Watashi O Yurushite

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

“Yuka!” teriak Pinchi memanggilku. Aku tidak menoleh, aku masih kesal karenanya, kemarin masa ia mengebutkan sepedanya, padahal hujan baru saja reda, jalanan yang becek membuat menciprat ke aku. Aku kesal, di Jepang, mana ada gadis secantik aku nyuci baju… “Kamu masih marah soal kemarin?” tanya Pinchi, menghampiriku. Aku diam, tidak menjawab. Pinchi lari pergi ke kelas. “Huuh, pasti menangis lagi.” gumamku. Aku tak cemas, coba saja dia merasakannya, bagi kalian masalah baju mah cepil, bagi aku, orang Jepang-Indonesia, tidak.

Pulang sekolah aku jalan kaki, aku melihat kak Shinci berlari menuju sekolahku. “Konnichiwa, kak Shinci mau ke mana?” tanyaku. “Konnichiwa, aku mau ke sekolah, aku telat jemput Pinchi Yuk,” jawab kak Shinci. Aku diam. “Kok kamu diam? Lagi berantem ya, sama Pinchi?” tanya Kak Shinci. Aku kembali diam, aku berlari pergi menuju rumah.

“Konnichiwa, apa kabar semua?” tanyaku pada keluargaku. “Konnichiwa Yuka, baik. Amat baik.” jawab Keluargaku. Aku tersenyum, aku bergegas ke kamar, ganti baju dan segera menyusul keluargaku makan siang. “Gimana di sekolah tadi, kak Yuka?” tanya Yuki. “Baik.” jawabku tak tersenyum. “kamu kok cemberut gitu yuk?” tanya Ibu. “Enggak, kok bu,” jawabku, sambil terus cemberut. “Ini, deh buat kamu,” Ibu memberiku Mie Tipopi, yang sangat aku sukaaa. “Wah! Makasih bu!” ucapku sambil meraih Mie Tipopi. “Eits! kamu cerita dulu, ada masalah apa di sekolah tadi?” tanya Ibu sambil menghindari Mie yang ingin aku ambil.

“Huft… kemarin, Pinchi kan ngebut sambil bawa sepeda, lalu ada aku yang lewat, kebetulan ada genangan air (becek) akhirnya nyiprat ke aku bu,” kataku, dengan berat hati aku menceritakan masalah ini pada Keluargaku. “Kak Yuka, kan kata ibu kita harus maafkan orang lain, kak,” kata Yuki, adik yang pipinya setembem bakpao. “Yuki waktu itu di dorong sama Trichi, sampai jatuh ke kolam renang, Yuki maafin kok,” kata Yuki, itu rahasianya yang belum diceritakan ke Ayah dan Ibu, kecuali aku. Yuki terkejut. Ayah dan Ibu juga terkejut. “Didorong maksudnya?” tanya Ibu. “D..di do..dorong sama Trichi sampai jatuh ke kolam renang yang da.. dalam bu…” kata Yuki, sambil menunduk. “Yuki, kan ibu bilang, kalau kejahatan yang kebangetan boleh dimaafkan, tapi kamu jangan main lagi sama dia, takutnya dia mengulangi perbuatannya,” omel Ibu. “Kan Yuki sudah tak main sama Trichi lagi, bu,” Yuki menangis. “Kan waktu itu Ibu lihat kamu akrab banget sama Trichi, sayang..” Ibu memeluk Yuki. Diam-diam pada saat ibu memeluk Yuki, aku mengambil Mie itu. Dan berhasil! aku bisa memakan mie tipopi tanpa ada peraturan!

Esoknya di sekolah SMA Rewaira Humanakula, aku menaruh tas di kelas 12, yaitu kelas 3 SMA. “Yuk, kita mau ngomong sama kamu…” Uriu, Tirea dan Hucija menghampiriku. “Ada apa, ya?” tanyaku dalam hati. “Pinchi sudah tidak ada Yuk… harusnya kamu kemarin bercakap banyak bersamanya, karena itu panggilan terakhirnya.” kata Tirea. Aku terkejut, tak sadar, air mataku menetes hidungku mengeluarkan banyak darah, aku pingsan. Aku segera dibawa ke UKS. Dokter Kishi menanganiku.

Di sampingku sudah ada Tirea, Hucija dan Uriu. Ibu dan Ayah juga di sampingku, mereka khawatir tentang keadaanku. “Bisa kalian lanjutkan cerita tentang Pinchinya?” tanyaku. “Jadi… kemarin Pinchi mau minta maaf dan mengasih tau kamu yang sebenarnya, dia ingin seharian bermain denganmu, kamu tau? Dia menulis surat terakhir untukmu,” kata Hucija sambil memberiku sebuah kertas.

‘Dear Yuka, aku ingin jujur padamu yang sesungguhnya, aku mengidap penyakit mematikan Yuk, itu panggilan terakhirku, dan aku ingin minta maaf soal kemarin untukmu, Mungkin surat ini surat terakhirku juga, aku minta surat terakhirku ini kamu simpan, ya, mungkin kalau aku di akhirat nanti, aku juga menyimpan surat yang kamu berikan padaku, Yuka, tolong doakan aku agar masuk Surga ya, sekian dariku.’
Terima Kasih
From = Pinchi Yutuzibuna
To = Yuka Tamada Mazuxa.
Air mataku menetes, selama ini Pinchi yang menemaniku dari 1 SD, aku menangis, surat itu kupeluk erat erat.

Sehari setelah aku pingsan, aku membalas surat itu. Aku menulis sendiri, aku membeli balon, di tali balon, kuikatkan dengan Surat itu, semoga surat itu sampai ke langit. Berisi ‘Aku memaafkan kamu Pinchi… aku tak menyangka kamu pergi secepat ini… aku tak ikhlas menerimanya, namun… Tuhan berkehendak lain, setiap aku berdoa aku selalu mendoakanmu. Jangan pernah melupakanku, yang basah itu adalah air mataku, ya, air mataku menetes pada saat menulis surat ini. Maafkan, aku, Watashi o yurushite Pin, aku benar-benar tidak menyangka kalau kemarin adalah panggilanmu yang terakhir, Semoga masuk surga ya Pinchi… sekian dariku.’

Kalau kau menerima surat ini, Ayah dan Ibu dan Yuki menitip salam untukmu.

From = Yuka Tamada Mazuxa
To = Pinchi Yutuzibuna.

TAMAT

Cerpen Karangan: Shafa Maura Raihanah
Facebook: Shafa Maura Raihanah
Nama = Shafa Maura R.
Umur = 9 thn
TTL = 23 Juli 2008
Hai, namaku Shafa Maura R, biasa dipanggil Rara, aku senang menulis, jadi aku menulis online, atau mengetik, terima kasih yang sudah membaca cerpenku. Salam dariku untuk kalian…

Cerpen Watashi O Yurushite merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Hatiku

Oleh:
“Aku tau masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita ketimbang aku, aku tau manusia pasti jauh dengan rasa puas… Namun bisakah Engkau membuat aku tau apa hikmah

Perempuan Penikmat Senja

Oleh:
Apa yang kau tahu tentang senja? Bukan, Bukan senja itu yang kumaksud! Sejak saat itu, Aku suka sekali melihat senja. Di bukit itu, Kusaksikan saat mentari meninggalkan langit dalam

Kokyuu Shinai Made

Oleh:
Taman Odori, Sapporo, Hokkaido Fuyu Aku memandang iri pada orang-orang di sekitar yang terlihat berbahagia dengan pasangannya. Ah, seandainya Yuki masih menjadi kekasihku. Tentu saja saat ini aku tak

Perjalanan Hidupku

Oleh:
Namaku Syakila, aku lahir dan dibesarkan di kota yang tak pernah sepi Jakarta namanya. Hari-hariku selalu indah, ditambah orangtuaku yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hatinya dan mereka tak pernah

Mengertilah Bi

Oleh:
Hari hari aku bagaikan awan hitam yang menyelimuti langit di angkasa, tak ada sinar cahaya yang menuntunku untuk bisa menyinari orang yang ku sayangi. Perasaan sakit, tak rela, semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *