Smile

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2013

Tersenyum adalah cara termudah untuk bahagia. Aku mengerti konsep itu. Hanya butuh sedikit tarikan simpul manis dari sudut bibirmu dan dunia akan menjadi sedikit lebih indah. Yang tak ku mengerti hanyalah satu hal. Bagaimana cara melakukannya?

Setiap orang yang kutemui selalu punya cara untuk membuat senyum di wajahnya. Sekalipun mereka memberikan senyuman itu pada orang yang tak dikenalnya sama sekali. Itu sesuatu yang sulit, dan menurutku tidak masuk akal. Untuk apa memberikan senyuman pada orang lain yang bahkan tidak kau ketahui asal-usulnya?

Entahlah.. semua masih teka-teki bagiku pribadi. Teman-temanku bilang aku harus hiburan. Aku akui aku memang sangat membutuhkan hal itu. Aku ingat terakhir kali kapan aku pernah bahagia. Tapi aku rasa itu sudah sangat lama.

Sebenarnya aku tak ingin mengingat hari itu. Aku selalu mencoba untuk melupakan hari dimana semua pernah terjadi. Namun nyatanya ingatan dalam kenangan itu jauh lebih kuat dari apa yang kuduga. Semua yang hanya bayang-bayang kelam menjadi semakin jelas berupa kepingan gambar dan bersatu pada satu film berlatar masa lalu.

Film yang tak pernah bisa berhenti sebelum semuanya selesai diputar. Film yang sebenarnya tak pernah ingin kutahu.
Semua dimulai sejak pagi itu di bulan Maret yang kelabu. Langit kota Bandung redup tanpa cahaya matahari yang cerah sebagaimana mestinya. Semua kegiatan manusia seperti lumpuh pada satu titik saat sedikit demi sedikit rinai hujan turun di bumi Bandung.
Semua manusia, Kecuali aku dan dia. Kami berjanji akan pergi hari itu apapun yang terjadi. Entah kenapa, dia sangat memaksa. Tak seperti biasanya. Aku juga tak curiga sekalipun kalutan batinku mengatakan ada sesuatu yang salah.

Nyaris dua bulan dia menghilang. Seperti kabut yang cepat datang dan lenyap tanpa jejak. Dia tak pernah menghubungi aku atau siapapun yang bisa memberikan berita tentangnya. Sosial media yang ia miliki pun tak punya pembaharuan yang pasti. Semua masih sama seperti beberapa minggu sebelumnya.

Aku berulang kali datang ke rumahnya sekalipun aku tahu jawabannya akan sama. Rumah itu akan tetap kosong oleh penghuni asli. Tak ada tetangga yang bisa memberikan fakta yang sesungguhnya. Kabar dan berita tentangnya di sekolah pun nihil. Lucunya mereka malah bertanya padaku, orang yang paling dekat dengan sosok misterius itu.

Aku tak pernah tahu jika perpisahan SMP dua bulan lalu adalah hari terakhir kami bertemu. Setelahnya dia mengaku sibuk dengan kegiatannya di sekolah baru. Sebuah SMK otomotif yang letaknya amat jauh dari sekolah Bisnis manajemen tempatku saat ini. Benar-benar tanpa kabar. Dia menghilang.

Dan kini setelah dua bulan ia lenyap, sabtu malam yang di guyur hujan menjadi hari dimana akhirnya aku tahu dimana dia. Sangat singkat. Pesan tanpa basa basi seperti biasa. Dia bilang dia ada di tempat dimana seharusnya dia berada dan aku pasti tau dimana. Dia tak ingin aku kesana. Dia hanya ingin minggu ini aku punya waktu kosong walau hanya satu jam saja.

Entahlah.. apa aku pantas bahagia saat itu? Di satu sisi aku benar-benar senang akhirnya dia kembali. Tapi di sisi lain.. aku khawatir. Sangat khawatir. Namun perasaan itu aku tepis. Aku hanya ingin bertemu dengannya lagi dan sebanyak mungkin mendapat informasi. Tapi lebih dari itu, yang terpenting hanyalah.. aku ingin melihatnya lagi.

Minggu pagi adalah harinya. Dia menyuruhku menunggu di tempat biasa dan dia akan datang dalam beberapa menit lagi. Aku tahu itu artinya dia ada di sekitar sana. Sekali lagi aku mencoba tidak peduli. Saat pesanku sampai di layar handphonenya dia menepati janji itu. Dia datang dalam lima belas menit.

Tak ada yang berubah. Masih dengan rambut hitam yang terpotong rapi dari setiap sisi. Dengan hoodie putih dan celana jeans kebesaran yang nyaris tak pernah ia ganti sejak terakhir aku bertemu dengannya. Dia membawa satu ransel yang kurasa isinya hanya angin kosong. Sepatu biru menjadi satu satunya barang yang baru pertama kulihat darinya.

Dia menghampiriku dengan langkah santai. Senyuman manis dari bibir pucatnya ia arahkan padaku. Aku mencoba untuk tetap tenang, sekalipun yang aku inginkan sebenarnya adalah berlari memeluk tubuh tegapnya dan mengungkapkan betapa aku merindukan dia. Dan sekali lagi, niat itu aku urungkan.

“Udah lama ya nunggunya? Sorry” itu kata-kata yang pertama kudengar darinya lagi. Suaranya seperti bisikan yang nyaris tak terdengar sama sekali. Aku hanya menggeleng mengatakan tak apa-apa. Bukan masalah, aku rela menunggunya selama berjam-jam sekalipun. Yang penting, dia datang.

Dia tersenyum. Menarik tanganku ke dalam sakunya dan mendekapnya cukup lama. Lalu kami pergi. Mengabaikan rasa risih dari pandangan sekitar manusia di sekeliling kami. Aku tak mau mereka berkata yang tidak-tidak tentang kami berdua. Yang hanya sebatas teman dan tak kan pernah bisa lebih dari itu.
Namun, Seperti katanya, jangan pernah peduli pada sesuatu yang tak berguna. Itu prinsip yang nyata hingga kini kuterapkan. Dan rasa risih itu hilang.

Dia tak banyak bicara. Aku pun tak berani bertanya. Aku takut jika dia mendengar pertanyaanku nanti, dia akan pergi dan lebih lama tak kembali lagi. Atau mungkin, benar benar pergi untuk selamanya. Aku tak mau hal itu terjadi. Aku tak pernah mau!

Tempat pertama adalah museum geologi. Dia memberiku tiket dan berjalan berkeliling mencari koleksi tengkorak purba. Benda yang menjadi favoritnya sejak TK. Dia bilang, dia sangat ingin menjadi peneliti seperti itu. Membawa kuas kecil dan menyapu debu untuk menemukan setumpuk tulang binatang.

Dia banyak bercerita tentang IPA dan seluruh isinya. Sekalipun dia tahu aku benci pelajaran itu. Dia ingin mencoba agar aku bisa menyukai setiap bidang studi. Usaha yang mulia, tapi percuma. Selama 2 jam yang singkat itu dia banyak tersenyum dalam teorinya. Tentu saja aku tak mendengarkan maksud dari ajaran itu. Aku hanya memperhatikan dia dan larut dalam lamunanku sendiri.

Selanjutnya kami pergi. Dia membawaku berjalan jauh ke tugu Dago. Setiap jalan setapak disana ada jejak kaki kami yang menyimpan sejarah. Kenangan baru yang tercipta dan bisa membuatku tersenyum dalam duka saat mengingatnya. Dia mengajakku duduk disana dan kembali bercerita banyak hal.
Termasuk kemana saja dia pergi selama ini.

Sekolah adalah alasannya mengapa dia menghilang selama ini. Kesibukan sebagai salah seorang OSIS dan model majalah anak muda. Awalnya aku tak percaya. Yang aku tahu itu bukanlah dunianya. Tapi dia membawa bukti dan memaksaku untuk percaya.
“Aku trainee ke Jakarta pas kamu dateng ke rumah.” Jelasnya singkat.
Aku tak banyak bicara. Aku tetap mendukungnya apapun yang ia lakukan. Karena aku sahabatnya kan? Bukankah sahabat harus mendukung satu sama lain apapun yang ia lakukan?

Obrolan menyenangkan itu berubah kelam. Dia menceritakan tentang gadis yang ia impikan akhirnya datang dalam kenyataan. Ada satu perasaan bahagia saat aku melihatnya tersenyum riang seperti itu. Tapi di sisi lainnya aku takut dan marah.
Aku takut dia akan lupa padaku. Dia tak kan punya waktu lagi untuk sekedar diam dalam obrolan. Aku takut waktu-waktu seperti ini akan hilang. Aku takut..

Mungkin dia melihat perubahan dalam wajahku. Betapa aku tak menyukai kisah pribadinya yang satu ini. Dia mengajakku pergi dan beralih pada topik lain. Obrolan seputar sepeda, matematika, anak-anak repro dan lainnya. Semua tentang dia. Aku tak berani menjelaskan keadaanku selama beberapa bulan sejak dia pergi. Itu akan membuatku terlihat amat menyedihkan.

Kami menyusuri jalan hingga berhenti di satu minimarket kecil samping gramedia. Membeli sebotol cola dan sepotong cokelat kit kat yang dibagi dua. Lalu menyusuri toko buku gramedia, membaca satu persatu komik naruto seri terbaru lalu pergi ke balai kota.

Dia bercerita lagi. Sepeda sudah ia tinggalkan selama dua bulan dan seluruh body nya nyaris karatan. Dia membuatku berjanji untuk menemaninya ke kosambi kapan-kapan. Aku tak bisa menolak. Kemana pun aku akan pergi jika itu harus bersamanya. Tak peduli sejauh apa. Harus ku katakan, akal sehatku sudah mati.

Dari semua senyumannya aku menangkap sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang bahkan tak ku mengerti itu apa. Sekalipun aku menepisnya semua itu tetap terbang di atas kepalaku dan memaksaku berfikir untuk menyelesaikan apa yang sebenarnya akan terjadi. Bukan sesuatu yang buruk untuknya. Aku tahu itu. Tapi mungkin ini akan buruk untukku.

Senja yang redup menemani kami hingga pukul enam sore. Saat akhirnya kami harus pergi. Bis berhenti di halte yang hanya berjarak satu kilometer dari rumahku. Aku turun disana setelah dia melepaskan tanganku dari sakunya dan tersenyum mengucapkan selamat tinggal juga terima kasih.
Itu senyuman terakhir yang bisa kulihat dari wajahnya. Saat aku berharap mungkin esok akan terulang seperti itu lagi, aku menyadari harapan itu tak kan jadi kenyataan.

Dia menghilang. Sudah dua tahun berselang dan hingga detik ini aku tak pernah menemukannya lagi. Dia lenyap dan pergi. Setiap aku menyusuri kenangan manis yang pernah kami berdua lewati ternyata kini malah menyakitkan. Sangat menyakitkan.

Dan salah satu kenangannya ada disini. Di kursi dalam bus ini. Dia pernah duduk tepat di samping kiriku. Dengan senyumannya dan gengaman erat jemarinya di jariku. Kini yang ada hanya seorang pemuda etnis cina. Dia juga tersenyum dan menggenggam tanganku, tapi dia bukan orang yang sama. Bukan orang yang aku harapkan ada.
“Jangan ngelamun mulu Lu. Mending dengerin lagu.” Dia memberiku sebuah headset yang mengalunkan melodi kecil. Lagu yang indah tapi menyakitkan. Lagu tentang kenyataan dan keadaanku saat ini.

You know i cant smile without you.. cant smile without you. I cant live and i cant breath.. finally hard to do anything.. you see i feel glad when youre glad. Feel sad when youre sad.. you only knew, when i’m going through.. i just cant smile without you..

Cerpen Karangan: Lukman N.R
Blog: hwanglulu.blogspot.com

Cerpen Smile merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Terbalaskan

Oleh:
Ini kisahku lebih tepatnya kisah cintaku yang berakhir buruk, aku bahkan tidak tau apakah setelah ini aku masih bisa merasakan cinta, bagiku cinta itu indah tapi juga menyakitkan. Kisah

Suatu Kesalahan dan Penyesalan

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku Sindy, aku berkalangan dari kelas ekonomi yang sangat bawah, ayahku tidak bekerja alias pengangguran, ibuku hanya seorang tukang judi yang tidak tentu hasilnya, kakakku tidak tahu

Sirnanya Cinta Suci Ku

Oleh:
Ini adalah kisahku, dimana aku sangat mencintai seorang gadis yang -kita sebut saja- bernama Mawar. Awal mula pertemuan kami, yaitu di Gazebo GKB 1, dimana terik matahari siang menjadi

Last Rain

Oleh:
Hujan menyambut pagi ini dengan senyumnya. Tanah di sekitarku mengeluarkan aroma khas yang tak bisa disamakan dengan aroma manapun. Dedaunan juga merunduk tak kuat menahan air yang mengguyurnya. Angin

Jadilah Masa laluku, Selamanya

Oleh:
Sekarang aku ingin menghapusnya, menghapusnya dari hidupku, menghapusnya dari fikiranku, dan tentu saja aku ingin menghapusnya dari hatiku, namun itu bukanlah hal yang mudah. Jika tiba saatnya aku telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *