Sunyi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Hari ini lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada bunyi atau suara apapun. Hening. Senyap. Aku seperti berada di ruangan yang kosong. Tak berpenghuni. Ruangan yang terasa lengang juga sepi.

Lima belas menit kemudian, suara kecil dari pegangan pintu yang ditekan oleh seseorang, memecah kesunyian yang hampir saja membuat pendengaranku terasa mulai tuli. Seseorang yang setahuku bernama Ratih, yang merupakan pemilik dari ruangan yang tengah aku datangi semenjak satu jam yang lalu.

“Baiklah, Pak Indra. Kami baru saja selesai membaca CV yang sudah Bapak buat dan kami begitu tertarik pada pengalaman anda selama ini di bidang arsitektur. Ditambah dengan beberapa sertifikat yang anda miliki, yang juga tak kalah menariknya untuk kami, serta kompetensi anda di bidang pembangunan beberapa rumah sakit di luar negeri sana. Semuanya benar-benar membuat kami penasaran, akan seperti apa jadinya jika Bapak yang mendesain ulang rumah sakit kuno ini menjadi lebih modern, tanpa menghilangkan kekhasannya.” Ucap wanita berambut hitam sebahu itu panjang lebar.

Aku berjalan ke luar gedung rumah sakit dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu bahagia. Perasaanku begitu senang saat ini. Terasa tentram, seperti tak ada hal lagi yang membebani hatiku. Kali ini untuk pertama kalinya, aku merasa beruntung. Bagaimana tidak, keinginanku untuk bekerja menjadi seorang arsitektur handal di negeri sendiri, berhasil aku dapatkan. Prestasi baru tentunya.

Dengan langkah cepat dan pasti aku kembali ke rumah orangtuaku, yang terletak tak jauh dari gedung rumah sakit itu. Aku hendak menceritakan hasil kerja kerasku mencari pekerjaan di kota kelahiran sendiri. Namun tiba-tiba langkahku tercekat begitu melihat sesosok yang teramat aku cintai, teramat aku hormati, tengah berjalan di antara kerumunan banyak orang yang hendak membeli kebutuhan isi perut mereka. Kami menyebut tempat itu pasar kaget. Karena hanya ada di waktu-waktu tertentu saja.

Aku terus saja mengamati setiap gerak gerik yang dilakukan wanita paruh baya itu dari kejauhan. Tubuhnya yang sudah membungkuk, kumalnya selendang yang ia ikatkan di bahunya yang mulai rapuh, serta tak berharganya barang dagangan yang ia jajakan pada setiap pengunjung pasar. Ya, hanya daun melinjo dan daun pisang yang masih segar. Yang ia ambil sendiri dari pohon-pohon melinjo juga pohon-pohon pisang yang ia tanam di belakang gubuknya.

Aku tak bergeming. Aku tetap mematung di tempat. Kedua kakiku terasa berat untuk kembali kulangkahkan. Bahkan, aku sampai bisa memastikan, bahwa wanita paruh baya itu telah berhenti berjualan, lalu pergi menjauh dari kerumunan. Mungkin ia hendak kembali pada gubuknya.

“Kepada-Nya lah, kita semua akan kembali.” Ucap Bu Hapsari padaku. Aku yang kini tengah tergolek lemah tak berdaya di sebuah sofa. Aku merasa linglung. Lupa akan segala hal yang terjadi sebelum ini. Tubuhku pun terasa tak bertenaga. Seperti tengah mengambang di udara. Bahkan, aku merasa jantungku tengah tak berdetak. Aku yakin, ini hanya perasaanku saja. Karena nyatanya, aku masih bisa mendengar beberapa kalimat yang diucapkan wanita itu, juga gerak tubuhnya yang terlihat samar di kedua mataku.

“Nety cerita pada Ibu, makanan semalam yang Ibu buatkan untuk kamu, tidak kamu makan sedikitpun. Pantas saja, kamu pingsan di ujung jalan sana.” Ucapnya lagi. Kali ini ia memposisikan tubuhnya duduk di sofa tempatku terbaring.

“Darimana kamu seharian ini, Ndra? Ibu juga Nety khawatir karena kamu tak ada di rumah.”

Aku masih tak menjawab. Entah kenapa lidahku terasa kelu.

“Ya sudah, Ibu mau pengajian dulu. Lima belas menit lagi dimulai. Kamu istirahat saja dulu di rumah ini. Sebentar lagi juga Nety pulang. Ibu sudah menghubungi Nety untuk cepat pulang karena keadaanmu sekarang. Ibu kunci kamu dari luar, ya. Biar kamu tidak pergi-pergi lagi dengan kondisi seperti ini. Ibu pergi dulu. Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsalam…” bisikku dengan nada suara yang terdengar begitu lirih di kedua telingaku.

Selang beberapa menit, wanita itu sudah menghilang dari sekitarku. Dan hening pun kembali datang. Aku menelan ludah yang hampir habis. Tenggorokkanku rasanya begitu kering. Tapi, aku enggan untuk mengambil segelas air yang sudah wanita itu sediakan tak jauh dari tempatku berbaring.

Tiba-tiba aku merasa seluruh tubuhku tengah disayat-sayat. Hatiku getir. Seharusnya, saat ini aku tengah menceritakan keberhasilanku di hari ini padanya. Pada sosok wanita yang sangat aku cintai itu. Tapi…

Kepada-Nyalah kita semua akan kembali. Ucapan wanita tadi terus saja terngiang-ngiang di kedua telingaku. Tanpa aku sadari air mata jatuh dengan derasnya. Ya, seharusnya aku sadar. Sosok wanita yang aku cintai itu kini tak kan pernah bisa untuk kembali lagi padaku. Sejak hari kemarin. Seharusnya aku bisa menerima kenyataan pahit ini. Tapi, entah kenapa, seolah aku merasa semuanya masih saja berjalan normal. Tak ada yang berubah. Masih dengan kehidupanku yang dulu. Hanya saja, untuk pertama kalinya aku merasa sunyi. Dan jawaban dari sunyi itu adalah kehilangan.

Cerpen Karangan: Anggi Puspitasari
Blog / Facebook: celotehgiegie-blog (tumblr) & Anggi Puspitasari (facebook_dengan foto profil gadis bercadar)
bisa hubungi saya di @giegie.giegie (instagram) juga @giegiepusvita (twitter)

Cerpen Sunyi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibadah Terakhir

Oleh:
“Bangun nak… udah subuh ayo shalat” ajak mama padaku. “Iya ma… udah bangun nih” kataku pada mama. Dengan agak ngantuk, kuturunkan kakiku ke lantai dan berjalan untuk mengambil air

Sebuah Lagu Untuk Palestina

Oleh:
Halo semua, kenalkan namaku Zahra. Aku adalah seorang anak perempuan yang tinggal di Palestine. Aku sekarang adalah seorang yatim piatu yang tinggal di sebuah tenda bersama teman-temanku yang senasib

Mutiara Kusam

Oleh:
Operasi pelastik, kata yang cukup tabu bagiku, tak pernah sekalipun terlintas di anganku untuk mencobanya meskipun semua teman sebayaku telah berbondong-bondong melakukannya untuk memoles diri mereka. Dimana mata memandang

Rindu Terakhir

Oleh:
Jam Rolex yang dikenakan di tangan kanan Durma menunjukkan pukul 13.00. Durma telah tiba di Stasiun Gambir. Dengan sepucuk tiket kereta api Argo Jati di tangan kanannya. Ia pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *