Untukmu Raisa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 March 2013

“Raisa!” panggilku. Raisa pun menoleh ke belakang.
“Eh, Rika” jawabnya.
“Raisa, Rasty mana?” tanyaku.
“Kayaknya, belum datang deh!” jawab Raisa lagi.
“Kantin, yuk” ajakku.
“Yuk, deh.” Aku dan Raisa pun ke kantin. Sesampainya di kantin, aku dan Raisa memesan susu coklat hangat. Lalu, kami pun duduk di meja bernomor 14.

“Rika, aku dengar-dengar, akan ada Friendship Award” kata Raisa ceria.
“Eh, yang bener?” tanyaku antusias.
“Kalau benar atau salahnya, sih, aku gak tau” jawab Raisa sambil mengaduk-aduk susu coklatnya.
“Selamat pagi, teman-teman!” ujar Rasty yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakang kami.
“Lho, Rasty, kapan datangnya?” jawabku dan Raisa serempak.
“Iya, aku baru aja datang” kata Rasty ceria, lalu duduk di sampingku. Kami pun mengobrol hingga pukul 07.20.
“Eh, 10 menit lagi masuk pelajaran matematika. Gurunya kan, bu Ririn” kataku mengingatkan.
“Betul, tuh.. Kalau sampai telat, bisa-bisa kita dihukum” sambung Raisa.
“Yaudah, ke kelas, yuk” jawab Rasty. “Tunggu, aku bayar susunya dulu” ujar Raisa.
“Tolong bayar punyaku juga. Nih, uangnya!” kataku pada Raisa sambil menyodorkan selembar uang lima ribuan.
“Ok” jawab Raisa, lalu mengambil uang itu dari tanganku. Saat berjalan ke kelas, tiba-tiba kami melihat kerumunan murid di papan mading. Karena penasaran, kami pun mendekat.
“Eh, ada apa, sih?” tanyaku pada Sissy, teman sekelas kami. “Iya, nih, ada pengumuman Friendship Award!” jawabnya.
“Wah.. Baca, ah” seruku.
“Tuh, kan, kubilang juga apa, bakalan ada Friendship Award” jawab Raisa, lalu membaca pengumuman itu.

Cerpen Untukmu Raisa

PENGUMUMAN FRIENDSHIP AWARD
Bagi kamu yang punya sahabat sejati, ikutan FRIENDSHIP AWARD, aja..
Jangan sampai ketinggalan! Soalnya, ajang ini hanya ada sekali dalam 2 tahun. Oh,ya, acara ini akan diadakan pada :
Hari: Sabtu.
Tanggal: 29 September 2012.
Tempat: aula Nusantara International School.
Nah, untuk pendaftarannya, bisa mendaftar di ruang Jurnalistik. Untuk info lebih lanjut, hubungi:
Mrs. Anditta (guru biologi) atau Ms. Zella (guru b. Indonesia).

“Eh, lima menit lagi masuk. Ke kelas, yuk” ujarku, lalu menarik tangan Raisa dan Rasty.
“Aduuhh, sakit, nih. Lepasin, dong” kata Raisa dan Rasty seremapak sambil berusaha melepaskan tangan mereka.
“Iya, deh” kataku, lalu melepaskan tangan Raisa dan Rasty. Sampai ke ruangan yang bertuliskan IX B, kami pun masuk, lalu mencari tempat duduk kosong. Tak lama kemudian, bu Ririn pun masuk.

*****

Teeeeetttt…! teeeeeeeettt…!
Bel pulang akhirnya berbunyi. Aku, Raisa, dan Rasty pun keluar dari kelas. Kami menuju ke sebuah pohon yg cukup besar di halaman sekolah. Di bawah pohon itu ada beberapa batu yang bisa diduki. Pohon itu adalah markas kami. Kami pun duduk.
“Rika, Raisa, gimana kalau kita ikutan jadi nominasi Friendship Award?” usul Rasty.
“Ide bagus, tuh” jawabku.
“Yaudah, kita ke ruang jurnalistik sekarang, yuk” ajak Raisa.
“Yuk” jawabku dan Rasty serempak.

Sampai di ruang jurnalistik, aku, Raisa, dan Rasty pun masuk. Di dalam, sudah ada Ms. Zella
“Miss, kami mau mendaftar menjadi nominasi Friendship Award” kata Rasty mewakili kami.
“Oh, boleh kok! Ini persyaratannya, dan ini formulirnya, diisi, ya” kata Ms. Zella. Kami pun membaca persyaratannya, yaitu :
1. Satu grup minimal terdiri dari 2 orang.
2. Setiap grup harus memiliki nama grup.
3. Buatlah satu cerita nyata persahaban kalian saat mengisi hari-hari sebelum acara. Cerita dibuat saat acara.
4. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 50.000,00.
5. Harus ada seorang saksi yang bertanggung jawab atas keaslian cerita kalian.
Usai membaca persyaratannya, kami pun mengisi formulir itu. Lalu menyerahkan formulir beserta selembar uang lima puluh ribuan kepada Miss Zella.
“Terima kasih” kata Ms. Zella
“Sama-sama, Miss” jawab kami serempak.
“Miss, kami pulang dulu ya” ujarku. “Oh, iya,iya” jawab Ms. Zella.

Sampai di luar, ternyata kami sudah di jemput. Kami pun akhirnya pulang. Sampai di rumah, aku pun browsing internet. Aku membuka facebook milikku. Lalu aku mengupdate status.
Usai update status, aku terasa mengantuk. Lalu, aku memutuskan untuk tidur. Zzzzzz…

*****

Sebulan kemudian…
Hari ini, aku, Raisa, dan Rasty jalan jalan ke mall. Usai belanja, kami makan siang di sebuah restoran cepat saji. Kami pun makan dengan lahap, karena sangat lapar. Lagipula, waktu sudah menunjukkan pukul 01.30. Ketika selesai makan, kami pun mencari taksi untuk pulang. Ketika kami akan pulang,
“teman-teman, aku beli majalah di seberang jalan dulu, ya” ujar Raisa.
“Hmm, oke deh, kami tunggu disini ya” jawab Rasty. Raisa pun menyebrang jalan. Tiba-tiba, dari arah kanan melaju sebuah mobil yang cukup kencang. Karena tidak melihat, Raisa terus menyeberang. Spontan, aku dan Rasty terkejut dan berteriak kepada Raisa.
“Raisa! Awaaaaaas! ” teriakku dan Rasty.
Namun, mobil itu terlalu kencang, sehingga Raisa tak sempat menghindar. Raisa pun tertabrak dan terguling-guling. Aku dan Rasty langsung berlari menghampiri Raisa yang tergelatak lemas di tangah jalan. Semua orang yang ada di situ mengerumuni dan ada yang membawa Raisa ke sebuah mobil.
“Pak, tolong bawa dia ke rumah sakit, pak” ujarku panik.
“Dia sahabat kami, pak” sambung Rasty yang langsung memegang tangan Raisa.
“Ayo, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit” jawab bapak itu sambil menghidupkan mobilnya. Aku dan Rasty langsung naik ke mobil milik bapak itu.

Sesampainya dirumah sakit, Raisa langsung dimasukkan ke ruang UGD. Di ruang tunggu, aku dan Rasty berharap-harap cemas. Karena belum shalat zuhur, kami menuju mushalla. Aku berdoa kepada Allah agar Raisa bisa selamat.
“Ya Allah, selamatkan Raisa. Dia orang yang baik. Aku mohon selamatkan dia, Aamiin.”
Usai shalat, kulihat dokter sudah berada di luar ruangan.
“Dokter, bagaimana keadaan Raisanina Saffira?” tanya Rasty cemas.
“Keadaannya kurang baik. Ia kehabisan banyak darah. Tapi, jangan khawatir, kami sudah mendapatkan darah yang cocok untuknya” jawab dokter itu.”
Syukurlah” jawabku.
“Maaf, kalian siapanya Raisanina Saffira?’ tanya dokter itu.
“Kami temannya, dok” jawabku.
“Bisa saya bertemu dengan keluarganya?” tanyanya.
“Saya sudah menghubunginya, dan sedang dalam perjalanan” jawab Rasty.
“Sekarang Raisanina sudah di ruang ICU” ujar dokter itu, lalu pergi.

Kami akhirnya masuk ke ruang ICU. Terlihat Raisa terbaring lemas di atas ranjang. Keadaannya kritis. Aku menangis melihatnya. Akhirnya, keluarganya datang. Kami pun pamit untuk pulang. Aku menyetop taksi yang lewat. Lalu, aku pun pulang. Selama perjalanan, aku hanya diam. Begitu juga Rasty. Sampai di rumah, aku sangat lelah. Aku langsung istirahat.

*****

Sudah seminggu Raisa di rumah sakit. Keadaannya belum membaik. Bahkan, di hari ke-4, Raisa sempat kembali kritis. Namun, kini Raisa sudah sadar. Ketika aku dan Rasty menjenguknya, ia sudah bisa mengobrol dengan kami. Raisa mengingatkan kami, bahwa, hari ini tanggal 25 September. Itu artinya, 4 hari lagi, Friendship Award berlangsung. Mengingat itu, kami kembali sedih. Karena, sudah tentu Raisa belum sembuh hari itu. Namun, Raisa menenangkan kami.
“Sudahlah, kalian tetap hebat walaupun berdua” ujarnya.
“Maafkan aku, aku tak akan pernah bisa menemani kalian lagi” sambungnya. Kata-kata Raisa membuat perasaanku tak enak. Namun, tak ada air mata di wajahnya, hanya ada raut sedih. Padahal, sudah pasti ia tidak bisa ikut. Raisa membuatku dan Rasty kagum.

Kini, apa yang aku dan Rasty takutkan terjadi. Pagi ini, keadaan Raisa kembali memburuk. Padahal, hari ini sudah tanggal 27 desember. Raisa kritis. Pukul 10.30, Raisa sadar. Namun, ia terlalu lemah. Entah mengapa, ia menyuruhku memanggil seluruh keluarganya. Perasaanku tidak enak. Setelah seluruhnya berkumpul, Raisa berkata,
“semuanya, mama, papa, kak Aldi, Rika, dan Rasty, maafin semua salah Raisa, ya. Selama ini, Raisa sering ngecewain kalian semua. Raisa udah gak kuat lagi. Tolong maafin semua salah Raisa. Raisa, mohon”.
“Raisa, kita semua udah maafin kamu kok, tapi, maksud kamu, apa?” tanya mama Raisa sambil menahan tangis.
“Kak Aldi, nanti, kalau Raisa udah gak ada lagi, tolong buat mama dan papa bangga, ya, kak” ujar Raisa pada kakak laki-lakinya.
“Iya, Raisa” hanya itu yang dijawab oleh kak Aldi. “Kalau Allah berkehandak lain, dan itu adalah yang terbaik buatmu, Mama dan papa sudah ikhlas kalau kamu pergi, sayang” kata mama dan papa Raisa sedih.
“Semuanya, sekali lagi, maafin Raisa” itulah kata-kata terakhir Raisa. Akhirnya, Raisa pergi untuk selama-lamanya.
Hari itu juga Raisa dimakamkan. Pukul 15.45, aku pulang ke rumah. Selama perjalanan, aku hanya terdiam dan tak bereaksi sedikitpun. Kini, aku mengerti, kata-kata Raisa waktu itu.

Hari ini tanggal 29 September. Hari ini, aku dan Rasty sudah siap untuk Friendship Award. Saat menuliskan cerita persahabatan kami, aku tak bisa menahan air mata. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Sebagai saksi, kami memakai kak Aldi. Saatnya pemenang diumumkan. Juri telah selesai menilai dan mewawancarai setiap saksi. Akhirnya, MC mengumumkan,
“dan, penerima Friendship Award tahun ini jatuh kepadaaaa… PUTRI ANNERIKA dan RASTYKA FAIZA..!
Rasanya, aku dan Rasty tak percaya, kamilah pemenangnya. Kini aku dan Rasty berdiri di panggung dan menerima dua piala yang terbuat dari kaca. Piala itu berbentuk bintang. Satu untukku, dan satu untuk Rasty.
“Terima kasih kepada Allah SWT dan orang tua kami. Terima kasih untuk orang-orang disekitar kami, yang selalu mendukung kami. Dan, piala ini kami persembahkan untuk sahabat kami, Raisanina Saffira” ujarku dan Rasty sambil menahan air mata.

Hujan mulai turun. Pulang sekolah, kami berkunjung ke makam Raisa. Kami berdoa di makamnya. Aku meletakkan seikat mawar putih diatas tanah basah itu. Aku berdiri, lalu mendongakkan kepalaku ke langit. Hujan membasahi wajahku.
“Raisa, semoga kau diterima disisi-Nya…”

Cerpen Karangan: Salsabila Azzahra
Facebook: Salsabila Az Zahra

Hai, namaku Salsabila Azzahra. biasa teman-teman menyapaku salsa. hobiku membaca, nulis cerpen atau novel, travelling, dan browsing. cita-citaku, sudah pasti jadi penulis, dokter, jadi orang sukses, dan pastinya masuk surga. sudah dulu, ya! kalau mau ngobrol denganku lebih lanjut, add facebook ku: Salsabila Az Zahra. atau follow twitterku : @salsa_az. see you 🙂

Cerpen Untukmu Raisa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisahku

Oleh:
Seingat aku waktu itu umurku 13 tahun. Dimana aku baru saja beranjak dewasa, masa dimana seseorang sedang mencari jati diri mereka yang kebanyakan dihabiskan tuk belajar ataupun hang out

Sebutir Rindu Untuk Zara

Oleh:
Siang seperti akan membimbing senja menemui malam. Keelokkan paras senja membuat siang seperti tak ingin lepas darinya. Namun, malam sudah tak sabar ingin menemui senja. Aku melangkahkan kakiku ketika

Aku Papaku dan Kekasihku

Oleh:
“Heentiikaaaannn!!” Teriakan risna yang langsung menyingkirkan sayatan pisau yang ku pegang. “apa apaan sih lo tan hah? Mau ngakhirin hidup lo dengan cara konyol kayak gini? Apa setelah lo

Aku Membencimu Seumur Hidupku

Oleh:
Air hujan terus berjatuhan, udah seharian ini hujan turun terus, hah… rasanya males untuk melakukan aktivitas, akhirnya yang ku lakukan hanya berdiam diri di kamar. Suara hujan memang sedikit

Tak Seorangpun

Oleh:
Aku tak bisa memberitahumu kenapa dia merasakan hal itu. Merasakannya setiap hari. Dan aku tak bisa membantunya. Aku hanya melihat dia melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang seharusnya tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Untukmu Raisa”

  1. ridhanaxjuhnam says:

    gw jg pndtng baru d dunia sastra. dan gue sangt suka dgn crpen. makasich.

  2. taufiq says:

    hai salsabila,kalo boleh tau fb kamu yg mana ya?dicari dari tadi gk ketemu2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *