Zaky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

“Hei dia kembali!!”
“Benarkah?”

Seorang pria tiba di sekolah dengan wajah wibawa serta seragam rapinya. Desky, sang ketua osis telah kembali. Pintu gerbang telah dibukanya. Dan ia berjalan melewati koridor. Senyum pagi dipancarkannya kepadaku. Aku pun membalasnya dengan suka cita. Bak harta karun telah ditemukan, kedatangan Desky dari negeri Gajah putih sangat membuat para siswa antusias. Hingga tidak sedikit siswi yang ingin meminta foto bersamanya.

“Zaky?”
Pak Ekky memanggilku. Tanpa basa-basi aku paham, aku bergegas menuju kantor Bimbingan Konseling dan melepas bajuku. Menempelkan sejenis plester di sekujur tubuhku, untuk mengurangi cairan nanah yang ke luar. Dan parfum untuk mengkamuflase bau anyir yang ke luar dari tubuhku. Namaku Zaky, mungkin satu dari sekian ribu pemuda yang kurang beruntung. HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS, atau biasa di sebut HIV telah merusak sistem imun kekebalan tubuhku, banyak yang ingin ku lakukan untuk menikmati masa remaja seperti remaja-remaja yang lain, namun sayangnya sulit.

Setelah semua orang mengetahui penyakitku yang tergambar jelas pada kulit putih pucat pasi nan keriput, beserta tubuh yang sangatlah kurus bak busung lapar. Semua karena ayahku yang sudah ribuan kali tidur dengan wanita malam, dan penyakitnya ia tularkan begitu saja pada ibuku, dan lahirlah aku. Dengan penyakit HIV lima kali lebih parah dari ayah dan ibuku. Dan kini mereka berdua telah tiada. Walau bagaimanapun aku harus tetap bersyukur menjalani hidup ini, ada Pak Ekky ayah angkatku. Dan yang terpenting aku masih bisa bernapas dan tersenyum, menikmati lingkungan yang sangat membenciku. Puluhan plester telah merekat di badanku, parfum pun telah disemprotkan untuk mengurangi bau anyir, dan aku harus bergegas menuju kelasku. Kelas XI bahasa 1.

“Pagi?” sapaku di depan teman sekelas.
“Pagi Zaky! eh Zaky apa kabar?”
“Iya nih Zaky, diem-diem aja nih haha!!”
“Haah?” Gemingku dalam hati.

Ini aneh pertama kali sapaanku dijawab oleh mereka. Mereka yang biasa memandangku jijik. Kini berubah sembilan puluh derajat menjadi baik. Seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. “Zak sini duduk di samping Gue!” bujuk Desky dengan wajah penuh harap. Aku mengiyakan tawarannya seraya duduk tepat di samping Ketua Osis Desky. Hari ini begitu istimewa. Baru kali ini aku merasakan bak remaja-remaja pada umumnya.

Canda, tawa, dan kebahagiaan yang sangat sulit untuk didapatkan bagi remaja sepertiku. Terkecuali cinta, ia sudah lama aku jatuh cinta kepada wanita yang duduk tepat di bangku yang paling depan. Rineta namanya. Gadis yang selalu menguncir rambutnya ini berhasil membuatku terpana akan parasnya yang begitu cantik. “Haha,” remaja dengan HIV sepertiku bisa apa? mengajaknya kencan dan berharap memiliki hubungan resmi dengannya?

Ku tahu ekspetasiku terlalu tinggi, namun apa salahnya jika kita berharap? Aku hanya bisa mengagumi wanita itu. Tanpa bisa melakukan apa pun, rasa sakit akan nanah yang terus ke luar dari tubuhku tak seberapa sakit dibandingkan aku harus menerima kenyataan kalau Renata sudah mempunyai sepasang kekasih. Aku bisa apa? tetap melihatnya bahagia bersama orang lain? hidupku terlalu singkat untuk menyayangi seseorang yang tidak menyayangiku. Jam tiap jam pelajaran telah ku lewati semuanya berjalan normal sampai semuanya berubah tatkala Pelajaran Bahasa Korea dimulai.

“Zaky, coba kamu maju ke depan dan tulis ke dalam bahasa Korea, ‘Saya berharap bisa hidup bahagia selamanya dan disayang Tuhan.” ucap Pak Raka seraya memberikan sepidol kepadaku untuk ditulis ke papan tulis.
“Aaaa, Zaky kau kenapa!!” teriak Rineta yang kaget melihat darah yang tembus dari baju seragamku. Yang ke luar semakin banyak, sampai-sampai bercak darah menodai papan tulis
“Arrgghhh!!” aku merintih kesakitan, ini benar-benar sakit, badanku seperti ditusuk oleh jutaan jarum.
Semua orang di kelas panik. Aku tergeletak lemas dengan lumuran darah kental yang menggenangi lantai kelas. Pandanganku gelap dan aku langsung tak sadarkan diri.

“A, aku di mana?” ucapku perlahan sambil memegangi kepalaku, sepertinya aku banyak kehilangan darah. Mataku melihat keadaan sekitar, ini seperti tidak asing, haahh, aku masih berada di dalam kelas? iya tidak salah lagi ini kelasku XI bahasa 1, lampu yang padam serta suasana malam hari yang sunyi membuatku sulit tuk mengenali tempat ini. Sssshhh… Tiba-tiba asap putih membawaku ke salah satu ruang di sekolah Gedung Teater, aku duduk di antara salah satu bangku penonton. Dan melihat pertunjukan teater yang indah. Bagaimana tidak di sepanjang alur hanya mengisahkan tentang pemuda yang menderita penyakit HIV sepertiku. Lalu di akhir pementasan Desky berterima kasih kepadaku, karena ia tahu kalau Imam yang menyebarkan foto Desky bersama Reyna.

Dan Pak Ekky juga dengan harunya mengucapkan kalau ia sangat beruntung bisa merawatku sampai sejauh ini, walau Pak Ekky bukan Ayah kandungku. Ia telah ku anggap sebagai ayahku sendiri. Dan aku mulai lelah. Saatnya istirahat untuk selamanya. Karena aku sadar hari ini adalah hari terakhir bagiku. Tepatnya jam dua belas siang aku kehilangan seluruh darahku tatkala aku menulis bahasa korea di papan tulis. Dan karena hari ini juga semua orang bersikap baik padaku. Karena mereka ingin melihat aku bahagia menikmati hidup untuk terakhir kalinya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Imam Nur Hidayat
Blog: inurhidayat123.blogspot.com

Cerpen Zaky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Diasingkan

Oleh:
Bagai tangan yang tak bisa menggenggap lagi. Tingginya langit jauhnya bulan luasnya dunia, hanya akulah yang paling menderita saat ini. Entah mengapa ini belum kan berakhir. Mengapa tak ada

Diary Sang Penyandang Kanker

Oleh:
2 January Hatiku remuk. Hidupku hancur. Baru saja kemarin aku merayakan tahun baru dengan sahabat-sahabatku. Namun kini aku didiagnosis terkena penyakit kanker otak stadium 1. Mungkin hidupku akan segera

Sakit Tuhan, Sakit!

Oleh:
Hai, Nama ku Salsa. Aku akan menceritakan kisah yang paling menyedihkan dan mengharukan. Oh Tuhan perih… sakit sekali… Aku pun menangis dalam diam. Aku menutup muka ku dengan bantal,

Buku Harian Seorang Tapol

Oleh:
Namaku Parto Giman. Aku hanyalah seorang guru SD ndeso. Aku tinggal di kampung, di rumah warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Disini aku

Pasir di Pucuk Ilalang

Oleh:
Gelap malam yang begitu menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya yang menggugah kalbu, untuk terus menyebut asma-NYA seiring deras hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *