Zakiah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 February 2017

Ini pengalaman yang tak pernah ingin aku kenang. Mungkin aku terbiasa merasakan sakit dalam hidup, tapi tidak pernah sesakit ini. Aku tak tahu kenapa harus menanggung semua derita ini. Rasanya ingin meluapkan amarah tapi tidak tahu kepada siapa. Hanya satu kalimat bijak yang dapat membuatku sedikit reda, “Selalu ada hikmah dibalik cobaan,” dan hikmat yang dapat kuambil adalah, tiada alasan bagiku untuk tinggal di sini lagi.

Aku tinggal di Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, Sumbar. Nagari ini terkenal dengan salah satu pahlawan perempuan Minang bernama Siti Manggopoh. Di sinilah kujalani lika-liku hidup bersama keluarga kecilku. Di dalam keluarga, aku adalah anak satu-satunya. Aku juga dibesarkan oleh orangtua yang juga orangtua satu-satunya di keluarga ini, yaitu Ayahku. Ibu telah tiada saat dia melahirkanku. Meski dibesarkan oleh orangtua tunggal, aku sama sekali tidak merasakan kekurangan kasih sayang. Bukan cuma kasih sayang seorang bapak yang aku dapatkan dari Ayah, tapi juga kasih sayang seorang teman, guru, idola dan semuanya. Darinya aku mendapatkan kasih sayang lebih dari yang aku inginkan.

Namaku Rahim. Orang-orang di sini lebih sering memanggilku dengan nama Agam. Nama itu diambil dari kata harimau agam, yaitu julukan yang diberikan kepadaku karena keahlianku dalam hal silat. Keahlian silat yang aku dapat tidak terlepas dari campur tangan Ayah. Dia telah mengajari aku silat dari usia dini. Ayahku memang seorang guru silat, profesi yang dia lakoni dari puluhan tahun lalu hingga sekarang. Dengan kemampuan yang aku miliki sekarang, aku sudah bisa membantu ayahku melatih para muridnya. Dia tidak membatasi menerima murid dari kalangan laki-laki saja, perempuan juga diterima untuk berlatih. Diantara murid-murid perempuan Ayah, ada satu yang paling aku kenal dan mungkin akan selalu aku ingat sepanjang hidup. Dia bernama Zakiah. Boleh dikatakan Zakiah merupakan murid perempuan Ayah yang paling dekat denganku. Bukan karena kebetulan, tapi memang aku yang menginginkannya. Selama Zakiah latihan di sini, aku selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisa dekatnya. Aku tahu persis, cuma di sini bisa dekat dengannya dan tidak akan selamanya dia berada di sini.

Zakiah salah satu perempuan yang paling diidamkan-idamkan para pria di sini. Sifat, tutur sapa dan parasnya sama eloknya. Dia berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Ayahnya merupakan seorang Datuak sekaligus pedagang sukses, sementara ibunya adalah seorang guru. Melihat latar belakang keluarga Zakiah, jelas aku bukan orang yang sepadan untuknya. Aku sama sekali tidak punya pekerjaan yang tetap. Sementara orangtuaku bukanlah orang yang terpandang dengan penghasilan yang berlimpah. Tapi tidak ada dalil yang melarang kita untuk jatuh cinta pada seseorang, walaupun kita bukan orang yang sederajat dengannya.

Hari ini Zakiah datang untuk berlatih silat seperti biasanya. Zakiah selalu datang paling awal dan pulang paling akhir. Aku tidak tahu mengapa dia begitu, yang jelas aku berharap dia begitu karena ingin punya waktu lebih denganku. Namun kedatangannya kali ini memberikan kabar yang sama sekali tidak ingin kudengar.

“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Zakiah. “Apa itu?” balasku singkat. “Mungkin ini akan menjadi hari terakhirku berlatih di sini,” jawab Zakiah. Mendengar jawaban Zakiah aku langsung tertegun. Namun aku tahu, pasti dia punya alasan kuat untuk mengambil keputusan tersebut. Hanya saja rasanya aku tak kuasa menerima kenyataannya yang akan aku hadapi, yaitu tidak akan lagi waktu-waktu luang bersama Zakiah saat akan ataupun sesudah latihan silat. Aku pun lanjut bertanya, “Alasan apa yang membuat kamu tidak bisa berlatih lagi?” Sebelum Zakiah sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara Ayahku yang menyuruh kami untuk segera berbaris dan bersiap latihan.

Sepanjang latihan wajah Zakiah tampak murung, begitupula denganku. Rasanya tidak sabar ingin tahu alasan Zakiah untuk tidak latihan lagi. Tidak lama berselang, proses latihan hari ini ini pun selesai. Aku langsung mengajak Zakiah duduk di sebuah pondok di pinggir lapangan tempat kami biasa latihan silat. Di pondok ini kami biasanya menghabiskan waktu berdua. Posisinya tidak jauh dari rumahku. Aku kembali bertanya pada Zakiah, “Apa penyebab kamu tidak bisa latihan lagi?” Zakiah lalu menjawab, “Aku harus fokus menghadapi ujian akhir sekolah. Orangtuaku ingin aku melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.” Usai Zakiah menyampaikan jawabannya, tiba-tiba suasana menjadi hening. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku tidak mau suasana seperti ini berlangsung lama. Aku berkata pada Zakiah, “Walau kamu tidak latihan lagi di sini, tapi bila ada kesempatan tetaplah datang ke sini. Kamu akan merindukanku kalau lama-lama jauh dari aku.” Mendengar perkataanku itu, Zakiah langsung tersenyum sambil membalas, “Bukannya kamu yang nanti bakal merindukan aku. Buktinya tadi mukanya murung saat aku bilang tidak latihan di sini lagi, ayo ngaku?” Aku pun tersenyum mendengar kata-kata dari Zakiah. Aku langsung jawab, “Tadi kamu juga murung kan?” Akhirnya suasana menjadi cair antara kami berdua. Kami benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berdua malam itu hingga tidak sadar akan waktu. Sampai akhirnya Ayahku datang menghampiri kami. Sambil bercanda dia berkata, “Yolah anak mudo, dek talampau seronyo bacarito indak takana gai jo hari nan alah laruik doh (Dasar anak muda, gara-gara terlalu serunya bercerita sampai-sampai tidak sadar pada pada hari yang sudah larut).” Zakiah lalu membalas ucapan ayahku, “Yolah mak, Kia ka pulang lai (Ya deh mak, Kia mau pulang lagi).” Zakiah memanggil ayahku dengan sebutan Mamak karena mereka berdua sesuku/semarga. Sambil berlalu ayahku kembali mengeluarkan candaan untuk Zakiah, “Capeklah, beko kalau nampak juo dek mamak, mamak usie lai (Cepatlah, nanti kalau mamak masih melihat kamu bakal mamak usir).” Zakiah pun mempersiapkan diri untuk pergi dari sini sambil menatap wajahku dan berkata, “Aku pasti akan datang lagi ke sini.” Mendengar ucapan Zakiah, aku hanya bisa senyum. Aku bisa saja pegang tangannya dan kecup keningnya seperti di film-film, tapi ini bukan cerita seperti itu. Ini Ranah Minang dimana adat dan tradisi sopan-santun masih dijunjung dengan tinggi. Pertemuan kami malam itu akhirnya ditutup oleh ucapan salam dari Zakiah.

Beberapa Minggu telah berlalu. Aku jadi teringat ucapan Zakiah di malam terakhir kami bertemu. Tentang aku yang bakal merindukan dirinya, dan itu memang benar-benar terjadi. Malam ini untuk pertama kalinya, Zakiah hadir kembali ke sini dengan statusnya yang bukan lagi murid ayahku. Bagiku kehadirannya benar-benar penawar rindu yang mujarab. Sayangnya aku tidak bisa langsung meluangkan waktu bersamanya. Aku hanya mempersilahkan dia duduk di pondok tempat kami biasa berdua. Aku hanya seorang diri melatih malam itu. Ayah sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Aku harus menunggu latihan usai sebelum bisa menemani Zakiah yang sedang sendiri di sana.

“Maaf lama menunggu,” ucapku saat menghampiri Zakiah ketika aku usai melatih. “Tidak apa,” jawab Zakiah. “Mana Mamak?” Zakiah lanjut bertanya. “Tadi siang tubuhnya lelah dan nafasnya sesak. Sekarang dia sedang tidur,” jawabku. “Ooo, semoga Mamak lekas sembuh ya. Kangen sama dia, tapi tidak mungkin aku membangunanya hanya untuk bertemu,” tutur Zakiah. Kehadiran Zakiah ke sini untuk menyampaikan kalau dia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang. Dia juga mengucapkan janji, setiap kali pulang dia akan mampir ke sini. Tapi bukan janjinya itu yang menjadi ucapan paling berkesan yang keluar dari mulut Zakiah malam itu. Zakiah bertutur, “Aku merindukanmu.” Itulah ucapan Zakiah yang benar-benar membuat hatiku berbunga. “Kamu benar malam itu. Aku pasti akan merasa rindu kalau lama-lama jauh dari kamu,” lanjut Zakiah. “Bukan cuma aku yang benar, kamu juga benar Zakiah,” balasku. “Aku juga merasakan rindu yang sama, bahkan lebih besar dari yang kamu pikirkan,” lanjutku. Malam itu menjadi malam yang indah bagi kita berdua. Namun kita tidak mau melakukan kesalahan yang sama yaitu lupa pada waktu karena terlalu asyiknya bercerita. Pertemuan itu berlangsung singkat, tapi setidaknya dari pertemuan yang singkat itu kami akhirnya tahu perasaan masing-masing.

Sudah hampir dua tahun berlalu sejak Zakiah mengucapkan janjinya. Selama itu juga Zakiah selalu menepati janjinya untuk datang ke tempat aku melatih silat ini, setiap kali dia kembali dari kota Padang. Aku sadar, tidak selamanya bisa mengandalkan hidup dari melatih silat. Aku butuh pekerjaan yang tetap untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Akhirnya aku mencoba mencari pekerjaan ke sana kemari dan bertanya pada siapapun yang aku jumpai. Syukurlah, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang menurutku lumayan. Aku diberi kesempatan untuk mengurus rumah makan milik anak dari Bapak Sidi Bakar. Bapak Sidi Bakar merupakan salah satu orang terkaya di sini. Rumah makan tersebut dimiliki oleh anaknya yang bernama Ilham. Anaknya tersebut tinggal di ibukota Jakarta. Dulu rumah makan ini diurus oleh adiknya Ilham bernama Yuli. Namun Yuli baru-baru ini menikah dan ikut dengan suaminya, sehingga dia tidak dapat mengurusi rumah makan ini. Aku merasa bahagia karena kesempatan untuk mengurus rumah makan tersebut jatuh ke tanganku. Setidaknya aku punya pekerjaan yang lebih tetap sekarang.

Kebahagian itu hanya sesaat. Pagi itu sekitar pukul sembilan, aku sedang berada di rumah makan untuk mempersiapkan aneka hidangan yang akan dijual. Tiba-tiba beberapa orang datang dan memintaku untuk segera pulang. Aku benar-benar dibuat bingung dan tidak tahu apa yang terjadi. Namun perasaanku benar-benar tidak enak kala itu. Benar saja, sesampainya di rumah aku lihat keadaan sekeliling ramai oleh orang-orang. Aku langsung berlari ke dalam rumah dan kudapati ayahku terbaring kaku di antara para pelayat yang datang. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirmu. Hanya air mata yang berbicara. Aku merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sekeras apapun hatiku menolaknya, aku tidak punya kuasa menghentikan kenyataan bahwa Ayah telah tiada. Sekarang, orang yang aku cintai telah tiada. Tiada lagi tempat mengadu dan tempat bertanya.

Aku terlibat langsung memandikan, mangafani, menyalati dan mengantarkan jenazah Ayah ke peristirahatan terakhirnya. Aku tidak mau kehilangan waktu sedikitpun disaat-saat terakhir bersama dengannya. Saat jenazah ayahku sedang dimakamkan, kudapati seorang wanita sedang berjalan tergesa-gesa dan menujuku. Wanita itu adalah Zakiah. Aku tahu dia pasti akan datang, tapi aku tidak menyangka apa yang akan dia lakukan. Zakiah menghampiriku lalu memelukku erat. Pelukan Zakiah mampu memberikan ketenangan di hatiku, tapi tidak untuk orang-orang sekitar yang melihat kami berdua. Aku tahu, mereka yang berada di sana pasti akan memandang pelukan kami ini sebagai sesuatu yang hina. Perlahan aku lepaskan pelakukan Zakiah dari tubuhku. Aku tidak mau menegurnya atas apa yang dia lakukan. Aku hanya berucap, “Terimakasih sudah datang.” Zakiah hanya tersenyum lalu berkata, “Berdosa aku tidak datang disaat kamu butuh seseorang untuk menamani.” Aku benar-benar sangat senang dengan kehadiran Zakiah di sana. Sayangnya itu adalah hari terakhir bagiku untuk bisa berjumpa dengannya. Tampaknya pelukan antara aku dan Zakiah menjadi bumerang bagi kami berdua.

Hari ini, aku kembali menjalani hari-hari seperti biasanya. Salah satunya adalah melatih silat. Hanya saja sekarang aku hanya sendiri. Tanpa Ayah, tanpa Zakiah. Aku selalu berusaha tegar dengan keadaan sekarang ini. Tetap saja tidak jarang aku meneneskan air mata setiap kali teringat kenangan bersama mereka. Kenangan bersama Ayah dan Zakiah terlalu indah untuk bisa dilupakan. Aku tahu waktu tidak bisa diputar kembali, tapi aku selalu berdoa ingin bisa berjumpa dengan mereka seperti dulu.

Aku juga masih menjalani pekerjaan sebagai pengurus rumah makan. Hari ini untuk pertama kalinya aku berjumpa langsung dengan si Ilham, sang pemilik rumah makan. Dia datang untuk meninjau langsung keadaan rumah makan miliknya ini. Namun tujuan utamanya datang ke sini bukan untuk itu. Dia datang ke sini untuk melamar seorang wanita calon pendamping hidupnya. Satu hal yang membuat aku terenyuh adalah, wanita yang menjadi calon pendamping hidup si Ilham ini adalah Zakiah.

Mulanya aku sama sekali tidak percaya dengan itu semua. Sebelum akhirnya orangtua Zakiah mendatangiku secara langsung. Secara keras, mereka melarangku untuk berhubungan lagi dengan Zakiah. Aku terpaksa menerima itu semua walau tanpa mendapatkan penjelasan apapun dari Zakiah. Walaupun ini sakit bagiku, tapi aku tahu ini adalah yang terbaik untuk Zakiah. Orangtuanya pasti memilih orang yang masa depannya lebih jelas dan lebih terjamin. Bukan dengan orang sepertiku.

Rasanya tidak ada alasan lagi bagiku berada di Nagari yang aku cintai ini. Keluarga tak ada, orang yang dicintai pun sudah jatuh kepelukan orang lain. Aku sudah membulatkan tekad untuk angkat kaki dari sini, mencari kehidupan baru di luar sana yang semoga akan lebih baik. Kemarin, aku masih menyempatkan diri untuk berkumpul dengan murid-murid silatku untuk yang terakhir kali. Salah satu dari mereka memberiku sepucuk surat. Ternyata surat itu dari Zakiah. Isi suratnya adalah:

“Terimakasih telah menjadi pria pertama yang mengajariku rasa rindu. Jujur, rasa rindu ini bukan terjadi saat malam itu kita berpisah, tapi sudah aku alami saat pertama kita berjumpa. Sekarang aku dipaksa untuk menghapus rasa rindu itu. Aku hanyalah seorang yang lemah yang tak punya kekuatan untuk melawan orang-orang di sekitarku. Mereka memaksaku dan tak memberiku pilihan. Andai aku bisa memilih, aku pasti akan memilih kamu. Aku berharap kita masih bisa bersama. Bila bukan di dunia, di surga pun akan kuterima.”

Cerpen Karangan: Arif Azri
Blog: literaturid.blogspot.co.id
Sastra dunia yang baru bagiku. Dulu aku bukanlah penyuka sastra, sempai akhirnya aku membaca karya-karya Kahlil Gibran.
Facebook: Arif Azri

Cerpen Zakiah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Da Aku Mah Apa Atuh

Oleh:
Namaku Aprilia Putri Handayani. Aku biasa dipanggil April. Inilah yang membuat aku bingung mengapa orangtuaku memberikan aku nama April? Sedangkan aku sendiri lahir di bulan Oktober? Ah sudahlah, da

Saya Kira Anda Serius

Oleh:
Namaku caca. Aku punya cowok yang suka bikin aku baper, namanya irsan. Kami sudah 2 tahun pacaran, dan akhir akhir ini dia berubah, dia uda gak kaya dulu yang

Pelangi Imaji

Oleh:
Aku melihat langit senja, warnanya keemasan dan membuatku terpana. Tangan aku bergerak melukis awan dengan pensil warna, berharap hujan nanti malam berwarna-warni agar ketika pagi pelangi datang. Berulang kali

Lelaki Tua dan Selembar Foto

Oleh:
Sejak pagi langkah lelaki tua itu belum juga berhenti. Meski panas matahari kian menyengat, dia terus berjalan kaki menyusuri jalan. Peluh mulai bercucuran di keningnya. Sejenak dia menghentikan langkahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *