Teman Sesaat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 January 2014

Aku berjalan, berjalan melewati pepohonan, pada saat musim semi. Kulihat pepohonan yang digerakkan oleh angin. Bunyi dedaunan kering yang terinjak mengiringi setiap langkahku. Aku melihat banyak daun yang tadinya hijau, berubah menjadi kecoklatan.

Aku melihat mobil berwarna merah, kunaiki mobil itu. Kemudian, mobil itu bergerak dengan cepatnya, ku lihat dari jendela mobil, banyak daun coklat berjatuhan, terasa angin menyejukkan dari jendela mobil yang kubuka.

Sesaat terlihat seseorang yang sudah lama kukenal. Ternyata dia adalah orang yang telah membuatku sukses seperti sekarang. Orang itu adalah ibuku. Ayahku meninggal saat umurku 4 tahun, dan sekarang aku berusia 18 tahun. Namaku Lisa. Aku bersekolah di salah satu universitas ternama di Jakarta.

Kemudian aku turun dari mobil merah. Dan berjalan ke sebuah rumah. Rumah dengan atap berbentuk segitiga. Pagarnya berwarna hitam, dan terdapat air mancur di halamannya. Rumah bertingkat dua dengan tembok berwarna putih. Membuatku rindu, serasa tidak mau pergi dari rumah ini.

Kuhempaskan tubuhku ke kasur. Lalu kupejamkan mataku. Sesaat terlintas sebuah kejadian yang sudah lama kulupakan. Kejadian ini terjadi ketika aku mengikuti sebuah lomba matematika. Pada saat itu aku bertemu dengan seseorang yang belum kukenal. Dia mengajakku ke sebuah tempat makan. Disana kami melihat sesuatu yang ganjil.

Ada seseorang yang berteriak, “Awas ada anjing gila”, kami yang sedang makan disana merasa heran. Ternyata benar, seekor anjing gila datang memporak-porandakan tempat makan itu. Semua orang di tempat itu merasa ketakutan kecuali seseorang yang bersamaku.

Dia tidak terlihat ketakutan, bahkan dia sempat melempar kursi untuk mencegah anjing itu menyerang orang lain. Kemudian datang petugas kepolisian yang menembak anjing tersebut. Kami berdua bersyukur, karena anjing itu tidak menyerang kami, ternyata anjing itu terkena rabies. Setelah kejadian itu, kami berdua pergi ke sebuah tempat latihan sepakbola.

Kami melihat pertandingan sepak bola. Kami bersama orang-orang yang menonton sepakbola, memberi semangat kepada pemain yang bermain di lapangan. Lalu kami berdua pergi ke sebuah tempat yang menampilkan sebuah pemandangan yang indah. Pemandangan yang menyegarkan mata. Matahari berwarna kuning kemerah-merahan. Hampir menghilang entah kemana.

Kemudian kami berjalan melewati jembatan. Lalu melewati jalan raya. Tiba-tiba ada truk yang menghantam seseorang di sebelahku. Sebenarnya, jika ia tidak mendorongku, mungkin aku yang sudah tertabrak truk itu. Kulihat darah mengalir dari kepalanya. Lalu dia berkata, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, lebih baik kamu menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.”

Aku yang melihat kejadian itu, hanya bisa menangis, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kakiku lemas, mulutku kaku, dan lidahku tidak bisa digerakkan. Lalu banyak orang yang mengerubungi kami. Kemudian datang ambulan yang membawa kami. Ketika kami berada di ambulan, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku merasa menyesal. Kenapa orang yang baru kukenal. Orang yang menyelamatkanku, harus pergi begitu cepat, kenapa?

Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Blog: http://aldirahmanuntoro.blogspot.com
Saya Aldi Rahman Untoro biasa dipanggil Aldi, lahir tanggal 23 September 1996, saya membuat cerpen, karena menulis, menurut saya kegiatan yang paling mudah dan menyenangkan

Cerpen Teman Sesaat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anakku Sayang, Maafkan Mamah

Oleh:
Suatu Kota Bekasi seorang remaja yang bernama Andi Bagas yang biasa dipanggil Agas kini berusia 18 tahun. Kini dia kuliah PTS di salah satu universitas favorit ternama di Bekasi,

Biru Perjalanan Kita (Part 1)

Oleh:
Bandung, 2010… Pria itu mengetuk-ngetukan kakinya sendiri tanda tidak sabar. Dia tengah menunggu seseorang di sebuah cafe yang ada di jalan Dago sekarang. Di sisinya, ada seorang anak tunanetra

Kliwon

Oleh:
“kliwon… kliwon… kliwon! tunggu! Bekalmu!”. Teriak ibu dari kejauhan. “Jangan sampai honey jajan sembarangan dan jatuh sakit”. Timpal ibu dengan nada yang halus, sembari memasukan bekal makanan yang khusus

Yang Terbaik

Oleh:
Banyak siswa-siswi yang mulai memasuki kelasnya masing-masing saat ada bunyi bel pertanda masuk. Dari kejauhan, terdengarlah suara ribut dari salah satu kelas yang ada di atas bagian pojok yaitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *