When You (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 February 2018

“Hey bro,..”
Aku tahu suara itu, dia salah satu teman yang telah bersamaku dari kecil, entah kenapa kita merasakan bahwa hubungan kita sudah bukan teman lagi, hubungan kita sudah seperti saudara. Aku berbalik dan menyapanya kembali. “weeeey, gimana?, Dihukum lagi sama satpam?”
Ia tertawa terbahak. “Aku? Dihukum? Jangan mimpi wooy.”
Sikapnya memang selalu begitu, ceroboh, nekad, dan pemberontak, banyak orang berpendapat bahwa dia sama halnya dengan sikapku.

“Gila, ngomong-ngomong kamu lewat gerbang mana?”
“Yaaaa.. gerbang depan, dan si satpam itu belum ada di posnya”
“Berarti aku sukses ngerjain itu satpam”. ucapku sambil tertawa terbahak.
“Hah?, maksud kamu apaan?”. Jawabnya sambil agak kebingugan

“Jadi tadi pas aku masuk ke sekolah aku mau menyimpan tasku, dan aku tidak melihat kamu di kelas, makannya aku pikir kamu pasti datang terlambat ke sekolah, jadi aku kembali ke pos satpam dan pada saat itu satpam sedang sibuk merazia parasiswa, nah saat itulah aku memasukkan sambal instan ke dalam kopinya, aku kan sudah mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan.”
Temanku tertawa terbahak. “Ternyata ide kamu bener-bener gila, sepertinya dia sekarang sedang duduk manis di toilet sekolah. Baiklah, sebagai gantinya dan ucapan terimakasih aku akan teraktir kamu makan di kantin sekarang”
“Hah…? Bagas ini kan jam pelajaran wali kelas!” aku tercengan dengan ajakan Bagas. Yah… nama temanku Bagas dan aku sendiri bernama Agam.
“Emang aku pikirin, sejak kapan kamu jadi takut sama wali kelas Agam?” jawab temanku dengan gayanya yang santai dan menepuk pundakku.

“bukan gitu, masalahnya ini hari pertama kita naik kelas, setidaknya kita masuk dulu.” ajakanku pada bagas.
“alah…, udah deh jangan lebay, ayo ke kantin, aku punya info baru nih tentang sekolah kita.” Bagas menarikku menuju kantin
“info apaan?” Tanyaku pada Bagasa.
“udah ayoo ke kantin dulu, cerewet amat kamu Gam.”

Kita berdua berjalan menuju kantin. Setelah kita sampai di kantin temanku langsung memesan beberapa makanan.
“heh Gam, kamu mau pesen apa?”
“Apa aja deh yang penting enak”
“Ya sudah, bu kantin, pesen mie goring 2 sama gorengannya ya, tapi gorengannya di pisah, sama minumnya es teh manis 2.”

“Heh Gas, kamu mau ngasih tau info apa?” Tanyaku pada bagas dengan sedikit penasaran.
Dia tertawa, lalu berbisik. “Ada murid baru di kelas, seorang perempuan, tapi dia miskin gam, kamu kan tahu ini sekolah termahal dan terbaik, dia enggak pantes tuh buat ada di sini”
“Kalau dia miskin kenapa dia bisa masuk ke sekolah kita gas?” Tanyaku berlagak bingung.
“Katanya sih dia dapet beasiswa, dia dapet tawaran 2 sekolah, di antaranya sekolah kita dan salah satu sekolah di singapura” Jawabnya sambil mengangkat satu kakinya keatas kursi dan menghadap padaku.

“wih hebat juga itu anak, kenapa dia enggak ngambil yang di singapura yah?”
“Ya… Ga tau juga sih, yang penting kita punya mangsa buat kita bully”
“Bener juga kamu Gas, selain itu kita bisa manfaatin dia jika ada tugas, dia kan pinter tuh”
Bagas tertawa kencang mendengar ideku. “cerdas juga kamu Gam.”

Tidak lama kemudian pesanan datang, lalu kita makan bersama hingga jam pelajaran guru walikelas usai. Setelah makan dan guru wali kelas pun keluar kita segera menuju kelas. Setibanya di kelas, temanku menunjukan siswi baru tersebut. “Nah Gam liat tuh perempuan yang ada di pojok itu, nah yang itu Gam murid baru namanya Adinda”
“Adinda? Yakin? Namanya kok gak sesuai sama mukanya yah?”
Bagas tertawa. “sialan kamu, meski dia kucel, tapi otaknya lebih pintar dari kamu Gam.”

“Sialan, ranking kamu lebih rendah dari aku bagas.”
“hahaha…, ya udah terserah kamu aja, ayo lah.” Ajaknya sambil menarik lenganku.
“ayo ke mana?”
“ya elaaah, kita kerjain tuh orang.” Otak jahat Bagas kambuh.

Aku dan Bagas menyusun rencana untuk menjahili adinda, setelah sepakat dengan rencana yang telah disusun, aku dan bagas bergegas menuju adinda.
“hay, nama kamu Adinda kan? Kenalkan aku Agam.”
“Iyah, senang berkenalan dengan kamu Agam.” Aku mengajaknya bersalaman sambil berdiri, semua orang mengalihkan pandangannya kepadaku dan Adinda. Sementara itu Bagas temanku mendekati kursi yang di duduki oleh Adinda, lalu mengoleskan sedikit lem besi pada kursinya itu. Kemudian setelah berkenalan denganku Adinda langsung menduduki kursinya. Bagas terlihat berusaha menahan ketawanya.

Waktu terus berjalan hingga bel tanda waktu istirahatpun berbunyi, aku langsung mengalihkan penglihatanku pada Adinda untuk menyaksikan Adinda yang terkena perangkap aku dan Bagas. Dan pada akhirnya Adinda berdiri.
“Aduuuh, kok kursinya ada lemnya”
Aku, Bagas dan teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu.

“Hey Gam, kita berhasil juga ngerjain si Adinda itu”
“Hahaha, bener Gas”
Tapi dibalik ku tertawa ada hal yang mengganjal di pikiranku. Adinda tidak marah kepadaku ataupun Bagas, dia malah tersenyum dan mengikatkan jaketnya ke pinggang untuk menutupi bagian celana yang sobek, lalu dia langsung menuju keluar ruangan dengan mengucapkan kalimat ‘assalamualaikum’.

“Hey Gam, apa kamu lihat ekspresinya tadi? Dia hanya tersenyum dan tidak marah pada kita”
Aku diam sejenak dan kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Bagas. “aku tidak tau gas”
“baiklah besok kita akan menjahilinya lebih dari sekarang.” Cakapnya dengan serius.

Waktu terus berjalan hingga bel pulang berbunyi. Aku dan Bagas segera ke parkiran untuk mengambil motor sport masing-masing dan segera pulang kerumah masing-masing. Aku memang berteman dengan Bagas sejak kecil, dan pertemanan itu bermula ketika kedua orang tua kita berteman, meskipun begitu arah rumah kita agak jauh, ketika keluar gerbang sekolah aku mengambil arah kiri sedangkan Bagas mengambil arah kanan.

Lalu esoknya aku dan bagas berencana kembali menjahili Adinda, kali ini rencananya berbeda dengan yang sebelumnya.
“Ayo Gam kita mulai.” Ajak Bagas sambil menatap tajam pada Adinda
“Ayo.”
Aku dan Bagas segera menghampiri Adinda.

“Hay din, aku minta maaf yah atas kejadian kemarin, aku dan Agam tidak bermaksud merobek celanamu, tadinya aku berniat menjahilimu agar kita bisa menjadi teman, iya kan Gam?” Bagas membuka obrolan dengan akrab pada Adinda
“bener Din, maafin kita yah.” Ucapku sambil tersenyum.
Adinda tersenyum lebar kearah kita berdua. “iyah Gas, Gam, enggak usah dipermasalahkan.”

“Ya sudah kalau gitu aku dan Bagas akan meneraktirmu makan ya.. itung-itung buat tanda perminta maafan kita Din, gimana?” Ajakku pada Adinda dengan tersenyum.
“serius? Boleh deh.” Jawab Adinda dengan girang.
Lalu aku, Bagas dan Adinda segera ke kantin, kita berdua memulai menjalankan misi kita.

“Din kamu mau pesan apa?” ucapku sambil tersenyum.
“aku pesen mie ayam aja deh, kalau minumnya terserah kamu aja.” Jawabnya sambil menaruh kedua tangannya di atas meja terlihat tidak sabar menunggu pesanan.
“Kalau kamu apa gas?”
“Apa aja deh.” Jawab bagas sambil mengedipkan mata sebelah dan tersenyum kepadaku.

“Ya udah, Ibu kantin, kita pesen siomay 2, mie ayam 1 dan es jeruknya 3 yah.” Seruku sambil mengacungkan tangan.
Sejauh ini rencana dapat berjalan lancar, dan selanjutnya aku dan Bagas menjalankan rencana berikutnya.
“Eh Din, aku sama Bagas mau ke kantor dulu yah sebentar, mau nyerahin tugas yang kemarin, kita lupa belum mengumpulkan.”
“Oh iyah Gam.”

Sukses, rencana aku dan Bagas membuat Adinda membayar makanan yang dipesan olehku. Setelah itu, kita langsung bergegas menuju kelas dan menunggu Adinda datang.
“Kira-kira sekarang Adinda sedang ngapain yah gas?” Tanyaku pada bagas sambil tertawa.
“Mungkin lagi cuci piring gam di ibu kantin, gara-gara enggak bisa bayar makanannya, dia kan miskin.” Jawab bagas sambil tertawa terbahak.
“Haha… bener juga kamu gas.”

Bel istirahat berakhir pun telah berbunyi, lalu bersamaan dengan itu, Adinda pun memasuki kelas. Jauh dari apa yang diharapkan Adinda kembali tersenyum dan malah menyapa aku dan Bagas.
“hey Gam, Gas, aku sudah membayar pesanan tadi, dikira kamu dan Bagas mau balik lagi ke kantin jadi aku tungguin kalian berdua.” Jawabnya sambil tesenyum.
Aku terdiam dan kebingungan mau menjawab apa. “mmmhhh, maaf yah din hehe.” Jawabku sambil tersipu malu.
Setelah beberapa jam kemudian bel pulang pun berbunyi. Kita pulang ke rumah masing-masing.

Hari-hari selanjutnya aku dan Bagas terus menjahili Adinda tapi tetap saja tidak ada perubahan dalam ekspresi Adinda ketika aku dan Bagas berbuat usil padanya, tidak ada sekalipun kalimat kasar, ekspresi marah, menangis, bahkan menjauhi kita, beberapa minggu hal itu terus saja terjadi sudah banyak rencana yang aku buat untuk menjahili Adinda.

Suatu hari Adinda tidak menampakan wajahnya di sekolah, pikiranku, apa aku berhasil membuatnya marah? Atau aku berhasil membuatnya tidak nyaman di sekolah? Entah mengapa aku merasa sepi, tetapi aku selalu menolak rasa sepiku disebabkan olehnya.

“Hey Gam, kenapa kamu?” Tanya Bagas padaku sambilmenepuk pundak.
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Bagas, tidak tahu kenapa aku memikirkannya.
“Hey AGA…M” Bagas berteriak.
Aku kaget mendengarnya, teriakan Bagas menyadarkanku dari lamunanku.

“Eh iya Gas, kenapa?
“kamu kenapa Gam, hari ini tidak seperti biasanya?”
“oh enggak Gas, aku cumaa…n” aku tidak punya alasan.
“kenapa kamu?” Bagas memandangku serius.

“enggak kok cuman kepikiran aja motorku belum diservis”
“oooh aku kira terjadi sesuatu.”

Beberapa hari kedepan, sudah 4 hari Adinda tidak ada dalam kelas ini, serasa sepi, aku selalu memerhatikan bangku pojok itu, dimana tempat aku menjahilinya, entah ini rasa berdosaku, rasa kasihanku, atau…
Aku mecoba untuk tidak peduli. Pelajaran hari ini selesai dan akupun bergegas pulang dengan menunggangi motor sportku, dalam perjalanan aku masih memikirkannya, tingkah lakuku kepadanya. Dalam perjalanan pulangku lalu suara handphonku berbunyi. KRI…NG KRI…NG, Di tengah perjalanan aku berhenti dan aku mengangkat handphonkuku, ternyata Ibuku

“Agam sayang, persediaan buah di rumah abis, bisa kamu tolong belikan buah di pasar nak?”
“oh iyah bu, Agam juga lagi dalam perjalanan pulang bu nanti Agam belikan yah bu”
“Terima kasih yah nak” handphonpun dimatikan.

Aku langsung bergegas menuju pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahku, ketika aku berkeliling di pasar, tanpa aku sengaja Adinda berada di depan mataku, dia terlihat sedang tawar menawar dengan seorang pedagang, aku ragu menyapanya, aku takut kalau dia akan marah padaku, lalu aku putuskan untuk pura-pura tidak melihatnya, ketika aku melangkahkan kakiku ke depan ada suara panggilan dari belakang.

“hey Agam” suara Adinda terdengar jelas.
“Eh… Adin..da” jawabku gugup.
“lagi apa kamu di sini gam? belanja?” Jawab Adinda dengan ceria.
Dia tidak marah padaku, hanya senyum yang aku lihat, dan keikhlasannya dalam berkata, dengan berpakaian sederhana, bercelana rok, dan rambut yang diikat.

“I..yah nih Din” Lagi, aku menjawab gugup.
“Mau belanja apa? Mau aku antar? Aku cukup tau daerah pasar ini Gam.”
Lagi-lagi dia tersenyum.
“Boleh Din. Aku mau belanja buah-buahan nih Din. Oh iyah kamu beberapa hari tidak masuk sekolah, kenapa?” Tanyaku serius.

“makasih Gam sudah peduli. Aku cuma ingin istirahat saja, karena kemarin aku sempat sakit.” Jawab Adinda sambil berjalan dan menatap ke depan.
“Loh kenapa kamu tidak kasih surat keterangan dokter Din.”
“Sakitku tidak parah kok, jadi gak usah pergi ke dokter.” jawabnya dengan tersenyum lebar.
“Oh gitu yah.” Jawabku dengan datar.

“Gam aku minta maaf yah.” Adinda bertanya padaku dan berhenti berjalan.
Aku bingung dengan kata-katanya. “M..M..aksudmu ap..a Din?” aku kembali gugup.
“Enggak apa-apa kok Gam.” Jawabnya sambil memulai berjalan kembali.
Aku masih bingung dengan ucapannya, aku yang merasa bersalah kepadanya dengan tingkahku, tetapi dia selalu tersenyum, selalu menyapa seolah-olah aku dan Bagas sahabat terdekatnya, dan sekarang dia berbuat baik kepadaku dengan sedia mengantarku membeli buah, lalu dia malah minta maaf.

“Eh gam kamu mau beli buah kan? Di situ tuh Gam tempatnya.”
“mmmhhh, ya udah ayo ke sana”
Setelah aku membeli buah, aku berniat mengantar Adinda pulang ke rumahnya. “Eh din kamu mau pulang kan? Ayo aku antar kali ini aku janji gak bakal ngerjain kamu.” Ajakku sambil tersenyum.
“Pulang?” dia tersenyum kecil dan menundukan kepalanya

“Kenapa din? Kamu gak mau aku antar?” Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya.
“Enggak kok gam, aku berharap bisa pulang Gam”
“Maksud kamu?”
“Eh enggak, enggak. Kamu pulang duluan aja yah Gam aku masih ada perlu.”

“oke deh Din, terima kasih yah bantuannya, cepet sembuh yah, sampai jumpa di sekolah”
“terimakasih sudah peduli.”

Aku berjalan entah beberapa langkah tapakku ini dari tempatku berpamitan kepada Adinda, lalu setelah itu banyak suara yang aku dengar di belakangku, suara orang panik dan ketakutan. Aku membalikan badanku bermaksud melihat apa yang sedang terjadi di belakangku, ternyata ada seseorang yang tergeletak di sana, aku berlari menghampiri dan berharap itu bukan Adinda. tetapi Harapanku tak terkabul, orang yang tergeletak itu Adinda, aku segera berusaha menolongnya dengan menggendongnya, aku berlari menuju jalan raya mencari bantuan kendaraan, Syukurlah ada orang yang berbaik hati bersedia menolong Adinda, aku langsung menuju rumah sakit.

Cerpen Karangan: Panji Agung Nugraha
Facebook: Panji Guntur

Cerpen When You (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tianna Dan Peri Yang Dikutuk

Oleh:
Aku membuka lembar demi lembar album foto yang sudah lama sekali. Album itu berisi foto-foto diriku bersama kedua sahabatku dulu, tapi sekarang mereka berubah, mereka bukan sahabatku lagi. Bulir

Karma Masih Berlaku

Oleh:
Ya, Karma masih berlaku.. itu lah yang ada di pikiranku saat ini. Flashback.. Namaku Fenny, pada saat itu aku mempunyai seorang pacar yang sangat aku cintai dan aku sayangi

Handphone Ajaib

Oleh:
Dina Angelina Marina, namanya. Ia sering dipanggil dengan nama Dina atau Lina. Tapi seringnya dipanggil Lina, sih. Pasti, semua orang mengira, ia adalah anak baik, sopan, dan rajin. Akan

Sahabat Selamanya

Oleh:
Sudah sekian tahun aku berpisah dengan sahabatku, Dani. Berapa tahun, ya? Biar ku hitung. Hmm, sembilan tahun. Waktu yang lama sekali. Aku berpisah dengan Dani saat kami lulus TK.

Mereka Juga Manusia

Oleh:
“Orang gila… Orang gila..” Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *