Tumhare Liye (Untukmu)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 July 2017

Kita adalah dua sosok berbeda, yang terlahir dengan sedikit sekali persamaan. Dua sosok yang memiliki arti nama yang sama. Hujan, dia seseorang yang pertama kali aku benci karena kesombonganya. Dan aku, rain, seorang perempuan buta yang kini dapat melihat dunia untuk pertama kalinya. Aku sudah hidup dua puluh tahun tanpa melihat, dan hanya duduk di atas sebuah kursi beroda karena kelainan jantung bawaan. Hidupku hitam, tapi hujan mengguyur warna hitam itu agar hilang.

Pertama kali aku berjumpa dengannya, di sebuah komunitas sosial tunanetra. Ia jatuh tersandung sesuatu tepat di bawah kakiku. Aku yang hendak menolongnya, naas hardikannya yang aku dengar saat itu. Ia sangat rajin mendatangi komunitas sosial itu. Hampir seminggu dua kali, ia meluangkan waktunya. Ia pandai bermanis-manis ria berdongeng untuk kaum-kaum tunanetra bawah umur. Denganku? Tidak, bahkan dia hobi sekali marah-marah tak jelas, entah apa maksudnya.

Siang itu dia datang lagi. Ia membawa banyak balon-balon yang katanya berwarna biru dan merah muda. Aku tidak tahu seperti apa itu warna biru, desisku.
“Jika kelak kau dapat melihat, kau akan melihat warna biru yang indah di pagi dan siang hari. Melihat jingga saat senja, tepat di atas kepalamu” suaranya, suaranya mendekat ke arahku.
Aku tersenyum kecil, ini, kali pertama nada bicaranya rendah setelah sebulan aku mengenalnya.

“Kau akan melihat segalanya. Berdoalah, agar itu tercapai” suaranya kembali terdengar ketus.
Aku memutar kursi rodaku. Hendak pergi, hingga sebuah tangan menghalangiku.
“Kau masih takut ke luar rain? Kau hanya berani ke luar tengah malam. Bukankah begitu?” aku tertegun, kenapa ia bisa tahu? Jangan-jangan dia hobi membuntutiku selama ini.
Aku mendesah kuat, “Memangnya apa urusanmu? Bagiku setiap waktu adalah malam, gelap dan hitam. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bentuk matahari, dan seperti apa itu langit?” teriakku, aku merasakan pipiku mulai basah karena ini.

Ia seperti berlutut di kakiku. Dan mulai bercerita, “Aku pun sangat mencintai malam, meski namaku hujan, terkadang aku tidak suka hujan. Hujan menghadirkan banyak petir, dan sedikit pelangi. Malam, aku amat menyukai bintang. Dan bintang itu bernama sirius. Beberapa orang tahu, sirius adalah bintang yang paling terang”
“Seperti apa itu benda yang kau sebut bintang? Apa dia bulat?” tanyaku.
“Tidak, di langit dia berbentuk seperti titik kristal berwarna putih dengan sinar pantulan dari bulan. Sewaktu sekolah dasar, aku sering menggambarnya seperti penyatuan tiga buah segitiga sama kaki yang memiliki lima sudut lancip” jelasnya. Ini adalah kalimat terpanjangnya ini adalah kalimat terpanjangnya saat bicara padaku.

Kami seperti menjadi sangat akrab semenjak itu. Hujan selalu membawaku, berkeliling ke mana pun. Menjelaskan semua hal yang ia lihat dari matanya agar terlihat oleh batinku.

Tiga bulan berlalu. Aku sangat jarang bahkan tak pernah mendengar dan merasakan lagi kedatanganya ke komunitas sosial kami. Padahal hari ini adalah ulang tahun ke enam komunitas tunanetra ini. Anak-anak terdengar sangat gembira menyanyikan lagu-lagu. Hingga sebuah jemantik jari memetik di depan wajahku. Aku hafal, itu dia. Sepupuku bya, seperti biasanya ia selalu memelukku dari belakang.
“Ada donor mata untukmu rain” bisiknya.
Wajahku sumringah, tak sabar ingin melihat dunia, dan wajah seorang hujan.

“Di mana hujan?” tanyaku sebelum pencakokan terjadi.
Aku tak mendengar jawaban hingga aku mengulangnya. Bya mengatakan hujan pasti hadir.

Operasi berjalan lancar, bukan hanya mataku, tetapi juga jantungku. Pertama kalinya setelah dua puluh tahun aku kembali melihat sepupuku bya. Seorang wanita paruh baya yang kulihat terakhir saat berusia satu tahun, mama. Mama dan bya memeluku erat. Namun tak ku lihat dengan mata baruku seseorang yang kupanggil hujan.

Hari ini, hujan menguyur bumi dengan banyaknya guruh. Aku masih tak beranjak semeter pun. Baju putihku hampir tertutup sempurna dengan lumpur. Mataku benar-benar tak berhenti menangis sejak tadi.
Bya mengajaku ke sebuah tempat, karena aku memaksanya untuk memberitahu di mana hujan. Mataku tertegun saat melihat, bya mengajaku ke sebuah area pemakaman.
“Keluarga pendonor yang semula akan mendonorkan mata dan jantungnya untukmu, membatalkan niatan itu secara mendadak. Di saat yang sama hujan mengalami kecelakaan besar, motor yang ditumpanginya tertabrak bus. Aku bertemu denganya di rumah sakit sore itu, sebelum kau dioperasi. Ia memintaku melakukan ini rain” jelas bya.

“Aku mampu melihatmu jelas melalui pantulan cermin ini. Aku dapat melihat dengan matamu. Aku sadar yang sadar yang kau bilang bintang sirius penerang malam itu ternyata kau hujan. Kau siriusku, sesuatu yang biru kala siang, dan jingga saat senja di atas kepalaku itu, langit. Kau tetap hidup dan menyatu bersamaku karena itu kita memiliki arti nama yang sama, dan aku sadar yang kau bilang bintang sirius penerang malam itu ternyata kau hujan. Kau siriusku, sesuatu yang biru kala siang, dan jingga saat senja di atas kepalaku itu, langit. Kau tetap hidup dan menyatu bersamaku karena itu kita memiliki arti nama yang sama, seperti saat ini. Percikan hujan yang mengguyur bumi, dia menghidupkan seperti dirimu yang menghidupkan aku”
– rain –

– aku –
“Sesuatu yang besar terkadang hanya dapat dirasakan tanpa terlihat”

Cerpen Karangan: Dwi Kusuma Wardani Purnomo
Facebook: Dwi Kusuma Wardani Purnomo

Cerpen Tumhare Liye (Untukmu) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepenggal Kisah dari Palestina

Oleh:
Hai, aku adalah seorang anak yang hidup di Palestina. Seperti yang kalian tau, kami hidup di tengah peperangan. Keluar rumah adalah hal yang menakutkan bagi kami. Kami tidak bisa

Permintaan Terakhirku

Oleh:
“Ade tolong panggilin ka seno, cepat” pinta mamaku dengan nada agak marah, “iya mah” jawabku, lalu aku beranjak dari sofa dan berhenti baca komik kesukaanku dan mulai menaiki anak

The Tuesday

Oleh:
Pernah merasa seperti di atas awan? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak

Rain and I

Oleh:
Namaku Allison Rain. Panggil saja Rain. Entah apa yang membuat orangtuaku tertarik memberiku nama seperti itu. Aku rasa aku adalah gadis yang paling tidak beruntung. Aku hidup dalam penderitaan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tumhare Liye (Untukmu)”

  1. supriyono says:

    baru pertama bisa melihat kq langsung bisa baca dan menulis ya,,,apa sebelum ia bisa melihat apa dia pernah sekolah dulu atau cerita ini di tuliskan oleh seseorang???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *