu adalah satu-satunya kota di Indonesia yang memilik Bianglala di alun-alun. Alun-alun ini menjadi daya tarik wisatawan, dengan fasilitas yang sangat unik dan bagus, alun-alun ini juga dikelilingi dengan bunga yang banyak juga bervariasi,” jelas Raka.
“Di alun-alun ini juga pernah digunakan sebagai tempat konser atau pentas seni dari artis ibukota seperti Mulan Jameela, Ahmad Dhani, d’Masiv, serta para musisi Yogyakarta yang terkumpul dalam Saunine Orchestra. Jika malam hari, alun-alun di selimuti lampion yang indah,” begitulah Raka menjelaskna alun-alun Batu ini.

Tiba-tiba handphone Angga bergetar.
“Raka, aku sudah disms mamaku disuruh pulang.”
“Yah… padahal aku masih mau menunjukkan tempat-tempat menarik yang lain. Tapi baiklah ayo pulang,” sepertinya Raka kecewa.
“Nanti malam ayo ke sini lagi ya Rak, aku ingin lihat lagi Kota Batu saat malam,” aku mencoba mengurangi kekecewaannya dengan tawaranku.
“Siap, habis isya ya,” Raka terdengar gembira lagi.
“Oke kujemput kamu, ya. Naik sepeda lagi saja.”
“Oke!”

Kami pun kembali ke rumah kami, di rumah hanya seperti biasa makan dan main game sampai menunggu waktu isya tiba. Aku tak sabar menunggu saat malam nanti, akan kubuat malam yang spesial buat Raka.
“Allahu.. Akbar…”
Suara adzan isya pun telah tiba, kulangsung melaksanakan salat.
“Ma aku keluar dulu, nanti jam 9 malam baru pulang,” pamitku ke mama.
“Iya, hati-hati Ngga,” pesan mama.
“Iya ma.”
Aku segera mengambil sepadaku dan menjemput Angga, tak sabar rasanya, karena itu aku mengayuh dengan cepat sepadaku.

“Raka…”
“Hai… ayo berangkat!”
Kami berangkat ke alun-alun Kota Batu.

Setibanya di sana, apa yang dikatakan oleh Raka memang benar, alun-alun berubah menjadi indah dan diselimuti oleh banyaknya lampu yang menjadikan suasana lebih indah. Kami berjalan di sana, dan kami pun juga tak mau ketinggalan naik bianglala.
Kota Batu dan Kota Malang telihat dari sini, penuh cahaya dan penuh keindahan dari atas. Setelah itu kami pun berjalan menuju air mancur yang ada icon kota Batu yaitu apel batu. Kami pun di sana melepaskan lelah kami.
Di sana kami banyak bicara. Bicara soal ini itu. Satu kata buat Raka itu adalah “Seru”. Ya seru sekali. Raka orangnya juga cukup ceria. Karena dari tadi kami berkeliling, tiba-tiba perut kami memanggil. Tertanda lapar.
“Ayo kita makan, aku lapar nih,” ajakku.
“Enggak bawa uang, Ngga.”
“Enggak apa-apa aku belikan.”
“Wah ditraktir nih hahaha…, emang mau makan apa?”
“Itu ketan durian, katanya sih enak,” kataku sambil menunjuk ke sudut jalan.
“Ah enggak deh, gak mau aku,” tolak Raka.
“Lho kenapa? Durian enak kali, coba aja sedikit.”
“Em… iya deh.”

Ketan Durian di Kota Batu sangat terkenal, anehnya meskipun Raka bilang ingin mencoba tetapi dia seperti memberotak tak ingin makan ketan itu.
Ketika makanan itu sudah di depan kami, Raka seperti ingin menolak makanan tersebut, dan aku memaksanya. Akhirnya Raka mau dan tanpa aku sadari ternyata Raka makannya cepat juga. Hanya senyuman yang dapat digambarkan pada saat itu.
Tiba-tiba.
“uhuk..uhuk..”
“Rak, kamu enggak papa-papa? Makannya makan jangan cepat-cepat!” kataku.
Raka hanya tersenyum dan langsung izin ke ke kamar mandi. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dengan senyumannya.

“Ngga, ayo pulang,” ajak Raka tiba-tiba setelah kembali dari kamar mandi.
Pikiranku benar, wajah Raka pucat berbeda dengan yang tadi sore. Yang aneh Raka berjalan sempoyongan seperti orang yang terkena gempa bumi dan batuk-batuk terus. Aku melihat sesuatu di tangannya seperti berwarna merah, apa itu darah?
“Raka kamu kenapa?”
“Enggak apa-apa kok,” ia hanya menjawab dengan senyum dan dia ingin berjalan sendiri.
Aku merasa pasti ada yang disembunyikan oleh Raka kepadaku. Kami langsung pulang ke rumah kami. Setiba di rumah aku hanya berpikir apa yang disembunyikan Raka dariku.
“Ngga, gimana jalan-jalannya sama Raka?” tanya mama.
Aku hanya menoleh ke mama dan hanya tersenyum. Aku langsung ke kamar dan merebahkan badanku yang capek namun masih dengan pikiran yang bingung ini.
“Ngga, makan dulu!” ajak mama dari luar kamar.
“Sudah ma,” jawabku singkat.
Nafsu makanku tiba-tiba hilang karena memikirkan hal baru saja terjadi, di benakku hanya satu pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Raka? Aku melamun dan memikirkan hal itu. Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi, dan aku takut dengan kondisi ini. Kini yang aku rasakan hanya bingung dan bingung. Kupaksakan mataku terpejam mencoba melupakan kebingunganku. Di tempat tidur akhirnya tertidurlah aku.

Paginya kubangun tanpa ada senyuman dari wajahku, tetap aja rasanya tetap bingung. Kuberanjak dari tempat tidurku dan menuju tempat pertama kami bertemu, kuberharap Raka berada di sana. Aku berencana akan menanyakan bagaimana kondisinya.
Aku berjalan seperti orang yang bingung, dan heran, semua perasaanku bercampur menjadi satu.
‘Gimana kondisi Raka sekarang?’ gumanku dalam hati yang penuh kekhawatiran.

Sampai di sana aku tak melihat tanda-tanda bahwa Raka ada di sana, hanya diriku saja yang berada di sana. Sendirian. Kuberpikir mungkin Raka sakit dan sekarang ia istirahat mungkin 2—3 lagi hari sudah sehat.
‘Ah sudahlah dua hari lagi akan kutemui Raka, biarlah dia istirahat terlebih dahulu, kasihan dia’ gumanku dalam hati yang yakin bahwa kondisi Raka baik-baik saja.

Dalam dua hari ini aku selalu pergi ke tempat yang sama yaitu tempat kami bertemu, tetapi tetap saja Raka tak hadir. Hanya aku sendiri di sini, sepi dan tak ada canda tawa di tempat ini.
Setelah dua hari Raka tak terlihat, pagi ini aku langsung akan menjeguknya, kuambil sepedaku dan bergegas pergi ke rumah Raka. Seperti awal aku ke rumah, rumah Raka tertutup.

“Assamualaikum”
“Waalaikumsalam” tak begitu lama menunggu ibu Raka menjawab salamku.
“Te, permisi Raka ada?”
“Adik yang kemarin jalan-jalan sama Raka itu ya? Angga kan?”
“Iya, Te.”
“Akhirnya kamu datang juga, nak. Ayo, nak Angga ikut saya”

Aku bingung, tetapi langsung mengikuti ibu Raka yang berjalan ke luar rumah. Tak begitu lama mungkin 5 menit, kebingunganku semakin bertambah karena aku merasa ada yang semakin aneh. Aku hanya bertanya dalam hati, ‘bukankah ini jalan menuju makam? kenapa harus ke makam?’ pikiranku bergejolak tak menentu. Aku menenangkan diriku dengan berpikir positif. Selang beberapa lama kami berhenti di suatu makam. Kumelihat nisan makam tersebut dan tertulis
Muhammad Raka Setiawan
Aku sangat terkejut dan semakin bingung.

“Te, ini maksudnya apa?”
“Nak, ini makam Raka.”
Mendengar itu tak terasa air mataku mulai berjatuhan. Aku tak sanggup berkata apa-apa.
“Nak, terima kasih sudah mau menjadi teman Raka di penghujung usianya yang masih sangat muda. Raka memang dalam kondisi sakit TBC. Sebenarnya kondisi Raka mulai memburuk saat pulang malam saat itu, tapi itu tidak perlu dibahas lagi, Raka banyak cerita soal kamu. Ibu berterima kasih kepada nak Angga, nak Angga sudah memberikan hari yang bahagia di saat detik-detik kematiannya. Terima kasihnya nak.” ibu Raka langsung memelukku, saat itu aku hanya seperti patung, diam dan bingung. Hanya air mata yang dapat mengalir. Dan aku seperti berasa bersalah karena mengajaknya berjalan-jalan hingga malam, Raka maafkan aku. Tangisanku semakin tidak bisa dibendung
“Ini ada titipan yang terakhir dari Raka yang harus ibu sampai kan kepada nak Angga.”
Kuambil sepucuk surat putih itu dari tangan ibu Raka, kubuka dan isi pesannya

Untuk sahabat terakhirku
Angga…
Terima kasih telah menemaniku untuk hari-hari terakhirku. Dan aku tak akan menyalahkanmu atas kematianku, karena ini adalah takdir tuhan, dan juga takdir itu membawaku bertemu denganmu. Tak usah bersedih atas kematianku, berbahagialah karena kamu masih diberi kesehatan oleh Tuhan. Ingat aku tak akan pernah melupakan tentang dirimu sampai kapanpun. Meskipun sekarang jarak dan waktu telah memisahkan kita, kareana kau adalah sahabatku. Sahabat terakhirku. Sahabat yang tak kan pernah kulupa. Meski kita hanya bertemu 2 hari saja. Terima kasih untuk semua. Teima kasih untuk senyuman, semangat, dan keceriaanmu dan juga pertemuan kita yang singkat ini.
Terima kasih sahabat.”

Air mataku hanya bisa mengalir dan aku hanya isa mengucapkan selamat jalan kepada kawanku. Sampai jumpa di sana di surga. Di sini aku hanya bisa berdoa untuk dirimu. Terbanglah wahai merpati putih, terbanglah menuju nirwana. Di sana kita akan berjumpa.

Selamat jalan Raka.
Selamat jalan kawanku.
Terbanglah wahai merpati putih.

1 minggu setelah kejadian itu aku dan keluarga kembali ke Bogor.
Raka telah memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan dan pertemanan. Pertemanan akan selalu ada, mesti kawan kita telah meninggalkan dunia ini, tetapi kawan kita akan selalu ada di dalam hati kita sampai kapan pun. Dan teringat bersyukurlah telah diberi kesehatan, jagalah kesehatan, karena sehat itu mahal.

Selamat Jalan Wahai Sahabatku

Cerpen Karangan: Aldis Priya A
Facebook: Aldis Priya Anggaraksa
Aldis Priya Anggaraksa
16 th
Malang, Jawa Timur, Indonesia

Cerita Sepucuk Surat Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dear Friend, Forgive Me (Part 2)

Oleh:
Suasana sore hari yang indah. Di kota, sedang ada karnaval yang ramai dipadati orang-orang. Doni dan Luna berjalan jalan dengan bahagia di sana. Melihat-lihat kemeriahan dan euforia yang menghangatkan

Senja

Oleh:
TAKDIR adalah satu kata yang menentukan keadaan dan kehidupan setiap orang. Takdir pulalah yang membuat bumi terkadang penuh dengan deru tangisan di secara bersamaan terdengar dengan tawa kelakar orang-orang

Jalan Tak Berujung

Oleh:
Tumpukan Masalah itu memberi kamu dua pilihan To be someone better Atau To be someone broke Pilihan ada di tangan kalian. Sejak kecil, aku hanya dapat merasakan kasih sayang

Bersama Sahabat

Oleh:
Pagi ini, aku akan pergi ke rumah kakek di Bogor. Hatiku sangat gembira, karena aku bisa bertemu dengan Elma, Tiara, Nina, Rara dan yang lain. Mereka semua adalah teman-temanku

Nasihat Terindah

Oleh:
Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *