Surat Terakhir Violla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Seperti biasa, hari ini Adelline dan Violla berangkat ke sekolah bersama. Mereka berdua adalah sahabat yang bagaikan magnet yang tak bisa dipisahkan. Mereka bersahabat sejak Tk. Sampai sekarang mereka telah duduk di bangku SMP kelas 8. Hari ini adalah hari Senin. Seperti biasa, hari Senin ada upacara bendera. Hari ini Adelline petugas bendera.

Saat istirahat seperti biasa mereka pergi ke kantin untuk membeli makanan.
“la kita ke kantin yuk, aku udah laper banget nih” kata Adelline
“kamu sendiri aja ya line aku mau di kelas aja. Aku lagi males jalan” jawab Violla
“Ya udah aku ke kantin dulu ya” kata Adelline. Adelline pun lansung pergi tanpa menghiraukan jawaban dari Violla. Sekarang hanya Violla yang ada di dalam kelas. Semua anak-anak yang lain pada istirahat. Sebenarnya Violla pingin ikut Adelline ke kantin. Tapi sekarang ia merasa pusing banget. Bagaikan dunia ini terasa berputar. Ia tidak mau merepotkan Adelline.

Sepulang sekolah, mereka berdua jalan ke rumah bareng. Kebetulan rumah Adelline tak begitu jauh dari rumah Violla. Setiap hari mereka selalu pulang bareng. Mereka memang tak bisa dipisahkan. Ke manapun Violla pergi pasti di situ ada Adelline, begitupun sebaliknya.

Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Violla.
“line aku masuk dulu ya, mungkin mama udah tanggu” kata Violla
“ya udah salam buat mamamu ya,” kata Adelline
“iya nanti saya sampaikan, hati-hati ya, sampai ketemu besok” kata Violla
“terima kasih, sampai ketemu besok” kata Adelline.
Akhirnya Adelline pulang ke rumahnya dan Violla masuk ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Violla melihat mamanya lagi di dapur. Ia pun pergi ke dapur.
“selamat siang mama” kata Violla
“selamat siang juga sayang” ucap mamanya, tanpa membaliknya mukanya dari kompor. Ketika ia balik muka, ia begitu kaget karena muka Violla sangat pucat.
“la, kamu kenapa? Muka kamu kok pucat begitu?” tanya mama
“Violla gak apa apa kok ma, Cuma pusing aja” jawab Violla.
“ya udah mama antar kamu ke kamar ya” kata mama
“terima kasih mama” jawab Violla.

Ketika sampai di kamar, Violla langsung menaruh tasnya di atas rak dan mengganti baju. Setelah itu, ia minum obat yang telah disiapkan oleh mama. Setelah Violla minum obat ia pun beristirahat siang, agar otaknya tidak capek.

Selama ini Violla selalu menyembunyikan penyakitnya dari Adelline. Sebenarnya Violla memiliki penyakit kanker paru-paru dan sekarang ia sudah stadium 4. Kata dokter umur Violla tak lama lagi. Tapi, Violla selalu menyembunyikkan semuanya dari Adelline. Ia tidak mau Adelline sedih, ia tidak mau melihat sahabatnya yang dari kecil selalu bersamanya merasa bersedih dan menangis. Violla selalu melihat tegar di depan Adelline. Ia selalu memaksa dirinya untuk tetap kuat.

Suatu malam, seperti biasa Violla selalu menulis di buku dairy miliknya. Tapi malam ini Violla menulis dengan penuh kesedihan. Ia menuliskan kisah persahabatannya bersama Adelline. Ia merasa bahwa Adelline adalah saudara kandungnya sendiri. Sebelum menulis dairynya, Violla mengambil 2 pucuk kertas yang berwarna. Lalu ia menuliskan sesuatu pada surat tersebut. Surat pertama ia menulis dan berisi: Tuhan, bahagiakan Adelline jika nanti aku pergi dari hidupnya. Aku begitu sayang sama Adelline. Kuatkanlah Adelline agar ia bisa menerima semua ini dengan sabar dan ikhlas.

Lalu ia melipat surat itu. Setelah Violla melipat surat itu, ia membuka jendela kamarnya. Ia begitu senang melihat bintang yang ada di langit. Dan matanya tertuju pada satu bintang. Bintang itu bersinar dengan terang. Ia pun berkata dalam hati, “walaupun nanti aku udah gak ada semoga Adelline tetap gembira dan selalu ceria dan terang sepeti bintang yang ada di langit itu”. Lalu ia melemparkan surat yang tadi ia tuliskan keatas. Ia berharap Tuhan mengabulkan doa dan permohonannya untuk terakhir. Setelah surat yang pertama ia lempar, kini ia pun menulis lagi surat yang kedua. Surat yang kedua ini ia tulis dengan penih air mata. Dan tanpa sengaja, air mata Violla merah seperti darah dan jatuh tepat di atas kertas yang ditulisnya buat Adelline. Ia menulis dengan rasa sedih. Malam ini ia menangis dan berdoa agar Adelline ikhlaskan semua ini. Setelah surat yang kedua ia pun menulis dairynya. ia menulis kisah hidupnya selama ia kenal dengan Adelline sampai ia harus rela meninggalkan Adelline.

Hari ini seperti biasa Adelline berangkat ke sekolah bareng Violla. Namun hari ini Adelline berangkat sendirian. Ia tidak ditemani oleh Violla. Di sekolah Adelline merasa sedih karna ia merasa sepi tak ada Violla yang selalu berbagi cerita. Sepulang sekolah nanti Adelline berniat untuk pergi ke rumah Violla untuk menanyakan kabar dan nanya kenapa hari ini tidak masuk. Hari ini Adelline tak segar dan ceria seperti hari-hari sebelumya. Di kelas pun Adelline tak banyak bicara. Bahkan Adelline tak kosentrasi dengan pelajaran. Adelline masih khwatir dengan Violla. Adelline merasakan ada yang aneh hari ini. Hari ini tak seperti biasanya.

Setelah bell pulang berbunyi, Adelline dengan cepat memasukan bukunya kedalam tas. Ia lalu keluar dari kelas dan berlari dengan cepat ke rumah Violla. Ia begitu memiliki perasaan yang tidak enak dengan Violla. Di perjalanan, Hpnya berbunyi, dan ternyata itu adalah ibunya. Ibunya menyuruh Adelline untuk segera ke rumah sakit Pahlawan Nusantara. Ia semakin bingun, “apa yang sebenarnya yang terjadi?, “kenapa aku harus ke rumah sakit?” siapa yang sedang sakit?”. Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam hati Adelline.

Ketika Adelline sampai di rumah sakit, ia langsung disambut mamanya. Mamanya memberitahukan kalau Violla sedang di rumah sakit. Namun mamanya tak memberitahukan Adelline kalau Violla sudah meninggal beberapa menit yang lalu, saat Adelline masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Adelline pun segera ke kamar dimana Violla di rawat. Ketika Adelline membuka pintu, ia sangat kaget apa yang terjadi. “kenapa semua keluarga Violla ada di sini?, kenapa mereka semua menangis? apa yang sebenarnya terjadi?”. Adelline bertanya dalam hatinya.

Begitu Adelline melihat mama Violla ia langsung bertanya, “Violla gak kenapa napa kan? Violla baik baik saja kan?” tapi mama Violla hanya bisa menangis. Adellien pun segera mendekat ke tempat tidur dimana Violla baring. Ketika Adelline melihat, ia langsung menangis. Ia tak kuasa menahannya. “Violla kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri, kenapa kamu pergi tinggalkan aku, aku masih mau bersamamu, ayo kita ke sekolah bersama lagi, kita main bareng lagi”. Adellien sangat sedih melihat sahabatnya, Violla harus berbaring di kamar mayat. Adelline sedih melihat sahabatnya menutup kedua matanya untuk selama-lamanya.

Saat Adelline menangis, mama Violla datang dan memberikan sesuatu kepada Adelline.
“Adelline ini surat dari Violla untuk kamu. Ia menitipkan ini untuk kamu. Dan ia juga menitipkan dairynya untuk kamu. Dan ini satu kado dari Violla. Ia memita kamu untuk membaca surat itu saat dia telah pergi dan membuka kado itu setelah ia pergi”. Dengan sedih Adelline membaca surat itu dan isinya:

Dear Adelline
Terima kasih sudah menjadi teman terbaiku, sahabat karibku, bagian dari jalan hidupku. Maafkan semua kesalahanku. Maafkan segala kekuranganku. Maafin aku Adelline, sebenarnya selama ini aku mengidap menyakit kenker paru-paru dan sudah stadium 4. Aku selama ini terlihat tegar di depan kamu. Aku tidak mau melihat kamu sedih, melihat kamu nangis. Aku hanya ingin kamu selalu ceria. Terima kasih sudah menjadi sahabatku dari kecil hingga hidupku selesai. Tak ada yang bisa ku berikan untukmu. Aku hanya ingin berpesan kepadamu, sekolah yang baik ya. Tetap semangat, meskipun tidak ada aku. Semoga kamu mendapat sahabat seperti aku.

Adelline tidak usah menangis terus karena tidak ada aku. Kamu bisa melihat bintang yang ada di langit. Pasti kangenmu akan terhapus. Kalau kamu kangen kamu bisa memeluk boneka yang aku udh pernah kasih ke kamu, aku akan merasakan pelukanmu dari sana. Oh iya jangan lupa buka kadonya ya. Maaf kalau kadonya kurang bagus. Simpan baik-baik buku dairyku dan kamu juga boleh menulis di dalam dairy itu. Kado itu kamu harus buka sendiri. Ingat aku, maka kamu bisa melihat fotoku.

Jika kamu menangis terus, aku pun akan ikut gelisah dan sedih. Oleh karena itu, kamu berhenti menangis ya, aku akan senang melihat kamu ikhlas dengan semua ini. Aku pasti akan selalu di hatimu dan kamu selalu di hatiku dan kita BEST FRIEND FOREVER.

Setelah Adelline membaca surat itu iya sangat sedih. Ia menangis terharu melihat sahabatnya begitu sayang. Dan saat ia membuka kadi dari Violla ternyata isinya foto-foto mereka dari sejak kecil sampai kemarin. Ia begitu bahagia memiliki sahabat seperti Violla.

Cerpen Karangan: Lusiana Halima
Facebook: Lusiana Halima

Cerpen Surat Terakhir Violla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Potret Hitam (Part 2)

Oleh:
Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Aku mengucapkan salam dan terdapat sahutan disana. Ternyata itu seorang perempuan “apa betul saya bicara dengan Nona Arsitania?” tanyanya. “iya, ini saya, maaf ibu

Satu Jam

Oleh:
Hiduplah seorang anak dan ibunya di dalam rumah yang miskin. Bapak mereka telah lama mati. Kini tinggalah mereka berdua. Sehari hari sang ibu sibuk mengurus pekerjaan dan rumahnya, dan

Batalkan SMS ini!

Oleh:
Yaaa… siang panas seperti biasa, untungnya sih ada AC. Yang membuatnya gak biasa adalah tiba-tiba kepala gue ketiban ide buat melanjutkan hobi gue akhir-akhir ini. Seketika itu juga gue

Untuk Sahabat

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Ponselku bordering, ada pesan masuk dari Vivi. “Chita, udah lama nunggu ya? Lima menit lagi aku nyampe, macet nih,” “Tenang aja Vi, aku lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *