Tak Ada Anak Yang Terlahir Haram

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 December 2017

Apa yang kau bayangkan ketika mendengar kalimat “Biola Tak Bertuan”, ya mungkin kau akan berfikir Biola yang tidak dirawat dan dibiarkan begitu saja. Ya benar itulah aku, Aku hidup di dunia ini tanpa seorang Ayah dan juga Ibu. Ibuku telah meninggal dunia ketika aku lahir, mungkin bisa dikatakan pertukaran hidup, Aku lahir ke dunia ini sedangkan Ibuku pergi meninggalkan dunia, Ayahku entah ke mana pergi begitu saja tidak bertanggung jawab hingga meninggalkan aku bersama sang nenek.

Kenalkan nama saya Lilis aku tinggal di sekitar Desa Padalarang! Sejak kecil Aku dirawat dan diberi kasih sayang oleh nenek dari Ibuku. Namun kini semuanya telah benar-benar berlalu ketika aku duduk di bangku II SD, nenek pergi meninggalkan dunia ini karena tertabrak oleh motor saat hendak pergi ke pasar.

Setiap malam ku selalu menangis merindukan keluarga-keluargaku yang perlahan-lahan pergi meninggalkan seorang diri dan sekarang aku hidup sebatangkara yang tak dipedulikan oleh pemerintah. Untungnya aku punya Bu Surti tetanggaku yang berbaik hati untuk memberi makan setiap harinya. Bu Surti sampai saat ini belum juga dikaruniai buah hati padahal sudah 10 tahun menikah bersama suaminya. Karena alasan itulah yang membuatnya dia ingin untuk menjadikan aku sebagai anak angkatnya.

Sekarang aku sudah duduk di kelas VI di salah satu SD di kecamatan Padalarang, kebetulan hari ini adalah hari Minggu jadi aku bisa bantu-bantu bu Surti untuk melakukan pekerjaan rumahnya.

“Lilis… Lilis…” panggil bu Surti dengan lembut
“Iya ibu ada apa?” jawab aku sambil menuju dapur
“Lilis! Ibu boleh minta tolong” pinta ibu
“Iya bu, tolong apa” jawab aku lagi
“Tolong belikan ibu telur, ibu mau buat nasi goreng untuk sarapan pagi ini! Bisa kan Lis?”
“Oh iya bu bisa! Ya udah, Lilis pamit ke warung ya”
“Iya sayang hati-hati ya” ucap bu Surti

SESAMPAI DI WARUNG…
“Bu, beli telur 1” kata aku
“Eh Lilis? ngapain kamu ke sini! Iih hush hush pergi, kamu itu anak haram ya Lis, jadi kamu gak boleh ngingjek kaki di warung ini! FAHAM?” Kata bu Atika yang punya warung
Aku mulai menangis “Bu Atika, aku bukan anak haram bu! Aku punya ayah dan juga Ibu, kenapa ibu jahat berkata seperti itu”
“Lilis? Asal kamu tahu kamu itu hasil dari perzinahan orangtuamu, Ibumu sudah mengandung kamu sebelum nikah” tegas Bu Atika yang membuatku sakit hati

Satpam kampung tiba-tiba menghampiri kami
“Eleuh-eleuh aya naon iyeu!” tanya mang Ujang satpam dikampung ini
“Bu, saya bukan anak haram bu! Tak ada di dunia ini anak haram” ucap aku sambil nangis
“Ah tetep aja, sekali haram ya haram”
Mendengar ucapan Bu Atika aku shock dan pingsan di tempat hingga dibawa ke rumah kembali, Mang Ujang telah bercerita semuanya kepada Bu Surti.

“Sayang kamu udah sadar” tanya bu Surti
“TIDAKKK, aku bukan anak haram” aku menjerit
“Lilis Lilis? Kamu kenapa” tanya ibu “Ibu aku bukan anak haram ibu” aku menangis
“Iya Lis! DI dunia ini tidak ada satupun yang terlahir haram, tidak ada kata anak haram, anak itu terlahir dengan suci! Yang haram adalah kedua orangtuamu telah melakukan zina! tapi sekarang kamu doakan saja Ibumu semoga dia tenang di Surganya ya Lilis sayang”

Tiba-tiba aku melihat seperti cahaya di langit-langit kamarku
“Ibu apakah itu ibu?” tanya ibu
“IBUUUUUU, ibu yang tenang ya di surga! Semoga Allah mengampuni dosa-dosa masa lalumu”
Cahaya itu menghampiriku
“Iya Lilis, kamu jika merindukan Ibu! Ibu akan senantiasa berada di sini, di hatimu!
Aku tersenyum

TAMAT

Cerpen Karangan: Rahmat Avrilieanto
Facebook: Rahmat Avrilieanto
Kenalin gue Rahmat Avrilieanto, tinggal di daerah Padalarang, ya memang menulis merupakan hobby saya, entah sejak kapan saya suka menulis. Usia 15 tahun dengan kelahiran Bandung 19 April 2002 yang masih kelas IX SMP yang bentar lagi mau lulus ke sma

Cerpen Tak Ada Anak Yang Terlahir Haram merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 2)

Oleh:
“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah. “Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.

Remang Cahaya Di Sela Ranting Cemara

Oleh:
Remang-remang cahaya di sela ranting cemara, terpancar indah menyorot mataku. Aku menatapnya dengan tatapan kosong dan lamunan di benakku. Aku melamun, melamun merindukannya, merindukan dia yang selalu menemani hari-hariku.

Sebuah Mimpi

Oleh:
Kenapa ya di keluarga kecilku tak kutemukan kasih sayang mereka untukku, namaku Rahmi, sekarang orangtuaku tak menyayangiku, mamaku tidak peduli padaku, papaku apa lagi, aku hanya memiliki seorang adik,

Cinta Tak di Restui

Oleh:
“Dimana dia?” tanya seorang anak muda dengan nada serius kepada seorang wanita paruh baya ketika ia masuk ke sebuah kamar hotel nomer 140. Wanita paruh baya itu menunjuk ke

Surat Terakhir

Oleh:
“dian” sapaku kepadanya saat aku melihat dia berlari-lari dari depan pintu perpustakaan, ia menoleh ke arahku namun tak menghiraukanku dan terlihat airmata telah keluar dari mata indahnya itu. kenapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *