Surat Terakhir Sahabat Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Fiha, sahabatku. Ia adalah sahabat sejak kecil bagiku. Tak pernah terpisahkan oleh apa pun. Bagai kepompong dan kupu-kupu. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan persahabatanku dengan Fiha. Hari demi hari ku lewati dengan persahabatan yang erat dan lekat. Aku dan Fiha pun makin besar dan dewasa. Usia yang semakin menua menyebabkan Fiha sakit-sakitan. Beberapa bulan terakhir ini, Fiha mulai sakit-sakitan.

Sering ku jenguk dia, entah ke rumahnya maupun rumah sakit. Tapi, kali ini adalah saat dimana aku tidak bisa menjenguk sahabatku. Urusan perusahaan dan bisnis membuatku tidak bisa menjenguk Fiha. Ku kira hanya beberapa hari urusanku itu, tetapi sampai berbulan-bulan. Tour dari negeri satu ke negeri lain pun ku ikuti hanya karena urusan bisnis. Sudah lama aku tidak berhubungan dengan Fiha. Syukurlah, urusan bisnisku sudah selesai. Aku pun kembali ke kampung halamanku.

Aku teringat Fiha. Saat pertama aku pergi, yang ku ketahui Fiha ada di rumah sakit. Rumah sakit tersebut pun ku datangi. Ternyata Fiha pun telah dibawa pulang. Aku pun langsung menuju rumah Fiha. Tapi apa yang ku terima, Fiha telah meninggal. Adiknya, memberikan surat kepadaku saat aku berkunjung tersebut. Katanya itu surat dari Fiha sebelum meninggal. Ku baca surat tersebut yang isinya…

“Wahai sahabatku, aku mohon maaf kalau pertemanan kita hanya di sini saja. Aku teringat jasa-jasamu yang telah kau berikan padaku. Aku pun ingin mengucapkan terima kasih. Wahai sahabatku, aku menghargai perilakumu tersebut. Mudah-mudahan kamu sukses dalam berbisnis. Saat kau pergi, tidak apa-apa, kau tidak menjengukku. Perjalanan yang jauh dan melelahkan tak memungkinkan. Aku harap kau menikmati perjalananmu tersebut. Wahai sahabatku, aku sebenarnya ingin terus di dunia dan terus melanjutkan persahabatan kita. Tapi apa daya, takdir berkata lain. Ajal pun menjemputku.”

“Tidak usah sedih dan menyesal. Aku tidak ingin minta yang macam-macam yang dapat menyusahkan kamu. Aku hanya ingin doamu dan kamu tetap ingat padaku. Ku maafkan semua kesalahanmu padaku yang sebenarnya tidak ada kesalahan pada dirimu. Wahai sahabatku, tak usah sedih, kau pun akan bertemu dan bersahabat denganku lagi di surga. Tak perlu sedih karena kehilanganku. Masih banyak sahabat yang lebih baik dariku untukmu. Harapan selalu ada wahai sahabatku.”

Aku pun menitikkan air mata membaca dan melihat surat ini. Dia menganggapku tidak pernah berbuat salah, padahal aku sering berbuat salah. Dia mengatakan masih banyak sahabat yang lebih baik darinya, padahal ku anggap dirinyalah yang paling baik bagiku. Kalimat untukmu sahabat, “Selamat jalan sahabatku, semoga kita dapat berjumpa lagi di sana.”

Cerpen Karangan: Wildan Hasibuan Amriansyah
Facebook: Wildan Hasibuan Amriansyah

Cerpen Surat Terakhir Sahabat Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir Membelakangi Harapan

Oleh:
Matahari menyinari dengan perlahan seakan-akan malu untuk muncul. Burung-burung bersiul menyambut pagi yang indah. Kini hari baru telah dimulai. Dan hari ini adalah hari senin, hari dimana waktunya sekolah

Kepedihan Hati

Oleh:
Rasa sakitku semakin hari kian bertambah, aku sudah tak kuat dengan siksaan ini. Aku sudah bosan melihatnya lagi. Rasanya aku ingin pindah sekolah, tapi tanggung aku sudah kelas 6,

Sesal Di Ujung Senja

Oleh:
Kring.. Bel istirahat berbunyi. Aku bergegas menuju sungai kecil di samping sekolah. Sungai itu adalah tempat favoritku saat istirahat ataupun saat-saat aku ingin sendiri. Sandra Nacita, seorang remaja 16

Karena Pergaulan

Oleh:
Pagi hari Dinda selalu terlihat semangat untuk berangkat sekolah, ia sekolah di SMA Negeri dan masuk dengan beasiswa yang ia peroleh. Ketika SMP ia berjuang keras untuk mendapatkan beasiswa

Rindu Yang Tak Pernah Lekang

Oleh:
Aku selalu menulis di diary hitamku yang sehitam mimpi-mimpiku. Sehitam rindu yang tak pernah lapuk, seiring zaman yang semakin kejam memenjaraku dalam kesunyian. Selalu ku tulis di akhir halamanku:

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *