Temanku Yang Pintar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Aku adalah seorang pelajar kelas V di salah satu sekolah dasar favorit di kota Jakarta. Namaku Ryan, setiap orang pasti mempunyai sahabat terbaik dalam hidup. Sahabat yang selalu ada di mana kita merasa bahagia dan disaat duka dia selalu menghiburku dengan canda tawanya. Tidak hanya sekedar sahabat namun aku sudah menganggapnya sebagai keluarga. Dialah Navin, sahabat terbaikku. Dia anak pindahan dari kota Jogja yang duduk sebangku denganku, karna hanya kursi di sampingku yang masih kosong.
Awalnya aku merasa biasa saja dan berfikir bahwa dia hanyalah anak manja. Tak banyak kata aku ucapkan, aku hanya tersenyum menandakan perkenalan.

Seminggu berlalu, baru aku menyadari bahwa teman sebangku yang aku anggap manja dan kurang bergaul itu ternyata dia anak yang sangat pintar di sekolahnya dulu. Dia anak yang berprestasi, telah banyak piala yang dia dapatkan dari perlombaan olimpiade cerdas cermat se-Indonesia bahkan dia juga sudah pernah ke luar negeri. Aku mengetahuinya saat istirahat melewati kantor guru saat hendak ke kantin. Semua guru membicarakan tentang anak baru itu. Dalam hati kecilku aku merasa malu karena aku termasuk anak yang mendapat peringkat terakhir di kelasku. Apa yang aku dengar tadi membuatku penasaran dan timbul rasa ingin tahu “Siapa sebenarnya Navin?” pikirku sambil mengerutkan dahi.

Akhirnya timbullah rasa untuk bertanya kepadanya. Waktu istirahat biasanya aku langsung berlari ke luar kelas ketika mendengar bunyi bel tapi tidak pada hari itu. Aku tetap berada di dalam kelas menemani Navin yang memang setiap harinya dia selalu berada di dalam kelas. “Hai Navin, kamu nggak ke luar kelas?” tanyaku kepadanya. Dia pun menjawab pertanyaanku sambil tersenyum lebar “Nggak, aku lebih nyaman di kelas.” Sekian lama berbincang-bincang dengannya, baru aku tahu bahwa Navin adalah anak yang sangat menyenangkan. Selama ini aku salah menilainya. Aku berfikir bahwa guru pilih kasih karena hanya memperhatikannya saat proses belajar mengajar di kelas. Aku mengira karena dia anak baru yang pintar maka semua guru lebih sayang kepadanya. Sangat berbanding terbalik denganku yang setiap hari selalu kena marah oleh guru karena kesalahanku yang jarang membuat PR, meribut dan tidak membawa buku.

Semakin hari kami semaki akrab. Dan setiap harinya pun Navin mulai menasehatiku agar rajin belajar. Aku pun selalu menjawab dengan kata-kata andalanku “Navin, pintar itu keturunan jadi percuma aja aku belajar pasti juga nggak akan pintar seperti kamu”. Sambil aku tertawa terbahak-bahak. Navin pun hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Bahkan kami mendapat julukan oleh teman-teman di kelas adalah Si Bodoh dan Si Pintar. Tapi itulah Navin, dia selalu membelaku jika teman-teman mencela. Dia menjawab jika tidak ada orang bodoh di dunia ini jika dia mau berusaha untuk belajar. Aku pun sambil mengulurkan lidah berlagak sombong kepada mereka dan merangkul Navin. Aku dan Navin bagaikan kertas dan lem yang tidak bisa dipisahkan. Ke manapun kami selalu bersama. Seringkali aku mengantarkannya pulang sekolah dengan sepeda kesayanganku jika dia lama dijemput. Aku tidak pernah keberatan.

Dan waktu ujian kenaikan kelas pun akan tiba tiga bulan lagi. Navin pun semakin cerewet agar aku lebih giat belajar supaya tidak tinggal kelas. Bahkan dia memaksaku untuk ke perpustakaan dan belajar bersama di rumah. Usaha Navin membuatku tidak lagi menjadi anak pemalas pun tidak sia-sia. Lama-kelamaan aku pun terbiasa membaca buku dengannya di sela-sela istirahat sekolah sambil bercanda dengannya di bawah pohon di halaman sekolah. Aku juga tidak pernah lagi dihukum di kelas.

Semakin dekat waktu ujian, aku tak lagi menjumpai Navin ke sekolah. Padahal ujian tinggal 3 hari lagi. Aku bertanya-tanya kepada semua guru tapi tidak ada yang tahu ke mana Navin. Mereka hanya mengatakan jika Navin butuh waktu istirahat. Aku berfikir “Istirahat apa?” sedangkan yang aku tahu Navin tidak apa-apa. Selama kami menjalin persahabatan dia tak pernah lagi berdiam diri di dalam kelas. Dia juga sering tertawa jika aku selalu menggodanya jika kami bercanda. Dia juga sering mengatakan jika dia tak pernah mempunyai teman seperti aku sebelumnya yang bisa menghibur dan menemaninya. Dia juga merasa kesal mengapa tidak dari dulu kenal denganku. Mendengarnya selalu mengucapkan hal itu biasanya aku hanya menggoda dengan memegang dagunya.

Hatiku pun semakin tidak tenang karena sudah seminggu Navin tidak hadir dan waktu ujian tinggal satu hari lagi. Bila pulang sekolah aku selalu ke rumahnya namun pagar rumahnya selalu terkunci dan membuatku menjadi bingung ke mana aku harus bertanya tentang keberadaan Navin. Sampai akhirnya siang itu adalah hari terakhir di sekolahku sebelum ujian. Kami pun dipulangkan lebiah awal. Aku pun memberanikan diri mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Aku mengatakan kepada Beliau dengan alasan Navin akan tinggal kelas jika tidak ujian. Aku pun memaksa kepala sekolah agar memberikan nomor telepon orangtua Navin. Awalnya Kepala Sekolahku menolak tapi setelah aku bujuk akhirnya aku mendapatkan nomor telepon ayah Navin.

Aku langsung pulang dan mengayuh sepeda sekencang-kencangnya agar cepat sampai di rumah. Sampainya di rumah aku langsung menuju ruang tengah untuk menelepon. Teleponnya tersambung dan langsung diangkat oleh ayah Navin. Aku mengatakan jika aku teman sekelas Navin dan memberitahukan jika sebentar lagi ujian. Betapa terkejutnya aku mendengar jawaban ayahnya jika Navin selama ini sedang di rawat di rumah sakit. Aku langsung meminta alamat di mana alamat rumah sakit Navin di rawat. Ayahnya menolak memberikan alamat dan mengatakan Navin baik-baik saja. Namun aku terus mendesak dan akhirnya ayahnya bersedia memberikan alamat.
Aku langsung berteriak meminta ibuku agar mengantarkan ke rumah sakit.

Setibanya di sana betapa herannya aku, ternyata semua guru bahkan Kepala Sekolah juga ada menjenguk Navin. Selama ini mereka mengetahui keadaan Navin namun dilarang orangtua Navin bila teman-teman sekolah mengetahuinya. Aku semakin penasaran dan langsung menyelinap masuk ke kamar dimana Navin di rawat. Di sana ada ibu Navin yang duduk di samping tempat tidurnya yang sesekali mengelap pipinya dengan tisu karena air matanya yang menetes. Aku bertanya kepadanya sebenarnya apa penyakit yang diderita Navin? Mengapa dia menggunakan alat-alat di rumah sakit yang aku tidak tahu apa itu namanya. Hidungnya menggunakan selang, alat yang layarnya menunjukan garis-garis dan botol infusnya juga ada dua. Untuk mengusir kebingunganku, aku mencoba bertanya kepada ibunya. Ternyata selama ini Navin sakit kanker stadium 3. Aku pun langsung terduduk dan tak bisa berkata apa-apa.

Aku tidak mau pulang dan ingin berada di samping sahabatku menunggu ia bangun. Malam pun tiba dan do’aku pun terkabul. Navin membuka matanya dan menggegam tanganku. Sambil menangis aku berkata kepadanya kenapa dia tidak pernah jujur dengan penyakit yang dideritanya. Dia hanya tersenyum dan malah menyuruhku belajar agar naik kelas. Dia berkata bahwa aku harus selalu giat belajar dan tidak boleh melanggar apa yang ia katakan. Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Aku hanya menjawab jika aku tidak akan pergi ke sekolah bila tidak dengannya.

Hampir 20 menit kami bercerita, tiba-tiba aku mendengar suara mesin yang sangat kuat. Aku panik dan keluar memanggil orangtua Navin. Dokter dan perawat pun berdatangan ke kamar Navin. Aku jadi semakin takut dan berharap agar sahabatku bisa sembuh. Setelah kami menunggu di luar, akhirnya dokter pun keluar sambil membuka masker yang dikenakannya. Aku langsung mendekat mendengarkan pembicaraannya dengan orangtua Navin. Mereka langsung menangis karena dokter mengatakan jika Navin sudah meninggal. Aku langsung bergegas ke dalam kamar dan memeluk Navin. Aku berharap sahabatku itu membuka matanya.

Selamat jalan sahabatku Navin. Aku akan selalu mengingatmu sepanjang hidupku. Aku pun tak lagi diejek si bodoh yang pemalas. Karena aku naik ke kelas VI dengan peringkat pertama. Aku mendapat hadiah dan piala atas prestasiku itu. Namun dalam hatiku berkata jika apa yang kudapatkan ini adalah untuk Navin. Aku berjanji tidak akan jadi anak yang pemalas lagi. Navin sahabatku telah merubah si bodoh menjadi si pintar.

TAMAT

Cerpen Karangan: Rizqii DS
Facebook: rizqii.dwisyahputra

Cerpen Temanku Yang Pintar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Yang Dinamakan Sahabat?

Oleh:
“Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita dalam suka maupun duka” adalah kata yang tak asing lagi untuk didengar. Kata tersebut mengingatkanku dengan seseorang yang “memanfaatku dengan sebutan sahabat.”

Cincin Perunggu

Oleh:
Sejak kejadian tak mengenakkan itu, aku selalu berpikir hari kamis secara rutin membuatku depresi. Selain karena diisi oleh mata pelajaran mata pelajaran yang tidak aku sukai, kamis adalah satu-satunya

Hard

Oleh:
Angin berhembus. Membawa terbang semua yang ingin dibawanya. Menyentuh lembut semua yang dilewatinya. Terlalu transparan hingga tak terlihat. Terlalu abstrak untuk digenggam. Tapi, angin akan selalu ada dimanapun kau

Sahabat Scouts Selamanya (Part 2)

Oleh:
Jam sudah menunjuk pukul 12:10, kami sudah berkumpul di tengah lapangan, begitu juga dengan peserta lainnya, kami membentuk barisan, dimana setiap barisan berisi anggota dari sangga masing-masing. Kali ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *