Surat Terakhir Untuk Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 July 2014

Jam menujukan pukul 06:30, aku masih saja tertidur pulas, saperti biasa lina sahabatku masuk kamarku tanpa seijin ku. Dan membangunkanku seenak jidat, “banguuuunnn” (suaranya yang bagaikan kleng rombeng) aku mulai terbangun “apa-apan si loe lin?” tanyaku dengan rasa malas, “helowww jam berapa ini nyonya dita?” dengan menujukan jarinya pada dinding jam
“apaaa!!!”

Aku pun berlari terbirit-birit, dengan rasa gelisah aku bersiap-siap seadanya aku pun berlari sambil menarik tangan lina shabatku. Setelah aku selesai mengenakan pakaian seragamku,
“lina hayu cepat” nadaku cemas
“hadeuh, ia ni juga udah cepat” keluhnya

Kami pun akhirnya berangkat dengan mobil pribadiku sendiri, tapi di tengah jalan aku merasa ada yang kurang, “lin, sepertinya ada yg tertinggal deh.” dengan wajah khawatir, “mulai deh kebiasaannya”, “hmm, ya udah deh.”

Kami sudah sampai di hadapan sekolah ku, saat kami berdua tiba kebetulan lonceng sekolah pun berbunyi, (kring, kring, kring) kami berdua berlari seperti dikejar-kejar orang gila, setelah kami sampai di ruang kelas dewi fortuna pun berpihak kepadaku dan juga lina saat sampai guru killer yang ditakutin belum masuk kelas “huft.. Syukurlah” ucapku.

Tapi, tiba-tiba” blugh…” Bunyi tubuhku terjatuh

Entahlah sedari kapan aku di uks udaranya yang khas dengan bau obat-obatan itu, mataku mulai terbuka. Saat ku menengok ke samping ternyata ada lina ternyata lina setia menemaniku saat aku pingsan tadi.
“kamu kenapa dit?” tanyanya
“aku tidak apa-apa lina” jawabnya menenangkan
‘Maafkan aku lin aku tak berkata jujur padahal penyakitku kini sepertinya sudah menggerogoti tubuhku. Sekali lagi maafkan aku lin aku tak mau kau bersedih atas penderitaanku’ ucapnya dalam hati

Entah sejak kapan tiba-tiba aku berada di ruang icu perlahan aku membuka mataku akupun menggengam surat untuk lina yang ku buat semalam tadi.
“dita, kumu sudah bangun nak” dengan senyumanya yang berkembang
“mah aku titip ini untuk lina, smapaika juga maafku padanya aku tak bermaksud untuk menutupi ini semua tapi aku hanya tak ingin ia begitu larut dalam kesedihan ini” nadanya lirih
“ia sayang” memeluk erat tubuhku

“assalamualaikum”
Sepertinya aku mengenal suara itu
“wa’alaikumsalam, eh neng lina, sini masuk neng.”
“iya tante, dit kenapa kamu gak ngomong masalah kamu ini toh, aku sudah mulai curiga sedari dulu dit, kamu selalu jatuh pingsan tanpa sebab. Jadi ini dit balasanmu padaku? Aku kecewa dit sama kamu dit”.
“maafkan aku lin” nadamya begitu lirih
Tapi saat itu bunyi alat detak jantungku terhenti. “ditaaaaa jangan pergi dulu dit bukankah kau sudah berjanji akan bersama sama sampai tua!!!”
“Dit, ditaaaaa” air matanya tak mampu dibendung lagi begitu deras air matanya mengalir.

“lina, ini ada surat dri dita” dalam suasana kesedihan
“maksih tante, tante yang sabar ya” dengan air mata yang mengalir
“ia lina, kamu juga, selalu do’akan ya.”
Lina tersenyum dalam tangis

Assalamualaikum linaaa, saat kau membuka surat ini. Mungkin aku tak lagi ada di dunia ini maaf atas salahku yang tak pernah jujur dengan keadaanku, aku hanya tak ingin kamu begitu larut dalam kesedihan. Oh, iya… Aku buat puisi untukmu sebenernya aku udah lama buat puisi ini untukmu, tapi aku malu.

Kau sahabat terbaiku
Ya… Allah.
Aku bersyukur, dan akan selalu bersykur
Atas apa yang kau beri padaku
Kau telah kirimkan malikat untuku

Di atas kesedihan sahabatku ini
Tolong hapus, dan gantilah dengan senyuman yang mempesona
Karena engkau aku merasa dicinta banyak orang
Dan karena kau ku yakin kau adalah sahabat terbaiku

Love you coz allah sahabatku.

Ditaaaaaa… ia tersenyum dalam tangis

Cerpen Karangan: Shiyam Khusnul Khotimah
Facebook: Sem Anu Geulis Tea

Cerpen Surat Terakhir Untuk Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tu-La-Lit

Oleh:
Kelas V-C heboh, lebih-lebih anak-anak perempuan. Mereka saling berbisik. Ketika istirahat tiba, bisik-bisik itu berlanjut, bahkan lebih heboh lagi. “Idih, cakep sekali… cool!” teriak Mona di bawah tangga, bersama

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Tujuh belas tahun… Bukan waktu yang singkat jika dijalani dengan kehidupan yang tidak normal. Ya, aku menganggapnya waktu yang tidak normal. Karena aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menjijikan.

Sahabat Sejati

Oleh:
Di sebuah gang yang tampak kumuh. Abi yang dikenal sebagai anak yang bermoral bejat dan durhaka sedang asyik-asyikan berpesta mir*s bersama dua kawannya, Iwan dan Danu. Botol-botol besar berisi

Kerja Keras Itu Kuncinya

Oleh:
“Cuci… cuci sendiri, makan… makan sendiri… ehei” Nyanyiku terus-menerus, akhir-akhir ini banyak orang-orang yang memanggilku ke rumah mereka, untuk makan, tentu saja bukan, mereka hanya memintaku untuk mencucikan baju

Beautiful Dream in Paris

Oleh:
“Apa?? Liburan ke Paris?” Tanyaku tak percaya saat mendengar pernyataan Papa yang menginginkan aku liburan ke Paris, Perancis. Mataku membulat dan tidak berkedip untuk beberapa detik, mengingat Paris bukanlah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *