Yang Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 September 2017

Lantunan melodi membuat hati Liora seakan-akan memutar kembali semua kisah yang pernah dilewati. Kebersamaan, kegembiraan, rasa kasih sayang yang begitu hangat bahkan hingga saat ini masih membekas di hati bersama alunan simponi, begitu hangatnya kasih sayang yang pernah dapatkannya.

Pukul 05.15…
Saat semua orang masih terlelap dengan dinginnya udara di pagi hari Liora harus berjuang untuk study pendidikannya yang masih di bangku sekolah menengah atasnya. Sang ayah menghantarkan Liora dengan motor tua yang sudah hampir rapuh. Hingga tiba di depan gerbang sekolah kira-kira pukul 06.45, banyak teman yang mencela, menertawakan, bahkan menghina Liora. “Dasar anak tukang sayur, kamu tidak pantas ada di sini, sekolah di sini hanya khusus orang selevel kita!” ucap seorang teman.
Hati Liora tidak terpancing dengan celaan mereka, namun keadaan begitu memanas ketika jam pelajaran konseling berjalan.

Menuliskan selembar refleksi yang pernah didapatkan di sepanjang minggu ini, dan saat menuliskan refleksi tentu saja Liora menuliskan kondisi yang saat ini sedang dia hadapi. Dengan tulisan dia tuangkan segala keluh kesah selama ini yang menimpanya, mata yang berkaca-kaca mencoba ia tahan supaya Liora tak terbawa suasana, hingga seorang guru menghampirinya dan menanyakan suatu hal pada dirinya “pengalaman berharga apa yang sudah kamu dapatkan?”, ucap guru konseling sambil menatap Liora.
Namun tatapan dan pertanyaan itu tak digubris Liora, Liora tetap saja asik dengan tugas yang diberikan guru tersebut, hingga guru tersebut menarik sebuah buku reflleksi miliknya. “aku hidup seperti mimpi, teman-teman menilaiku sebelah mata, hanya sebuah profesi orangtua saja mereka memandang dan menilai orang. Bukankan kita kita hidup harus bersahabat dan mengikat tali persaudaraan? Mereka hanyalah mencela, mereka tak merasakan kehidupan yang saat ini harus kupertaruhkan? Hingga aku harus menutupi kondisiku yang saat ini orangtuaku sama sekali tak tahu tentang aku? Aku selalu merasakan rasa yang amat sesak pada dadaku, hingga dokter memvonis usiaku tak begitu panjang. Semua diperjuangkan oleh ayah dan ibuku, bukan oleh mereka yang hanyalah mencela dan berkomentar di belakang” ungkapan kata yang tertulis.

Sontak hati seorang guru konseling pun terpukul, sebuah tulisan yang dapat memberi makna pada dirinya. Hati guru tersebut seakan akan meluapkan amarah yang terjadi pada semua muridnya. “seorang teman yang pandai dan dia ingin membahagiakan kedua orangtuanya rela bertahan hidup diakhir usianya, entah kapan Tuhan memanggilnya yang jelas kita hidup saling tolong menolong, jangan kalian pandang dari cover luar, tengoklah ke dalam seorang teman ingin memberikan kesan terbaik bersama kalian di sisa hidupnya”. ucap guru tersebut dan meninggalkan muridnya berlalu.

Bel berdering…
Pertanda jam istirahat tiba, Liora duduk tepat persis di sebuah pohon rindang yang membuatnya nyaman untuk melepas penatnya meratapi semua kejadian yang saat ini sedang ditopangnya, seakan–akan matanya merekam akan sesuatu yang akan membawanya melangkah. Dan mengejutkan tiba-tiba seorang guru konseling itu menghampiri dan duduk di dekatnya. Liora terkejut akan kedatangan guru tersebut yang muncul secara tiba-tiba. “kamu punya penyakit apa Liora? Ayah dan ibu apa tak mengetahui kondisimu sebenarnya”, ucap guru tersebut dengan nada lirih.
“Siapa yang tahu dengan keadaanku saat ini, kondisi keluarga saya sebenarnya berkecukupan, hanya mereka yang menilai orang dari kepunyaannya. Tak satu orang sahabat yang saat ini menemaniku, aku mencoba membungkam dan merahasiakan indentitasku dan keluargaku, aku diajarkan untuk hidup sederhana. Di sekolah ini aku ingin melihat dan belajar bagaimana reaksi mereka terhadap orang yang tak mampu dan berpenampilan kurang menarik di mata mereka.” ucap Liora dengan suara lirih

2 tahun berlalu…
Tak terasa waktu begitu cepat, tak diduga musibah itu menimpa Liora dan keluarganya. Ayah Liora berpulang menghadap sang pencipta, tangisan kian meluap dan memecahkan suasana rumah duka. Banyak teman yang melayat berbelasungkawa, teman yang menganggap Liora pun terkejut saat melihat kondisi rumah Liora yang begitu megah dan jumlah pelayat yang sangat ramai. Ternyata Ayah dan ibu Liora merupakan seorang petinggi besar yang berpangkat, keluarganya hidup dengan penuh kesederhanaan, selama ini Liora menyembunyikan semua yang dia punya karena kebahagiaan itu hanyalah titipan sementara, sang ayah yang banyak memberinya motivasi dan dukungan untuk kehidupannya, hingga harus menyamar menjadi sosok orang lain tak menjadikannya sebuah masalah dalam kehidupan.

1 minggu…
Setelah kepergian ayahnya Liora dihibur dengan teman-teman yang terbilang hanya ada disaat butuh. Namun hati kecil Liora masih terbawa suasana yang dulu, Liora ingin masa-masa berkumpul bersama ayahnya. Rasa sesak Liora pendam hingga saat Liora berdiri terjatuh dan pingsan, tentu saja semua teman mengerumuninya dan saat dibawa ke rumah sakit terdekat Liora dinyatakan nyawanya tak bisa diselamatkan kembali. Semua teman tentu tak menyangka akan hal yang dialami Liora, belajar dari kehidupan yang dia punya, dengan menutupi identitas dan keberadaannya.

Ibunya tak mengetahui keadaan Liora sedikit pun, Liora adalah anak yang terbilang tak ingin mengecewakan orangtuanya, bahkan kakak kandungnya sendiri pun tak tahu akan penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkannya pada kematiannya. Lora saat pergi ke dokter selalu menyembunyikan hasil laboratoriumnya, Liora hanyalah berpesan “ibu jaga kesehatan, aku belum bisa banggain ibu”. Itulah sebuah kata yang menyayat hati ibunya yang masih terbayang. Ketegaran dan kerendahan hati pada almarhum sang anak, membuatnya dikenal dan disanjung oleh banyak orang, bahkan tak hanya orang ternama saja namun orang sekitar yang dulu tak dikenal Liora kenal.

Lubang liang lahat sudah tersiapkan untuk jenazah Liora, taburan bunga warna warni pun siap untuk ditaburkan di atas gundukan tanah tempat persemayaman terakhirnya. Tak menyangka pembantunya menemukan sepucuk surat yang ditujukan untuk teman kelas seperjuangannya dan akhirnya surat itupun dibacaan secara umum, “aku merasa senang saat kalian menghinaku karena hinaan kalianlah yang membuatku bisa tegar menghadapi kehidupan ini, dan kalian jangan merasa memiliki kebahagiaan karena kebahagiaan hanya bersifat sementara.” Sepenggal kata yang dapat memotivasi semua orang, tangisan seakan memecah suasana dan tak bisa terbendung lagi hingga teman-teman Liora yang dulu mencela menjadi sadar dan belajar dari sikap dan perilakunya yang begitu baik pada semua orang, kini semua teman menganggap sosok Liora adalah malaikat yang memberikan terang kehidupan yang dapat membaut mereka menjadi sadar.

Hingga saat ini tempat yang dulu menjadi tempat tenyaman Liora di sekolah menjadi tempat paling damai untuk bercanda tawa. Dan bagi sahabat yang memiliki indra yang peka, nyawa Liora meninggal dalam keadaan yang senang dan damai dan terkadang sosok Liora hadir di tempat yang dulu membuatnya nyaman.

Cerpen Karangan: Florantina Krisdayanti
Facebook: Florantinakrisda

Cerpen Yang Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Cerita ini tentang persahabatan, persahabatan yang dimulai saat kami masih SMU tepatnya di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, sebuah kota nan indah yang dibelah oleh sungai Mahakam. Begini ceritanya..

Fly High (Part 2)

Oleh:
Saat bel berbunyi, seluruh siswa berlari memasuki kelas mereka masing. “Anjir.. gua belum belajar. Ulangan biologi kan sekarang? Ya ampun.” Hensa berdiri sambil meremas botol minuman yang tadi dia

ECHO

Oleh:
Pagi ini, aku dibangunkan oleh kesepian dan kesunyian. Tidak seperti biasanya, duniaku saat ini sangat sepi. Aku melongok ke jendela di sampingku, matahari sudah bersinar dengan terangnya ditemani langit

Ahh… Hidup (Part 1)

Oleh:
Aphan namaku. Umurku 16 tahun saat ini. Dan di sinilah aku, di bawah naungan pondok kecil yang aku buat beberapa pekan lalu bersama teman-temanku. Perempuan itu duduk di tepi

Rei Oh Rei

Oleh:
Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *