Sirius Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

Dingin…
Senyap…

Gadis yang mengenakan dress berwarna biru itu mendongakkan kepalanya. Menatap langit malam yang semakin menghitam. Ia menghela napasnya singkat. Warna itu … begitu pekat. Gelap. Tak berbintang.

Ia tersenyum miris tepat ketika alunan nada dari lagu kesukaannya —dahulu kala— berputar dalam headset di telinganya. Lagu itu … lagu yang seakan menjadi saksi bisu akan perjalanan kisah cinta remajanya.
Kisah abadi yang akan tertanam kuat di benaknya.

Summer after highschool when we first met
We’d make out in your mustang to Radiohead

Lagi-lagi hatinya teriris setiap kali mendengar lagu ini. Memorinya kembali berputar mengingatkannya —memaksanya— akan sosok yang pernah hadir dalam hidupnya … mengisi hari-hari indahnya. Gita menunduk.
Rasanya…

And on my 18th birthday we got matching tattoos

Laki-laki berperawakan tinggi itu tersenyum ke arahnya. Lalu tak lama merangkul pundak gadis yang hanya setinggi bahunya. Sedangkan tas hitamnya disampirkannya —asal— di pundak kanan.

“Lepas, Dam!”
“Git …,” panggilnya seraya berjalan sembari tetap merangkul gadit itu, “ikut gue, yuk!”
Gadis bernama Gita itu bergumam kesal saat laki-laki itu tak kujung melepaskan rangkulannya. Risih itulah yang dirasakan gadis bermata cokelat muda itu. Pasalnya kini ia menjadi pusat perhatian pengunjung pantai sore itu.
“Gue udah ngikutin lo dari tadi kali, Dam,” sungut Gita.
Yap! Siapa lagi kalau bukan ulah laki-laki playboy nomer satu di sampingnya itu yang membuatnya kesal setengah mati.
“Sumpah, kali ini nggak garing! Lo nggak bakal nyesel.”

Dengan langkah berat Gita mengikuti laki-laki itu. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah tenda kecil. Ramai. Mungkin satu kata itu cukup menjelaskan bagaimana kondisi tenda itu. Gita mengedarkan pandangannya. Namun, seulas senyuman kemudian terbit di wajahnya. Tak begitu buruk, pikirnya.
Dapat dilihatnya dari luar tenda tampak beberapa orang tampak duduk-duduk sembari menunggu gilirannya.

“Pak, bisa request tulisannya nggak?”
Pria itu mengangguk, “mau tulisan apa?”
“Ukirannya bentuk inisial aja kali ya, Git,” kata Adam.
Lantas, laki-laki itu memilih model tato yang dikiranya cocok untuk keduanya. Tak lama kemudian Adam tersenyum sembari menggandeng tangan gadis itu tepat ketika pria itu selesai membuat tato di lengan kanan keduanya.
Tak lama helaan napas berat terdengar dari laki-laki di sebelah Gita. Samar-sama gadis itu mendengar Adam bergumam. “Maaf…”

Used to steal your parents liquor and climb to the roof
Talk about our future like we had a clue

“Git … lo tahu nggak sih ada berapa bintang di langit?” tanya Adam. Ia kembali meneguk minuman sodanya.
Sedangkan gadis itu menggeleng pelan, dia kemudian berujar, “banyak, Dam. Ya kali ah gue hitungin satu-satu.”
“Lo benar, ada ribuan bintang di sana. Tapi … apa lo tahu ada satu bintang yang paling terang?” tanyanya kembali.
Gita menyesap cappucino-nya perlahan sesaat sebelum mengeluarkan suaranya. Kembali ia gelengkan kepalanya sebagai reaksi atas pertanyaan laki-laki itu. “Ah, semua sama aja kali.”
“Sirius … bintang itu …,” gumam Adam, dia menengadahkan kepalanya. Difokuskannya pandangannya pada satu titik paling terang di langit hitam.
“Gue pengen jadi dia. Jadi yang paling terang di antara yang lain … tapi lagi-lagi gue tahu diri…,” ujar Adam memberi jeda di antara perkataannya, “gue terlalu egois buat dapatin semua perhatian orang.”
“Gue rusak dan gue tahu nggak sepantasnya gue berharap jadi sirius di hidup mereka … di hidup lo.”
Sontak, gadis itu menoleh ke arah Adam. Dilemparkannya pandangan tak sukanya, “lo masih waras ‘kan, Dam? Lo nggak sakit, ‘kan?”
Laki-laki itu mengangguk singkat, “mungkin gue udah nggak waras lagi kali, Git.”
Adam tertawa hambar. “Segitu parahnya ya harapan gue?”
“Nggak. Tapi gue ngerasa ini bukan lo banget,” kata Gita seraya mengerutkan keningnya, “sejak kapan sih Adam yang gue kenal berandalan jadi baperan gini?”
Laki-laki berkaos abu-abu itu kembali melemparkan tatapannya ke langit. “Gue berandalan banget ya di mata lo, Git?”
“Anjir! Salah ngomong lagi gue. Lo kenapa, sih, Dam? Ke mana Adam yang gue kenal dulu?” tanya Gita. Ia menghela napasnya singkat. Rasanya benar-benar absurd melihat laki-laki itu seperti ini.
“Lo bisa berubah kalau punya tekad yang kuat!”
Adam mengembuskan napasnya berat. “Sayangnya gue nggak punya cukup waktu.”

Never planned that one day I’d be losing you

Gadis berkuncir satu itu lagi-lagi tersenyum miris. Tak pernah terbayangkan rasanya sesakit ini. Bahkan tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya dia akan pergi. Menghilang dari jangkauan matanya.

In another life, I would be your girl
We’d keep all our promises
Be “us” against the world

Masih adakah secercah harapan itu?
Harapan yang membuatnya tak ingin bangun dari mimpinya. Harapan yang selama ini meyakinkannya bahwa kebahagian itu nyata adanya. Gita tertawa miris menyadari kebodohannya. Kebodohannya karena memilih hidup dalam harapan yang dibuatnya sendiri. Hingga akhirnya ia lupa bahwa dirinya hidup hanya dalam harapan semata.

In another life, I would make you stay
So I don’t have to say
You were the one that got away
The one that got away

Ingin rasanya berteriak. Mengatakan betapa menyesalnya Gita. Memintanya untuk kembali berada di sisinya. Namun kenyataan seketika menyentaknya. Meneriakkannya bahwa semua tak akan kembali.
Semua telah berubah.
Hilang … ditelan oleh jarak dan waktu. Gita menyeka air matanya. Rasanya … begitu perih ketika kau kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupmu. Bahkan sebelum kau mengatakannya. Benar kata orang bahwa sejujurnya kehilangan terdalam adalah ketika kau dan dirinya telah berada di dimensi yang berbeda. Dan akhirnya Gita menyadari akan suatu hal … bahwa kini siriusnya telah pergi. Menatapnya dari jauh. Dan bersinar seakan tersenyum padanya.

Cerpen Karangan: Elfrianna
Blog: elfrianna.blogspot.co.id
ELfrianna merupakan sebuah nama pena dari gadis berkacamata di sebuah kota yang katanya salah satu Ibukota Provinsi di Indonesia. Hobi browsing, baca novel cetak maupun online, dan baca komik online. Namun, paling kesal setiap kali menyadari bahwa di kota tempat tinggalnya masih saja belum terdapat Gramedia!
Selain di cerpenmu, dia juga memublikasikan karyanya di sebuah situs online yang cukup dibilang populer karena bermula dari situs tersebut, banyak penulis berhasil mewujudkan mimpinya saat hasil karyanya terpampang di toko buku.
Yeah, you know what I mean!
Bisa disapa lewat akun situs novel online tersebut dengan username yang sama. Mari kenal lebih dekat!;)

Cerpen Sirius Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertengkaran Pertama

Oleh:
Jumat, 25 Agustus 2013. Seperti biasa hari ini aku pergi sekolah. Aku adalah siswi di salah satu sekolah menengan pertama di kota Pasuruan. Sekarang aku sudah berada di kelas

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

Dikala Indah Teringat Ayah

Oleh:
DUDUK SELALU di bangku bagian belakang. Semenjak kelas lima hingga naik kelas enam sekarang, tak pernah mataku melihat dia berada di bagian depan. Entah karena sudah diatur wali kelasnya

Tak Terduga (Part 2)

Oleh:
Pandanganku tertuju pada air danau yang tenang. Ku sandarkan bebanku pada pohon yang rindang. Berada di pinggir danau membuat kenyamanan tersendiri bagiku. Ya.. Di sinilah aku menenangkan semua beban

Sepi Tanpa Mereka

Oleh:
“Raya, bangun!” ucap seorang gadis yang bernama Ani. Pas jam pelajaran olahraga tadi, Raya tidak enak badan. Dan sekarang ia masih duduk di bangkunya. “Udah mendingan Ray?” tanya Ani,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *