Valid of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

“Ya Tuhan… Tidak…!!”

Jantung Handy berdegup kencang tak karuan seakan jantungnya akan meledak disertai kakinya lemas dan akhirnya seluruh badannya roboh. Handy menampar kedua pipinya sambil membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang telah ia lihat di hadapannya. “Mimpi… mimpi…!!!” gumam Handy sembari membenturkan kepalanya ke dinding.

Handy menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa istrinya yang sangat dicintainya itu masuk ke sebuah rumah dengan disambut seorang pria dan pria tersebut memeluk erat istrinya. Perasaan seorang pria mana yang rela menyaksikan istrinya berselingkuh dengan pria lain, semua pria pasti ingin mengahajar pria tersebut bahkan membunuhnya, Handy hanya bisa diam dengan perasaan hati yang marah bagaikan badai berkecamuk. Handy melangkahkan kakinya dengan langkah gontai seakan tak tahu arah kaki tertuju ke mana. Akhirnya ia duduk di bangku sebuah taman di dekat rumahnya ia melamun kosong sesekali ia mencibirkan bibirnya dengan sinis sambil berkata pelan. “Febby..”

Febby adalah nama istri Handy yang sangat dicintainya itu. Febby berusia 25 tahun sedangkan Handy berusia 15 tahun lebih tua dari Febby. Mereka sudah 5 tahun mengarungi rumah tangga tanpa dikaruniai seorang anak. Di sebuah Perusahaan yang Handy pimpin mereka pertama kali bertemu dan Febby adalah mantan bawahan Handy. Selama 5 tahun mereka hidup bahagia menjalani bahtera rumah tangga. Febby adalah istri yang sangat baik dan penyayang, begitu pun Handy juga adalah seorang suami yang penyayang serta tanggung jawab, kepribadian Handy sangatlah tenang, tidak tempramen ketika ia marah selalu bersikap sabar.

Febby tinggal bersama sang mertua, keseharian Febby hanyalah mengurus rumah tangga di rumah. Febby juga sangat menyayangi mertuanya, di samping mengurus mertua dan mengurus suami Febby juga mengurus Dita sang adik ipar yang selalu terbaring di atas tempat tidur karena kelumpuhan total yang dialaminya akibat kecelakaan mobil yang terjadi 10 tahun lalu. Dengan tanpa rasa lelah Febby mengurus Dita selama usia pernikahannya. Sehingga membuat keluarga Handy sangat menyayangi Febby.

Handy kembali ke rumahnya dan masuk ke kamarnya dan didapati istrinya sudah berada di kamar. Handy memang lama berada di taman hampir semalaman semenjak ia menyaksikan istrinya bersama pria lain sehingga Febby tiba di rumah lebih awal daripada Handy. “Dari mana Mas malam-malam begini baru pulang?” tanya Febby dengan nada lembut kepada suaminya.

Sementara itu Handy dengan wajah muram hanya diam dan tak ingin melirik wajah istrinya sedikit pun seolah wajah istrinya tampak jijik. Sementara itu Febby dengan tenang seolah suaminya tidak mengetahui apa yang sudah suaminya saksikan terhadap dirinya. Febby melangkah ke dapur untuk menjamu suaminya dengan secangkir teh hangat.

“ini Mas..” ucap Febby sambil memberikan secangkir teh hangat pada suaminya. Handy meneguk teh hangat itu dengan memalingkan badannya. Tapi tiba-tiba Handy melemparkan cangkir tersebut ke arah dinding, tanpa kata dengan muka bak Harimau yang menemukan seekor rusa dan ingin memakannya Handy mencium bibir istrinya dengan agresif disertai dengan isi hati yang berlumur luka juga Handy memeluk istrinya dengan erat dan kedua tangannya seperti sedang mengoyak-ngoyak tubuh istrinya Handy mencumbu istrinya bak pangeran yang kehilangan permaisuri berabad-abad.

Namun tiba-tiba Handy melepaskan bibirnya yang menempel di bibir istrinya dan menatap tajam istrinya, keduanya terpaku sejenak, tubuh istrinya tersandar ke dinding dan terkunci oleh kedua tangan dan tubuh Handy seolah istrinya tidak bisa bergerak walau sesenti. Handy memalingkan wajahnya dan kemudian secara tiba-tiba berteriak sekencang-kencangnya seolah amarah yang selama ini terpendam meledak seketika.

“Aaaggghhh..!!!”

Dengan suara setengah serak Handy berteriak, benda-benda yang ada di sekitar ia hancurkan bagai gajah sedang mengamuk. Sekali lagi ia berteriak dengan rasa putus asa dengan air mata meleleh di pipinya. “Apa yang telah aku lihat Febby? Seharusnya aku tak usah melihat!” ucap Handy seolah setengah gila. Febby yang akhirnya menyadari bahwa suaminya telah membuntuti dan menyaksikan perbuatannya itu sontak terkejut dan tak berpikir lama langsung memeluk erat kaki sang suami yang sedang berdiri itu dengan perasaan merasa bersalah.

“Ampun Mas. Maafkan aku, aku bersalah kepadamu. Aku berhak kamu hukum. Tapi sekali lagi.. maafkan aku Mas…” Febby memelas dengan tangisan setengah meledak.

Handy hanya menatap kosong dan menggigit sedikit bibirnya seolah ingin mengeluarkan air matanya lagi namun ia berusaha menahannya. Handy melepaskan tangan istrinya yang sedang memeluk kedua kakinya dengan kedua tangannya. Febby pasrah dengan sikap suaminya itu dengan perasaan hampa seolah berpikir bahwa suaminya enggan untuk memaafkan dirinya. Handy merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada di kamar untuk menenangkan kondisi jiwanya yang rapuh. Sementara Febby masih duduk lemas meratapi situasinya dan mencoba menghentikan tangisannya yang seolah tidak ingin berhenti air mata mengalir di pipinya.

Pertemuan pertama Febby bersama kekasih gelapnya itu adalah di cafe tempat favorit adik iparnya yang lumpuh. Rio kekasih gelapnya itu adalah seorang pria berumur sama dengan Febby. Rio adalah pemilik cafe tersebut. Selama Dita lumpuh Febby sering membawa Dita ke cafe tersebut untuk membuat Dita merasa tidak penat karena kesehariannya hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, dengan caranya membawa Dita ke sebuah cafe perasaan Dita akan sedikit lebih segar. Febby mendorong kursi roda Dita ke mana pun Dita ingin pergi. Rio selalu memperhatikan Febby dan pada akhirnya mereka dekat. Bahkan Rio pun mengetahui bahwa Febby memiliki seorang suami.

Perasaan Febby terhadap Rio terjadi seolah begitu saja bahkan Febby berusaha mengendalikan perasaannya tetapi Rio sudah terlanjur jatuh hati pada wanita bersuami tersebut. Meskipun Febby selalu berusaha untuk tidak mempedulikan Rio tetapi di sisi lain hati Febby merasa nyaman dan seolah jiwanya hidup ketika berada di samping Rio. Febby merasakan dilema yang sangat luar biasa namun tetap pada akhirnya dia berusaha berpikir kalau kehadiran Rio dalam rumah tangganya hanyalah sekedar ujian kesetiaannya saja.

Rio adalah sosok yang dingin, dia adalah pria yatim piatu namun mapan di usia muda. Dia hidup bersama kakeknya, setelah Febby hadir dalam hidupnya Rio merasakan jiwa yang bangkit walau terbilang hanya 8 bulan pertemuannya dengan Febby. Rio benar-benar sangat mencintai Febby walaupun ia menyadari betul bahwa mencintai istri orang adalah suatu perbuatan konyol dan bodoh namun apa mau dikata bahwa cinta itu bisa saja ke luar dari lubang yang sangat kotor sekali pun.

Betapa hancurnya perasaan Handy, ia tidak habis pikir, hanya ia seorang yang tahu aroma badan dari tubuh istrinya, hanya ia seorang yang tahu kepribadian istrinya. Tapi mengapa sekarang mesti ada pria lain yang merasakan hal itu. Sungguh Handy merasa geram dan tak rela semua itu sudah terjadi, ia mencoba berpikir bagaimana istrinya bisa melakukan hal diluar dugaannya. Sementara ia selalu mengingat bahwa istrinya adalah seorang wanita yang baik, tanpa pamrih menyayangi kedua orangtua Handy dengan rasa ikhlas telah mengurus Dita yang lumpuh.

Handy berpikir apakah Dita tidak merasakan kebahagiaan selama hidup dengannya, di sisi lain Handy tidak ingin merasa egois. Febby berjalan menuju kediaman orangtuanya dengan langkah gontai dengan perasaan sulit, tetapi di tengah perjalanan tiba-tiba berhenti sebuah mobil di sampingnya, Febby tak menghiraukan mobil tersebut dan terus melangkahkan kakinya tapi seseorang dari dalam mobil turun dan menghampiri Febby.

“Ikutlah denganku Febb…” ajak Rio.
“Tak perlu, aku ingin sendirian!” jawab Febby tanpa melihat wajah Rio yang tampan. Karena dengan menatapnya perasaan cintanya akan semakin bertambah.
“Ayolah Feb sebentar saja.” Paksa Rio sembari menggenggam pergelangan tangan Febby namun Febby melepaskannya.
“Sebaiknya kita tak usah bertemu lagi!!’ Lontar Febby.
“Ayo sebaiknya bicara dalam mobil, tak enak jika terdengar orang.” pinta Rio lembut.

Akhirnya Febby luluh dan masuk ke dalam mobilnya, dan Rio melajukan kendaraannya menuju rumah kediamannya. Selama perjalanan Febby diam seribu bahasa dengan tatapan kosong mengingat apa yang sudah terjadi. Sementara Rio fokus mengendarai kendaraannya dan sesekali melirik ke arah wajah Febby dan Rio mengerti akan kondisi Febby maka dari itu ia hanya fokus mengendarai. Tibalah di kediaman Rio, mereka masuk ke dalam rumah dan belum sempat sampai ke sofa tempatnya mereka akan duduk tiba-tiba langkah Febby terhenti, dan Rio berada di hadapannya.

“Lebih baik kita tak usah bertemu lagi.” ucap Febby menjelaskan untuk yang kedua kalinya.
“kita harus menyudahi hubungan terlarang ini, dan aku menyesal telah bertemu denganmu” lanjut Febby jelas.
“Apakah kau bahagia?” tanya Rio mengagetkan Febby dengan pertanyaan tersebut.
“Apa maksudmu?” Lontar Febby dengan sedikit nada keras.

“Ya.. aku bertanya apa kau bahagia?” Rio mengulang pertanyaannya lagi.
“Kau tidak akan mengerti apa arti bahagia sebuah keluarga.” jelas Febby.
“Jika kau mengerti arti bahagia itu coba jelaskan padaku.” Rio mencoba bertanya kembali.
Febby seketika menitikkan air mata dan tidak bisa menjawab seolah tidak tahu apa yang semestinya ia jawab.

“Kau tak bisa menjawab, kau jangan menipu dirimu sendiri. Katakan apa yang tengah kau rasakan….” Febby hanya bisa terdiam sesekali terisak karena terusik oleh perkataan-perkataan Rio. “kamu jangan menipu dirimu sendiri, kamu jangan menahan bebanmu sendiri hanya karena suamimu sangat mencintaimu. Jarena seharusnya cinta itu tidak saling membebani.” Penjelasan Rio sontak membuat hati Febby merasa bahwa pejelasan Rio memang apa yang tengah Febby alami benar begitu adanya.

Febby menangis sekencang-kencangnya sembari kedua genggaman tangannya menpuk-nepuk dada Rio. Rio memeluk Febby erat dan air mata Febby membasahi kemeja bagian dada Rio.
“Katakan apa yang harus aku lakukan. Katakan Rio? Katakan agar aku bisa ke luar dari situasi ini…” Ucap Febby sembari terisak-isak.

Dengan situasi seperti ini perasaan Febby semakin dilema besar. Dilema bukan berarti ingin memilih pria mana. Febby ingin memperbaiki situasi tersebut dengan mempertahankan rumah tangganya karena suaminya sangat mencintainya tetapi di sisi lain juga Febby merasakan seluruh hidupnya direnggut oleh suaminya. Tak ada kebebasan bagi Febby untuk melihat alangkah indahnya dunia karena kesehariannya hanya mengurus rumah tangga dan mengurus kedua mertua.

Serta Dita yang lumpuh total ia perhatikan bak bekerja di panti jompo karena usia Dita 5 tahun lebih tua dari Febby. Tetapi Febby tak pernah menyadari akan beban tersebut karena yang ia pikirkan adalah Handy suami yang terbaik dan sangat mencintai Febby. Bahkan berkecimpung dengan b*erak Dita pun ia sama sekali sudah terbiasa, Rio sangat mengetahui hal ini.

Pada suatu malam seperti biasa Dita mengonsumsi obat tak lain adalah Febby yang membantu Dita untuk meneguk obat. Setelah itu Dita hendak tidur dan menyelimuti Dita dengan rasa perhatiannya, Dita pun terlelap. Febby masuk ke kamarnya didapati suaminya sedang tertidur di sofa, sejenak Febby bergumam, “Pasti hatinya masih sangat marah, maafkan aku suamiku. Karena aku mencintai pria lain dan aku juga sangat mencintaimu, maafkan aku yang egois ini.”

Febby dan Handy tidur terpisah. Di tengah mimpi mereka tiba-tiba ibu mertua Febby mengagetkan tidur mereka dengan teriakan. Tak lama mereka pun menghampiri sumber teriakan tersebut ternyata didapati kamar Dita sudah ada mertua Febby sedang menangis kaget, sontak Febby dan Handy pun merasa kaget ketika Dita sudah berada tergeletak di bawah lantai tanpa berlama-lama mereka pun membawanya ke rumah sakit. Akhirnya Tuhan berkata lain Dita menghembuskan napas terakhirnya dan pergi menghadap Tuhan.

Satu bulan berlalu setelah kepergian Dita, Febby merasa kehilangan sosok adik ipar yang sangat disayanginya itu. Betapa tidak 5 tahun sudah Febby mengurus Dita tetapi Febby belum merasakan maksimal mengurusnya. Handy baru saja mandi setiba dari kantor, makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan siapa lagi jika bukan Febby yang menyiapkan semua itu. Makan malam hanya dilakukan berdua karena kedua mertua Febby sudah tertidur. Memang sikap mereka akhir-akhir ini terasa berbeda sekali setelah kehadiran sebuah skandal perselingkuhan Febby. Setelah makan malam mereka usai, mereka hendak ke kamar tidur.

Meskipun sikap mereka sedikit agak dingin tetapi Febby tidak mempengaruhi akan kewajibannya sebagai istri. Handy merebahkankan tubuhnya di atas tempat tidur, tak lupa Febby sang istri menutup setengah tubuh Handy dengan selimut, Handy tersenyum kecil. Febby pun merebahkan tubuhnya tepat di samping Handy, tangan Febby pun diletakkan di atas perut Handy namun Handy tidak menyapa tindakan istrinya tersebut dan hanya membiarkannya. Febby pun terlelap tidur dengan wajah yang terlihat lelah, Handy menatap wajah istrinya dalam-dalam dan seketika dalam hatinya ia bergumam.

“Apa yang harus ku lakukan, ketika aku mengingat kesaksianku terhadap dirimu bersama dengan pria lain? aku sangat membencimu dan sangat ingin menyiksamu bahkan dengan pria itu, tetapi di sisi lain aku tidak mampu mengejar pria itu untuk menghajarnya. Karena aku pikir dia lebih mengetahui akan beban dirimu daripada aku. Keegoisanku adalah merenggut separuh hidupmu, menjadikanmu budak di antara keluargaku.”

“Sebelum bertemu denganku kau adalah gadis yang ceria, namun aku langsung mempersuntingmu tanpa kau melalui banyak hal seperti halnya gadis-gadis lain. Kau tidak sempat merasakan hati yang berbunga-bunga kepada pria lain karena kau langsung menerima lamaran seorang pria tua sepertiku. Terima kasih telah menyayangi kedua orangtuaku, dan menyayangi Dita dengan ketulusan hatimu.” Tak luput air mata Handy mengalir deras di pipinya membasahi bantal tidurnya. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya.

Satu bulan berlalu rumah tangganya masih saja dingin karena keduanya belum bisa ke luar dari situasi ini. Tapi Febby mencoba untuk membuang nama Rio dari hidupnya, dan ingin berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Rio dan ingin memperbaiki rumah tangganya. Bahkan nomor ponselnya pun ia delete. Tetapi tetap saja Rio berusaha menghubungi ponsel Febby, tak pernah ada jawaban dari Febby Rio pun nekat ingin mendatangi rumah kediaman Febby. Namun yang Rio lakukan hanya berdiam di dalam mobil tepat di tepi jalan samping rumah Febby, dengan harapan semoga Febby ke luar dari rumahnya.

Dan ternyata benar Febby memang berniat mengunjungi kediaman orangtuanya yang sempat tertunda tempo hari. Tak berpikir panjang Rio langsung menarik tangan Febby dan membawanya ke dalam mobil, tindakan Rio ini sontak membuat kaget Febby dan Febby berusaha tenang di dalam mobil meski hatinya terasa berdegup kencang dengan perasaan kaget karena takut. Tapi di sisi lain ia tidak bisa berdusta terhadap dirinya sendiri bahwa ia bahagia bisa bertemu dengan kekasih gelapnya yang akan ia lupakan sekuat tenaga. Tapi apa daya cinta tak bisa berdusta.

Tibalah mereka di kediaman Rio, lagi-lagi batal rencananya Febby yang ingin mengunjungi orangtuanya. Di rumah Rio tak ada seorang pun karena kakeknya berada di rumah lain. Dengan perasaan rindu yang bergejolak Rio memeluk dan mencium bibir manisnya Febby dengan agresif namun penuh kelembutan. Febby berusaha menghindar pelukakannya Rio yang begitu erat namun apa daya cengkeraman hangat Rio telah menghipnotis Febby seolah Febby melayang dan menikmatinya. Namun tanpa sebab air mata Febby mengalir di pipinya. Entah karena merasa bersalah mungkin pada suaminya.

Ketika Febby tiba di rumahnya ternyata sang suami sudah berada di dalam rumah, kaget bukan main hati Febby karena ini masih jam kerja suaminya.
“Tumben Mas udah pulang?” Tanya Febby dengan perasaan gemetar dan kikuk. Ternyata Handy sudah berada di dalam rumah semenjak Febby pergi, ia tak sengaja melihat Febby ditarik tangannya oleh Rio dan masuk ke dalam mobilnya.

“Sudah seharusnya aku melepaskanmu…” ujar Handy secara tiba-tiba. Febby terkejut bukan main mendengar suaminya mengatakan hal seperti itu, Febby pun sadar betul atas dosa terhadap suaminya namun Febby tetap tak menyangka bahwa suaminya akan menceraikannya.

“Apa Mas tidak ingin memaafkanku?”
“aku sudah memaafkanmu..”
“lantas kenapa Mas ingin melepaskanku, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi!”
“maafkan aku telah merenggut separuh hidupmu.” Febby menitikkan air matanya, sepertinya suaminya telah mengetahui seluruh isi hati Febby selama ini.

“Maafkan aku Mas, aku tak pernah menyesal sedikit pun telah menjadi istrimu dan mengurus Mama dan Papa begitu pun Dita. Aku semata-mata melakukan semua itu karena itu sudah mutlak kewajibanku sebagai istrimu karena kau begitu mencintaiku. Dan maafkan aku telah mencintai orang lain ini semua di luar kuasaku tak bisa menahan perasaanku, tapi aku mohon jangan ceraikan aku Mas bantu aku melupakan pria itu!” Air mata Febby mengalir begitu derasnya sehingga membuat dadanya terasa sesak karena menahan isakan tangis.

“Aku juga tak mau menjadi pria egois, memenjarakan kebahagiaan seorang wanita. Kini saatnya aku melepasmu… dengan terus mempertahankanmu sebaliknya hidupku akan terasa bersalah. Aku ingin kita menjalani hidup masing-masing. Dan aku merasa sudah cukup bahagia sudah hidup bersamamu.” Jelas Handy dengan berat hati. Febby hanya bisa terpaku mendengar keputusan suaminya itu.

Setelah satu bulan berlalu Handy dan Febby menandatangani surat perceraian mereka. Untuk menutupi rasa bersalahnya Febby terhadap Handy, ia memutuskan untuk benar-benar melupakan Rio meskipun sudah bercerai dengan Handy, karena menurutnya jika ia melanjuntukan hubungannya dengan Rio hanya akan membuat hidupnya terasa malu dan mengotori dirinya.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Rio dan perlu puluhan tahun untuk melupakan bekas kekasih gelapnya itu. Sementara itu Rio sangat ingin menikah dengan Febby namun apa daya dia juga benar-benar membenci dirinya sendiri karena telah membuat sebuah rumah tangga hancur. Namun tetap Rio adalah seorang pria yang mencintai wanita dengan tulus karena perasaan cinta itu datang dengan sendirinya.

Cerpen Karangan: Risya
Facebook: holysuci16[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Valid of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Itu…

Oleh:
“Tunggu Nit, dengerin penjelasan dari aku dulu! Maafin aku, aku nggak nyangka kejadiannya jadi seperti ini. Nita, tunggu!” teriak cewek berkacamata yang berlensa tebal sambil berlari mengejar sahabatnya, Nita.

6 Tahun Yang Lalu

Oleh:
Pandangan cinta tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang melukis di halaman sekolah. Dia adalah raka. Seorang laki-laki yang sangat tampan dan juga menawan, banyak orang yang bilang kalau dia

ECHO

Oleh:
Pagi ini, aku dibangunkan oleh kesepian dan kesunyian. Tidak seperti biasanya, duniaku saat ini sangat sepi. Aku melongok ke jendela di sampingku, matahari sudah bersinar dengan terangnya ditemani langit

Ibu Ku Baik

Oleh:
Matahari mulai terbenam dan malam mulai beranjak anak itu tetap berada di dalam kamarnya semenjak ia pulang sekolah siang tadi. Hampir setiap hari ia seperti itu, mengurung diri. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *