Si Harimau Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 April 2014

“Auuum… auuuuum”
Suara ngauman Sang Raja Handra terdengar oleh seluruh rakyatnya, dan tak lama kemudian berkumpulah seluruh rakyatnya di pintu gerbang Istana Sandura.
“Ada apa? Ada apa itu?”
“Minggir, dong!”
“Jangan ngehalangin yang lainnya.”
Semua rakyat yang berkumpul berdesakan dan ingin tahu apa yang terjadi.
“Kepada seluruh rakyatku yang aku cintai dan kasihi, sekarang juga aku menyatakan telah lahirnya putra mahkota yang kami diberi nama Hali, dan…” jelas Sang Raja belum selesai.
“Dan anak ini akan menjadi seorang Raja yang gagah, kuat, adil, bijaksana dan berani.” lanjut Ratu Litis, istri Raja Handra.
“hore… hore… hore.” teriak seluruh rakyat.
Seluruh rakyat Kerajaan Istana Sandura bahagia, termasuk seisi Istana Sandura pun ikut berbahagia. Sayangnya hal ini diketahui oleh Santri, selir dari Raja Handra. Ia sangat benci dan menyimpan dendam di dalam hatinya. Selama beberapa jam ia berfikir dan ia membuat suatu rencana untuk membunuh dan membuat kekuasaan jatuh padanya.

“Ayah, ayah sekarang usiaku telah bertambah satu tahun. Berarti aku akan beranjak dewasa, bukan?” tanya Hali yang baru saja berusia 3 tahun.
“Benar sekalai anakku.” jawab ayahnya. Kamu akan menjadi pria gagah seperti ayahmu. Kamu juga akan menjadi pemegang kekuasaan di Kerajaan ini.

Hali tumbuh dengan cepat. Ia menjadi anak yang sangat pintar dan baik. Dengan cepat Hali mempelajari bagaimana cara menjaga kekuasaan di istana.

“Anakku sayang, kamu sudah berusia 20 tahun sekarang. Ibu ingin bicara denganmu, jadi kemarilah.” panggil ibunya.
“Ahhh, ada apa sih, Bu?” jawab Hali. Pasti pertanyaan yang engga penting lagi. Aku sudah tahu, Bu.
“Jangan bicara begitu, kemarilah.” panggil ibunya yang kedua kalinya.
“Ahhh, enggak mau, Bu. Aku lagi sibuk main…” jawab Hali. Apa ibu tidak melihat aku? Aku sedang bermain, Bu…
“Hanya sebentar, kok. Semuanya tentang cara agar kamu bisa memerintah Kerajaan ini dengan baik nantinya.” Panggil ibunya yang ketiga kalinya.
“Ibu, ibu gak lihat aku lagi apa! Aku sedang sibuk, Bu!” bentak Hali. Aku lagi sibuk! S-I-B-U-K!
“Ya, sudah ibu tidak akan mengurusimu lagi! Lakukanlah segalanya sendiri, percuma saja bila ibu beri tahu!” bentak ibunya lagi.

Untungnya, Hali cepat tersadarkan akan kelakuannya yang buruk itu. Hali meminta maaf kepada Ibunya dengan kasih sayang ia memeluk dan mencium Ibunya.

“Ibu…, maafkan aku, Bu. Aku tahu aku salah. Aku tidak akan melakukannya lagi.” pinta maaf Hali yang tahu bahwa ibunya marah.
“Ya, kamu janji, jangan mengulangi kesalahanmu lagi…?” tanya ibunya.
“Ya, Bu.” jawab Hali.
Semua percakapan ibu Hali dengan Hali terdengan oleh Selir Santri. Untung saja belum ada rahasia apapun yang diucapkan oleh Ratu Litis.

Waktu terus berjalan. Usia Hali bertambah sekarang telah menjadi 25 tahun.
“Hali kemarilah.” panggil ibunya.
“nanti, Bu. Aku lagi main!” bentak Hali. Bisa enggak ibu diam berisik tahu!!!
“Dasar kamu anak kurang ajar. Kepada ibumu kamu sangat berani.” bentak ibunya.
“Maafkan aku, Bu…” pinta Hali
“Sudah! Kesalahanmu pasti terulang lagi…” jawab ibunya. Seorang raja yang bertanggung jawab adalah seorang raja yang sadar akan kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi.
“Tapi…”
“Ibu lebih baik tidak memperhatikan kamu lagi. Percuma ibu memiliki anak sepertimu.” kata ibunya. Sikapmu sangat jauh berbeda, ketika kamu masih kecil, kamu sangat baik dan sopan. Anak tidak tahu di untung. Anak kurangajar.

Dari kejadian itu Hali sangat menyesal. Perkara itu diketahui lagi oleh selir, dan kali ini ia tidak ingin kehilangan kesempatan yang indah. Selir mulai berfikir. Ia berencana untuk meracuni Ratu Litis, kemudian akan mengadu dombakan Raja dengan Hali. Ia mulai memikirkan rangkaian rencananya.

“Ratu Litis… selamat siang. Maaf apabila kehadiran saya mengganggu Ratu.” kata Santri.
“Tidak apa-apa, silahkan duduk. Ada masalah apa sehingga anda datang kemari?” tanya Ratu.
“Saya mendengar, kemarin-kemarin ini, terjadi keributan antara Ratu dengan putera mahkota, benar?” tanya Santri.
“Benar sekali tapi bagaimana anda bisa mengetahui ini?” tanya Ratu.
Ratu mulai bereaksi untuk meracuni Ratu. Selir itu telah mempersiapkan beberapa bungkus teh yang di dalamnya ia beri racun yang sangat berbahaya, dan apabila diminum maka akan meninggal.
“Informasi itu saya dapat dari beberapa orang. Ratu lebih baik banyak istirahat.” kata Santri. Oh, ya saya juga punya beberapa teh yang kasiatnya adalah untuk menenangkan diri, menghilangkan pening-pening, serta menyegarkan tubuh.
“Oh, begitu?” tanya Ratu. Terima kasih, Santri.
“kalau begitu, saya pergi dulu.” kata selir licik itu.
“Ya, terima kasih.” jawab Ratu.

“Hahaha, mampus kamu Ratu…” kata selir licik itu ketika sampai di ruangan khususnya. Mampus kamua Ratu.

Teh yang diberikan selir itu ternyata diminum juga oleh Sang Ratu. Setelah beberapa saat Ratu pingsan dan ketika itu Hali mendatangi ibunya. Hali sangat terkejut ketika melihat ibunya pingsan. Ia mengecek detak jantung ibunya, sayangnya detak jantungnya sudah tiada.
“Ibu, maafkan atas segala kesalahanku. Aku sadar apa yang telah kuperbuat itu semuanya salah. Aku sadar aku anak yang bodoh.” kata Hali sambil menangis.Aku sangat menyesali perbuatanku sendiri. Aku tidak sopan kepadamu. Aku selalu bertentangan denganmu. Aku, aku, aku sangat bodoh, aku anak yang sangat bodoh. Akulah yang membuat ibuku menjadi pusing.

Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Engkau segalanya bagiku
Engkau sangat berharga bagiku
Pengorbananmu begitu besar
Tanpamu
Aku tidak akan hadir di sini
Engkaulah Ibu tercintaku

Sang Raja sangat sedih ketika mengetahui kejadian itu. Dikuburnya Sang Ratu. Sayangnya Hali menjadi terdakwa atas perlakuan pembunuhan. Ia dicurigai melakukan pembunuhan kepada ibunya karena ketika kematian ibunya hanya ada satu orang yang berada di ruangan ibunya, yaitu Hali.

“Apa benar, nak kamu tidak membunuh ibumu?” tanya ayah Hali.
“Benar yah aku tidak membunuh ibuku” jawab Hali.
“Jujur saja, nak. Apa kamu harus membunuh ibumu hanya karena kamu membencinya…?’ tanya ayahya sambil memegangi dadanya.
“Ayah…, ayah kenapa?” tanya Hali dengan terkejut.
“a…a..yah… tidak apa… apa nak” jawab ayahnya.

Sayangnya Tuhan sudah berkonsisten dengan rencananya. Nyawa ayah Hali dicabut saat itu juga. Hali sangat takut dan terkejut. Ia bingung bagaimna ini. Ibunya sudah meninggal, ayahnya ikut menyusul kematian ibunya.

Ayah, ibu
Teganya kalian kepadaku
Membiarkan aku sendiri
Mengatasi segala persoalan
Apakah Tuhan
Sudah benci padaku
Apakah waktu
Tidak dapat dimundurkan

Semenjak kejadian itu Kerajaan Sandura berantakan. Nama harum kerajaan tersebut menjadi rusak hanya karena Hali dicuigai membunuh ayah dan ibunya hanya kerena dendam. Selir yang licik itu sangat behagia karena ia sekarang dapat menguasai kedudukan sebagai ratu di Istana Sandura.

“Ayah, ibu, maafkan aku. Aku adalah anak yang bodoh, anak yang tidak berguna.” jerit Hali ketika dia menengok orangtuanya ke tempat pemakaman.
“Sekarang istana telah hancur, pemerintahan berantakan, bahkan tidak ada yang memimpin sekarang.” tambahnya sambil menangis.

Cerpen Karangan: Davina Senjaya
Facebook: Davina Senjaya
Anak SMPK 1 Bandung. Saya haarap, kita bisa sama-sama belajar dari kisah cerpen yang saya bagi buat kalian, pembaca. Sahabat pembaca, semoga bacaan ini beerarti dan berguna buat kita. 😀 GBU.

Cerpen Si Harimau Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepuluh Kenjeran

Oleh:
Ibuku cinta pada lautan. Tiap minggu ia mengajakku bepergian ke pesisir pulau Jawa Timur. Kami menghabiskan dua jam hanya berjalan saja, namun tidak menunjukkan rasa peduli terhadap kedua kakiku

Kisah Kehidupan Cece

Oleh:
Namanya cece dia adalah seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, usianya baru 14 tahun, cece mempunyai seorang sahabat yang bernama nita, nita adalah sahabat cece dari smp, mereka

Sorry, My BFF

Oleh:
“Daniyyah!! Ayo siap siap berangkat sekolah nak!” Seru ibu sambil menyiapkan sarapan. “Iya bu!” Jawabku dengan santai. Lalu aku langsung mandi lalu sarapan bersama keluargaku. Oh iya, namaku Daniyyah

Kejutan Dari Ibu

Oleh:
Pagi ini terasa cerah sekali, terik matahari menguning bagaikan telur dadar yang baru matang. Ah, pagi-pagi ini melihat matahari pun seperti melihat makanan. Tidak hanya itu, aku melihat burung-burung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Si Harimau Kecil”

  1. davina says:

    seru ga ceritanya, temen-temen?

  2. Syifa Khairunnisa says:

    Itulah akibat jika kita durhaka kepada orangtua kita, apalagi sosok ibu yang sudah melahirkan kita dengan tenaga yang kuat, mengasuh, dan menyayangi kita.

    Ibu sangat berarti bagi kita.

  3. Rosmi Irawaty says:

    amazing story…
    Makanya Jadi anak JAngan Durhaka Kena Akibatnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *