Temui Aku Yah, Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Tak ada yang berbeda dengan hari ini, aku dibangunkan lagi oleh deru peluru yang sangat mengganggu telingaku, aku dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka berusaha bangun dan mulai menata kardus yang kugunakan sebagai alas tidur untuk kemudian kugunakan lagi sebagai alas ibadahku. Apakah kalian tau? Ini adalah hari kedua puluh aku berpuasa, dan parahnya, aku tidak sahur lagi, aku tidak ketiduran, hanya saja, aku sudah kehabisan makanan, ini yang membuatku sering bertanya dalam hati “apakah puasaku diterima sedang aku tidak sahur dan juga tidak buka? Apakah sholatku diterima sedang tubuhku tidak suci karena jarang tersentuh air sama sekali?”

Kuhabiskan siangku dengan bermain bersama temanku, sekolah? Ah yang benar saja, semenjak sekumpulan laki-laki berseragam itu datang dengan kendaraan yang fungsinya seperti senapan, guru kami meliburkan sekolah untuk waktu yang lama, entah apa yang mereka katakan kepada guruku hingga meliburkan sekolah ini. Hal tersebut membuat aku merindukan sekolah, hingga hari ini aku memutuskan untuk melihat keadaan sekolah yang jaraknya cukup dekat dari lokasiku. Dan sesampainya disana, aku benar-benar terkejut melihat kondisi sekolah sudah rusak parah, bahkan sebagian sudah rata dengan tanah, persis sekali dengan kondisi rumahku. Siapa yang tega melakukannya? Apakah teman temanku marah karena kecewa sekolah terlalu lama diliburkan? Tapi tangan mungil mereka tidak mungkin sanggup merobohkan tembok yang dulunya kokoh itu. Aku pulang dengan perasaan benar-benar pilu.

Sesampainya di rumah aku langsung bersiap-siap untuk mencari rumput di ladang, bukan, ini bukan untuk ternakku atau bahkan Pamanku, ini untukku sendiri. Dengan ini, aku bisa sedikit tenang karena sudah memenuhi syarat sah puasa. Rumput juga bisa aku makan langsung tanpa perlu dimasak. Kau tahu kan anak laki-laki umur 6 tahun belum pandai memasak? aku juga tidak memiliki uang untuk membeli bahan makanan yang layak.

Hari terus berganti hingga tak terasa ini adalah malam terakhir di bulan Ramadhan. Benar-benar ramai sekali disini, banyak sekali kembang api, namun aku bingung, biasanya kembang api ditancapkan di tanah kemudian terbang melesat di udara, tetapi di sini, kembang api itu dari udara dan dijatuhkan ke tanah, orang-orang pun berteriak melihat itu, ada juga yang berlari, ada juga yang mengumpat dan berusaha menghindari, aku misalnya.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kulakukan lagi aktifitas pagiku setelah bangun tidur, kemudian aku ambil baju yang sekiranya belum berdebu. Uh ada masalah baru disini, tidak ada air sama sekali untuk menyucikan badan ini. Aku benar benar malu karena harus tampil kumuh di hadapan Penciptaku.

Selesai sholat Ied, aku langsung bergegas menagih janji kepada Paman. Ia berjanji akan mengantarkanku menemui orang tuaku. Aku benar-benar tak sabar bertemu Ibu dan Ayahku, sudah dua tahun ini kami terpisah. Aku tak mengerti alasan mereka meninggalkanku sendirian, tapi hari ini akan kutanyakan kepada mereka. Perasaan penasaran ini menimbulkan semangat tersendiri dalam tiap langkahku.
Hingga jarak 8000 meter tak terasa jauhnya untukku. Kini sampailah aku di kediaman orangtuaku, Sebenarnya bisa saja aku bertemu dengan mereka setiap hari atau kapanpun aku mau, tetapi masalahnya, aku tak berani berjalan jauh sendirian, dan pamanku hanya mengantarkanku ketika hari raya ini saja. Sendainya hari raya setiap hari, pastilah aku lupa bagaimana rasanya rindu. Bicara soal rindu, aku juga sering bergumam dalam hati “Apakah orangtuaku tidak merindukanku? Mengapa mereka meninggalkanku tanpa pernah menemuiku?” Sungguh aku kecewa dengan sikap mereka, tetapi rasa sayang ini mengalahkan rasa kecewaku kepada mereka.

Entah berapa kali salam yang sudah kuucap, namun tak ada jawaban, hmm mereka sama saja seperti tahun lalu, tak mau ke luar dari gumpalan tanah berpapan itu. Pasti mereka tertidur lagi, yah kalau saja jalanku lebih cepat, pasti aku bisa datang tepat waktu. Keluarlah bu, temui aku, aku bosan menunggu, aku rindu Ibu, aku rindu bubur buatanmu, perjalanan ini sunggu mengosongkan perutku, aku juga ingin bermain bola denganmu yah, kalau Ayah tidak mau, apakah Ayah mau menemaniku mencari rumput? Kadang aku dipukul karena disangka pencuri, yakinkan mereka kalau aku anak dari pemilik ladang itu yah, ayolah Ayah, ayo.

Usahaku sia-sia, mungkin mereka lelah hingga tertidur sangat lelap disana, kulihat mata Paman sudah mulai memerah, aku kasihan padanya, mungkin ia mengantuk karena perjalanan ini terlalu jauh, aku langsung mengajaknya pulang karena deru peluru itu mulai terdengar lagi.
Sebelum pergi, aku meletakkan surat yang ditulis Paman, aku memang belum bisa menulis, surat ini aku bawa untuk berjaga-jaga seandainya mereka tak keluar seperti dulu lagi, dan benar kan? Mereka tertidur.

“Assalamualaikum Ibu, Ayah, kenapa aku kuharap kalian masih hafal jalan menuju rumah, jika masih, datanglah, karena aku pasti selalu di rumah, aku tahu rumah kita tak senyaman dulu, rumah kita hanya beralas tanpa beratap. Tapi bu, yah, aku selalu berusaha membersihkannya, aku takut suatu saat kalian datang dan melihat rumah ini kotor dan berantakan. Kalian tahu tomat yang ada di belakang rumah? Itu sudah sempat berbuah, dan aku memetiknya untuk kalian, namun hingga tomat layu, kalian tak kunjung datang, tapi jangan khawatir, aku selalu berusaha merawat pohonnya, aku selalu membagi air minumku dengan pohon itu, aku takut ia layu, aku ingin menjaga apa yang kalian punya, seperti kalian menjagaku. Kuharap surat ini tidak terbang sebelum kalian membacanya.
Palestina, 1 Syawal 1437H
Salam rindu, putramu, Aidan Ali”

Cerpen Karangan: Safana Rizkia Ananda
Facebook: Safana Rizkhia Ananda

Cerpen Temui Aku Yah, Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Terakhir

Oleh:
Ketika pagi datang, kesedihan terus mengusikku. Ku lihat tetesan air hujan jatuh satu per satu ke Bumi. Udara yang dingin, hembusan angin yang lembut memeluk tubuhku pagi ini. Aku

Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 1)

Oleh:
Pagi yang cerah, aku masih terbaring malas di kasur tepatnya di kamarku. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat malas untuk bangun dan masih saja mengantuk. Mungkin karena semalam

Si Gadis Kecil

Oleh:
Puluhan burung-burung kecil terbang di bawah langit biru yang indah dengan kicauan merdu mereka. Seorang gadis kecil seperti malaikat tesenyum dengan pakaian putih yang amat kusam, rambut panjang yang

Sapu Tangan Merah Lusuh

Oleh:
Di sunyinya malam aku terbangun karena mimpi yang sangat menakutkan. Yah, mimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Bibirku bergetar, mataku gelisah, ketakutanku tak pernah hilang. Aku sadar semuanya telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Temui Aku Yah, Bu”

  1. Nurul Agustina says:

    Cerpennya bgus sekali sampai terharu bacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *