Bolehkah Aku Bertanya?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 10 February 2018

Tengah malam aku tersentak dari tidurku, aku merasa tak nyaman dan mengingat-ingat mimpi apa aku barusan. Namun, aku sama sekali tak ingat mimpiku, lalu aku putuskan saja untuk tidur kembali. Dalam tidurku aku bermimpi, aku mengikuti lomba mencari benda-benda bulat yang disembunyikan di sekitarku oleh panitia lombanya, akhirnya aku menemukan benda bulat itu berjumlah 36 buah. Anehnya aku mendapat juara II dalam lomba itu malah dipanggil bahwa aku yang juara I. Senangnya hatiku di mimpi itu, mereka memberiku hadiah kamera dan handphone yang bagus. Lalu, aku ingat-ingat, “Ini mimpi atau beneran ya?” waktu itulah aku terbangun dari tidurku.
“Yah.. Cuma mimpi.” Kesalku.

Aku melirik jam dindingku, ternyata sudah menunjukkan pukul 06.14 WIB. Aku terkejut dan langsung turun dari tempat tidur, bisa-bisa aku telat kuliah karena hari ini memang aku masuk pagi. Dengan segala keburu-buruanku, aku berangkat ke kampusku tercinta.

Tepat pukul 07.00 WIB aku sampai di kampus.
“Hehe.. tepat waktu juga.” Tawaku sendiri.

Setibanya di kelas, aku disibukkan oleh mataku yang asyik memandang teman-temanku yang sibuk mengerjakan tugas di kelas, aku sih tinggal nyantai aja karena tugasku sudah siap semua, biasa anak rajin.

“Maya, tolong bikinin aku covernya dong!” pinta temanku yang super menyebalkan bagiku, tapi dia orangnya baik juga kadang-kadang, hehe. Namanya Ulin, dia anaknya paling eksis di kelas, itu sih menurutnya.

“Aku nggak mood nulis.” Ucapku singkat.
“Tolonglah, tulisanmu kan cantik.” Pujinya padaku, aku makin malas dibuatnya, seharusnya dia bilang aku yang cantik bukan tulisanku.
“Nggak ah.” Jawabku.
“Plisss.” Mohonnya dengan mempertemukan kedua telapak tangannya.

Dengan berat hati terpaksalah aku membantu dia membuat cover tugasnya itu,tapi kalo terpaksa nggak dapat pahala juga ya, jadi aku coba mengikhlaskan hati. Sudah susah-susah bikin tugas berharap dosen segera datang, malah sudah dua mata kuliah dosennya nggak ada yang datang, keselnya.

Aku memutuskan untuk menanyakan soal beasiswa pada wakil dekan III, soalnya aku benar-benar sangat membutuhkannya. Aku minta saja Ulin untuk menemaniku ke sana. Eh saat tiba di sana Bapaknya pergi keluar. Aku dan Ulin pun mengikuti Bapak itu sampai keluar kampus. Saat Bapak itu berhenti berjalan, aku pun menemuinya.

“Pak, bolehkah aku bertanya?” Ucapku padanya.
“Apa tu?” Jawabnya.
“Ada nggak peluang untukku mendapat beasiswa?” Tanyaku.
“Sekarang nggak ada.” Jawabnya.

Aku menundukkan kepala sejenak, lalu berkata ini itu, dan dijawab ini itu pula oleh si Bapak. Akhirnya, bisa ditarik kesimpulan bahwa memang tak ada peluang untukku saat ini. Kesal sih, kan waktu seminar beasiswa Bapak tu bilang bahwa banyak peluang untuk mendapatkan beasiswa. Aku merasa kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Aku merasa kacau, bisa dibilang galau juga sih, aku berjalan mondar-mandir kesana-kemari bersama Ulin.

Tak berapa lama kemudian aku mencoba menemui dosen pembimbing akademikku. Dengan bersedih hati, aku mengadu pada dosenku itu, tanpa disadari air mataku mengalir dengan derasnya, aku tak kuasa menahan air mataku, sangat susah menahannya (malu-maluin aja). Dosen itu memberi aku banyak sekali motivasi, yang bisa berarti aku harus melakukan saran beliau.

Setelah lama, waktu pun berlalu, aku kembali menemui Ulin. Dia banyak bertanya padaku yang membuat kepalaku pusing menjawab pertanyaannya.
“Bolehkah aku bertanya?” Ucapnya.

Cerpen Karangan: Mei Defrita Ratna Sari
Facebook: Dhea Meidefrita Ratna Sari

Cerpen Bolehkah Aku Bertanya? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Baru

Oleh:
Aku siswi kelas 2 SMK di daerah DKI Jakarta. Dan hari ini tepat UAS semester genap. Hitungan hari lagi aku sudah menjadi anak kelas 12 alias kelas 3 SMK.

Perjalanan Pulang dari Kedai Kopi

Oleh:
Malam tidak terlalu larut, bagiku, saat aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dari kedai kopi langgananku; meninggalkan teman-temanku yang masih ingin tinggal lebih lama. Aku memutuskan pulang terlebih dahulu

Dare to Have Friend

Oleh:
Suara buku tersibak mendominasi ruangan. Bahkan, suara langkah kaki orang-orang di luar tak bisa kudengar. Pikiranku benar-benar terfokus pada dunia lain, dunia di dalam buku. Sampai bunyi lonceng di

Bidadari, Benarkah Itu?

Oleh:
Hari ini adalah hari yang tidak mendukung. Pagi-pagi, sudah hujan. Padahal, ini hari Minggu. Cucian belum kering, terus kena kantong kering, suasana lagi boring, rencana hang out gagal maksimal.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *