Sumur di Halaman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 August 2013

Dulu, saat aku masih kecil, seorang anak perempuan memberitahuku bahwa di bawah sumurnya terdapat istana. Dia memberitahuku dengan wajah yang berseri-seri, senyum yang sangat cerah, di bawah kelabunya langit siang hari tersebut.

“Aku mau ke sana! Kamu mau ikut?” tanyanya padaku.

Tentu saja mau, jawabku. Anak mana yang tidak mau diajak pergi ke istana? Namun, bahkan di usiaku yang belia, aku telah memikirkan banyak hal. Aku banyak bercuriga, banyak tidak percaya. Maka, aku pun bertanya padanya, dari mana dia tahu kalau di bawah sumurnya terdapat istana?

“Ibuku bilang begitu! Katanya, di situlah ayahku berada!” jawabnya, masih sangat bersemangat.

Aku agak bingung. Bukankah ayahnya ada di rumah, dan baru saja kami bertemu dengannya, melihatnya sedang tidur-tiduran di dipan sementara ibunya bekerja di pasar? Membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka?

“Dia bukan ayahku! Ibu memang menikahinya, tapi dia bukan ayahku!” jawabnya keras-keras, mendadak tampak kesal. Dia cemberut, menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

Oke, kalau begitu, Ayah yang mana yang dia maksud? Dia menjawab, tentu saja ayah kandungnya yang dia maksud, yang sekarang berada di bawah. Aku pastilah tampak sangat bingung – maklum, namanya juga anak-anak, belum begitu mengerti istilah ayah kandung dan tiri – sehingga dia mulai bercerita.

Dulu sekali, saat dia bahkan masih belum dilahirkan, sebelum dia membuka matanya untuk menatap dunia, saat aku mungkin belum dilahirkan, atau setidaknya belum pindah ke desa tersebut bersama keluargaku, bahkan sebelum ayahku didinaskan di kantor kepala desa, ayahnya adalah seorang tukang gali sumur. Ayah dan ibunya bertemu, jatuh cinta, dan menikah.

Satu hari, saat ibunya tengah mengandung dirinya, ayahnya, setelah menyadari bahwa sumur di rumahnya sudah mulai mengering, memutuskan untuk menggali lagi sumur tersebut. Dalam, lebih dalam. Begitu dalam ayahnya menggali sumur, hingga mendadak, tak ada lagi tanah yang bisa digali, dan ayahnya jatuh ke hamparan rumput lembut di lembah nan luas, dengan danau yang cemerlang, dan istana raksasa yang berdiri di atasnya.

Ayahnya, penasaran, dan memerlukan bantuan untuk kembali ke lubang di atas, agar bisa kembali ke rumahnya, berjalan ke istana tersebut. Namun, pemilik istana tersebut bukanlah orang baik yang mau menolong sebagaimana yang ayahnya kira.
Pemilik istana tersebut, penguasa seluruh lembah itu, adalah seorang ratu yang begitu jahat, kejam, licik, dan cantik jelita. Ratu jarang mendapatkan kunjungan dari atas sumur, dari dunia di luar lembah dan istananya. Oleh karena itu, Sang Ratu menggoda ayahnya, merayunya, sedemikian rupa hingga ayahnya memutuskan untuk tidak kembali ke atas melalui lubang tersebut.

Sang Ratu, puas karena ayahnya telah tunduk, mengangkat ayahnya menjadi raja, dan berdua, mereka mendiami istana tersebut. Ayahnya karena cengkeraman Sang Ratu, dan Sang Ratu karena ketamakannya.

“Itulah sebabnya ayahku tak pernah kembali ke atas setelah menggali sumur tersebut!” katanya bersemangat.

Aku mengangguk pelan. Kalau begitu, kenapa mereka malahan mau turun ke sana? Bukankah di bawah sana, di dalam istana tersebut, terdapat ratu jahat yang kejam dan mengerikan? Bukankah sebaiknya mereka justru menutup lubang sumur tersebut – dengan batu besar, mungkin – agar Sang Ratu Jahat tidak pernah muncul di permukaan?

“Kita harus turun untuk mengalahkan Sang Ratu! Kemudian, aku akan menyelamatkan ayahku, membawanya kembali ke sini, agar dia bisa membantu ibuku bekerja setiap hari dan mengusir lelaki malas itu dari rumah kami!” jawabnya berapi-api.

Tapi, aku bertanya lagi, bukankah ibunya sudah melarang kami untuk bermain dekat-dekat sumur? Apalagi masuk ke dalamnya. Bukankah itu akan berbahaya, karena nantinya kami bakal dimarahi?

“Justru sekarang ini, karena ibuku masih di pasar, kita harus masuk! Biar kita nggak ketahuan dan nggak dimarahi ibu!”

Alasannya masuk akal, dan aku pun setuju untuk ikut turun ke dalam sumur bersamanya. Kami berlari masuk ke dalam rumah, mempersiapkan segalanya. Tali untuk diikat ke pohon, agar kami bisa memanjat naik nantinya? Sudah siap. Cangkul untuk menggali, siapa tahu gerbang ke lembah tersebut, istana tersebut, sudah tertutup? Sudah siap. Senter? Kami tidak punya, tapi sebagai gantinya ada lampu minyak.

“Dan pentungan untuk mengalahkan Sang Ratu,” katanya, mengangkat sebuah pemukul kasti.

Aku mendongak menatapnya, dan mendapati bahwa pemukul kasti tersebut kukenali. Bukankah itu punyanya sekolah kami?

“Ya, kemarin kuambil setelah jam pelajaran olahraga. Nanti pasti kukembalikan kok,” katanya meyakinkanku.

Semuanya sudah siap. Kami memasukkan seluruh perlengkapan tersebut dalam tas ransel yang kubawa, dan setelah mengenakannya, kami siap berangkat.

Tepat saat itulah, ibunya pulang.

“Adek di mana?” tanya ibunya dari ruang depan.

Kami panik. Dengan terburu-buru, kami menyembunyikan tasku beserta seluruh isinya di bawah kolong kasurnya. Kemudian, kami berlari ke depan, menyambut ibunya, menyaliminya. Aku merasakan betapa kasar tangan beliau, hasil dari bekerja memotong dan membersihkan ikan setiap hari di pasar. Jauh berbeda dari tangan ibuku, atau tangan siapapun yang kukenal.

Beliau menawariku makan kue, apakah aku mau? Oh, tidak usah, jawabku terburu-buru. Lagipula, gerimis sudah mulai turun di luar, aku harus segera kembali. Tidak masalah, kata beliau, besok datanglah lagi ke rumah. Aku mengangguk, berpamitan dengan beliau.

Sebelum berlari pulang, anak perempuan tersebut memberiku kode dengan tangannya, memberitahu bahwa misi ditunda dan akan dilanjutkan besok. Siap, aku menjawab dengan anggukan yang mantap. Kemudian, aku berlari, di tengah jalan gerimis menjadi hujan, dan hujan menjadi deras. Aku sampai rumah dengan basah kuyup, kedinginan, dan ibuku langsung menggiringku ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

Beliau khawatir aku akan kena flu, begitu khawatirnya hingga tak bertanya di mana tas sekolahku berada.

Itu tiga puluh tahun yang lalu.

Tiga puluh tahun telah berlalu sejak kami menyiapkan perlengkapan kami untuk turun ke Istana Di Bawah Sumur dan menyerbu guna menyelamatkan ayahnya sekaligus mengalahkan Sang Ratu Jahat. Esok harinya, sesuai perkiraan ibuku, aku terkena flu, dan aku tak bisa ke rumahnya meski cuaca cukup cerah.

Aku ingat bagaimana aku masuk sekolah lagi beberapa hari kemudian, mendapati kursinya kosong. Pergi ke rumahnya bersama keluargaku, mendapati ada acara besar di sana, nyaris seluruh penduduk desa datang, dengan bendera kuning di depan rumahnya. Mendengar bahwa dia jatuh ke dalam sumur dan takkan kembali lagi.

Memberitahu semua orang bahwa dia pasti ditangkap oleh Ratu Jahat dari bawah sumur, dan meminta mereka untuk menyelamatkannya. Kemudian, saat tidak ada yang menggubrisku, aku mulai menangis. Saat itulah, orangtuaku memelukku, memberikan kata-kata penghiburan untukku.

Sumur tersebut masih ada hingga hari ini. Berdiri diam, dengan mulutnya yang terbuka, menganga, memperlihatkan hanya kegelapan di dalamnya.

Aku tak tahu kenapa aku kembali ke desa tersebut, apalagi kembali ke rumahnya, apa yang tersisa dari rumahnya. Bagaimanapun, tiga puluh tahun telah berlalu. Waktu yang cukup lama bagiku untuk membuatku sadar, dan paham, akan apa yang sesungguhnya terjadi. Paham bahwa tidak ada yang namanya Sang Ratu Jahat. Yang ada hanyalah kegelapan, kematian, terjebak dalam sumur begitu dalam tanpa bisa memanjat naik karena tali yang putus, tak kuat menahan beban mereka. Paham bahwa seandainya aku ikut bersamanya, mungkin aku bisa menolongnya. Atau mungkin malah ikut tewas bersamanya? Aku tak tahu. Waktu yang cukup lama bagiku untuk bisa mulai memaafkan diriku sendiri, untuk melakukan sesuatu demi menutup luka di hatiku.

Namun, dengan waktu sepanjang itu, aku juga bisa memahami satu hal. Satu hal penting yang turut membantuku untuk pulih.

Aku telah membeli bekas rumahnya beserta tanah milik keluarganya. Aku telah merenovasinya, menjaganya tetap hidup. Suatu malam, pada kunjunganku kembali ke desa tersebut, aku menginap di rumahnya.

Dan malam itu, aku bermimpi.

Aku bermimpi akan sebuah istana. Namun, istana tersebut tidak berada di bawah sumur, karena aku sudah paham bahwa tidak ada istana di bawah sumur. Istana tersebut, dengan segala kemegahannya, berada di sebuah lembah, luas, dengan rumput-rumput hijau yang berayun dan menari bersama angin, danau yang cemerlang dan langit yang biru. Tanah yang membentang sejauh mata memandang, dan hutan yang berdiri dengan rimbunnya.

Malam itu, aku bermimpi bertemu dengannya. Dengan senyum yang sangat cerah, wajah yang begitu bahagia, dia menggenggam tanganku dan mengajakku ke istananya.

Di sana, dia tinggal bersama ayahnya, hidup bahagia hingga selamanya.

Cerpen Karangan: Ahmad Alkadri
Blog: http://cityofwoodandrain.wordpress.com

Cerpen Sumur di Halaman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Blue Ocean Cannibal

Oleh:
Mata biru cerah itu terlihat kosong, hanya memandang hampa lempengan besi di hadapannya. Ia tidak bergerak, tidak bernapas dan tidak memiliki detak jantung. Namun sistem otaknya tetap berfungsi, dan

Nadia

Oleh:
Hujan mengguyur bumi. Membasahi gundukan tanah yang baru saja dipakai. Maksudnya yang baru diisi oleh sesosok makhluk. Sesosok makhluk yang denyut nadinya hilang ditelan kesedihan. Nadia, kembaranku. Ia selalu

Runtuhan

Oleh:
Seperti biasa, hari yang sudah lama aku tunggu tunggu adalah hari sabtu, dimana aku bisa bersantai dengan keluargaku, menonton tv dan main game sepuasnya, tidak banyak hal yang kulakukan

Mama Adalah Segalanya

Oleh:
Ada seorang anak bernama lia. Lia adalah anak yang cerdas, baik dan kreatif. Ia tinggal di dalam keluarga yang sederhana. Lia termasuk kedalam anak yatim, karena ayah meninggal pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sumur di Halaman”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *