Ucapan Terakhir Di Ulang Tahunku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 June 2016

Bel alarm berbunyi dengan keras, aku terbangun dari tempat tidurku segera beranjak menuju ke dalam kamar mandi. bersiap untuk segera ke sekolah, setelah beberapa menit di kamar mandi aku pun keluar dan segera bersiap siap. memakai seragam yang sudah disiapkan bibi inah tadi. aku melihat diriku di kaca dengan senyuman kebahagiaan tak sadar bahwa hari ini adalah ulang tahun ku yang ke 17 tahun aku melihat dengan jelas diriku di kaca. aku menyimak diriku yang kini sudah berusia 17 tahun. aku tersenyum lebar di kaca memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada diriku. tiba-tiba darah mengalir dari hidungku, aku segera menghapusnya mencoba meyakinkan diriku bahwa aku akan baik baik saja hari ini meski hanya hari ini.
“tuhan, biarkan aku merasakan kebahagiaan hari ini meski hanya hari ini paling tidak aku bisa tertawa bahagia bersama orang orang yang ku sayang” ucap batinku

Aku segera bersiap, aku meyakinkan diriku bahwa hari ini aku akan baik baik saja. aku mengambil tasku, dan turun menuju ke ruang makan. dengan suasana hati yang senang dan penuh bahagia sesaat setelah aku samapi di ruang makan, aku tak menemukan siapapun di ruang makan. benar benar sepi dan tidak ada orang satu pun.
“dimana semua orang?” tanyaku dalam hati.
Aku mencari kesetiap sudut ruangnya, tapi aku tak menemukan siapapu terkecuali bi inah yang sedang memasak di belakang.
“bi?”
“iya non?”
“dimana ibu dan ayah? sejak tadi aku tidak melihat mereka?”
“oh nyonya dan tuan sudah pergi sejak tadi pagi non, katanya ada meeting di luar kota dan baru akan kembali besok”
“apa?”
Jawaban bibi membuatku terkejut, sekaligus sedih. apa yang mereka pikirkan? meeting di luar kota? mereka melupakanku begitu saja. apakah mereka tak ingat ini adalah hari ulangtahun ku.
“ada apa non? apakah ada lagi yang non butuhkan?”
“enggak ada kok bi, yaudah kalau gitu saya pamit berangkat ya bi”
“iyah hati hati non”

Aku meninggalkan, bibi dengan langkah perlahan melihat seluruh ruangan rumah dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. hatiku, begitu kacau dan kecewa. aku harus merayakan ulang tahunku sendiri tanpa ibu dan ayah.
Namun, tak berpikir lama aku kembali tersenyum.
“tak apa, meski ibu dan ayah tak ada. paling tidak teman teman pasti akan menemaniku merayakan ultah bersamaku.” senyumku.

Aku segera beranjak menuju ke luar rumah, dan segera masuk ke dalam mobil. ku kendarai mobil dengan laju yang cepat. rasanya ingin sekali aku cepat sampai di sekolah dan menyapa semua temanku.

Setelah, beberapa menit melewati kota Jakarta yang cukup macet akhirnya aku sampai di sekolah. aku segera memakirkan mobilku dan segera turun. aku memasuki lorong sekolah dengan langkah yang riang. entah mengapa aku ingin cepat cepat bertemu semua sahabat dan temanku.

Aku terus berjalan, melewati setiap kelas hingga akhirnya aku sampai di kelas. aku masuk kedalam kelas dengan wajah gembira. ku temukan rezza, jas, rini dan didin di pojok kelas. mereka sedang asik mengobrol. aku segera menghampirinya dengan sebuah senyuman yang lebar.
“hai semua” ujarku dengan tersenyum.
Aku pun segera duduk di samping rini.
“hai mut..” ucap mereka dengan wajah jutek. entah apa yang ada dipikiran mereka, tetapi mereka malah mengacaukan moodku hari ini. mereka hanya menyapa ku dengan jutek. mereka segera kembali ke tempat mereka masing masing dan meninggalkanku. rini pun langsung menatap memperbaiki posisi duduknya ke arah depan dan segera mengambil handphonenya. tak ada, respon sama sekali dari mereka?
Apakah mereka lupa akan hari ini?
Aku hanya terdiam menatap teman temanku.

Air mata mengalir dari mataku namun aku segera menghapusnya. rini yang sedang memainkan handphonenya segera bertanya “ada apa? kok kamu nangis?” ujarnya dengan jutek.
Aku hanya tersenyum, memastikan bahwa aku baik baik saja.
“gak papa kok, aku kelilipan aja tadi bukan nangis”
“oh”
Ujarnya dengan sangat jutek. rini pun kembali memainkan handphonenya. seketika bel pun berbunyi. pelajaran pun dimulai dengan sangat tenang dan sunyi.

Setelah beberapa jam berlalu bel istirahat pun berbunyi.
Aku memasukan buku buku ku ke dalam tas. aku, masih tetap menunggu ucapan yang akan mereka lontarkan padaku. tetapi hasilnya tetap sama. mereka tak mengucapkan apapun padaku. aku beranjak dari tempat ku. aku mempercepat langkahku menuju ke luar kelas namun sesaat aku akan ke luar kelas jas memanggilku dari belakang.
“Mut?”
Tanpa menatapnya, aku pun menjawab.
“ada apa?”
“mau kemana?”
Entah mengapa pertanyaan itu menusuk, aku segera beranjak keluar dengan air mata yang sudah terjatuh. aku segera berlari ke arah taman aku segera duduk. meyakinkan lagi bahwa diriku baik baik saja. entah, apa yang mereka pikirkan tentangku. ibu, ayah, teman teman? tak ada satu pun yang mengucapkannya padaku?
Merayakan ultah sendirian dengan air mata?

Air mata semakin mengalir deras, seketika aku merasakan kepala ku terasa pusing tatapan yang tidak terkontrol. Darah segar yang mengalir dari hidungku membuatku terkejut. aku segera duduk dan mencoba menguatkan diriku.
“Jangan sekarang tuhan, jangan sekarang biarkan aku merasakan hari ulangtahunku dahulu bersama orang yang kusayang.” ucapku batinku.

Air mata yang mengalir dan darah yang terus mengalir membuatku semakin tak beraturan namun aku tetap yakin pada teguhku aku akan baik baik saja hari ini. aku menghapus darahku dengan tissue. aku segera beranjak ke dalam kelas dengan wajah pucat pasi. aku masuk ke dalam kelas dengan pandangan yang tidak jelas aku segera duduk di bangku. untung saja tak ada satupun di kelas. aku memejamkan mataku sejenak. setelah bebrapa menit bel bunyi pun terdengar aku segera membuka mataku. kepalaku terasa sangat pusing. wajahku semakin pucat. aku mencari tasku.
Sesaat aku sedang bersiap siap jas, rezza, didin dan rini masuk ke dalam kelas dengan wajah yang heran saat menatapku. jas melihatku dengan terkejut jas segera menghampiriku.
“ya ampun, mut kamu kenapa? muka kamu pucet banget?”
“gak papa kok” senyumku
“kam sakit mut?” Tanya rezza dengan jutek
Entah mengapa, mereka masih bersikap jutek padaku. kumaklumi sikap mereka yang jutek aku tetap memastikan diriku bahwa aku baik baik saja.
“beneran gak papa?” Tanya jas kembali
“gak papa kok jas,”
“ya udah sih jas kamu denger kan dia bilang gak papa”
“tapi…”
“aku gak papa jas! yaudah aku pamit pulang duluan yah”
“kamu yakin bawa mobil sendiri? gak mau aku temenin”
“gak usah jas gak papa”
“mut kamu yakin?”
“jas udah aku bilang gak papa kan”
“ya udah sih jas kamu takut banget mut gak akan kenapa napa”
“iya bener kata rini “ujar didin
“ya udah kalo gitu aku pamit pulang yah, din za rin jas aku pamit.” senyumku.

Kepedulian mereka yang hilang membuatku semakin hancur, entah apa yang mereka lakukan padaku. hingga membuat ku seperti itu. aku segera beranjak kulangkahkan kakiku segera. aku berjalan dengan sisa kekuatanku.
Aku segera beranjak menuju mobilku, aku masuk ke dalam mobil dan beranjak menuju ke rumah sakit.
Setelah, aku sampai di rumah sakit aku segera masuk ke dalam ruangan dokter. dokter yang selama ini sudah menjadi dokter pribadiku.
“silahkan duduk mut”
“terimakasih dok”
Dokter itu tersenyum menatapku,
Entah apa yang dipikirkannya ia menatapku dalam dan tersenyum padaku.
“ada apa dok?” tanyaku heran
“apakah kamu akan melaporkan hal yang sama?”
“iya, dokter juga tau akan hal ini. saya rasa saya gak perlu bicara terlalu panjang”
“kamu yakin dengan keputusanmu? jika kamu tidak segera dioperasi kamu”
“saya tau dok saya tau.. biarkan saya memilih jalan saya. saya kesini hanya untuk meminta obat saya”
“obat hanya akan membuat kamu bertahan sementara”
Aku hanya tersenyum
Dokter itu pun menyerah dan segera memberikan obatnya.
“terimaksih dok.”
“sama sama” senyum dokter itu
“ya sudah kalau begitu saya permisi”
“mut”
“iya dok ada apa lagi?”
“selamat ulang tahun semoga allah selalu memberikan hari yang baik untukmu”
“terimakasih dok atas ucapan dan doanya. saya permisi”
Aku segera beranjak keluar dari ruangan.

Langkah ku, begitu pelan entah apa yang kulakukan hari ini. untuk menghabiskan waktuku. waktu masih menunjukn pukul 3 sore.
Aku berpikir apa yang akan kulakukan untuk menghabiskan waktuku. aku menatp obatku menatap setiap obat yang ada di dalamnya.
“tuhan biarkan aku bahagia meski hanya detik ini meski hanya dengan caraku sendiri”

Aku segera beranjak ke luar rumah sakit, entah sudah berapa lama aku di dalam rumah sakit hingga waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. aku segera beranjak menuju ke rumah berharap ada sesuatu yang membuatku di rumah entah ibu ayah teman teman atau siapapun itu.

Perjalan kota Jakarta yang begitu padat membuatku terjebak macet, setelah beberapa menit aku sampai di rumah. hari sudah mulai malam waktu sudah menunjukan pukul 8.
Aku turun dari mobilku langkah ku semakin perlahan palaku semakin terasa pusing.
Aku menatap obatku dan tersenyum.
Aku masuk ke dalam rumah, wajah yang pucat pasi kondisi yang semakin melemah membuatku sulit untuk menatap ke arah depan.
Hingga akhirnya, aku sampai di depan rumah.
Rumah tampak sepi, ibu ayah? kalian benar benar melupakan ulang tahunku.
Aku membuka pintu, kutatap semua ruangan dengan kegelapan. ada apa ini? mengapa gelap. dimana bibi dan pak supir. mengapa rumah begitu sepi?.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perlahan
Baru aku ingin menyalakan lampu rumah. ternyata…

Ibu, ayah, rini, didin, reza dan jas mengejutkanku dengan sebuah kejutan mereka.
“selamat ulang tahun mut”
Ucap mereka dengan seksama. aku menagis terharu dengan kejutan yang mereka berikan air mata mengalir bahagia. aku memeluk ibu dan ayah dan aku memeluk teman temanku.
“terimakasih atas semuanya”
“maaf yah tadi kita jutekin kamu, karena emang sengaja kita mau buat surprise ini ke kamu” ujar rezza
“maafin ayah sama ibu juga yah udah bohong sama kamu”
“ternyata yah kalian ih..”
“ciyee yang ulang tahun, selamat ya mut semoga allah selalu ngasih yang terbaik buat kamu. segala yang diimpikan tercapai pokoknya wish you all the best deh” ucap didin
“thanks yah buat kalian. aku seneng banget” senyumku
Tiba tiba jas menghampiriku dengan membawa setumpuk Bungan dengan kartu ucapannya.
“selamat ulang tahun mut, semoga allah selalu memberikan yang terbaik untuk kamu. Semoga selalu bahagia”
“thanks jas”
“ini ada bunga buat kamu maaf gak bisa kasih lebih tapi semoga ini berharga buat kamu.”
“thanks jas, aku suka banget kok”
“mut?”
“iyah jas?”
“aku boleh jujur gak sama kamu?”
“apa jas?”
“sebenernya dari awal aku udah suka sama kamu sayang sama kamu. aku mau kamu jadi bagian dari kehidupan aku. kamu mau kan kita bahagia sama sama sampai nanti?”
“bahagia sampai nanti?” tanyaku
“iya bahagia sampai nanti mut kamu mau kan?”
aku menatap obat yang ada di tanganku. aku tak bisa meyakinkan hatiku bahwa aku akan bisa bahagia bersama jas hingga nanti.
“jas? aku…”
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, palaku terasa pusing darah mengalir sangat banyak dari hidungku.
Aku terkejut, aku kesal mengapa semua ini terjadi mengapa harus disaat seperti ini mengapa?
“mut? kamu kenapa? kamu?” ucap jas
Mereka panik saat melihatku, entah mengapa pandanganku begitu tidak jelas kepalaku semakin terasa sakit. hingga akhirnya aku terjatuh ke lantai.
“mut” teriak jas
Ayah segera menghampiriku, air mata yang mengalir dari setiap tatapan mereka membuatku sedih mengapa harus saat ini mengapa?
“apa yang terjadi sama kamu nak?”
Rezaa menatap obat yang ada di sebelahku rezza membaca semua yang tertulis dalam obat dan catatan itu.
mereka membaca seluruh isi yang ada pada catatan dokter itu.
Semua telah terbongkar,
“mut jadi kamu selama ini?”
“kita ke rumah sakit ya sayang “ujar ibu
“ibu akan panggilkan supir sebentar”
“bu, jangan. aku gak papa”
“mut tapi kamu” ujar rini
“kalian semua jangan panik aku gak papa”
“gak papa gimana mut? selama ini kamu menderita penyakit gagal ginjal mut. kamu masih bilang gak papa?”
“aku gak papa jas aku gak papa”
“jas?”
“iya mut?”
Air mata mengalir deras dari mata jas, entah mengapa aku begitu sakit saat melihatnya.
Namun aku mencoba menguatkannya.
“jas jangan pernah nangis yah, maafin aku karena gak akan bisa nemenin kamu lagi nanti gak akan bisa nemenin hari hari kamu lagi. za, rin, din maafin aku juga yah karena gak akan bisa nemenin kalian lagi. ibu, ayah? maafin aku karena gak bisa lagi ada buat kalian”
“mut kamu ngomong apasih kita semua gak mau kehilangan kamu mut” ujar rini
Air mata begitu deras mengali suasana begitu sunyi.
“sepertinya memang aku sudah harus pergi terimakasih untuk semuanya. jas? aku sayang juga sama kamu tapi maaf aku harus pergi jas maafin aku. aku sayang kamu… Jas”
Ucapan terakhir, yang terlontar membuat mereka menangis sangat menyesal. jas memeluk mut sangat erat air mata dan rasa sesalnya tak mampu menahan kesedihannya.

Cerpen Karangan: Mutyaa Zulmyy
Facebook: mutyaa zulmyy
Biar lebih tau soal gue bisa di Look disini yah teman,
Ig; naneun_mutyazulmi_imnida
Thanks !

Cerpen Ucapan Terakhir Di Ulang Tahunku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Deja Vu

Oleh:
Hujan menangis. Seperti itulah aku memikirkan hujan kali ini. Derasnya menumpah tepat beberapa detik setelah aku dan orang-orang menguburkan diriku dalam liang yang tanahnya kini menjadi becek dan berair.

Adakah Bahagia Untukku? (Part 3)

Oleh:
“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya. “Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann, “tunggu dulu!” Dia pun

Memories

Oleh:
Gadis itu masih terus menatapi layar ponselnya,berharap layar itu akan menampilkan sebuah pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang saat ini sedang ditunggunya.Gadis itu Tiffany,masih setia duduk di salah

Kebahagiaan Yang Hilang

Oleh:
Hari ini aku bangun pagi pagi sekali karena hari ini ayahku berulang tahun yang ke 34, aku adalah anak tunggal, aku mengetuk pintu kamar ibuku dengan sangat pelan takut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *