Soulmate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 July 2017

Kakiku bergetar, aku berdiri tepat di depanya dengan sebuah nama indah yang sama. hanya raganya yang kulihat, di balik gudukan tanah merah bertabur bunga tujuh warna.

Tiga tahun enam bulan sepuluh hari sebelumnya
seorang gadis cantik berseragam SMA berlari riuh ke arahku. kakinya berjingkrak girang.
“Aku lulus Eye (Ai), lulus kita lulus, Eyerica (Airika) dan Bya lulus” aku tersenyum, kami berjingkrak bersama.

Sore harinya kami seperti biasa bermain di bawah getaran rel kereta api. sekadar melempar krikil atau berpacu dengan angin dari kereta yang lewat.
Kami menghela nafas bersamaan. “aku akan pindah, aku bercita cita menjadi pramugari penerbangan” ucapnya buka suara.
aku menatapnya, Bya sudah sering berkata tentang ini dan aku tak kaget mendengarnya.

Satu tahun hampir berlalu, komunikasi kami menipis. dia mengaku dipindah tugaskan ke kualalumpur mengikuti pesawat airliness-nya. sementara aku berada di kota kembang untuk studyku. aku merasa Bya seperti meninggalkanku, dia hanya tahu kegembiraanku dari status-status facebook postinganku. dia bahkan berganti-ganti kontak seluler tanpa memberi tahu. Dia lupa, kita selalu berbagi kesedihan dan kesakitan yang sama sedari dulu. ia bahkan tidak tahu tangisanku saat jarum dan selang infus memasuki nadiku. Aku menderita gagal jantung enam bulan ini. Aku menangisi ini, entah nasibku atau nasib kita. Setiap hati mampu berubah seiring dentingan detik jam.

Dua tahun terlewat, aku semakin menyadari sebuah tembok merah besar menghalangi kami, dia selalu asik memposting photo kebersamaanya dengan teman-teman barunya, dan aku, hanya kawan lama yang menjelma seperti yang asing, aku memeluk tanganku sendiri.

Tahun Ketiga, kurir pos mendatangi rumahku memberikan bungkusan berwarna cokelat susu. aku membukanya pelan, sebuah undangan pernikahan. pernikahan Bya dengan seseorang yang terukir bernama Januari. aku menyeka air mataku, sahabatku bahkan sudah dewasa dan kembali ke ibu kota.
“dia bisa hidup tanpa aku selama dua tahun, dua tahun esoknya, dua tahun lusa, dua tahun berikutnya, dan dua tahun dua tahun seterusnya”.

Di hari pernikahanya, dia tampil cantik dengan gaun panjang berwarna merah muda, tanganya mengapit seorang laki-laki yang bisa kutebak dia Januari, aku menyalaminya, memeluknya cukup lama, dia menangis.
“Kau cantik Eye (Ai)” tukasnya pelan. aku mengangguk tersenyum, dia tak menyadari berkurangnya bobot tubuhku, dan tongkat penyangga di tangan kiriku.

Tiga tahun enam bulan selanjutnya. Bya meneleponku, dia memintaku mengajarinya memakai kerudung. aku menyambutnya baik, kukirimi banyak tutorial pemakaian jilbab koleksiku padanya, esoknya dia mengirimkan pesan video padaku, ia tersenyum. Bya masih belum melihat kesakitanku. Di Video itu Bya berkata lirih, dia ingin bertemu denganku.

Kami bertemu di bawah getaran kereta api, dan masih sama kami saling diam, dia memandangku sendu, aku baru menyadari, tubuhnya bahkan lebih kurus dari aku, aku bertanya apakah dia baik, dia hanya tersenyum melihatku, kami menelan senja bersama, seiring tak bisa kembalinya semua keindahan masa lalu. Bya mulai terpejam di sampingku, dia terkulai,

Aku menyeka air mataku, Januari berkata, Bya menderita kanker rahim sejak empat tahun terakhir. aku tersedu, itu artinya sejak kami masih bersama di SMA. dan aku? aku hanya berharap dia melihat rasa sakitku, sementara aku buta rasa sakitnya.
“Maafkan aku Bya”
Aku memandangi wajahnya, terlintas saat pertama kali dia menawarkan dirinya duduk di sampingku saat masa orientasi SMA. dan semua kenangan kami. Bya masih koma, jarum infus dan komputer detak jantung masih setia bersamanya, begitupun aku, sembilan hari Bya koma.

Garis halus yang lurus mendadak muncul di komputer pendeteksi jantung Bya, bersamaan dengan ketakutanku dan, semuanya gelap. Aku mengerjap beberapa kali, aku melihat Bya di sisi depan, dia tersenyum penuh arti dan, menghilang.
aku benar-benar membuka mataku, ada ayah, ibu, dokter dan kakakku Mathew tersenyum di sana. aku merasa ada jiwa yang lain yang hidup seraga denganku.

“aku menakuti gelap, ketinggian dan, rasa kehilangan”

Bya memberikan aku kehidupan nyata dari jantungnya. sebuah balasan ketulusan dari perasaan negatifku padanya. aku menangisi ini dan menghardik pemikiran bodohku. Seseorang yang ketika SMA memberikan sebelah sepatunya karena sepatuku basah dan kami berjalan dengan satu kaki. Dia adalah bya, Abiyya Viviane sahabatku.

Kakiku bergetar, aku berdiri tepat di depanya dengan sebuah nama indah yang sama. hanya raganya yang kulihat, di balik gudukan tanah merah bertabur bunga tujuh warna.
Jiwanya selalu hidup di sini, di sebuah sanubari kecil dan sebuah raga, itu ragaku.

Cerpen Karangan: Dwi Kusuma Wardani Purnomo
Facebook: Dwi Kusuma Wardani Purnomo

Cerpen Soulmate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Little Star

Oleh:
Kumasuki ruangan gelap itu dengan hati yang berdegup kencang, suasana begitu hening. Gemetar tanganku memegang gaun, kuarahkan pandangan ke depan, dan melangkah anggun ke atas panggung. Hanya satu cahaya

Leak dan 3 Benda Keramat

Oleh:
“Sayang.. sayang bangun..” gusar hana saat melihat suaminya masih tertidur pulas. Nama suamiku sean, ia adalah perantau dari kalimantan. Aku membangunkannya karena ada berita buruk mengenai kakakku yang seluruh

Khayal Sendja

Oleh:
Aku memandang senyum itu. Senyum lemah yang dia berikan hanya kepadaku, demi membuatku tenang menghadapi segalanya, atau mungkin juga untuk menenangkan dirinya sendiri dari kenyataan pahit dunia yang harus

No Secret in a Love

Oleh:
“Yesss… Taraaa, ada diaaa…!” seru Kanita, sahabatnya Tara. Tara menengok ke tulisan yang ditunjuk Kanita. “Ra…!” mulut Tara hampir meledak. Untung Kanita langsung membawa Tara ke tempat yang aman,

Aku Tak Pernah Membencimu Yah

Oleh:
Gemerlap sinar itu mungkin telah lenyap ditelan ombak di laut, entah ke arah mana, dimana bahkan bagaimanapun aku juga tak tahu pasti, kejadian itu terjadi saat aku masih di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *