Temanku Yang Setia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

Aku melihatnya. Aku melihat seekor kucing atau mungkin seekor anak anjing, sepulang bermain ternyata aku melihat seekor anak anjing yang sedang duduk dan aku melihat tidak ada seekor anjing yang menemaninya. Pada saat itu aku sangat ingin memiliki seekor anjing, namun anjing tersebut tidak seperti yang aku minta tetapi aku tetap ingin memiliki seekor anjing. Aku takjub aku langsung mengambil anak anjing itu saat aku mengambilnya ia sangat bau dan kotor itu mungkin karena ia tidak pernah mandi dan makan sampah. Saat aku membawanya pulang, aku melihat tidak ada keberadaan orangtuaku mungkin karena anjing itu kotor atau bau, ibu mungkin tidak memperbolehkan aku membawa anjing tersebut.

Namun aku tidak menyangka ternyata secara tiba-tiba ibu ke luar dan melihat aku sedang menggendong anjing yang kotor ibuku seketika marah dan menyuruhku untuk membuang anjing tersebut. Ibuku ingat dengan apa permintaan aku sewaktu itu dan ibuku langsung memperbolehkan aku memelihara anjing tersebut. Aku sangat senang permintaanku akhirnya terpenuhi. Aku langsung memanggil temanku Delon, ia adalah sahabatku sejak kecil kami berbeda dua tahun. Saat aku memanggilnya ia terkejut dengan anjing tersebut. Aku menamai anjingku adalah Snow karena ia berwarna putih dan mirip dengan bola salju. Delon mau membantuku memandikan dan memberi makan Snow. Snow sangat suka bermain bola dan ia juga suka makan ikan, saat ibuku pulang ibuku berkata, “Jagalah anjing itu dengan penuh kasih sayang.” dan aku menyetujuinya.

Setelah satu tahun Snow tumbuh, badannya sangat besar dan tinggi, ia sangat senang bermain terutama makan. Sampai pada suatu hari di tengah malam aku dan keluargaku sedang tidur, aku mendengar sesuatu dari dalam rumah, dan Snow yang berada di sampingku mengikutiku. Saat aku melihatnya ternyata itu adalah seorang pencuri yang sedang mengambil barang berharga satu per satu. Pencuri tersebut belum mengetahui keberadaanku, aku sedang berpikir jika aku berteriak pencuri tersebut akan lari atau mungkin menodongku dan akan menjadi masalah yang besar karena orangtua pasti cemas.

Aku khawatir Snow akan menggonggong atau mungkin menggigitnya, secara tiba-tiba tanpa sadar Snow langsung mengejar pencuri tersebut aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pencuri itu langsung berlari ke luar lewat jendela tetapi Snow menggigitnya dengan giginya yang tajam. Seketika orangtuaku langsung bangun dan melihat kejadian itu, ayahku langsung menangkap pencuri itu dan membawanya ke kantor polisi, berkat bantuan Snow, pencuri itu tidak bisa melarikan diri. Ibuku bertanya kenapa kamu tidak membangunkan ibu atau ayah jika ada pencuri. Aku terdiam dengan pertanyaan tersebut ibuku langsung berkata yang penting tidak terjadi hal-hal buruk kepadaku, kata ibuku.

Aku tidak menyangka ternyata Snow bisa menangkap pencuri, karena tadi aku berpikir pencuri tersebut akan menusuk Snow dengan benda tajam. Aku sangat berpikir tentang keselamatannya. Pada keesokan harinya kami membersihkan dan merapikan rumah kami yang kotor dengan benda yang berserakan di mana-mana yang dilakukan oleh pencuri tersebut. Setelah sepuluh tahun ia bersamaku aku pun harus pergi untuk kuliah aku menangis saat ingin berpamitan dengan dia karena ia selalu bersamaku. Setelah tiga tahun aku pun pulang ke rumah dan saat aku pulang ibu dan ayah menyambutku saat aku bertanya ke pada ayah dan ibuku, “Dimana Snow?” mereka menundukkan kepala ibuku berkata Snow telah pergi ia kabur dari rumah entah mengapa ibu saja tidak tahu ia pergi.

Aku menangis mendengar hal tersebut aku bahkan belum berpamitan dengan Snow. Aku ingat sekali terakhir kali aku berpamitan dengan dia saat aku ingin pergi kuliah, ia melompat ke perutku seolah-olah ia tidak ingin aku pergi. Aku sangat ingat saat aku bertemu dengannya pertama kali, ia sangat kotor dan bau. Pada saat itu langsung pergi ke kamar untuk merenungkannya. Sekitar satu jam aku menangis akhirnya aku berhenti menangis saat aku menyalakan tv pada saat itu aku melihat film tentang seekor anjing bernama Hachiko yang ditinggal oleh majikannya, saat menonton itu aku makin sedih.

Hingga pada suatu saat aku ingin jalan-jalan aku tidak sengaja melewati tempat pertama kali bertemu dengan Snow. Aku melihat seekor anjing dan aku mengira itu adalah anjing tetapi pada saat aku ingin melanjutkannya anjing tersebut menggonggong ke arahku. Dan aku berbalik untuk melihat anjing ternyata anjing tersebut langsung berlari ke arahku dan menaikiku seolah-olah aku adalah majikannya. Aku mengira itu adalah Snow. Memang mirip Snow tetapi bulunya berwarna putih kecokelatan aku berpikir, “Mungkin itu karena ia kotor atau bukan,” saat aku membersihkan bulunya ternyata itu adalah Snow aku menangis setelah aku melihatnya ia masih mengingat tempat aku bertemu dengannya. Saat aku membawanya pulang aku dan Snow melakukan yang kami lakukan tiap harinya.

Hingga pada suatu hari aku melihat Snow sangat lemas dan malas bergerak ia maunya tidur terus dan makan sedikit. Aku sangat cemas keesokan harinya saat aku bangun aku mengira Snow sedang tidur ternyata saat aku ingin memegangnya ia sudah tidak lagi bernapas. Aku sangat cemas dan memanggil orangtuaku untuk membawanya ke rumah sakit hewan. Saat ia masuk rumah sakit sekitar dua jam kami menunggu dokter pun ke luar ia berkata, “Maafkan kami, Bu anjing anak Anda tidak bisa lagi diselamatkan karena umurnya yang sudah melewati batas umur seekor anjing.”

Aku pun masuk ke dalam untuk melihat Snow saat aku menangis melihatnya. Aku menaruh kepalaku di perutnya, tiba-tiba ia bangun, aku terkejut aku langsung memeluknya tetapi ia hanya menjilat pipiku sekali dan ia langsung tertidur lagi. Pada keesokan harinya aku pun menguburkannya. Entah mengapa hal itu terus membuatku terus menangis, ibuku berkata, “Sudahlah, jangan menangis lagi nanti kita akan membeli anak anjing.” dan aku pun menyetujuinya.

Cerpen Karangan: Otniel Aritonang

Cerpen Temanku Yang Setia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelukan Terakhir Ibu

Oleh:
Hidup tak selalu indah layaknya kisah manis dalam sinetron. Kadang aku berpikir kalau happy ending itu memang hanya ada dalam film atau cerita lainnya. Sejak kecil aku terbiasa hidup

Sahabat Mungil

Oleh:
Hari itu, ada tugas Bahasa Indonesia, karena tugasnya masih banyak, kami ngadain belajar kelompok di rumah salah satu temanku, yaitu Ella. Karena rumahku jauh, menuju ke rumah Ella, harus

Sahabat

Oleh:
Mentari begitu terang menyinari bumi ini memberikan efek terbakar saat menembus permukaan baju dan mengenai kulit. Pelajaran olahraga kali ini adalah permainan bola besar. Pasti tak asing lagi di

Teman Lamaku Kembali Lagi

Oleh:
Gerimis pagi itu membuatku tak ingin beranjak dari tempat tidur. Apalagi rasa ngantuk yang tak ingin terkalahkan membuatku enggan untuk membuka mata terlebih lagi jika harus beranjak dari tempat

Teman

Oleh:
“Kita kan berteman, Lisa.” Itu adalah kalimat andalan Bayu. Dan entah kenapa kalimat itu selalu membuat hati aku sakit. Kata ‘teman’, yang seharusnya aku syukuri terdengar sangat menusuk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *