1 Jam Bersama Ben

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 24 May 2017

Sudah 3 hari aku pindah ke tanah kelahiran ayah. Greenstone, desa kecil di pinggir kota Wiltford. Tepat di depan rumah kami ada rumah tua yang ingin sekali aku kunjungi. Pagi itu aku duduk di depan rumah sambil merapikan wig yang kukenakan.

“Pagi yang cerah. Boleh kubantu merapikan?” kata ayah yang berjalan mendekatiku yang kemudian duduk di sebelahku. “Amery? Apa kau baik-baik saja?” ayah bertanya seperti itu setiap pagi dan membuatku ingat kalimat dokter yang membuat ayah menangis sepanjang malam. Sejak saat itu, aku benci dengan seorang dokter. Aku merasakan sedikit pusing di kepalaku setiap pagi. Bahkan setiap saat. Tak jarang, pusing yang hebat membuatku kejang-kejang lalu pingsan.
“Terimakasih, aku baik-baik saja. Ayah, siapa yang tinggal di rumah tua itu? Sudah tiga hari kita di sini dan belum pernah mengunjungi rumahnya sekalipun. Ayah, aku ingin ke sana,” kataku. Rasa penasaranku telah mendekati puncaknya. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuluapkan pada penghuni rumah itu saat bertemu nanti.
“Namanya Mr. Ben. Beliau adalah sahabat baik kakekmu dulu. Apa kau ingin ke sana, Ame? Aku memang ingin mengajakmu mengunjunginya hari ini. Tapi, hanya sebentar. Kau baru saja minum obat dan harus segera istirahat,” kata ayah. Aku mengangguk dengan antusias sampai wig yang kukenakan melorot ke depan. “Akan kuambilkan kursi roda untukmu,” katanya.

Kami keluar dari halamank emudia nmelewati jalan depan rumah yang lebarnya tak sampai 5 meter. “Kita sudah sampai,” kata ayah. Kurasa hanya butuh 5 detik untuk sampai ke pagar rumah tua itu. Rumah itu tampak lebih menyedikan jika dilihat dari dekat. Sangat sepi dan kotor. Ayah membuka pagar kayu rumah tersebut lalu mendorong kursi rodaku tepat di depan pintu. Kali ini aku yang mengetuk pintu rumah tua itu.

“Ayah, kukira tak ada siapa pun di dalam sana. Kita kembali saja,” kataku.
“Bersabarlah dulu,” kata ayah sambil mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengan suara lirik seorang pria dari dalam pintu “Masuklah, Frank,”
Ayah membuka pintu lalu masuk bersamaku. Aku melihat lelaki tua yang tidur di kasur tipis lengkap dengan selimut yang menutupinya dari kaki hingga dada. Lelaki tua yang menurutku pantas kupanggil kakek. Dia tersenyum pada kami. Semakin terlihat jelas kerutan wajahnya saat tersenyum.

“Selamat pagi, Mr. Ben,” sapa ayah. Dia tersenyum pada ayah lalu melihat ke arahku. Aku hanya melempar senyum pada Mr. Ben.
“Hai, Frank dan hai juga untukmu, Amery Maroline Addison,” sapa Mr. Ben. Baru kali ini ada seseorang yang menyapaku dengan nama lengkap pula.
“Dia cantik seperti Marry,” kata Mr. Ben. Ibuku bernama Marry Marioline. Dia meninggal setengah jam setelah kelahiranku. Jika aku bertanya kepada ayah ‘bagaimana wajah ibu?’ dia hanya menjawab ‘berkacalah.’

“Mr. Ben. Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
“Mr. Ben, Mengapa pagi hari kau malah tiduran di kasur? Mana keluargamu. Apa kau sendirian?” tanyaku. Tiba-tiba ayah memegang bahuku setelah pertanyaanku selesai. “Maaf, Mr. Ben,” kata ayah.
“Ah tidak masalah, Frank. Nak, kalau kau mau, besok berkunjunglah kemari. Mari berdiskusi tentang sesuatu. Frank, silhkan duduk,” kata Mr. Ben mempersilakan ayah duduk di bangku dekat kasurnya. Lalu, mereka berdua berbincang bincang menanyakan kabar dan lain sebagainya. Aku hanya melihat barang-barang yang berantakan di rumah itu. Tak sampai 10 menit ayah mengajakku pulang. Sesuai ucapannya ‘hanya sebentar’
“Baiklah. Mr. Ben. Maaf mengganggumu,” kata ayah. Kami berpamitan dan meninggalkan rumah tersebut. “Dia orang yang baik, Amery,” kata ayah.

Keesokan harinya aku bangun lebih awal. Aku mengenakan baju krem dan rok panjang berwarna coklat lengkap dengan wig yang biasa kupakai.
“Apa kau baik-baik saja, Ame? Kau terlihat pucat sekali hari ini. Apa kita tunda besok pagi saja?” tanya ayah.
“Aku tidak apa-apa ayah. Hanya saja, aku sedikit lebih pusing hari ini. Tak apa kan? Hanya sebentar,” kataku. Lalu kami pergi ke rumah Mr. Ben.

Mr. Ben ternyata sudah siap seperti biasanya. Tetap berada di kasurnya. Dia menyapa, menanyakan kabar dan tersenyum. Aku menyuruh ayah meninggalkan kami berdua. Aku berjanji akan bebincang-bincang dengan Mr. Ben selama 2 jam. “Amery, aku akan menjemputmu pukul 10 nanti. Aku takut kau kelelahan,” kata ayah sebelum meninggalkan kami. Perbincangan aku dengan Mr. Ben pun dimulai.

“Jadi, aku ingin menjawab pertanyaanmu kemarin dengan singkat saja. Pertanyaan pertamamu, aku selalu di kasur bahkan saat pagi hari karena aku mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan yang mula-mula menyerang kaki dan tidak menutup kemungkinan penyakit ini akan terus menjalar ke atas. Aku lupa nama penyakitnya karena susah untuk mengucapnya. Lagi pula tidak terlalu penting buatku,” katanya sambil memijat kakinya.
“Lalu pertanyaanku yang ke dua?” tanyaku. Seingatku tentang keluarga.
“Tentu aku punya keluarga. Seorang istri dan seorang anak laki-laki. Kalau anakku masih hidup, dia sebaya dengan ayahmu. Istri dan anakku meninggal saat peristiwa kebakaran berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat peristiwa itu, aku sedang mengajar. Dulu, aku seorang dosen di Universitas Wiltford,” terangnya sambil sesekali melihat ke luar jendela. Aku hanya terdiam. Kami terdiam.

“Itu Lucy, dia adalah seseorang yang merawatku. Anak dari adikku. Jadi aku tak sendiri,” katanya sambil melihat ke arah Lucy. Lucy melambaikan tangan dan menyapaku, “Hai, Amery,”
“Oke mari berdiskusi. Aku suka berdiskusi dengan mahasiswaku dulu. Kau mau kita berdikusi tentang apa, Nona Amery?” katanya.
“Apa saja,” kataku. “Silahkan, Nak.” kata Mr. Ben.
“Apa kau tahu Mr. Ben? Aku benci dengan dokter,” kataku. Mr. Ben memandangku seolah berkata ‘Mengapa?’. Lalu aku melanjutkan, “Dokter membuat ayahku menangis sepanjang malam. Aku benci dengan seseorang yang membuat ayahku menagis. Aku sangat sayang padanya,”
“Memang apa yang dikatakan dokter itu pada ayahmu?”, tanyanya.
“Dia berkata ‘Amery mengidap kanker otak. Menyebar luas dan sangat cepat.’Dokter itu membuat air mata ayah mengalir deras. Setiap malam dia menangis. Benar saja kanker otak itu membuatku botak Mr. Ben,” Kataku sambil melepaskan wig yang kukenakan.
“Dokter memang sangat menyebalkan. Dia ayah yang baik dan bertanggung jawab. Frank, Sudah kuanggap menjadi anakku sendiri bahkan sebelum kakekmu meninggal,” katanya lalu menyuruhku mengenakan wig.
“Aku sudah tidak mau merepotkan ayahku, Mr. Ben,”
“Ayahmu akan sedih jika tidak kau repotkan, Amery,” katanya dan aku hanya membalasnya dengan anggukan.
“Mengapa kau tidak menggunakan kursi roda itu untuk ke luar rumah?” kataku melihat kursi roda Mr. Ben yang berdebu.
“Aku sudah lama tak menggunakannya untuk keluar rumah. Entahlah, mungkin besok akan kupakai. Aku yang bergantian mengunjungimu besok,” katanya. Aku mengangguk.

“Apa kau percaya dengan reinkarnasi Mr. Ben?”
“Mungkin,” katanya sambil menaikkan alis.
“Kau ingin terlahir kembali menjadi apa?” tanyaku. Mr. Ben melihat ke luar jendela lagi dan berkata lirih, “Burung,” lalu dia tertawa. Melihat keadaannya yang sekarang, menjadi burung merupakan pilihan yang tepat.
“Kalau kau, Ame?” tanyanya. “Menjadi burung boleh juga,” kataku sambil tertawa lepas.
“Mr. Ben, mulai sekarang kau harus menjadi kakekku,” kataku sedikit memaksa.
“Kita sudah ditakdirkan menjadi kakek dan cucu, bukan?” katanya.

Sudah satu jam aku mengobrol bersama Mr. Ben. Dia pendengar yang sangat baik. Namun, pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. “Mr. Ben, aku ingin mengobrol denganmu lebih lama. Kurasa aku harus minum obat saat ini. Kita lanjut besok pagi lagi. Terimakasih Mr. Ben,” kataku.
“Kau kelihatan pucat, Ame? Akan ku panggilkan Bibi Lucy biar dia mengantarmu pulang,” kata Mr. Ben memandangku cemas. Aku mengangguk.
Mr. Ben memanggilkan Bibi Lucy untuk mengantarku pulang. Aku melihat Bibi Lucy berlari panik ke arahku. Aku seperti berputar dan melihat kunang-kunang memenuhi mataku. Mr. Ben berteriak memanggil namaku dan nama ayah berulang kali. Aku juga melihat ayah masuk ke dalam rumah Mr. Ben dan berlari menuju ke arahku. Lalu, gelap.

Keesokan harinya aku melihat Frank yang sedang duduk di depan rumah. Dia mengenakan baju dan celana serba hitam. “Lucy, tolong bawa aku ke sana,” kataku. Aku meminta Lucy untuk mendorong kursi roda yang kududuki menuju Frank.
“Frank, dia anak yang baik,” kataku menepuk-nepuk bahunya.
“Mr. Ben, dia baru berumur 10 tahun. Masih terlalu muda,” kata Frank memegangi kepalanya yang mungkin terasa sangat berat.
“Dia tak bilang padaku kalau dia tak mau lagi menyusahkanmu,” kataku.
“Dia juga pernah bilang seperti itu padaku. Terakhir kali aku dengar dia memanggilmu kakek Ben,” kata Frank memelukku. Air mata kami pecah saat itu.
Seperti yang kukatakan kemarin “… mungkin besok akan kupakai. Aku yang bergantian mengunjungimu besok,”. Benar saja, aku mengunjungimu hari ini. Hari dimana kau telah tidak lagi di dunia ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini padamu. Aku adalah mantan seorang dokter. Aku yakin, kau akan terkejut jika mendengarnya langsung.

Cerpen Karangan: Febriana Kurnia Fitri
Facebook: Febriana KF
Nama: Febriana Kurnia Fitri
Tempat/tgl lahir: Surakarta 8 Februari 1997
Sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret di jurusan Pendidikan Sejarah

Cerpen 1 Jam Bersama Ben merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bos Galak dan Rujak Cair

Oleh:
“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah siang-Mu yang telah menjelang dan Malam-Mu yang telah berlalu serta suara-suara penyeru-Mu. Maka Ampunilah aku.” Pagi ini telah kuselesaikan zikir Al-matsurat selepas shalat subuh

It Was Fairytale

Oleh:
Seorang wanita dewasa melangkahkan kaki di antara keramaian orang-orang yang sedang berpelukan. Mencoba mencari jalan di antara orang-orang itu. Dan terlihat seorang wanita sedang menunggu di persimpangan lorong sekolah

Bougenville

Oleh:
Sebuah sepeda berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau. Sttt… begitulah suara rem sepeda yang hendak menghentikan roda yang melaju kencang di atas rumput hijau di samping sebuah kursi

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Cowok Misterius Di Kereta Api

Oleh:
Baru kali ini aku naik kereta api di umurku yang sudah beranjak tujuh belas tahun. Aku memang anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana. Kali ini pun aku terpaksa naik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *