Ucu, Aku Sudah Capek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 May 2017

Di suatu pagi, seorang wanita masuk ke dalam kelasnya dan bergabung bersama teman-temannya, dia pun bercerita cerita sama temannya.
“Oh nad, nad”
“Ada apa?” Jawab Nadia.
“Kok perutku sama kakiku masih sakit aja ya, padahal aku terus minum obat menjaga makananku, tapi penyakitku masih saja kambuh dan ini sakit sekali,” Ujarku sambil menahan sakit.
“Periksa ke Rumah Sakit yang lebih bagus aja mus, langsung discaning biar tau penyakitmu, nanti ada kejadian kedua kali di kosmu,” Ujar Nadia.
“Maksudmu apa nad?” Tanyaku pada nadia.
“Kemarin kan teman kosmu ada yang meninggal, kata saudaraku kalau ada orang yang meninggal hari sabtu biasanya itu membawa yang lain,” Ujar Nadia dengan nada yang tinggi.
Diam…
Dalam hati, kok setega itu ya nadia ngomong
“Oh… begitu ya, nad? Ah… rasaku itu tidak betul. Karena aku tidak ada hubungan dengan temanku itu,” Ujarku pada Nadia dengan hati kecewa.
“Iya loh mus kata nenekku seperti itu,” Ujar Nadia lagi.
“Sudalah nad, jangan bahas itu lagi.” Aku berpindah duduk

Saya mengerjakan tugas dan melupakan perkataan Nadia. Di saat saya mau bertanya kepada Dosen, saya tiba-tiba batuk dan mau muntah. Disitu mereka teman saya tidak ada yang membantu saya saat saya terbaring, malah orang yang saya kira membenci saya mereka yang membantu saya.
Pada saat itu saya menangis bukan karena kesakitan, karena saya buka mata saya tidak ada teman saya satu pun di samping saya. Dan yang mengantarkan saya ke rumah sakit adalah orang yang kemarin menangis karena saya.

Pada siang hari, dimana teman saya sudah pulang kuliah dan mereka datang ke Rumah Sakit. Awalnya saya senyum karena senang melihat mereka datang melihat saya, tetapi si Nadia langsung bicara tanpa menanya keadaan saya.
“Assalamualaikum, kami naik becak loh mus, uang kami tidak ada lagi,” ujar Nadia tanpa saya tanya.
Awalnya saya diam sambil berkata dalam hati ‘ya allah kuatkan hamba’
“Oh iya, nad jadi gimana dosen tadi, lanjut belajar kalian kan?” Ujar saya sambil memindahkan pembicaraan.
“Lanjut mus, itulah mus kata si Putra kok enggak kau bantuin kawanmu sakit tadi, ku jawablah kan sudah ada yang lain bantu, kami kan presentasi makanya gak bisa bantu,” Jawab Nadia dengan wajah datar tanpa rasa malu.
“Oh… iya nad, tidak papa nad”. Dalam hati sabar
Mereka bercerita cerita dan akhirnya sudah sore hari mereka pulang.

Keesokan harinya orangtua dan saudara musda datang ke rumah sakit dan Musda pun menceritakan semua yang terjadi.
“Ucu, cu”
“Iya dek, ada apa? Jawab ucu saya”
“Aku capek, sangat capek… aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedangkan temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek… aku mau menyontek saja! Aku capek, sangat capek.”
Wanita itu pun terus melanjutkan keluhan kepada ucunya.
“Aku capek, aku capek cu karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedangkan temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.”
“Ya…”
“Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenak saja bersikap kepadaku.”
“Hmm…”
“Aku capek cu, aku capek menahan diri… aku ingin seperti mereka… mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka Ucu!”
Musda pun mulai menangis. Kemudian ucunya hanya tersenyum dan mengelus kepala keponakannya.

“Sabarlah dek, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan,” Ujar ucunya.
“Tapi cu, aku sangat capek dengan duniaku seperti ini, tiada satu orang pun mengerti diriku, sampai kapan aku terus yang mengertiin mereka, aku capek cu,” Ujarku sama ucu sambil nangis.
“Ingatlah dek, bukankah orangtuamu sangat sabar untuk menyekolahkanmu walau baginya sangat sulit untuk dijalani dan mereka tidak akan pernah berkata capek kepadamu… Kau harus sabar saat temanmu seperti itu samamu, yakinlah kau akan mendapatakan kemenangan setelah apa yang terjadi saat ini,” Ujar ucunya sambil meyakinkan musda.
“Oh… iya cu, musda akan lebih sabar lagi menghadapi kehidupan ini walau terasa pahit sekali, dan untuk saat ini biarlah menahan diri dulu,” Ujarku dengan wajah datar.

Kehidupan tak selalu sesuai dengan rencana karena jika apa yang kita inginkan selalu terwujud, maka kita tak akan pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan…

Sekian dan terimakasih…

Cerpen Karangan: Musdalifah
Facebook: musdealiefah.nuris
Ig: @musdalifahsarifah
Twet: @musdalifah_sari
Alamat: Kec. tanjung tiram, kab.BatuBara
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Fakultas: Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan: Bimbingan dan Konseling
Semester: V

Cerpen Ucu, Aku Sudah Capek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Find My Best Friend

Oleh:
“Halo, cumay apa kabar?” tanya gue tentang kabar dirinya melalui pesan singkat sms, lalu dia membalas “gue baik lu apa kabar Lis, sudah lama ia kita gak bertemu” balas

Cup Cake

Oleh:
“Vyn, aku punya sesuatu untukmu”, Arin memberikan satu bungkus cup cake yang telah dibungkusnya dengan cantik menggunakan sebuah kotak berbentuk love “Apa ini, Rin?”, jawab Kelvyn, membuka kotak itu

Kehilanganmu

Oleh:
Air mataku menetes ketika ku dengar kabar itu, aku nggak pernah menyangka dia akan pergi secepat itu meninggalkanku, pergi untuk selamanya. Pergi dengan tanpa kata, hanya dengan senyum simpul

Tara

Oleh:
Setahun yang lalu… Hari pertama masuk sekolah setelah MOS di SMAN 21… Pelajaran fisika. Seorang guru muda masuk ke sebuah kelas. “Selamat pagi anak-anak. Baiklah sebelum kita mulai pelajaran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ucu, Aku Sudah Capek”

  1. Dinbel says:

    Bagus & menarik ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *