Tidak Ada yang Bisa Menjawab Selain Mereka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 March 2013

“Morning Guys!!” suara Elsa begitu semangat pagi ini saat memasuki ruang kelas. “Waduh… pagi-pagi ada yang melamun,” sapa Elsa pada Syifa.
Syifa menatap hampa bunga-bunga kamboja yang tertata rapi di pekarangan sekolah.
“Hay friend… kamu kelihatannya sedih,” ulang Elsa.
Syifa tetap saja pada lamunannya. Guratan kesedihan terlihat begitu dalam di wajah Syifa, tidak biasanya ia seperti ini. Syifa yang terkenal sebagai cewek yang kalem and ceria pagi ini keceriannya benar-benar hilang. Sikapnya yang berbeda dari hari-hari biasa membuat teman-temannya merasa heran.

“Syifa, kamu kenapa sih… kok sedih gitu, jelek lho kalo diliat. Please, keep smile friend…!!” ujar Tari.
Syifa berusaha untuk tersenyum namun kesedihannya tetap tidak bisa tertutupi.
“Syifa, kamu kenapa? Bilang dong kalo ada problem, mana tau aku bisa kasi solusi.”
“Ah, nggak kok Tari gak ada apa-apa. I don`t have trouble.”
Yani teman sebangku Syifa datang dengan wajah yang penuh tanda tanya. “Lho Syifa, kamu kenapa?” tanya Yani sambil meletakkan tasnya diatas meja.
“Entah tu Syifa dari tadi diam aja, aku tanya kenapa dia bilang gak ada apa-apa,” sambung Tari.
Jam menunjukkan pukul 07:30 WIB. Bel berbunyi.

Hari ini hari Senin seharusnya upacara tetapi bendera sudah terpasang ditiangnya berarti hari ini tidak upacara. Jam pertama pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Riswan tidak hadir, tugas juga tidak ada diberikan jadi untuk mengisi kekosongan waktu sebagian siswa pergi ke kantin yang tetap di kelas meneruskan kebiasaan buruk mereka yaitu bergosip.
Syifa memang cewek yang beda dari teman-temannya. Jika pada jam pelajaran guru tidak hadir ia mengisi waktunya dengan membaca buku. Setiap hari Syifa selalu membawa buku cerita atau buku apa saja yang menarik baginya dari rumah. Ia digelar kutu buku oleh teman-temannya. Riza teman akrab Syifa dari SMP pernah bilang pada Syifa yang tidak dia sukai dari Syifa adalah sifat Syifa yang terlalu pendiam. Syifa tidak tersinggung dengan hal itu karena dia sendiri yang meminta pendapat Riza tentang dirinya. Syifa senang dengan keterusterangan Riza. Ada ketidaksenangan atas sikap atau sifat seseorang itu biasa. Namanya juga hidup.

“Mengapa mereka menyia-nyiakan waktu yang tersisa? Mengapa mereka tidak selalu berfikir betapa pentingnya waktu. Satu detik saja terlewatkan dengan sia-sia alangkah ruginya,” batin Syifa sambil mengeluarkan sebuah buku novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy dari dalam tasnya.
Baru saja lembaran pertama dibuka Yani mengusik ketenangannya. “Syifa, kamu kenapa dari tadi diam melulu. Please tell me apa yang terjadi?”
Syifa hanya diam.
“Syifa, kamu gitu ya kemarin waktu aku diam kamu sibuk nanya aku kenapa and now kamu diam aku tanya kenapa kamu nggak ada respons.”
“Yan…”
Syifa kembali diam. Rasanya tak sanggup ia untuk berterus terang.
“Syifa please…”
“Aku punya sahabat. Kami berteman sejak kecil.”
Syifa kembali diam dan kali ini ia menangis. Terlalu sulit baginya untuk menangis tapi kali ini ia tidak sanggup untuk mengalahkan rasa sedihnya.

Yani menatap Syifa dengan haru.
Lanjut Syifa, “Aku punya tiga orang teman. Waktu kecil dulu kami selalu bermain bersama tapi diantara tiga itu hanya satu yang jadi sahabat aku. Dia baik, selalu aja ngalah kalo ada masalah and dia selalu sama aku. Ada rasa keharmonisan ketika kami bermain berdua saja. Ibuku lebih senang kalo aku main dengan dia dari pada temanku yang dua orang lagi. Nama dia Sari. Ibunya pernah bilang sama ibuku kalo dia berharap hingga dewasa aku sama Sari bisa tetap mempertahankan persahabatan sehangat itu. Ternyata harapan itu tidak seutuhnya terwujud. Setelah aku tamat SD aku nggak pernah lagi gabung sama mereka. Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda. Kehidupan mereka yang lebih berkecukupan membuatku ingin selalu jauh dari mereka.”
Syifa menarik nafas dan menyeka airmatanya dengan dasi yang ia kenakan. “Now keakraban itu jauh berbeda dari masa kecil dulu. Indahnya masa lalu tak`kan pernah terulang.”
Ucapan Syifa terputus. Ia menatap sudut ruang kelas.
“Syifa sedih karena persahabatan yang sekarang tak seindah yang dulu,” Yani berusaha menenangkan hati Syifa.
“Bukan…” Syifa mengalihkan pandangannya pada secarik kertas diatas meja.
“Jadi apa?” Yani semakin tak mengerti.
“Sari ninggalin aku untuk selamanya.”
Yani diam terpaku.
“Tuhan telah mengambil dua sahabat baikku. Awal Januari Fattia pergi dan hari Sabtu semalam Sari.”
Syifa tidak dapat lagi membendung airmatanya.
“Yani,” Syifa menatap Yani dengan sayu.
“Dua sahabat aku telah menemui Allah, aku nggak tau usiaku sampai dimana mungkin setelah ini aku akan menemui Allah so… aku harap dengan segenap hati maafkan segala kesalahnku.”
“Syifa jangan gitu ngomongnya,” suara Yani serak.
“Sahabat, manusia nggak tau kapan nyawanya akan dicabut dan ajal menemui dia. Semua itu rahasia Allah jadi persiapkan diri untuk menghadapi kematian. Siap tidak siap harus siap. Nggak ada yang kekal di dunia ini semuanya fana yang bernyawa pasti akan mati.”
Kini Yani yang diam. Syifa tersenyum dalam duka.

“Tuhan… terlalu cepat ia pergi. Semua ini bagiku seakan mimpi,” bisik Syifa dalam hati. Ia memandangi layar handphone-nya. Ia baca kembali sms dari Adam yang dikirim pada hari Minggu pukul 02:45 WIB.

“Wlkm slm. Syg k3 juga sedih krn Sari dah ga` ada. Syg jgn sedih lagi ya. Stiap yg hidup pasti akn mati.
Doakn saja dia semoga dapat tempat t`indh di sisi Allah SWT. Amin. Tenangkan hati Syifa. Udh shalat
tahajjud? Kalau belum shalat dulu ya syg… :)”

Air bening itu pun mengalir dikedua pipi Syifa.
Syifa menggoreskan pena dilembaran diary-nya.
Hari Jum`at aku teringat Sari entah kenapa aku bisa seperti itu. Biasanya saja tak pernah. Aku ingin sekali bertemu dia. Aku ingin menanyakan tentang Roby dengan dia. Pertanyaanku tak penting.
“Roby ada bilang apa saja sama Sari tentang Syifa?”
Ah, memang benar-benar tak penting tapi tetap akan ku tanyakan juga pada Sari. Mudah-mudahan aku bisa bertemu dia.
Roby sahabat Sari. Mereka satu sekolah dan sama-sama kelas XI.
Aku belum lama mengenal Roby tapi aku merasa sudah lama mengenal dia. Hadirnya seorang Roby dalam hidupku membuatku semakin mengerti akan arti dari persahabatan. Aku tidak ingin persahabatan ini dikhianati dengan yang lain. Roby hanya sahabat, tidak lebih. Ya Allah jagalah hati ini agar tetap komitmen pada ucapan. Amin…

Tuhan…
Ku kira segala musim adalah musim semi. Ternyata tidak.
Pertanyaan tinggal pertanyaan yang tidak akan terjawab untuk selamanya hingga aku mati. Dia yang ingin ku tanya ternyata telah tiada.
Dua kali sudah aku menerima kekecewaan yang mendalam.
Di awal Januari 2009…
Aku ingin menanyakan sesuatu pada Fattia tentang Adam, hari Senin aku bertemu dia ketika les di Vista. Dia duduk disampingku. Ingin kusampaikan pertanyaanku padanya tapi ku urung. Aku takut. Niat hari Jum`at akan kusampaikan pertanyaanku TAPI… hari Kamis dia telah tinggalkan aku untuk selamanya.
Semua pertanyaan sudah beku. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku selain mereka tapi kini mereka telah tiada sebelum pertanyaan itu terjawab.
Hidup ini bagaikan kabut bagiku. Terlalu cepat ia sirna. Terlalu pedih duka ini kurasa. Tuhan telah memberikan yang terbaik dalam hidup ini dan ini lah yang terbaik.
Sahabat… andai saja di dunia ini segala musim adalah musim semi…

Tapur, 7 Mei 2009. 21:22

Cerpen Karangan: Rabiatul Adawiyah
Blog: http://hazhzhy.wordpress.com
Facebook: Rabiatul Adawiyah

Cerpen Tidak Ada yang Bisa Menjawab Selain Mereka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mau Jadi Sahabat Kamu

Oleh:
Aku mempunyai teman yang bernama Mario. Biasa di panggil Rio. Dulu saat pertama masuk SMP aku deket sama dia. Kami suka bercanda. Kadang kalau dia enggak ngerti pelajaran, dia

Hari Sahabat

Oleh:
Namaku Nisa Mariam Desvita. Aku sering disapa Maria. Usiaku menginjak 11 tahun. Hari ini, hari pertamaku bersekolah di the school girls. Kata Mom, di sana banyak anak yang baik

Please Come Back

Oleh:
Siang ini, panas sekali. Haduuhhh, bisa-bisa aku meleleh, nih, gara-gara panas ini. Menyengat sekali. Aku harus jalan kaki dari sekolah, karena hari ini tak ada yang menjemputku. “ES KRIM!

Kasih Sayang

Oleh:
Hai! Kenalkan namaku keke. Keke anak primary 5. Keke mempunyai kakak bernama tita. Tita elmentry 2. Tita dan keke tidak pernah akur. Setiap hari mereka selalu berantem. Hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tidak Ada yang Bisa Menjawab Selain Mereka”

  1. Christine says:

    Yg jdi pertanyaan sahabat syifa itu meninggal karena apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *