Terjebak Di Dalam Api

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

“Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga,” Aku menggerakan tubuhku dengan lincah mengikuti irama musik. Walaupun peluh mengucur deras di keningku, aku tetap semangat menggerakkan kakiku, yang hampir tidak kuat untuk berdiri saking lelahnya.
“Besok saja dilanjutkan latihannya! Jangan terlalu memaksakan dirimu.” Aku menghentikan gerakan lincahku, saat seseorang menghentikkan musik dari ponselku. Aku menoleh ke arah seseorang yang menghentikan musik.
“Kenapa kau hentikan musiknya? aku kan sedang melatih kemampuan menariku,” Protesku padanya. Orang itu malah mengukir senyum kecil. Ia menghampiriku dan menyodorkanku sebotol air dingin.
“Tapi jika kau sakit, apa kau akan rela melewati ujian akhir nanti? Kau harus menyimpan energimu untuk ujian nanti.” Ujar wanita berkulit gelap itu. Benar juga apa yang dikatakannya. Aku tidak boleh melewati ujian akhir. Jika aku melewatinya, maka impianku akan terbang jauh dariku.

Aku duduk dan wanita itu ikut duduk di sampingku. Aku mengistirahatkan kakiku, yang letih karena terus kupaksakan untuk bergerak. Kuteguk air yang diberikan oleh wanita itu. Rupanya, dia tahu aku sangat membutuhkan air.
“Aku tahu, kau ingin secepatnya debut. Tapi, kalau kau selalu paksakan dirimu untuk berlatih, itu tidak baik untuk kesehatanmu,” Ujarnya khawatir.
“Khawatirkan saja dirimu, Amira. Selama ini, kau tidak pernah serius untuk menggapai mimpimu,” Gadis yang dipanggil Amira itu malah menyengir.
“Karena impianku yang sebenarnya adalah berada di atas panggung bersama sahabatku,” Aku terhenyak dengan penjelasan dari temanku. Impiannya begitu mulia.
“Semoga saja, kita bisa berada di atas panggung bersama-sama,” Ucapku penuh harap. Amira mengangguk lalu tersenyum tipis.
“Tapi, jika kau ingin satu panggung denganku, Kau harus menambah tinggi badanmu. Aku tidak mau berdiri sejajar dengan orang pendek.” Ejeknya yang membuat darahku sedikit mendidih. Dasar Hitam! Selalu saja dia mengejek tinggi badanku.
“Perhatikan saja warna kulitmu. Mana ada fans yang mau mengidolakan orang hitam sepertimu?” Aku menoyor kepalanya.
“Kulitku ini sangat seksi. Dan aku yakin, akan ada banyak fans yang tergila-gila denganku,” Ujarnya yang membuat perutku terasa mual.
“Akui saja kalau dirimu hitam! Bahkan, kau dipanggil Kopi karena kulit gelapmu itu,” Gelak tawa terlepas dari mulutku. Amira ikut tertawa. Alhasil, studio tari yang awalnya diisi oleh musik, kini tergantikan oleh tawa kami. Dan ini sudah menjadi hal yang biasa untuk kami. Saling berbagi tawa, dan juga saling berbagi rasa sedih.

“Bagus sekali, Lisa! Kemampuanmu semakin hari semakin meningkat!” Seorang wanita bertubuh langsing nan cantik menepukkan kedua tangannya. Ia tersenyum bangga saat melihat kemampuan menariku.
“Terima kasih, guru Saskia! Aku akan berusaha lebih baik lagi,” Aku membungkukkan badanku. Ia mengganguk dan beralih mendekati Amira.
“Amira Aku begitu terkesan denganmu. Kemampuan menarimu bahkan setara dengan Michael Jackson. Aku yakin, Direktur Hadi Wijaya pasti akan senang melihatmu,” Wanita itu menepuk-nepuk bangga pundak Amira. Amira membungkuk, sebagai tanda terima kasih untuk pujian guru Saskia.
Melihat guru Saskia yang begitu bangga dengan Amira, tiba-tiba saja senyumanku sirna di wajahku. Mengapa selalu Amira yang dibanggakan? Dan bukannya aku yang dibanggakan? hatiku tiba-tiba merasa panas. Sungguh. aku benci melihat guru Saskia yang terus tersenyum bangga dengan Amira.

Aku memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan makanan dan minuman. Waktu ujian menari telah usai. Dan aku mendapatkan tugas, membawa beberapa jus, untuk diberikan kepada seluruh peserta.
Aku mengambil nampan, dan meletakan beberapa gelas berisi jus. Karena, tidak mungkin aku membawa gelas-gelas itu dengan tanganku sendiri. Tapi sebelumnya, aku mengambil salah satu gelas berisi jus itu. Kurogoh saku celanaku, dan mengeluarkan sebuah plastik kecil. Kutuangkan isi plastik kecil itu ke dalam gelas yang aku pilih. Aku tersenyum licik. Rencanaku kali ini pasti berhasil.

“Waktunya minum jus!” Seruku riang seraya membawa senampan jus jeruk. Teman-temanku langsung menyerbuku, takala mereka melihatku membawa senampan jus jeruk yang segar. Terutama si Rania. Ia seperti gelandangan, yang meminum jus jeruk itu hingga tumpah.
“Kebetulan sekali! Aku sangat haus saat ini.” Amira mengambil segalas jeruk, namun aku langsung mengibas tangannya.
“Jangan minum punyaku! ini, kau minum ini saja!” Aku menyodorkan segelas jus yang sudah kutandai. Amira sedikit mengerutkan keningnya akan tingkahku. Namun sesaat kemudian ia meminum jus itu begitu saja. Seolah-olah ia lupa dengan tingkahku, yang aneh hanya gara-gara segelas jus.

“Waktunya ujian menyanyi! Siapkan diri kalian karena ini adalah ujian terakhir kalian, sebelum kalian didebutkan.” Semua peserta langsung bangkit, takala guru Fanny akan menguji kemampuan vokal dari para peserta. Amira mendapat nomor urutan satu. Jadi, dialah yang maju pertama untuk pengambilan nilai menyanyi.

“Berada di pelukanmu, mengajarkanku apa artiny…” Tiba-tiba saja suara emas Amira berhenti di tengah jalan.
“Ulangi sekali lagi, Amira! Vokalmu terdengar sangat buruk.” Guru Fanny menggebrak meja dengan tongkat besi kecil. Amira tersentak kaget. Lantas, Ia berdeham guna mengatur pita suaranya yang tidak beres, lalu kembali melatunkan lagu Rizky febian Kesempurnaan cinta

“Berada di pelukanmu… mengajarkanku apa artinya kenyamanan”
Guru Fanny kembali menggebrak meja dengan geram. “kenapa vokalmu buruk sekali? kalau kau tidak bisa bernyanyi, jangan harap kau bisa debut secepatnya.” Guru Fanny menatap tajam Amira. Amira menunduk dalam-dalam. Ia menekan jemarinya karena takut dengan tatapan mata guru Fanny.
“Maafkan saya. Saya berjanji akan berusaha melatih vokal saya,” Lirih Amira. Aku menyeringai. Amira sudah tidak lagi, memiliki kemampuan yang memikat hati para guru. Amira melangkah jauh dari guru Fanny, karena penilaian vokal telah usai.

“Janganlah patah semangat! Kau pasti bisa debut secepatnya,” Ucapku pada seseorang yang terduduk lesu di sampingku. Kutepuk pundaknya, dan memasang senyum lebar, seolah aku peduli dengannya. Ia membalas senyumanku. Tapi, senyuman ia tulus, tak sepertiku. Mungkin, ia tidak tahu siapa diriku.

Lantunan lagu hip-hop, bergema di dalam ruangan yang dihuni olehku dan juga teman-temanku. Kuliukan badanku dengan lincah, mengikuti lantunan lagu hip-hop yang diputar di radio. Peluh membanjiri wajahku. Begitupula dengan teman-temanku. Mereka mengatur napas berkali-kali, karena gerakan tarian mereka yang melelahkan.

“Arghh!” terdengar suara rintihan dari Amira. Liukan lincah badannya terhenti. Ia menyentuh sepatu hitamnya sambil meringis.
“Kau baik-baik saja?” Tanyaku pada Amira. ia mengangguk, namun kembali merintih.
“Sepertinya ada sesuatu di dalam sepatuku.” Amira melepas sepatunya. Dan benar. Terdapat beberapa paku yang tersimpan di dalam sepatunya. Darah segar mengalir dari tumit kakinya. Aku yakin, dengan lukanya yang rumayan parah, ia tidak akan lolos di ujian debut ini.

“Amira, apa yang terjadi denganmu?” Guru Saskia mematikan radio. Ia menghampiri Amira yang tengah meringis kesakitan. “Kenapa ini bisa terjadi denganmu?” Tanyanya khawatir. Ia menyentuh kaki Amira yang berlumuran darah.
“Amira, maafkan aku jika perkataanku menyakitkanmu. Melihat kakimu yang terluka, kau tidak bisa mengikuti ujian debut ini,” Ujarnya menyesal.
“Itu artinya… aku tidak bisa debut setelah ini?” Guru Saskia mengangguk lemah.

Amira menatap guru Saskia dengan sedih. “Guru Saskia apa aku masih bisa mengikuti ujian debut? aku sangat ingin menjadi seorang idol,” Tanyanya.. “Aku tidak bisa menyerah begitu saja. Aku harus mewujudkan mimpiku menjadi seorang idol,” Isak Amira. Ia tak mampu menahan air matanya. Guru Saskia yang melihat keteguhan hati Amira hanya bisa menghela napas.
“Sekali lagi maafkan aku. Kau tidak bisa mengikuti ujian debut ini,” Amira meneteskan air matanya sangat banyak. Ia sudah kehilangan impiannya dalam sekejap mata.
Aku tersenyum miring. Amira akhirnya gagal meraih mimpinya. Dan itu membuat hatiku menari-nari.

“Wow, kau hebat sekali Lisa! Kau berhasil mendapat piala The best idol tahun ini,” Puji guru Saskia dengan bangganya. Aku tersenyum tipis. Piala yang kugenggam saat ini, benar-benar terasa seperti mimpi.
“Ini semua berkat dirimu. Tanpamu, aku tidak mungkin bisa menggenggam piala ini,” Ucapku seraya menunjukkan pialaku ke guru Saskia. Guru Saskia mengulas senyum haru.
“Lama tidak berjumpa, si pendek Lisa!” Tiba-tiba, sebuah suara lengking menyapa telingaku. Suara itu terdengar familiar. Spontan, aku menoleh ke sumber suara. Kulihat, si pemilik suara lengking itu tersenyum lebar
“Lebih dari tiga tahun, aku tidak bertemu denganmu! Dan tanganku ini sepertinya merindukan kepalamu itu,” Tanpa seizinku, ia memukul kepalaku disertai cengirannya yang khas. Entah mengapa, aku rindu dengan cengiran konyol khasnya.
“Hei, Amira! Apa kau ingin mati?!” Protesku padanya. Bukannya meminta maaf ia malah tertawa lebar.
“Senang sekali bisa melihatmu lagi,” Ujarnya dengan raut wajah senang. Aku tersenyum kecil. Aku juga rindu dengannya.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? sudah tiga tahun kita tidak bersenang-senang,” Amira menarik lenganku paksa. Anehnya, aku sama sekali tidak memberontak. Aku malah mengikuti dirinya, yang berjalan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila.

“Mengapa kau mengajakku ke sini? Aku sangat tidak suka taman ini,” Ujarku dingin. Kulihat senyuman di wajahnya luntur seketika.
“Hei, pendek! apa yang terjadi denganmu? ini adalah tempat yang paling kau sukai,” Bibirku terangkat miring. Amira benar-benar lupa dengan siapa ia berbicara.
“Itu dulu. Sekarang, aku adalah penyanyi terkenal. Mana mungkin, aku mau bersinggah di taman kumuh ini,” Amira menatap diriku tak percaya. Memang aku salah apa? memang benar taman ini sangat kumuh dan menjijikan.
“Kau benar! taman ini tak pantas untukmu,” Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Oh iya, selamat ya atas kemenanganmu. Kau telah berhasil meraih impianmu, sahabatku.” Ia tersenyum, walau air mata tergenang di matanya. Aku menyeringai. Dianya saja yang bodoh. Masih menganggapku sahabat terbaiknya.
“Apa kau tidak iri, melihat sahabatmu berhasil menjadi penyanyi? sedangkan kau sama sekali bukan apa-apa,” Ucapku dengan angkuhnya. Aku menunjukkan pialaku dengan bangganya di hadapannya.
“Tidak. Justru, aku bangga denganmu. Walau aku gagal debut, tapi sahabatku bisa melakukannya. Dan itu lebih dari cukup untukku,” Hatiku seketika terbakar. Ucapannya barusan, membuat rasa benci di hatiku semakin menumbuh. Bagaimana bisa ia tersenyum, di saat dirinya gagal debut?
Tiba-tiba saja, aku merasa sangat panas, walau udara saat ini terbilang sejuk. Aku pun sudah tak tahan singgah di sini. Kulangkahkan kakiku dan menjauh darinya. Aku muak melihat senyumannya.

Aku terus melangkah dan melangkah, tanpa menyadari ada sebuah truk besar, yang melaju begitu cepat, dan sudah siap menghantamku.
“Lisa, awas!”
Brukk
Aku terduduk terbeku. Darah yang melemuri telapak tanganku, memberikan sensasi yang menakutkan, yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menunduk. Menyembunyikan tetesan air mata yang siap meluncur.
“Maaf,” Aku terisak dalam hati. Kejadian yang baru saja terjadi padanya, membuatku merasa bersalah dengannya.

“Kenapa ini bisa terjadi?” Suara lengking itu terdengar begitu cemas. Aku mendongak, Menatap Rania, si pemilik suara lengking itu yang sedang mondar mandir dengan gelisah.
“Apakah kalian wali dari pasien Amira Muliana?” Aku langsung berdiri, takala seorang pria berjubah putih keluar dari pintu UGD.
“Apakah dia baik-baik saja, dok?” Tanya Rania gusar. Aku melangkah lemas menuju dokter itu lalu menanyakan kabar sahabatku. Seorang sahabat yang rela mempertarukan nyawanya, demi diriku yang hatinya sudah “mati” karena kedengkian dan ketenaran.
“Nona Amira mengalami keretakan di tempurung kepalanya. Dan hal itu menyebabkan, otaknya menjadi tidak terlindung dan menimbulkan pendarahan kecil.” Ujar dokter itu menyesal. Hatiku langsung tertohok setelah mendengar pernyataan dari sang dokter. Yang bisa kulakukan hanyalah mengepal kedua tanganku. Menyesal atas perbuatanku yang menyebabkan Amira sekarat.
“Apakah ia bisa sembuh, dok?” Rania kembali bertanya. Namun, ia lebih khawatir dari sebelumnya.
“Untuk kasus seperti nona Amira, harapan untuk sembuh sangat tidak mungkin. Mengingat, otak adalah organ vital, yang tidak boleh mengalami pendarahan ataupun kerusakan.” Tubuhku seketika lemas. Aku terjatuh lantaran kakiku yang tak sanggup lagi untuk berdiri. Napasku terasa tercekat, hingga bisa membuat air mataku meluncur dengan bebas.
“Tidak, janganlah pergi, Kopi!” Aku bisa mendengar, suara tangis Rania yang begitu pedih. Ia sama halnya denganku. Merasakan luka yang tak kasat mata. Hanya bisa dirasakan di hati, tetapi begitu perih daripada luka di tubuh.

Rania langsung masuk ke ruang UGD, dan kuikuti dia dari belakang. “Amira,” Lirih Rania setelah ia masuk ke dalam. Ia mendekati seseorang yang terbaring lemah, dengan masker oksigen yang menutupi hidungnya.
“Amira, kumohon sadarlah!” Lirihku yang disertai air mata yang berjatuhan. Orang yang kupanggil tak kunjung membuka matanya.
“Lisa, Kau…,” Rania melirik tajam diriku, lalu mendorongku kasar ke dinding. Ia mencengkram kerahku tinggi. Ia mengangkat tangannya, dan siap menampar pipiku. “Andai saja kau tidak memunculkan wajah busukmu, pasti Amira tidak akan seperti ini.” Ia tidak melayangkan pukulannya ke wajahku, melainkan ke dinding. Tapi, dari wajahnya saja aku sudah tahu, kalau ia sedang memendam amarahnya yang mendidih.
“Aku benar-benar minta maaf…, Rania. Ini semua adalah salahku,” Tuturku yang disertai dengan jatuhnya butiran bening dari mataku.
“Maaf?” Tanyanya sinis “Kau pikir, dengan permintaan maafmu itu bisa membangunkan Amira dari tidurnya?” Rania menahan pekikan amarahnya. Ia melepas cengkramannya lalu membuang napasnya sangat kasar.
Tiba-tiba saja, kami terperangah kaget oleh jemari Amira yang bergerak. Lantas, kami mendekat ke arahnya, lalu mengecek alat pendeteksi jantung yang ada di sampingnya. Alat pendeteksi jantung itu menunjukkan, garis yang ke atas dan ke bawah, tanda bahwa Amira masih bernyawa.

“Amira, kau…” Rania mendelik, saat mata Amira perlahan-lahan mulai terbuka.
“Rania…, Lisa…,” Lirih Amira dengan begitu lemah, nyaris tak terdengar. Namun, Rania dan aku masih bisa mendengarnya walaupun samar-samar.
“Amira…,” Aku tak tahan menahan air mataku. Amira tersenyum kecil di balik masker oksigennya. Ia mengusap air mataku dengan tangannya, yang penuh dengan goresan luka.
“Aku sangat senang karena pada akhirnya kita bisa bersama,” Ucapnya dengan nada suara yang kecil, namun masih bisa didengar. Hatiku seakan-akan diserang oleh ribuan paku, sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Bagaimana bisa Amira berkata seperti itu, setelah apa yang kuperbuat padanya? Oh Tuhan, kumohon ampuni aku. Aku telah menjadi seseorang yang kejam pada sahabatku sendiri.
“Amira, kumohon kau jangan banyak bicara. Kondisimu masih lemah sekarang,” Rania menaikan sedikit selimut yang Amira pakai.
“Lisa…, Rania…, aku ingin mengatakan sesuatu dengan kalian,” Ucap Amira.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan,” Sahut Rania.
“Sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, ada satu hal yang kuinginkan dari kalian,” Ucap Rania sambil menatap lekat-lekat kedua wajah sahabatnya.
“Amira, apa yang kau bicarakan?” Tanya Rania khawatir. Aku pun sama.
“Aku ingin kalian semua tetap menjadi sahabatku selamanya,” Tepat saat permintaan terakhirnya, Amira menutup mata untuk selamanya. Mesin pendeteksi jantung pun menampakan garis lurus, dan menimbukan suara yang nyaring.
“Hei, Amira! Kumohon bukalah matamu,” Rania mengguncang kuat badan Amira, seraya mengalirkan air mata di pipinya.
“Amira, jangan tinggalkan aku!” Aku menumpahkan semua butiran bening, yang tertampung di mataku. Ku peluk erat tubuh Amira, yang sudah terbujur kaku dan dingin.

Kini, semuanya telah berakhir dengan tragis.
Aku…, kehilangan seorang sahabat yang selama ini kuabaikan bahkan kutindas.
Aku…, aku…, aku menyesal dengan perbuatanku selama ini.
Andai saja, andai saja aku punya mesin waktu.
Aku ingin kembali ke masa lalu, kemudian menjahit kembali persahabatanku yang sudah kurobek karena keegoisanku.

Aku terus berjalan dan berjalan, hingga aku tiba di ujung atap gedung apartemenku. Menatap langit yang bersinar terang, lalu melihat pemandangan di bawahku. Sangat berbeda. Pemandangan di bawahku penuh dengan orang-orang yang egois, berbeda dengan penghuni langit. Mereka semua adalah orang-orang yang berhati mulia, dan tidak cocok tinggal di muka bumi yang sangat “kotor.”

“Amira… sebentar lagi aku akan mewujudkan mimpimu. Kita akan bersama-sama selamanya,” Aku merentankan tanganku sangat lebar, lalu menikmati angin yang berhembus kencang.
Satu, dua, tiga, dan…
Selamat tinggal popularitas. Berkat dirimu, aku menjadi seseorang yang jahat dan tega melukai sahabatku sendiri.
Ternyata aku baru sadar, kalau yang kubutuhkan itu adalah sahabat, bukan ketenaran. Karena tidak ada artinya kepopularitas seseorang, jika tidak ada orang di sisiku.

Cerpen Karangan: Nur Nadhifa Ramadhani
Blog: Nadhifa14.wordpress.com

Cerpen Terjebak Di Dalam Api merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Terbaik

Oleh:
Kedatangan Mbak Rina adalah warna dalam hidupku. Dia adalah kakak perempuanku. Tiada hari kami isi dengan kisah, ceria dan bahagia. Seperti menghiasi anak kucing dan sebagainya adalah hiburan yang

Sorry

Oleh:
Tawaku mendadak berhenti ketika melihat sebuah nama yang tak asing bagiku mengirim permintaan pertemanan ke akun facebookku. Ia tidak memakai wajahnya untuk dijadikan foto profil. Ia memakai foto seorang

Nggak Beli Lotre Pa?

Oleh:
“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti kemarin dan seperti kemarin lagi dan seperti yang

Surat Yang Tak Tersampaikan

Oleh:
Matahari telah tenggelam. Kini, bulan bersinar terang benderang. Bintang-bintang juga bertaburan diatas langit. Cahaya gemarlap-gemerlip seperti hiasan yang indah nan cantik. Kicauan burung hantu mengalun dengan sendu. Gesekkan daun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *