Worth it

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 March 2013

Pagi ini mentari seperti muncul lebih awal dari biasanya, sinarnya yang menyilaukan mata membuat bumi harus memulai pekerjaannya dengan aktivitas manusia dan peradabannya. Tapi disamping itu, dari ribuan manusia yang memulai aktivitas, terlihat seorang gadis yang tengah tergesa-gesa. Entah apa yang difikirkannya, anak berambut sebahu dan bermuka manis itu terus berlari mengejar waktu dengan menaiki sepatunya alias jalan kaki. Vita, ya, dia vita, anak 17 tahun dengan rambut sebahu dan seragam SMA yang membalut rapi badannya.

“huhahuhahuha.. sialan, katanya mau nyamper gue jam segini, sial amat.. awas aja mereka kalo ketemu bakal gue abisin” ujar gadis itu seakan bicara sendiri.. ya, kedua sahabatnya rian dan age, orang terdekat vita, sahabat vita dari TK, yang biasanya selalu menemani vita berangkat sekolah, kini Vita harus berangkat sendiri dengan waktu yang mepet karna waktunya tersita untuk menunggu kedua sahabatnya yang ternyata tidak datang.

Sebuah mobil x trail bewarna merah terang melintasi Vita dan berhenti didepannya. Vita yang tak mengerti acuh tak acuh, namun belum sempat ia pergi dari mobil itu seseorang sudah menyapanya lewat kaca mobil yang terbuka. Dua sosok laki-laki yang membuat Vita tercengang sekaligus lega.

“Sendiri aje neng? ikut abang yuk!” ujar laki-laki yang duduk tepat disamping stir kemudi. Vita kemudian menarik kuping kedua laki-laki itu hingga mereka menjerit kesakitan.
“auuuuuuuu… sakit vit, gila lo, kuping gue gak ada asuransi nya” jerit age sambil mengelus-elus kuping sebelah kirinya.” Tau lo vit, temen jemput bukannya seneng malah ngejewer gini.. sakit tau gak ssssaaaakiiit, cukup tau” keluh rian yang disertai satu geplakan dari age “lebay lo” rian hanya memonyongkan bibir nya.
“berisik lo berdua, udah telat malah protes, yaudah ayo berangkat!”

“yan, makannya biasa aja kali” ujar age pada sahabatnya yang satu itu.
“gwe lwapuerr bwanget” jawab rian dengan mulut penuh makanan dimulutnya.
“yan, kalo makan gak usah ngomong, ntar mati loh” ujar vita santai disusul dengan satu jitakan dari rian.
“sialan lu, kalo gue mati ntar lo nangis vit” kata rian pede se planet merkurius.
“nangis lah, soalnya makanan kita belom lo bayar” ucap age. Ya memang hari ini rian bertugas mentraktir kedua sahabatnya itu, karna kalah bermain uno waktu dirumah vita, meskipun begitu rian sebenarnya tidak keberatan, uang untuk sahabat? why not?.

“lu berdua ekskul futsal kan hari ini?” tanya vita sambil menyesap es teh manisnya.”iya, kenapa emangnya?” Tanya age.
“gue ikut nunggu ya!” sergah Vita
“tumben, biasanya lu mau kita nganterin lu pulang dulu” ucap rian, dia sudah tahu kebiasaan sahabatnya itu, Vita selalu minta diantar pulang terlebih dahulu jika rian dan age ada ekskul, meskipun begitu, rian maupun age tidak pernah keberatan untuk mengantarkan vita pulang, karna itulah kekuatan persahabatan, meskipun Vita selalu memeras age dengan menghabiskan semua cemilan favorit age ketika main dirumahnya, dan meskipun rian selalu kelabakan ketika vita minta buru-buru untuk dijemput kesekolah dari rumahanya. Mereka tetap menganggap Vita sebagai sahabat mereka, unik.

“gue males dirumah” vita menjawab dengan ogah.
“tumben…” kini age melirik rian.
“kenapa lu ge? naksir?” satu jitakan mendarat di kepala rian.

“oper!!! yah, tinggal di heading tuh. wah gak gol si” terdengar rian yang tengah berseru di bench.

“tadi tinggal di heading dikit tuh ge, cuma sayang lo telat dikit, tapi bagus kok” ucap rian seakan memberi coaching kepada temannya itu.

“nih minum buatlu” vita memberikan minuman isotonik kepada age.
“buat gue mana vit?” tanya rian dengan watados.
“elu kan gak maen tadi” vita mencubit pipi rian gemas.
“tenang sob, gue yakin lo bakal masuk tim inti sesegera mungkin” ujar age.
“thanks sob. semoga dan semoga…”

“hmmmmmm… abis ini kita nonton yuk..” Ajak Vita.
“ha? nonton? ini udah sore vit, gak usah deh” ucap age disertai anggukkan rian.

“lo kenapa si vit, kayaknya ada yang aneh sama lo” tanya rian dengan penuh selidik.
“aneh palalu peyang, biasa aja ah” ucap vita gugup, dia tidak ingin kedua temannya tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu, ya, tapi vita tidak pandai berbohong.

“vit, lo jangan suka pelit kepercayaan dong, kita ini sobat lu kan?” vita tertegun mendengar perkataan age, iya, tidak seharusnya dia menyembunyikan sesuatu pada sahabatnya itu. Tapi ini masalah lain, mungkin vita tak sanggup bilang pada kedua sahabatnya tersebut…

“gue tau ge… tapi gue emang gak kenapa-napa” ucap vita, dia tetap tak bisa bilang sekarang.

“oke, whateva. kalo emang lo masih gak percaya sama kita gapapa…”

“btw, udah sore nih vit, ge.. balik yuk keburu maghrib” ujar rian berusaha mencairkan suasana.

“sayang, kamu yakin?” ujar seorang wanita paruh baya.

vita memandang keluar jendela dengan tatapan lurus… tatapannya seakan tak tau arah.
“yakin mah, aku udah siap” jawab vita mantap.

‘gue gak tau, tapi gue gak boleh ragu’. batinnya.

semntara itu terdengar just the way you are dari bruno mars yang mengalun rapi…
“halo vit, kenape?… hari ini?… oke, gue sama rian bakal jemput lu dirumah… hah? gak usah?… kenapa?”
“iya, gue pengen jemput kalian berdua aja sekali-kali, hahahaha mumpung baik nih gue… oke rian suruh tunggu di rumah lu ya, bye” vita menutup telepon dengan helaan nafas panjang.

“lu ngapain si vit, nyuruh kita kesini?” tanya rian.
“mau bilang sesuatu sama lu berdua” Kata vita sambil mengeluarkan 2 buah bungkusan.
“tapi kenapa musti di taman ini?” tanya age.
“lu berdua inget gak?, dulu waktu kecil kita sering main disini… kita ketemu disini.” kenang vita sambil memandang danau taman.

flashback
“kembaliin mainan aku!!!” jerit vita kepada 2 anak kecil laki-laki yang tengah mengganggunya.
“hahahahaha ambil kalo bisa!”ucap salah satu anak laki-laki sambil melempar boneka vita ke danau.
vita menangis, dia tidak bisa berenang.
“eh kalian berdua beraninya sama cewek, gak jantan!” teriak anak laki-laki itu sembari menghampiri 2 anak laki-laki lainnya.
“kalo emang berani, sini lawan aku!” teriak anak laki-laki yang kira-kira berumur 5 tahun itu.
“mmmmaa aaa ff kikikitaa gak ma maksud gitu yan” ucap kedua anak laki-laki itu dengan terbata-bata.
“sekarang kalian pergi!” teriak rian disertai wajah ketakutan 2 anak laki-laki itu yang kemudian lari terbirit-birit.
“kamu gak papa?, nama kamu siapa?” tanya rian sembari menjulurkan tangannya.
“aku vita”
“aku rian”

“oh iya… age!! udah belom?” teriak rian kearah danau.
terlihat seorang anak laki-laki seumuran dengannya yang kini tengah basah kuyup sembari memegang boneka di tangan kanannya.

“kalo inget dulu, gue jadi ketawa sendiri… lu berdua sok super hero” ujar vita sambil tersenyum simpul.
“yang penting gue imut” sergah rian dengan PD nya.

“to the point please” ucap age serius.
vita menghela nafas panjang… age memang gak pernah berubah, padahal vita ingin mencairkan suasana, meskipun itu gak berhasil.

“ini buat kalian” Vita memberikan dua bingkisan itu pada rian dan age.
Age dan Rian saling berpandangan dan bingung.
“ini apaan?” Rian memutar bimgkisan yang dibalut kertas kuning tersebut.
Age menatap Vita heran lalu sedetik kemudian melihat kebingkisan tadi.
“ini maksudnya apa si?” Age memiringkan kepalanya bertanda tidak mengerti maksud temannya ini.
“sebenarnya gue punya kabar buruk dan baik” Vita menyesap teh didepannya.
“lo berdua tau saudara kembar gue yang di german?” Vita kini menatap kedua temannya.
Vita memang mempunyai saudara kembar di german, namanya Vina. Sangat mirip, bahkan tidak berbeda. Vita dan Vina memang tidak tinggal bersama setelah mereka berumur 8 tahun.. ya, karna Vina mengidap penyakit leukimia, dan memaksa orang tua mereka memindahkan Vina ke german dengan tujuan mendapatkan medis yang lebih maju.

“Vina.. gimana kabar dia sekarang?” tanya age sambil memasang wajah agak prihatinnya. Sudah lama saat kepergian Vina, age tak melihatnya lagi.
“dia kritis” Vita menyesap lagi tehnya, berharap dengan itu air matanya tertahan.
“gue turut prihatin” rian menggenggam tangan vita lembut, tahu jika sahabatnya ini butuh kekuatan tambahan.
“dan kabar baiknya..” Vita berusaha menatap kedua sahabatnya dengan tatapan gembira.
“dia mungkin bakalan sembuh” Vita tersenyum, tentu bukan senyuman lepas.
“gue bakal kesana buat donorin sumsum tulang belakang gue..” Kini Vita menampakkan senyum tulusnya, meski dia harus berusaha keras membendung air matanya.
“dari dulu gue mau donorin tapi ortu gue bilang umur gue gak cukup, sekarang mereka gak punya alasan lagi…”
“jadi bingkisan ini tanda perpisahan..?” Age tak percaya.
“siapa bilang… enggak kok.” ucap vita santai.
“besok gue berangkat”
“lo kok jahat banget si” Rian tersenyum getir. “harusnya lo bilang ke kita gak mepet gini, kita kan bisa ngabisin waktu bareng sebelum lo pergi…”
“jadi kemaren lo ngajakin kita buat nonton karna alasan ini?” Kini age menghadap Vita dan menatapnya penuh arti. “gue udah pernah bilang vit, jangan pelit kepercayaan, kita ini sobat lo”

Kata-kata Age berhasil membuat Vita tak kuat membendung air matanya. Dia menangis. Dalam diam.
“gue gak sanggup… lo berdua terlalu berarti buat gue” Isakkan Vita kini tak bisa lagi tertahan.
Age dan Rian mendekap Vita, memberi kekuatan kepada sahabatnya itu. Mereka menyayangi Vita, seperti adik mereka sendiri. Tak ada keraguan, bahkan jika bisa, mereka ingin menggantikan posisi Vita sekarang.

“lo baik-baik disono, Gluck” Age mengacak-acak rambut Vita.
“gue titip salam sama thomas muller ya.. “Rian mencubit gemas pipi Vita.
“tenang, thomas muller disamping lo kok yan” Ujar Age dengan pedenya.
“Najesss”
“gue sayang lo berdua… gue pergi ya, pesawat mau take off nih… dah” Vita tersenyum tulus sambil berlalu pergi.
Age dan Rian memandangi punggung Vita hingga menghilang dari pandangan.
“menurut lo Vita bakal balik gak?’.”Tanya Rian.
“gue gak tau yan, gue harap si balik”

5 tahun kemudian…

pulang ngantor temenin gue ke taman biasa
from:Rian

“lo tau gak ge?, taman ini gak pernah berubah” Rian menyesap teh nya dengan lembut. “gak kerasa udah 5 tahun”
Age menatap lurus kearah danau yang masih asri di depan mereka, age memejamkan matanya sejenak, menghirup udara yang masuk ke hidungnya. ‘gue kangen lo vit’. batinnya.
Age membuka matanya, tepat didepan danau, dia melihat seorang wanita sedang membelakanginya, dengan rambut sebahu, age berfikir keras.
‘kok gue kayak kenal ya’. Age beradu dalam batinnya.
dia melihat tangan kanan wanita itu memegang sebuah benda yang sangat Age kenal.
dia memukul pelan bahu rian. “yan, yan! liat itu, itukan bonekanya Vita!” Rian mengikuti arah yang ditunjuk Age. Kini dia terbelalak.
“kita samperin”

“Vita?!Apa kabar lo?…” Age memeluk wanita itu, wanita itu hanya sedang memasang wajah kebingungan.
“Kalian Rian sama Age ya?” Kini wanita itu berkata dengan ragu.
“i iya lu vita kan?” Rian menatap bingung gadis itu.
Wanita itu menatap Rian dan Age penuh arti, nampak kecemasan dan keraguan pada raut wajahnya.
“gue gak ngerti…” Age menggelengkan kepalanya bingung, seakan sesuatu yang ada di benaknya kini menghantuinya.

Age dan Rian melihat gundukkan tanah itu dengan air mata yang tak kuasa terbendung.
“Vita udah bilang sama gue dan keluarga buat gak ngasih tau siapapun terutama kalian tentang ini” Vina menunduk, air matanya jatuh, ia tak tahan.
“Termasuk kematiannya?” Rian tersenyum getir dengan air mata yang mengalir.
“iya, dia gak mau membuat kalian sedih, gue disuruh kesini dan nemuin kalian, tapi berhubung ortu gue baru bisa kesini sekarang, gue gak nyia-nyiain kesempatan ketemu lo berdua, meskipun vita cuma nyuruh gue buat ketaman ini” Kini suara Vina terdengar parau karna air matanya.
Age menatap nisan yang bertuliskan nama Vita dan membelainya halus, air matanya jatuh disana, tak tertahan lagi. “ternyata lu beneran pelit ya vit, dasar bandel…” Age tersenyum getir lagi, senyuman kesakitan seorang sahabat. Rian memegang pundak Age dan menepuknya, dia merasakan hal yang sama dengannya.
“salam gue buat thomas muller belom disalamin ya vit” Rian tersenyum tulus menatap nisan makam Vita. “itu udah gak penting lagi vit, gue titip salam sama malaikat buat elo, baik-baik di surga ya”

END

Cerpen Karangan: Erindah Chriestika
Facebook: erindah sylvester

Cerpen Worth it merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertemu Kembali

Oleh:
Namaku aldi, aku tinggal di jalanan dan yatim piatu, saat itu umurku 10 tahun. Suatu hari ketika hujan lebat aku melihat seorang gadis kecil seumurku sendang main hujan hujanan

Guruku

Oleh:
Matahari baru setengah terlihat di timur langit, sinarnya memaksa menerobos rimbunnya dedaunan. Beberapa burung menyanyi sambut pagi yang cerah ini. Di antara pepohonan terdengar suara sepeda yang berisik dan

Only Time Will Tell

Oleh:
Kring kring kring suara sepeda baru yang ku alunkan berulang-ulang pagi itu. Haha entah apa yang telah terjadi sebelumnya, hingga semangat sekolahku meningkat 50%. karena sepeda baru? Atau kuciran

Belajar Memasak

Oleh:
Libur telah tiba, saatnya semua barang-barang yang berhubungan dengan sekolah di simpan. Seperti: buku tulis, tas, sepatu, dan semacamnya. Rabu pagi ini, aku pergi ke taman di depan kompleks

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *