Ukir dan Tono

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 January 2014

Dua sahabat Ukir dan Tono, ikatan persahabatan mereka begitu erat semenjak 3 tahun terakhir dari mulai awal masuk SMP hingga kini sudah lulus, meski banyak perbedaan di antara mereka, keduanya enggan untuk berselisih paham, apalagi sampai menjadi konflik. Ukir menerima kekukarangan Tono dan begitupun sebalik nya.

Suatu ketika Tono mendapat cobaan yang berat, nenek yang merawatnya semenjak bayi hingga sampai detik ini, akhirnya meninggalkan Tono untuk selama lamanya lantaran penyakit jantung yang diderita nenek. Tentu saja Tono begitu kehilangan dan sangat terpukul atas kenyataan ini. Dan disaat kondisi seperti inilah peran ukir sebagai sahabat ia buktikan dengan terus menghibur Tono yang tengah dirundung duka.

Suatu hari tanpa bekal uang yang cukup Tono dan ukir nekat pergi ke jakarta untuk cari kerja. Satu minggu berselang uang mereka habis, sedangkan pekerjaan belum mereka dapatkan, kondisi seperti ini pun menghimpit kesadaran Tono untuk berbuat nekat demi menyambung hidup.
“No, jangan No!” ucap ukir seraya memegang tangan Tono erat serta raut wajah penuh harap
Tono menatap mata ukir dengan kepalanya yang terus menggeleng, hampir saja Tono menyerah untuk menuruti apa yang tak diinginkan Ukir, namun sontak hatinya mengatakan “rasa lapar ini lebih kejam dari apa yang akan loe lakuin”.

Mereka pun akhirnya sama sama masuk ke dalam metro mini, menarik keluarkan nafas Tono lakukan demi menenangkan jantung yang berdegup tak beraturan, sesekali ia mengingat nasihat nenek “orang hidup harus punya tujuan, janganlah pernah meratapi diri” ungkap nenek kala itu.
“Kir, lo tetep aja duduk, awasi mata orang yang curiga sama gua”. Perlahan Tono bangkit dari duduknya di sebelah ukir, rasanya penumpang metro mini kali ini tidak terlalu sepi juga tidak banyak, yang terang, sosok ibu yang berdiri dengan tasnya yang sedikit terbuka itulah yang menjadi tujuan Tono tuk berdiri di sebelahnya,
satu pasang mata curiga luput dari pantauan ukir
“gerak gerik anak itu benar benar mencurigakan”, bisiknya pada sesama penumpang lain
“tenang, kita tangkap basah dia kalau sudah beraksi”, jawab orang yang dibisikan.

Perlahan tangan Tono menjamak tas seorang ibu yang berdiri membelakanginya, terus tangannya beranjak hingga menyentuh dompet yang ada dalam tas yang sedikit terbuka itu, pelan pelan ia keluarkan, setelah dompet benar benar berpindah alih ke tangannya lalu diumpatkannya di balik baju, segera ia mengedipkan mata ke arah Ukir, dan ukir tau kode itu.
“tok tok tok!” dari belakang ukir mengetuk atap pintu metro mini, metro pun berhenti, ukir tak lagi menoleh ke arah Tono, supaya tak ada yang curiga.
Ia melangkahkan kaki keluar dari metro, setelah turun, seseorang yang dinantinya menyusul keluar tak kunjung menampakkan diri
“gimana sih Tono”, batin Ukir.

Riuh gemuruh terdengar dari dalam metro yang baru ia tinggalkan, semakin riuh serta pelampiasan tangan yang geram begitu jelas ia dengarkan, sejuta tanda tanya hinggap di kepalanya detik itu juga, hingga ia pun tak kuasa untuk melangkah kembali ke dalam metro yang belum enggan beranjak
“apa ini”, ukir terus menggelengkan kepalanya
kerumunan orang yang memburu satu sosok semakin membuat ukir penasaran, dan apa yang ia takut serta kawatirkan itu pun terjawab.

Pukulan itu, suara kebencian amarah yang keluar itu, kebrutalan mereka yang mereka tak tau siapa dia, untuk apa ia lakukan, mereka hanya mau tau satu kata “itu adalah maling yang harus segera dihancurkan!”.

Mereka tak tau hatiku begitu teriris, menyaksikan kebiadaban kalian sedang aku tak tau harus berbuat apa melihat sosok yang telah aku anggap lebih dari saudara, ia tengah terkapar tak berdaya, isak tangis perihnya amat begitu aku rasakan hingga aku pantas untuk mengeluarkan seluruh air mata yang ku pendam.

Wahai sahabat, maafkan aku tak bisa menghalangi mereka yang mencoba menghancurkan mu, aku berjanji darah mu yang menempel di lengan bajuku, tak akan pernah kucoba untuk menghilangkannya, dan ini akan aku tunjukan padamu nanti jika kamu kembali seperti sedia kala

Tuhan tau, Tuhan mendengarkan isak tangismu menahan perihnya kulit yang tersobek karena ulah mereka
“Tono, lo harus kuat No!”. Kalimat itu menjadi penutup kata terakhir Ukir yang terdengar di pendengaran Tono yang berangsur melemah hingga tak kuat lagi untuk tidak memejamkan mata.

Cerpen Karangan: Aris Munandar
Facebook: Aris gauze
Aku Aris munandar dari natar lampung selatan, pendidikan terakhir di SMA plus muhammadiyah natar angkatan 2011

Cerpen Ukir dan Tono merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekolah Terakhir

Oleh:
Aku memandang langit yang tampak mendung pagi ini. Kebetulan, hari ini adalah awal kami masuk SMP. Aku dan Nala begitu bersemangat mempersiapkan segala keperluan murid SMP. Aku dan Nala

Pengorbanan Ibu

Oleh:
Wanita separuh baya asik mengeruk sampah dan dimasukkan di dalam tas Plastik hitam besar miliknya. Dengan penuh pengorbanan melawan panasnya matahari hari ini dan pulang saat Senja tiba. Keringatnya

Kado Untuk Jessica

Oleh:
Bel tanda masuk telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Jessica berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Bunyi derap sepatunya seolah membahana di koridor sekolah yang sepi. Saat tiba di depan kelas,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *