Cinta Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 29 April 2017

“kulihat kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?” celetuk temanku,
“hujan” jawabku singkat.
“hujan, kau ini semakin hari semakin aneh saja” tegasnya.
“banyak anugerah yang turun bersama hujan, kau lihat air yang jatuh dari langit ini, ini cinta. bentuk cinta Tuhan kepada umatnya. Hanya saja mungkin kitanya yang tak bersyukur ketika hujan karena kalian tak tahu betapa indahnya hujan. Itulah kenapa banyak yang menikah ketika musim hujan tiba, karena saat hujan adalah waktu yang baik untuk berkembang biak, banyak cinta saat hujan” kami tergelak.
“Banyak hal yang bisa kuingat ketika hujan, musim hujan adalah musim yang paling kutunggu saat aku kecil. Diam-diam sembunyi mandi hujan agar tak kena marah. Menari dan menyanyi menyambut hujan, berlari lari sampai terjungkil balik tapi tetap tertawa. Hampir semua anak kecil di kampungku berlarian keluar ketika hujan, tau kau apa yang kami lakukan? kami bermimpi”.
“bermimpi, tentang apa?” tanya temanku
“Tentang menjadi bajak laut” ujarku
“kami membuat perahu dari kertas, saat hujan mulai reda. kami akan melepaskan jangkar Perahu kami ke lautan lepas, terombang ambing, terhuyung huyung menghatam ombak, berkawan dengan hiu-hiu ganas, yang siap menangkap para awak kapal yang terjatuh ke dalam arus sungai. Perang antar bajak laut pun tak terelakan lagi, saling lempar meriam-meriam, dentuman dentuman suara meriam bersahut sahutan, memecah keheningan laut. saling mengkaramkan satu sama lain, tak ada ampun sedikitpun. dan perahu siapa yang paling lama bertahan itulah pemenangnya” ceritaku.
“pasti kapalmu yang selalu menang?” ujar kawanku.
“tidak, kapalku selalu yang pertama karam, hahaha” kami pun larut dalam tawa.

Hujan masih saja belum reda, kuambil kertas dalam sakuku, lalu kutulis sebuah pesan untuk seseorang di sana dan kubentuk menjadi perahu kertas dan kuhanyutkan, berharap surat itu sampai padanya dan dia tahu betapa aku merindukan dia saat ini.

“apa lagi yang membuatmu mencintai hujan?” ternyata rasa penasaran kawanku semakin besar.
“Cinta Dalam Gelas” kukutip dari salah satu karya andrea hirata.
“apa itu?” rasa penasaran kawanku sepertinya akan meledak.
“segelas Kopi hangat” celetukku.
Kali ini muka kawanku yang tadi penasaran berubah menjadi muka kecoak terbalik, binggung bagaimana membalikkan kembali badannya.
“suatu sore ketika hujan yang sangat lebat, aku memaksakan diri menerobos hujan untuk pulang, inilah takdir, ketika di tengah perjalanan motor bututku ini mogok, aku pun memberanikan diri untuk mengetuk salah satu pintu warga untuk meminta bantuan. Dan kau tahu apa yang kudapatkan, CINTA DALAM GELAS. Itu adalah kopi ternikmat yang pernah aku dapatkan dari seorang gadis, di situlah cintaku tertambat.”
“hahha, tahu kah kau kawan, saat hujan adalah saat yang paling nikmat minum kopi. bagi kami orang melayu, segelas kopi adalah cinta. Tergantung siapa yang membuat, andai yang buat ibu, maka itu adalah bentuk cinta seorang ibu kepada anaknya, jika dia istri maka itu adalah bentuk cinta istri kepada suaminya, jika itu kau buat sendiri maka itu adalah bentuk cinta kepada dirimu sendiri. Dan jika itu di buat oleh pacarmu itu tandanya dia siap untuk kau pinang kawan dan andai kopi buatannya sesuai dengan selera mu, jangan kau tunda lagi, pinanglah dia, dia akan membuat kau bahagia”.
“aku tidak minum kopi”. Ujar kawanku.
“berati kau tidak akan menikah” kataku, dan tawa kami pun kembali pecah.
“dan lagi bagi kami orang melayu hujan dan segelas kopi perlambang kebebasan, kau bebas melakukan apa saja, bebas meracau semaumu. Di kampungku warung kopi adalah bisnis yang menjanjikan, karena orang orang kampung kami, apapun profesinya, mau dia pejabat kampung, guru, PNS, Kuli panggul, Kuli bangunan, tukang es, tukang sayur, pengacara, penganggur, pembual, pembohong, tukang tipu, pembohong yang tertipu oleh tukang tipu, tukang tipu yang dibohongi oleh pembohong adalah sama di hadapan segelas kopi yang diseduh pelayan warung kopi. sama seperti umat manusia yang sama di hadapan Tuhannya. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi, baik hanya sekedar ngobrol kosong, main catur bahkan sampai mengupat tidak becusnya pemerintah. Di kampungku saat hujan adalah saat yang paling ditunggu bagi kami kaum lelaki untuk menyeruput kopi”.

Hujan sepertinya semakin deras dan kami masih terjebak di halte bis bersama orang orang aneh yang gusar karena hujan, aku hanya tersenyum. Andai saja ada segelas kopi, hujan sampai besok pun tak apa ujarku dalam hati.

“katamu hujan adalah bentuk cinta Tuhan kepada umatnya, bagaimana dengan bencana yang terjadi? Banjir misalnya? Atau tanah langsor? Apa itu bisa di sebut cinta?” sepertiku kawanku ini kena penyakit gila no 65, berprasangka buruk terhadap Tuhan.
“Hujan memang terkadang tampak mengesalkan jika hatimu penuh prasangka buruk terhadap Tuhan. Ya seperti kau ini? Menggerutu semaumu!! Sekonyong konyong kau menyalahkan Tuhan. Gini, banjir terjadi itu karena ulah siapa? Ulah manusia itu sendiri, kita membuang sampah semaunya, kau lihat sungai-sungai di kota ini. Penuh dengan sampah. Jorok, bagaimana tidak meninggi itensitas air klo kapasitas tempatnya sudah tak muat lagi. Tanah longsor, ahh…!! tak perlu aku jelaskanlah kawan. Karna masih yang salah manusia, siapa suruh menebang pohon pohon di hutan, ya akibatnya tanah tak ada penopang lagi. Bagaimana? Masih mau menyalahkan Tuhan? Tuhan menurunkan Hujan sesuai kebutuhan manusia. Ketika tak ada lagi tempat untuk menampung air maka terjadilah banjir. Tapi yakin lah dibalik kekesalan yang kau rasakan karena hujan ada ribuan cinta yang tuhan berikan lewat rintik rintik air dari langit”.
“bagaimana dengan musim kemarau, kenapa Tuhan tidak menurunkan hujan? padahal banyak umatnya yang kekeringan air, banyak petani yang kekurangan air, banyak mereka yang harus mencari sampai puluhan kilo meter hanya untuk seember air bersih” ini adalah penyakit gila no 66, dimana penderitanya mengalami penyakit gila no 65 tapi sudah akut.
“emm.. kemarau, kenapa Tuhan menciptakan kemarau? Mungkin karna agar manusia lebih mensyukuri nikmat Tuhan di saat Musim Hujan tiba. Tidak membuang buang air misalnya, berhemat air agar cukup untuk musim kemarau, sudah kubilang kan, Tuhan menurunkan air dari langit sesuai dengan kebutuhan manusianya. Jika dalam satu tahun tidak ada kemarau, bisa bisa terendam bumi ini, mau kau? lah hujan sehari semalam saja kota ini sudah hampir terendam, apalagi satu tahun penuh” kesalku.
“sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan, akan kutunjukan bagaimana menikmati cinta yang diturunkan langsung oleh sang maha pencipta untuk umatnya” ajakku
“tapi hujannya masih sangat deras lif, nanti aku masuk angin” tolak kawanku
“ayolah, ini adalah hujan sore, hujan ini sedikit lebih bersahabat dari hujan di pagi hari, mampir dulu ke rumahku, ada segelas cinta yang sudah di siapkan istriku” ujarku

Kuengkol motor CB 100 bututku, suaranya meraung raung terbatuk batuk, tak kalah keras dari suara hujan yang jatuh di atap halte bus. Kawan ku melangkah naik agak sedikit ragu, kuputar gas perlahan dan kuterobos hujan, pikiranku melayang ketika waktu kecil dulu berlari lari bersama teman menerobos derasnya cinta Tuhan. Terima kasih sang maha Agung telah memberikan cinta yang luar biasa ini. Kutancap gas tungganganku sejadi jadinya, batuknya pun semakin jadi, tapi semangatnya masih belum habis. Aku berharap istriku telah menerima perahu kertasku yang kuhanyutkan tadi, bahwa aku ingin segelas cinta darinya.

Ami irawan ketika mendung dan menunggu hujan datang

Cerpen Karangan: Ami Irawan
Facebook: Ami saungnage Irawan

Cerpen Cinta Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Ulang Tahun

Oleh:
Lantunan bunyi itu terdengar tidak begitu jelas di telingaku, didampingi suara alam yang sahut-menyahut memberikan nyanyian indahnya. Mataku pun mulai terbuka guna melihat suasana sekitar, terlihat di sampingku seseorang

Apalah Arti Sebuah Mimpi

Oleh:
Hari itu setelah berakhirnya jam mata kuliah semua keluar dari dalam kelas, seorang anak perempuan datang menghampiriku dia bertanya “apalah arti sebuah mimpi?”. Perkenalkan dulu namaku Alvis, aku mempunyai

Rainy

Oleh:
Di bawah rintikan hujan yang tak begitu deras, kupandangi pemandangan luar yang bagus dari jendela. Sambil meringkup, aku memainkan handphone dengan hawa kedinginan. “Non, ini coklat hangat dan roti

Keliru Itu Kurang Ajar

Oleh:
Pagi itu awal bulan juli, aku dan Ripin temanku baru saja tiba di Malang setelah berjam-jam meringkuk dalam bus cepat (Penjor) yang menghantar kami dari pulau Dewata ke kota

Bulan Gundah

Oleh:
“Mengapa aku harus memilih, sedang semuanya bukanlah pilihan bagiku.” “Tapi kamu harus cepat-cepat menentukannya.” “Aku tidak bisa.” “Ini bukanlah tentang bisa atau tidak bisa, tapi ini tentang mau atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *