Terimakasih Ya Dira

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 December 2014

Namaku Bugi, cantik, imut, pintar dan baik lagi itulah ciri-ciriku. Eh kepedean sorry ya, aku emang orangnya gitu, keceplosan maksudnya. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dira. Orangnya pintar, cantik dan pengertian juga. Asik deh kalau berteman sama dia, apalagi kalau bersahabat. Kami bersahabat sudah cukup lama, dari SD sampai kelas 2 SMA ini.

“Bugi ikut nggak ke kantin,” teriak Dira padaku.
“sebentar dir,” jawabku sambil merapikan buku.

Kami pun pergi ke kantin bersama. Setiap hari kami habiskan waktu dengan makan, belajar, tidur, jalan-jalan, sampai mandi bareng lho. Kami enggak pernah yang namanya musuhan, berantam sampai putus sahabat lagi, enggak banget deh. Dira orangnya agak tomboy seehingga dia lebih banyak teman cowok dibanding cewek.
“Dir, pulang sekolah nanti jalan ke mall yuk.” Tanyaku
“hmm, gimana ya gik ya udah deh, sebetulnya si aku hari ini mau jalan sama reza, tapi apa sih yang enggak buat kamu.” Jawabnya
“loh jadi nanti reza gimana,” tanyaku lagi
“itu mah gampang, tinggal batalin aja, tapi dengan satu syarat, kamu harus bayarin aku nanti makan di restotan india, mau kan?” Jawabnya
“ya udah deh, kebetulan ni gue baru dikasih uang jajan sama nyokap, maklum baru gajian.”
Pulang sekolah kami langsumg capcus ke mall.
Di jalan kami bertemu dian cowok gue. Menurut aku Dian semakin lama semakin banyak berubah, entah apa sebabnya pun aku gak tau. Pernah sekali aku buntutin dia, aku kira dia lagi jalan sama selingkuhannya, ternyata tidak rupanya dia lagi sibuk dengan tugas kampusnya, aku pun memaklumi itu.

Kami bertiga pun pergi ke mall, kami berpencar ada yang makan, mencari boneka, dan aku sendiri hendak mencari dress untuk ke party nanti malam. Tak terasa waktu sudah larut malam, dan kami langsung pulang ke rumah. Di jalan kami tertawa girang, karena lagi lagi dian membuat suasana jadi lucu dan menarik. Itulah yang membuat aku suka sama dian.

“say, aku gak bisa ngantar kamu sampai rumah soalnya hujan, kasian Dira sudah kedinginan gak papa kan? Katanya
“gak papa kok say, aku balik duluan ya dira. Thanks ya udah nemenin aku. Da…” ucapku
Aku balik ke rumah hampir larut malam. Mama tidak mencariku, karena aku sudah bilang sama mama sebelum pergi sekolah tadi.
“kok malam banget pulangnya sayang?” Tanya mama padaku
“iya, tadi berhenti dulu ma, soalnya hujan.” Jawabku
“oh, ya udah sana cepat ganti baju dulu sana, biar enggak masuk angin lagi.” Kata mama.
“iya, ma aku masuk kamar dulu yah,” ucapku

Setelah mandi dan ganti baju, aku merasakan dada dan jantungku sangat sakit dan sesak. Aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku langsung bergegas tidur. Keesokan harinya, aku pamit sama mama untuk pergi ke sekolah, padahal aku bolos, aku pergi ke rumah sakit untuk cek apa sakit yang ku derita tadi malam. Tak lama dokter datang dengan membawa hasil dari lab, dan ternyata aku sakit JANTUNG. Aku sangat shock dengan penyakitku ini, aku berdo’a pada tuhan “apa salahku ya ALLAH, kenapa engkau mengirimkan aku penyakit yang begini berat.

Aku langsung pulang, sampai di rumah mama nanyak kenapa wajah aku begitu pucat dan lesu. Aku hanya menjawab “gak papa ma.” Aku takut kalau mama kepikiran tentang aku. Pagi pun tiba, mentari hari ini sangat terang tak ada tanda-tanda mau hujan. Aku menangis di jendela, berpikir seberapa lama lagi aku bisa menikmati semua ini. Di sekolah aku tidak melihat Dira sahabatku, aku mencari-carinya kemana-mana, tapi tidak ketemu, akhirnya aku putuskan untuk mencarinya di taman depan sekolah. Dan akhirnya aku menemukannya, tapi betapa remuk hatiku ketika aku lihat dia bersama Dian (kekasihku). Hatiku sangat sakit dan jantungku terasa mau copot. Aku langsung tak sadarkan diri dan seketika pingsan. Mereka langsung melihat aku dan segera menolongku. Tak berapa lama aku tersadar, ternyata aku sudah berada di UKS. Ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya tentang kejadian itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Semakin lama ternyata penyakitku semakin parah. Sampai saat ini keluarga, teman, sahabat, sampai pacarku pun tak tau tentang penyakitku ini. Aku tidak hanya membuat mereka repot dan sedih karena penyakitku ini. Ku sembunyikan semua ini di dalam diriku sendiri.

Di sekolah, Dira seperti biasa kepadaku, aku selalu menghindar dari dia, misalnya seperti tidak mencakapi dia, tidak terlalu terbuka pada dia seperti dulu, semuanya berbeda sejak aku melihat dira di taman bersama dian. Sampai akhirnya dira bertanya padaku kenapa dengan perubahan sikapku ini.

“Bugi, kamu sebetulnya kenapa sih, semakin lama sikapmu berubah, semakin cuek tidak seperti dulu.” Ucap Dira
“aku gak papa.” Jawabku singkat
“aku hanya mau bilang mendingan kita udahi aja persahabatan kita ini.” Sambungku
“Bugi kamu kenapa apa karna waktu itu di taman, itu sebetulnya tidak seburuk yang”, belum sempat dira menyelesaikan perkataannya aku langsung menjawab, “tidak dira tidak sama sekali, mau apapun kau dengannya, aku tidak peduli. Yang penting kita sudahi aja pertemanan kita ini sampai disini.” Ucapku singkat. Dira menangis, dia berusaha untuk mengejarku dan berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku segera pergi meninggalkannya.

Pulang sekolah, aku seperti biasa check-up ke rumah sakit. Kata dokter, umurku sudah tidak lama lagi. Dokter menyarankan agar aku segera dapat cangkok jantung. Aku pasrah, siapa yang mau nyerahin jantungnya ke aku. Aku langsung pulang, sampai di rumah aku melihat ayah yang sedang berantem dengan kakak masalah mobil yang lecet, jantungku rasanya sakit kali dan seketika aku jatuh dan tak sadarkan diri.

Dan ketika aku sudah sadar, aku terkejut sekali karena aku sudah berada di rumah sakit, mama, papa, nenek, kakek, kakak, serta abangku semuanya menangis. Mama menghampiriku “kenapa adek kok gak bilang sama mama, kalau adek punya penyakit ini?” tanya mama. Aku terdiam seketika “apakah mama sudah tau semua”. Tanyaku pada mama.
“ia sayang, kenapa kok nggak bilang sama kami kalau bugi punya penyakit ini?” tanya mama.
“mama, bukannya bugi nggak mau bilang tapi bugi takut bahwa penyakit bugi ini membuat kalian repot dan sedih.” Ucapku
“bugi nggak pernah buat mama dan yang lainnya repot apalagi disusahkan atas penyakit bugi ini.” Jawab mama sambil menangis

Ketika kami sedang berbincang-bincang tak lama datanglah pak dokter Wisnu, dokter spesialis jantung di rumah sakit ini, masuklah pak dokter ke ruanganku.
“pak gimana keadaan anak saya pak?” tanya ayah
“maaf pak, saya hanyalah seorang dokter yang tidak bisa menentukan umur manusia, tapi menurut analisis saya, apabila bugi nggak mendapatkan donor jantung maka umur bugi sudah tidak dapat bertahan lama lagi, atau sekitar 1-2 minggu lagi.” Jawab pak dokter
“jadi apakah belom ada yang mendonorkan jantung untuk anak saya?” tanya ayah lagi
“sampai sekarang belum ada pak.” Jawab dokter
Mendengar jawaban dokter semua hanya bisa menangis, berhiteris. Mereka semua tidak bisa menyangka anak sekuat bugi mengalami penyakit yang mematikan.

Tak lama aku pingsan. Singkat cerita, aku sudah sadar, mereka semua senang melihatku, ternyata kata mama aku sudah melaksanaan operasi. Waktu aku pingsan ada orang yang mencangkokkan jantungnya padaku. Aku sangat senang atas semuanya. Aku berusaha menanyakan pada mama siapa yang udah rela mengorbankan jantungnya padaku tapi mama nggak mau menjawabnya. Tak berapa lama aku kepikiran tentang dira, kenapa dia tidak pernah menjengukku, apa dia sudah benci melihatku karena perkataanku waktu itu.

“ma dira mana?” tanyaku pada mama
Mama hanya terdiam. Aku mengulang pertanyaanku.
“sabar yah gik, dira sudah tenang di alam sana, dan orang yang mencangkokkan jantungnya padamu itu adalah Dira sahabatmu.” Jawab mama
Aku hanya terdiam atas jawaban mama. Apakah yang mama bilang itu benar.
“waktu kamu memutuskan persahabatan kalian, rupanya dia membuntuti kamu ke rumah sakit. Pas dia mau pulang, rupanya dia ketabrak dengan truk. Keadaannya kritis, dan dia sadar seketika bahwa dia ingin mencangkokkan jantungnya untukmu sayang. Sebelum dia melaksanakan operasi, dia menitipkan surat ini pada mama untukmu. Baca yah sayang.” Ucap mama padaku

“To: my love BUGI NAUMA SARI”
Hay, bugi apa kabar kamu, sehat kan? Saat kamu baca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi. Maaf yah bugi karena dira tidak bisa menjadi sahabat terbaik untuk bugi. Waktu di taman itu, sebetulnya aku dan dian gak ngapa-ngapain kok. Dian hanya nanya sama aku apa kesukaan dan hobi kamu, karena dia bilang sama aku mau buat kejutan untukmu. Oh iya bugi, jaga baik-baik jantung yang ku titipkan sama kamu yah gik, aku senang banget walau aku nggak bisa selalu ada di dekat kamu tapi setiap detakan jantung itu aku selalu berada bersamamu. Bugi aku tau pasti kamu lagi sedih ni kan, jangan terlarut dalam kesedihan yah gik, nanti kamu jadi jelek lagi. Ketahuilah bugi bahwa aku itu sangat menyayangimu, menurut aku kamu adalah sahabat yang paling baik di dunia. Jaga diri kamu baik-baik yah bugi. Jangan pernah lupain aku yah. Terimakasih ya karena kamu udah ajarin aku apa arti setia dalam bersahabat.”

Salam manis
Dira sabila

Aku hanya bisa menangis dan menyesal karena perilakuku kepada dira beberapa hari yang lalu. Sekarang aku hanya bisa duduk di samping kamu dir. Makasih atas semuanya dir. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Aku akan menjaga diriku baik-baik seperti pesan kamu padaku, sahabat terbaikku

Cerpen Karangan: Rani Septiani Sipayung
Facebook: Rani Septiani Sipayung

Nama: Rani Septiani Sipayung
kelas: X ips 3
Sekolah: SMA NEGERI 1 TEBING TINGGI
Alamat: dusn 3 desa pardomuan, dolok masihul, serdang bedagai,
Provinsi: Sumatra utara
hoby: membaca, menulis dan menyanyi
twitter: @chepayungrani
facebook: Rani Septiani Sipayung

Cerpen Terimakasih Ya Dira merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Ibu Cinderella

Oleh:
Malam ini begitu tenang, setenang tetesan mata air di puncak gunung. Namun tenangnya malam ini tak setenang hatiku. Di malam 7 hari kepergian almarhumah bundaku. Bunda yang amat aku

Best Friend 7ever

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku charisa dwi santika. Aku mempunyai teman lebih tepatnya sahabat apalagi jumlahnya 7 sama seperti namaku CHARISA kan ada 7 huruf hehehe. Nama sahabat ku antara lain:

Ibu Maafkan Aku

Oleh:
Aku adalah mahasiswa baru yang baru setahun masuk dan sekarang lagi ada Ujian Semester. Aku yang selalu hidup bersantai santai dan mulai jarang pulang ke rumah bermain dengan teman

Dua Kisah Kasih Kembar

Oleh:
“Dulu waktu SD, aku memang anak yang tomboy, jadi teman laki-lakiku jumlahnya bejibun. Namun, ada satu lelaki yang paling sering bermain bersamaku, selain karena rumahnya hanya 5 langkah dari

Perjalanan Cinta Alena (Part 2)

Oleh:
Tiga tahun lamanya setelah peristiwa itu, kini mereka sudah lulus. Nilai mereka pun sangat memuaskan. Alena bisa masuk ke universitas dan fakultas yang dia impikan, Dhea menjadi model yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *